Ijuk Nganten

Tradisi Ijuk Nganten adalah tradisi adat yang dilakukan untuk pasangan pengantin yang baru melakukan akad pernikahan dengan membasuh air ke anggota badan menggunakan air Sumur Nganten sebagai ritual penyucian pada warga Dusun Grenjeng Desa Sraturejo Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Pengantin yang melawan atau melanggar tradisi maka diyakini akan mengalami kesialan dalam menjalani rumah tangganya. Sumur Nganten berlokasi di petilasan Sumur Nganten Dusun Grenjeng, Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur.[1]
Tata Cara
Tradisi dimulai setelah sepasang pengantin melaksanakan ijab dan Kabul atau akad nikah di masjid setempat, kemudian di arak menggunakan becak yang dihias khusus dengan janur kuning menuju Sumur Nganten. Rombongan keluarga pengantin mengiringi pasangan pengantin menuju Sumur Nganten yang dipercayai warga sebagai sumur keramat dengan tetap menggunakan busana pengantin lengkap. Pasangan pengantin yang berjarak dekat rumahnya diiringi keluarga dengan berjalan kaki menuju Sumur Nganten. Sebelum masuk area Sumur Nganten, terdapat ritual udhik dhuwik atau melempar uang koin.[1]
Dalam prosesi udhik dhuwik, keluarga yang hadir mengiringi pengantin akan bergerombol dan bersiap rebutan uang koin yang dilemparkan ke udara oleh pasangan pengantin. Perlengkapan yang disiapkan juru kunci dalam melaksanakan ritual ini setelah pengantin memasuki wilayah Sumur Nganten, yakni mengisi penuh penampung air berupa wadah yang telah diisi air Sumur Nganten. Air yang hendak digunakan dalam ritual menyiram pengantin sudah dicampurkan dengan tujuh macam bunga (kembang tujuh rupa).[1]
Seorang juru kunci menyiramkan air dari wadah sumur ke kaki pasangan pengantin, tangan, dan wajah. Selain pasangan pengantin, pengiring yang mengarak pengantin juga biasa turut membasuh tangan maupun wajah dengan air tersebut. Setelah selesai melakukan prosesi adat ijuk nganten, rombongan pengantin kembali ke tempat acara resepsi sebelumnya dan melanjutkan acara pernikahan.[2]
Tujuan dan Makna
Makna kata ijuk diambil dari bahasa Jawa dialek yang artinya membasuh atau menyiram anggota tubuh dengan menggunakan air bersih. Sedangkan makna kata nganten dalam tradisi ini artinya sepasang pengantin baru yang telah selesai ijab kabul atau melaksanakan akad pernikahan. Ritual ijuk nganten termasuk ke dalam tradisi yang berkaitan dengan spiritual dan religi moral bagi masyarakat yang menjalankannya, di mana pelaksanaan ritual ini diharapkan dapat menjali perlindungan serta memohon Ridha dan rahmat tuhan pencipta alam semesta.[2]
Prosesi ritual ijuk nganten memiliki harapan sebagai adat penyucian bagi pengantin baru yang mengawali rumah tangganya dengan niat suci, bersihnya jiwa raga, tercapainya keluarga penuh kasih sayang, sejahtera serta bahagia.[2]
Sejarah
Sumur Nganten merupakan salah satu tempat yang dimuliakan oleh masyarakat setempat karena dipercaya sebagai petilasan (situs peninggalan) dari leluhur desa. Sumur Nganten diyakini sebagai peninggalan dari Mbah Krebut Lanang-Wedok (laki-laki dan perempuan) yang menjadi penguasa wilayah setingkat akuwu pada masa Kerajaan Singhasari hingga Kerajaan Majapahit. Wilayah tersebut merupakan awal mula terbangunnya pemukiman warga desa. Mbah Krebut adalah julukan untuk Akuwu Basunondo yang mewariskan tradisi ijuk nganten serta peninggalan Sumur Nganten. Julukan Mbah Krebut ditujukan pada Akuwu Basunondo dan permaisurinya karena berhasil merebut kekuasaan pemberontak.[2]
Masa pemerintahan Akuwu Basunondo, terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh seorang patihnya, Joyosingo dan pengikutnya. Patih Joyosingo berencana memenjarakan Akuwu Busunondo dan permaisurinya serta mempancung keduanya di alun-alun. Namun, rencana tersebut digagalkan oleh para penggawa pakuwon dan rakyat-rakyat yang setia pada Akuwu Basunondo.[2]
Penyerbuan istana pakuwon menyebabkan tewasnya Patih Joyosingo dan Raden Sastromirudo, putra dari Akuwu Basunondo. Setelah keberhasilan merebut dan membebaskan Akuwu dan permaisuri, keduanya kembali naik ke tahta semula dengan menjalani ritual penyucian. Pada ritual penyucian, Akuwu Basunondo dan permaisuri melakukan pembasuhan tangan, wajah, serta kaki menggunakan air dari sumur, dan yang kini menjadi ritual kepercayaan warga Dusun Grenjeng sebagai ritual penyucian, terutama bagi pengantin baru.[2]
Referensi
- ^ a b c Martono, Totok (2025-06-21). "Tradisi Ijuk Nganten, Ritual Ngalab Berkah Berumah Tangga". tuban.inews.id. Diakses tanggal 2025-11-20.
- ^ a b c d e f blokBojonegoro.com (2025-11-20). "Tradisi Ritual Ijuk Nganten di Sraturejo Tetap Lestari hingga Kini". blokbojonegoro.com. Diakses tanggal 2025-11-20.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


