Gapura Singa

Gapura Singa
Πύλη των Λεόντων
Peta
LokasiMikene
LuasArgolis, Yunani
DibangunTahun 1250 Pramasehi
Dibangun untukGapura utama kota Mikene
Gaya arsitekturBalok batu konglomerat

Gapura Singa (bahasa Yunani: Πύλη των Λεόντων; Pili ton Leonton) adalah nama modern populer untuk pintu masuk utama kota Mikene, petilasan zaman Perunggu di Yunani Selatan. Gapura ini dibangun sekitar tahun 1250, abad ke-13 Pramasehi, di sisi barat laut akropolis Mikene, dan diberi nama Gapura Singa pada zaman modern lantaran di atas ambangnya terdapat relief dua ekor singa atau singa betina dengan sikap tubuh heraldis.[1]

Gapura Singa merupakan satu-satunya karya seni ukir monumental yang sintas dari babak Mikene,[2] dan merupakan karya seni ukir terbesar yang sintas dari zaman Perunggu di kawasan Laut Egea.[3] Gapura Singa adalah satu-satunya monumen Yunani dengan corak hias ikonografis dari zaman Perunggu yang sintas tanpa terkubur dalam tanah. Ukiran singanya adalah satu-satunya citra relief yang dijabarkan di dalam karya sastra zaman klasik, dan oleh sebab itu sudah dikenal luas sebelum lahirnya ilmu arkeologi modern.[4]

Gapura Singa juga menjadi bukti keberadaan satwa singa di Eropa maupun di Yunani sebelum punah pada babak-babak terakhir sejarah kuno.

Pintu kota

Foto stereoskop Gapura Singa dari tahun 1897, memperlihatkan bagian tembok di sebelah kanan relief yang sudah rubuh ketika itu dan sekarang sudah diganti

Tembok gagrak Siklops di Mikene, yang mencakup Gapura Singa, dibangun ketika kota itu diperluas untuk kedua kalinya pada akhir babak Helas IIIB (abad ke-13 Pramasehi).[5] Pembangunan tembok yang berkaitan dengan perluasan kota tersebut membuat Bundaran Pusara A, tempat pengebumian jenazah keluarga kerajaan pada abad ke-16 Pramasehi, menjadi bagian dari kawasan dalam kota. Bundaran pusara ini ditemukan di sebelah timur Gapura Singa, tempat dibangunnya sebuah tembok peribolos.[6] Sesudah diperluas, kota Mikene dapat dimasuki melalui dua gapura, yakni satu pintu masuk utama dan satu pintu belakang,[7][8] kendati tidak dapat dipungkiri bahwa perombakan terbanyak dilakukan pada pintu masuk utama, yang diperbarui di sisi barat laut sekitar tahun 1250 Pramasehi dan sekarang dikenal sebagai Gapura Singa.[9]

Untuk masuk ke kota melalui Gapura Singa, orang harus mendaki sebuah tanjakan setengah-alamiah dan setengah-buatan yang membujur dari barat laut ke tenggara. Sisi timur tanjakan ini dipagari dinding batu terjal, sisa tembok kota yang lama. Dinding terjal ini dipercantik dengan paras baru berupa tembok dari balok-balok batu konglomerat. Di sisi barat tanjakan dibangun sebuah selekoh persegi panjang, dengan panjang mencapai 1.480 m (4.856 ft) dan lebar mencapai 723 m (2.372 ft), bergaya seni bangunan balok batu semu yang tersusun dari balok-balok batu konglomerat berukuran raksasa. Istilah "gagrak Siklops" yang disematkan kepada gaya seni bangunan ini mencerminkan anggapan bangsa Yunani Kuno bahwa struktur-struktur kuno tersebut dibangun oleh peradaban bangsa raksasa yang lebih tua daripada peradaban Yunani Klasik, sebagaimana dijabarkan di dalam mitos-mitos mereka. Di antara tembok dan selekoh, tanjakan berangsur-angsur menyempit hingga berakhir di sebuah pelataran terbuka seluas 15 m × 723 m (49 ft × 2.372 ft), mungkin sengaja dibuat demikian untuk membatasi jumlah musuh yang hendak menyerbu masuk melalui gapura. Selekoh di sebelah kanan gapura berguna untuk melancarkan serangan ke sisi kanan prajurit musuh, sebab biasanya prajurit membawa perisai dengan tangan kiri. Di ujung tanjakan, berdiri Gapura Singa.[8]

