Garis waktu sejarah LGBT di Indonesia

Berikut ini adalah garis waktu sejarah orang lesbian, gay, biseksual, transgender, dan kwir (LGBTQ) di Indonesia.

Pra-Kemerdekaan

Abad ke-10 – 11

  • ca 991 – 1016 – Epos Mahabharata diadaptasi dalam bentuk prosa bahasa Kawi pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh dari Kerajaan Kadiri.[1]
  • Dalam epos ini, terdapat kisah Srikandi yang terlahir sebagai perempuan bernama Dewi Amba. Bisma menolak ia sebagai calon istrinya. Lantas, Amba sakit hati. Memohonlah ia pada dewata dan doanya kabul—ia terlahir kembali sebagai Srikandi. Ada suara yang membisiki orangtua Srikandi agar ia dididik sebagai lelaki. Orangtuanya memenuhi bisikan tersebut—Srikandi hidup sebagai lelaki dan ia menikah di suatu hari. Namun, istri Srikandi mencemoohnya kala ia tahu bahwa tubuh Srikandi adalah tubuh perempuan. Srikandi patah arang—nyaris bunuh diri. Ia terselamatkan setelah ia bertemu dengan seorang pendeta yang memberinya kelamin lelaki. Lantas, Srikandi kembali ke istrinya. Ia memperoleh keturunan, hingga setelah ia meninggal, ia kembali menjadi perempuan.[2]

Abad ke-12

"Siang-malam keduanya tak terpisahkan, saling menghibur; keduanya santai namun bersemangat. Ada waktu-waktu tertentu mereka membicarakan kesenangan yang bersifat erotis, tapi mereka membicarakan semua itu dalam kiasan. Ditingkahi derai tawa dan pandangan penuh arti yang mengandung gairah.[2]"

"Jika Rukmini menangkap kesan bahwa Kesari berlaku seperti kekasihnya, dia paham bagaimana menanggapinya. Berpura-pura tenang dan tak memberi perhatian, lalu mulai merayu, berbicara, menanggapi—dan tiba-tiba berlaku berani. Namun dia tahu bahwa dia tak kuasa memenuhi hasrat Kesari.[2]"

Abad ke-13 – 15

  • ca 1201 – 1400 – La Galigo yang ditulis sekitar periode ini menyebutkan bissu—kaum rohaniawan agama asli suku Bugis yang mengenakan atribut androgini dalam pelaksanaan ritualnya. Dalam budaya Bugis, keberadaan bissu dianggap sebagai pendamping dan pelengkap kedatangan para tokoh Manurung dari langit. Menurut perspektif religi tersebut, segala urusan spritiual manusia atas dewa diserahkan kepada Bissu. Para Bissu lalu mengkultuskan dewa-dewa melalui ritus-ritus kepada Arajang.[3][4]

Abad ke-14 – 15

Abad ke-16

  • 1544 – Antonio de Paiva mengunjungi Sulawesi dan menemui Bissu yang memiliki peran kunci di istana kerajaan. Pada tahun ini, ia menulis dalam sebuah surat yang menyatakan bahwa mereka "tidak menumbuhkan rambut di janggut mereka, berpakaian dengan gaya wanita ... dan mengadopsi semua gerakan dan kecenderungan wanita." Suratnya tersebut merupakan catatan pertama Bissu oleh orang barat.[6]

Abad ke-18

Abad ke-19

  • 1814 – 1823 Serat Centhini—salah satu kesusastraan Jawa baru yang menghimpun ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa pada masanya—digubah. Kepenulisannya dipimpin oleh Adipati Anom Amangkunagara III yang kelak bertakhta sebagai Sunan Pakubuwana V. Banyak kisah dalam Serat Centhini yang mengeksplorasi gender dan seksualitas—yang ditulis tanpa tedeng aling-aling.[7] Berikut adalah sebuah kutipan dari Serat Centhini yang dialihbahasakan oleh Elisabeth Inandiak:

"Suatu malam, saat antar mereka sudah tidak ada basa-basi lagi dan saat Cebolang kini ngoko bicaranya, Adipati membisikinya, menggelitikinya: "Aku ingin tanya kepadamu mana yang lebih nikmat, menungganggi atau ditunggangi? Bedanya gimana?"

Cebolang menjawab tertawa: "Sesungguhnya, perbedaannya sangat besar, lebih nikmat yang ditunggangi, tiada bandingannya. Bila yang memasukkannya pintar, nikmatnya menjalar ke seluruh tubuh, dari dasar bol ke semua syarat otak yang kepayang. Seluruh nadi silau detaknya jantung dan bahkan sungsum di tulang gemetar. Daging membara dan orang dapat merasakan tubuh nurnya."

Adipati tampak tergoda: "Benar yang kamu katakan? Ayo kita buktikan omonganmu!"[8]"

  • Selain eksplorasi homoseksualitas sang Adipati dengan Nurwitri dan Cebolang—baik itu dalam peran seks aktif maupun pasif, Serat Centhini juga mengisahkan eksplorasi gender dan biseksualitas tokoh Cebolang—pemuda rupawan yang "menantang" para Warok untuk mengajarinya cara menjadi lelaki dan perempuan; Kasanah—seorang yang berjuang menjadi raja—yang menggunakan atribut maskulin dan menyebut dirinya bukan-lelaki-dan-bukan-perempuan (serupa Ardanariswara) setelah ia menjadi korban kekerasan seksual; kisah Cebolang yang menyamar menjadi perempuan cantik bernama Siti Suwadi—yang kala itu diterima oleh Nyai Demang di kamarnya, lalu Nyai bercerita bahwa ia tak pernah bersetubuh dengan lelaki dan "belajar hanya untuk menyukai perempuan".[7]
  • Lengger terdokumentasikan untuk yang pertama kalinya dalam Serat Centhini.[9] Lengger adalah tarian tradisional yang dimainkan oleh dua hingga empat orang lelaki yang menggunakan atribut feminin.
  • 1822 – Penampilan ludruk pertama kali tercatat dalam sejarah Hindia Belanda. Penampilan tersebut memasukkan 'pemain transvestit' dalam lakonannya.[10]
  • 1824 – Pada masa kepemerintahan Sunan Pakubuwana V—lelaki yang sebelumnya memimpin penggubahan Serat Centhini—terjadi kehebohan di Keraton Surakarta setelah seorang selir yang memainkan peran maskulin kedapatan berhubungan seks dengan selir lainnya. Pakubuwana V juga menemukan para selirnya bermasturbasi bersama dengan lilin yang dibentuk penis manusia. Sejak kejadian itu, sang Sunan tidak mengizinkan para selirnya tidur di ruang tertutup—melainkan di depan kamarnya, serta mereka harus berbaring berjajar dengan jarak enam kaki. Ia khawatir para selirnya lebih menyukai aktivitas seksual yang demikian, alih-alih dengan lelaki.[2] (Lihat pula: lesbofobia)
  • 1830-an – Kata "banci" diyakini telah populer pada era ini di Batavia. Pada masa itu, terdapat sebuah kelompok tari bernama "Bantji Batavia" (Boellstorff menyebutnya sebagai "Ludruk Surabaya"-nya orang Betawi). Tarian dibawakan oleh lelaki muda yang berpakaian seperti wanita, dengan pakaian layaknya perempuan Eropa.[10]
  • 1855 – Leksikografer Belanda—Rooda van Eysinga mendefinisikan kata "bantji" sebagai istilah lokal Malaysia di samping kata chontza dalam bahasa Arab untuk ‘hermafrodit'.[10]

Abad ke-20

  • 1919 – 1927 – Djalan Sampoerna—naskah autobiografi homoseksual pertama di Nusantara—terkisahkan dalam rentang era ini.[4]
  • 1930-an – Selain bissu di Sulawesi Selatan, Hooykaas mencatatkan keberadaan to burake—pendeta dalam kepercayaan Aluk Todolo di suku Toraja. Ia membahas "burake tambolang", pendeta transpuan yang menurutnya "sulit dibedakan" dengan burake tattiu—pendeta perempuan cisgender. Keberadaannya tercatat makin susut sejak misionaris Belanda menyebarkan ajaran Kekristenan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di Tana Toraja. Ia mencatat "pada orang Toraja, maka pendeta banci itu tidak kedapatan di istana raja-raja saja, tetapi di luar istana pun ada dan dihormati oleh segenap rakyat." Hooykaas menegaskan pula bahwa burake tambolang tidak dipandang lagi sebagai lelaki setelah menjadi pendeta. Mereka harus berlaku sebagai perempuan. Mereka pun dilarang kawin dengan perempuan, melainkan dengan lelaki.[11]
  • ca 1935 – 1945 – Saat penelitiannya pada sebuah desa di dekat Makassar, Hendrikus Chabot menemukan "seorang perempuan… yang tidak merasa enak bergaul dengan orang-orang yang memiliki seks sama dengan dia. Dia berambut seperti perempuan, tapi sarungnya seperti sarung laki-laki…. Dia membawa barang dalam sebuah kuk di bahunya seperti yang diakukan laki-laki, dan dia berani pergi sendiri ke pasar-pasar dan di jalanan. Keluarganya menerima pelanggaran peran-seksnya tanpa keributan lebih jauh".[4]
  • 1937 – Miguel Covarrubias, seorang kartunis dan intelektual Meksiko—dalam bukunya Island of Bali yang menjadi salah satu media yang mempopulerkan Bali sebagai tujuan wisata—menyatakan demikian:[10]