Konstruksi

Relief dua ekor singa betina berhadap-hadapan mengapit sebatang tiang di atas ambang pintu

Gapura Singa adalah sebuah bangunan yang besar dan mengagumkan, dengan lebar 310 m (1.017 ft) dan tinggi 295 m (968 ft) dari ambang bawah. Gapura ini berangsur menyepit ke atas hingga selebar 278 m (912 ft) di bawah ambang atas. Gapura ini berdaun pintu ganda, masing-masing terpasang kukuh pada sebatang tiang yang berfungsi sebagai purus tumpuan gerak daun pintu.[7]

Gawang pintunya terdiri atas dua tiang batu utuh dan ambang atas berupa balok batu raksasa berukuran 45×20×08 m (148×66×26 ft). Balok-balok batu di atas ambang ditata membentuk sebuah pelengkung katek sehingga tercipta rongga yang meringankan beban ambang atas. Rongga segitiga pengurang beban itu disumpal dengan lempengan besar batu gamping yang berukir relief-tinggi dua ekor singa betina berhadap-hadapan mengapit sebatang tiang. Bagian kepala kedua ekor singa itu dibuat terpisah dan kini sudah hilang, tetapi bagian lehernya masih ada.[3] Tiang pada relief itu adalah tiang khas peradaban Minos, tegak di atas umpak yang menyerupai mezbah, tempat kedua ekor singa betina itu menumpukan tungkai-tungkai depannya.[9]

Dewi dikawal dua ekor singa betina, citra yang ditemukan di Knosos, lebih tua daripada relief Gapura Singa

Temuan citra dewata dari Knosos yang lebih tua daripada relief Gapura Singa, yakni citra sesosok dewi yang dikawal dua ekor singa atau singa betina, membuktikan adanya kesinambungan di bidang pembuatan citra keagamaan, makanala kemudian hari sosok dewata direpresentasikan dengan sebatang tiang. Satwa pada citra tersebut dapat dipastikan sebagai singa lantaran memiliki rumbai ekor, ciri khas yang tidak terdapat pada spesies-spesies felidae lainnya.

Rekonstruksi tampilan kota Mikene dan gapuranya pada tahun 1250 Pramasehi

Gapura megah kota Mikene dengan relief singa-singa betinanya itu merupakan tanda kebesaran raja-raja Mikene, lambang keberdaulatan mereka atas rakyat dan orang asing.[9] Pernah ada pendapat yang mengatakan bahwa singa-singa tersebut melambangkan Dewi Hera.[10]

Gapura ini memiliki kemiripan dengan dengan gapura-gapura Hatusa, kota yang dibangun orang Het pada zaman Perunggu di Asia Kecil.[9][11] Lantaran bagian kepala singanya terbuat dari bahan dasar yang berbeda dari bagian tubuhnya, dan dibuat tertunduk mengawasi orang-orang yang berlalu-lalang di bawahnya,[12] sejumlah sarjana telah menduga bahwa satwa yang terukir mungkin saja adalah perpaduan beberapa jenis margasatwa, kemungkinan besar sfinks, dengan bentuk yang lazim dijumpai di dalam tradisi seni rupa Timur Tengah.[3]

Di puncak tiang yang diapit dua ekor singa betina itu berjajar empat keping cakram, yang sepertinya merupakan lapik dari bagian relief yang sudah hilang.[13] Pandangan lain mengatakan bahwa di atas tiang bertengger sebuah balok, yang kemungkinan besar adalah balok penyangga gelegar. Di atas balok penyangga ini berjajar empat keping cakram (ujung-ujung gelegar), ditindih sebuah balok lain yang seukuran dengan balok penyangga. Gelegar-gelegar dan balok yang menindihnya merepresentasikan bangunan lantai atas yang sengaja dikerdilkan lantaran sempitnya bidang di ujung lempengan segitiga.[14] Dengan demikian, berdasarkan pandangan ini, tidak ada bagian relief yang hilang.