"Di Bali, ada orang-orang aneh yang disebut bentji, yang oleh orang Bali diartikan sebagai 'hermafrodit'—kondisi yang merupakan ciri khas dewa, tetapi buruk dan menggelikan di antara manusia. Bentji adalah laki-laki yang secara abnormal aseksual sejak lahir (impoten, menurut orang Bali), yang berperilaku dan berpakaian seperti wanita dan melakukan pekerjaan wanita. Di Den Pasar ada salah satu makhluk menyedihkan, seorang pria yang berpakaian seperti seorang gadis dan berbicara dengan nada falsetto, menjual barang dagangan di sebuah kios umum di jalan utama.[12]"

  • 1939 – 13 Februari, dua "perempuan"—Rakit seorang janda, dengan Tinur seorang "anak syeh" berpenampilan maskulin—datang ke Demang Alahan Panjang, Kabupaten Solok dan "minta supaya dikawinkan". Tinur mengaku bahwa ia "tidak mau dikawinkan (dengan yang lain), tidak mau bersuami, dan iapun tidak suka kepada laki-laki". Karenanya, kedua perempuan dari sungan Nanam yang telah bersama selama delapan tahun dan sudah "campur sebagai suami isteri" tersebut menimbulkan kegaduhan di kantor Demang. Oleh Demang Alahan Panjang, keduanya dikirim ke dokter di Solok untuk "diperiksa".[4]

Pasca-Kemerdekaan

  • 1948 – 1965 – Andre—seorang lelaki Jawa dari kalangan bawah—menceritakan kisahnya pada periode ini kepada Tom Boellstorff, seorang antropolog Amerika Serikat di tahun '90-an:[4]

"Pertama kali saya datang ke Surabaya pada tahun 1948. Sebenarnya perbedaannya tidak terlalu jauh, kecuali bahwa kami tidak menyolok seperti sekarang. Pada waktu itu tidak ada orang yang cukup berani berambut panjang atau memakai anting-anting, atau dandan. Tidak ada orang seperti itu sama sekali…. Pada waktu itu saya nongkrong dengan teman-teman saya di Taman Imbong Macang [sebuah taman di Surabaya]. Ada beberapa laki-laki Belanda di sana juga… dari Ambon, dari Man[a]do…. Jadi saya pergi ke sana bersama kekasih saya yang orang Jawa. Itu terjadi sekitar tahun 1950.… Setiap malam kami keluar…. Setiap malam, dan saya tidak pernah bosan, selama limabelas tahun. Sampai tahun 1965.[4]"

  • 1950 – 1965 – Gerakan Wanita Indonesia—organisasi pergerakan kaum perempuan di era awal kemerdekaan Indonesia—beroperasi. Beberapa tokoh Gerwani—seperti Tris Metty, ketua pertama Gerwis (nama Gerwani sebelum diganti)—merupakan seorang perempuan lesbian yang open. Beberapa tokoh Gerwani lain melihat hal tersebut dengan ketidaksetujuan.[13]
  • akhir 1950-an – akhir 1960-an – Boellstorff mengidentifikasi era ini sebagai "periode intoleransi" yang dicirikan dengan adanya ketegangan dalam negara baru, khususnya seputar Islam, yang menyebabkan marjinalisasi baru bagi kaum transpuan.[10] Beberapa transpuan mengasosiasikan periode ini dengan tempat-tempat di mana salah satu organisasi Muslim modernis memiliki pengikut yang kuat.[10]
  • 1965 – 1966 – Pembantaian di Indonesia 1965–1966. Homoseksualitas perempuan masuk ke wacana publik dengan "cara yang mengerikan".[4] Ada tuduhan bahwa para anggota Gerwani berhubungan seks satu sama lain. Beberapa penulis melihat tuduhan tersebut "telah memainkan peran kampanye pemerintah untuk membenarkan pendiskreditan dan bahkan pembunuhan terhadap para perempuan tersebut."[4] Selain itu, pada masa ini, Bissu dan Warok dituding terafiliasi dengan PKI. Kelompok Bissu menjadi sasaran utama Operasi Toba' (Tobat) di bawah komando Kahar Muzakkar (DI/TII).[14] Pusaka kebesaran Bissu yang suci dibakar atau dibuang ke laut, ritual dilarang, dan para bissu diberi tawaran untuk memilih mati atau meninggalkan profesi bissu, berpakaian dan bekerja seperti laki-laki “normal”.[4] Terjadi pengabaian ruang publik dan pasar tempat waria/transpuan menemukan komunitas dan pekerjaan.[10] Lelaki homoseksual secara keseluruhan tidak terdampak, tetapi tercatat "membatasi pergerakannya".[4]
  • 1968 – Neologisme "wadam"—lakuran dari Hawa dan Adam—diciptakan pada tahun ini untuk menggantikan "banci" yang merupakan istilah peyoratif. Istilah ini merujuk pada dualisme lelaki-dan-perempuan serta tubuh-dan-jiwa (tubuhnya lelaki, jiwanya perempuan) yang menjadi formulasi modern tentang gender biner. Gubernur Jakarta Ali Sadikin mendukung istilah tersebut sebagai sarana yang lebih modern dan lebih pantas yang memungkinkan partisipasi sosial wadam yang lebih besar. Pemerintah mendorong wadam untuk membatasi keberadaan mereka pada lingkungan yang lebih terhormat (bukan di jalanan), serta memperbaiki penampilan "agar tidak mengganggu pemandangan" melalui keahlian vokasional—seperti pekerja salon kecantikan dan perias pengantin.[15]
  • Ali Sadikin membentuk kelab Paradise Hall dalam Djakarta Fair 1968 yang menjadi wadah bagi wadam untuk berekspresi dan berkreasi.[15][16]
  • Berdirinya organisasi wadam pada bulan Desember dengan nama Jajasan Wadam DCI-Djaja atau Jajasan Wadam Djakarta (EYD: Yayasan Wadam Jakarta) yang diketuai oleh Conny Pattirajawane atas prakarsa Annie Mamno—direktur PT Aries Film. Conny merupakan penata rias dan perancang produksi film-film mereka kala itu.[16]
  • 1969 – Wadam yang berkumpul di kelab Paradise Hall pada tahun 1968 membentuk grup Wadam All Stars dan melakukan serangkaian show pada berbagai kota di Jawa.[16]
  • 1973 – Melalui keputusan tanggal 11 November, Pengadilan Negeri Jakarta mengabsahkan Vivian Rubiyanti—seorang transseksual yang menjalani operasi afirmasi gender pada bulan Januari di tahun yang sama—sebagai perempuan. Pengadilan juga mengabsahkan penggantian namanya sebagai Vivian Rubiyanti Iskandar.[17]
  • 1973 – Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) didirikan dan dipimpin oleh Mami Maya Puspa. Himpunan ini juga difasilitasi oleh gubernur Jakarta Ali Sadikin.[15]
  • 1977 – Setelah bubarnya grup Wadam All Stars, Mami Mirna Martinely—ketua HIWAD saat itu—mendirikan grup Fantastic Dolls yang menginspirasi banyak transpuan pada saat itu untuk turut mendirikan grup yang dipimpin dan beranggotakan transpuan pada tahun '70-an hingga awal 2000-an.[16]
  • 1978 – Menteri Agama Indonesia mengumumkan penggantian wadam menjadi istilah baru "waria"—lakuran dari wanita dan pria—setelah istilah tersebut diprotes oleh kelompok-kelompok Islam dari Jawa Timur atas pencantuman nama Adam—yang diyakini sebagai manusia pertama dalam kepercayaan Abrahamik—sebagai istilah untuk menyebut bentuk dari nonkonformitas gender.[15]
  • 1978 – Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) berdiri di Surabaya, Jawa Timur yang diprakarsai oleh Pangky Kenthut pada tanggal 13 November.[16]
  • 1979 – Himpunan Wadam Djakarta mengganti nama organisasinya menjadi Himpunan Waria (HIWARIA) di bawah kepemimpinan Mami Mirna Martinely.[16]
  • 1980 – Warung Wadam/Gado-Gado Wadam yang diketuai oleh Yosie Hanna datang ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Yogyakarta dan mendeklarasikan pemrakarsaan organisasi mereka.[16]
  • 1981 – 19 April, Jossie (25) dan Bonnie (21)—pasangan lesbian—mengadakan perkawinan sesama jenis di Blok M Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Perkawinan ini dihadiri oleh 120 undangan dan diliput oleh beberapa media, seperti majalah Liberty dan Tempo.[4]