Dewi dikawal dua ekor singa betina, hiasan timbul pada sebuah pitos yang ditemukan di Knosos

Corak relief Gapura Singa juga dapat dijumpai pada karya-karya seni lain yang sintas dari kurun waktu yang sama. corak serupa didapati pada meterai-meterai dan sebutir batu permata peninggalan peradaban Minos dari abad ke-15 Pramasehi yang ditemukan di Mikene. Sebuah pitos yang ditemukan di Knosos juga dihiasi citra dewi dikawal dua ekor singa betina. Banyak karya seni Mikene lainnya dihiasi corak dasar yang sama, yakni corak dua ekor satwa bersemuka mengapit sebuah sekat vertikal, misalnya dua ekor anak domba berhadap-hadapan mengapit sebatang tiang, dan dua ekor sfinks berhadap-hadapan mengapit sebatang pohon keramat yang melambangkan dewata tertentu.[13] Corak arsitektural pada relief Gapura Singa mungkin saja menyiratkan sejenis pintu yang berpenyangga di tengah-tengah rongganya, yang lazimnya berupa sebatang tiang. Lebih khusus lagi, relief Gapura Singa mungkin melambangkan propilon gedung yang khusus dibangun sebagai akses utama keluar masuk lingkungan istana. Singa dihadirkan sebagai penjaga pintu istana. Jika benar demikian, maka relief tersebut adalah lambang lingkungan keramat istana yang dipampangkan di atas pintu bangunan pertahanan, sehingga Gapura Singa menjadi lambang pengayoman raja sekaligus restu dewata.[14]

Di balik gapura, terdapat sebuah pelataran tertutup beserta sebuah bilik kecil, yang kemungkinan besar difungsikan sebagai gardu jaga. Di sisi kanan, terdapat sebuah bangunan yang melekat pada tembok kota. Bangunan ini sudah diidentifikasi sebagai lumbung, lantaran di dalamnya ditemukan pitos-pitos berisi gandum yang sudah terkarbonisasi.[9]

Ekskavasi

Video luar
Gapura Singa, Mikene, circa 1300-1250 Pramasehi, Smarthistory

Gapura singa tegak menyongsong orang-orang yang bertandang ke Mikene selama berabad-abad. Geograf Pausanias menyebutkan Gapura Singa di dalam risalahnya pada abad ke-2 Masehi.[15] Tulisan modern pertama yang memuat identifikasi Gapura Singa secara tepat adalah hasil survei yang dilakukan oleh Francesco Grimani, atas perintah Provveditore Generale Kerajaan Morea pada tahun 1700.[16] Francesco Grimani menggunakan keterangan Pausanias tentang gapura itu sebagai acuan dalam mengidentifikasi reruntuhan Mikene.[17][18][19]

Pada tahun 1840, Paguyuban Arkeologis Yunani melakukan pembersihan awal situs Mikene dari batu dan tanah yang terkumpul selama bertahun-bertahun dan menutupi situs itu. Pada tahun 1876, dengan berpedoman kepada keterangan Pausanias, Heinrich Schliemann mengekskavasi area di selatan Gapura Singa.[15]

Baca juga

Rujukan

Keterangan

  1. ^ Gates 2003, hlm. 136–137.
  2. ^ Hampe & Simon 1981, hlm. 49: "Singa-singa itu mengawasi pertiwi selaku pelindung gapura sekaligus kota. Ukiran singa juga menyiratkan bahwa kota itu maupun rajanya bernaung di bawah perlindungan Dewi Hera. Relief ini adalah satu-satunya karya seni ukir Mikene yang masih dapat kita jumpai."
  3. ^ a b c Kleiner 2009, hlm. 91–92.
  4. ^ Blakolmer 2010, hlm. 49: "Gapura Singa dan batu reliefnya secara khusus tampil menonjol di antara semua monumen zaman Perunggu Yunani yang diketahui lantaran beberapa alasan. Gapura tersebut adalah satu-satunya monumen dari zaman Perunggu Yunani dengan corak hias ikonografis yang tidak pernah terkubur dalam tanah sejak dibangun pada abad ke-13 Pramasehi, malah terus-menerus tegak di alam terbuka dan dapat dilihat oleh para pengunjung. Oleh sebab itu, Gapura Singa tidak pernah ditemukan maupun digali, dan dengan demikian tidak dapat ditautkan dengan nama para penemu artefak semisal Heinrich Schliemann, Christos Tsountas, Alan Wace, maupun ekskavator-ekskavator lain di Mikene. Selain itu, dengan panjang alas 3,60 m dan tinggi lebih dari 3 m, bongkahan batu segitiga di atas ambang gapura itu merupakan karya seni ukir paling monumental yang diketahui berasal dari zaman Perunggu di kawasan Laut Egea. Kemungkinan besar tidak ada karya seni ukir lain dari zaman prasejarah Yunani. Selain itu, monumen ini menghadirkan satu-satunya citra relief dari zaman Perunggu Yunani yang dijabarkan di dalam karya sastra zaman klasik. Bukan tidak masuk akal untuk berasumsi bahwa citra tersebut terkilas di benak Homeros tatka menjabarkan betapa pintu masuk ke istana Alkinoos di Fayakia itu dikawal anjing emas dan anjing perak buatan Dewa Hefaistos. Gambaran yang lebih akurat mengenai gapura ini beserta reliefnya tersaji di dalam keterangan Pausanias dan sastrawan-sastrawan lain yang menyebutnya sebagai hasil karya para Kiklops. Di lain pihak, Strabon malah memberikan keterangan yang keliru bahwasanya tidak ada jejak yang tertinggal dari ibu kota orang Mikene."
  5. ^ Mylonas 1957, hlm. 33–34.
  6. ^ Mylonas 1957, hlm. 114.
  7. ^ a b Mylonas 1957, hlm. 24.
  8. ^ a b Iakovidis 1983, hlm. 30.
  9. ^ a b c d e "The Bronze Age on the Greek Mainland: Mycenaean Greece – Mycenae". Foundation of the Hellenic World. 1999–2000. Diakses tanggal 5 Juni 2014.
  10. ^ O'Brien 1993, hlm. 125: "Yang terakhir adalah Mikene, tempat berdirinya Gapura Singa yang terkenal itu, yang mungkin saja terinspirasi oleh lambang Hera, dan tempat ikonografi menghadirkan bukti yang konsisten dengan pandangan bahwa "Hera" adalah dewata yang paling dimuliakan di sana."
  11. ^ Neer 2012, hlm. 57-58.
  12. ^ Younger 1978, hlm. 15.
  13. ^ a b Castleden 2005, hlm. 126–127.
  14. ^ a b Shaw, Maria C. (1986). "The Lion Gate Relief at Mycenae Reconsidered" (PDF). TSpace (Universitas Toronto). Archaeological Society of Athens, Greece. Diakses tanggal 16 Februari 2016.
  15. ^ a b Mylonas 1957, hlm. 8.
  16. ^ Beaudouin 1880, hlm. 206–210.
  17. ^ Pausanias. Pemerian Negeri Yunani, 2.16.5.
  18. ^ Blakolmer 2010, hlm. 50: "Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika Gapura Singa memikat perhatian sarjana-sarjana Eropa yang mengunjungi gapura kota kenamaan ini di Argolida - daerah