"Penganten pria Jossie (25 tahun) berjas putih semu biru berdasi kembang kembang merah dan penganten wanitanya [Bonnie] bergaun panjang merah cerah… Kue penganten mulai dipotong oleh tangan lembut Bonnie, kemudian mereka saling suap suapan disaksikan puluhan pasang mata, bahkan kedua orangtua mereka hadir. Pesta pernikahan berjalan lancar dan tertib. Di antara tamu tamu yang hadir malam itu, kelihatan beberapa anggota anggota Kepolisian.[4]"

Lihat Pula

Catatan kaki

  1. ^ "Liburan Literatif, Membaca Naskah Kuno Mahabarata di Yogyakarta". Tempo. 24 Desember 2018 | 11.16 WIB. Diakses tanggal 2025-06-21.
  2. ^ a b c d e Fitria, Devi (2010-10-28). "Seksualitas di Balik Tembok Keraton". Historia.ID. Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. ^ ARMAN, RENY SRI AYU (2022-07-28). "Bissu, Penjaga Budaya Bugis". kompas.id. Diakses tanggal 2025-06-16.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m Boellstorff, Tom (2009). The gay archipelago: seksualitas dan bangsa di Indonesia. s.l.: Q-Munity. ISBN 978-602-95248-0-2.
  5. ^ "Potret Arca Ardhanari Lambang Persatuan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, Wujudnya Setengah Pria Setengah Wanita". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-15.
  6. ^ "Bagi Komunitas Transgender Indonesia, Agama Bisa Jadi Sumber Toleransi - Semua Halaman - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-06-16.
  7. ^ a b Fitria, Devi (2010-06-07). "Paradoks Serat Centhini". Historia.ID. Diakses tanggal 2025-06-16.
  8. ^ Inandiak, Elizabeth D. (2008). Centhini: kekasih yang tersembunyi = tambataning jiwa kang siningit. Sleman, Yogyakarta: Babad Alas. ISBN 978-979-18015-0-8.
  9. ^ Media, Kompas Cyber (2021-02-15). "Tari Lengger Lanang, Tarian Tradisional Banyumas Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-06-19.
  10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Boellstorff, Tom (2007). A coincidence of desires: anthropology, queer studies, Indonesia. e-Duke books scholarly collection. Durham: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-3991-5.
  11. ^ NUSANTARA, GAYa (2023-07-25). "Pendeta Banci Bangsa Toraja" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-21.
  12. ^ Covarrubias, Miguel; Covarrubias, Rose (1974). Island of Bali: with an album of photographs. Asia paperbacks (Edisi 2. impr). Kuala Lumpur: Oxford Univ. Press/Indira. ISBN 978-0-19-580279-5.
  13. ^ Purwanti, Firliana (2011-03-14). "Pembuka Jalan Gerakan Perempuan". Historia.ID. Diakses tanggal 2025-06-16.
  14. ^ Kene, Rejeky (2024-04-30). "Jejak Terakhir Generasi Bissu Muda di Sulawesi". Project Multatuli. Diakses tanggal 2025-06-16.
  15. ^ a b c d Hegarty, Benjamin (2022). The Made-Up State: Technology, Trans Femininity, and Citizenship in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press. ISBN 978-1-5017-6664-0.
  16. ^ a b c d e f g h "'Menolak Tunduk!', Ragam Kunjungan Komunitas Transpuan sebagai Bentuk Protes dan Solidaritas - Lau Ne". 2024-02-27. Diakses tanggal 2025-06-17.
  17. ^ www.historia.id https://www.historia.id/article/viva-vivian-6a8jp. Diakses tanggal 2025-07-10.
  18. ^ a b c d e f g h i j k l "Sejarah gay, waria, lesbian" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-17.
  19. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Amalia, Shafira (2019-07-04). "Sejarah Gerakan dan Perjuangan Hak-hak LGBT di Indonesia". Magdalene.co. Diakses tanggal 2025-06-17.
  20. ^ a b "Politik Subaltern: Pergulatan Identitas Gay – PolGov UGM". 2022-02-25. Diakses tanggal 2025-06-17.
  21. ^ Maimunah. "Indonesia's Q! Film Festival". Inside Indonesia. Diakses tanggal 1 February 2016.
  22. ^ Garis waktu sejarah LGBT di Indonesia di IMDb (dalam bahasa Inggris)

Bacaan lanjutan

Pranala luar

  • Dalidjo, Nurdiyansah (2023-12-16). "Queer di Masa Lansia (Bagian VI): Wadam — Mami Tina Lopez". https://medium.com/nurdiyansah-dalidjo/queer-di-masa-lansia-bagian-vi-wadam-mami-tina-lopez-a92789c1e8c6. ;
  • "Sejarah gay, waria, lesbian" (dalam bahasa American English). 2023-12-16. Diakses tanggal 2025-06-17.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement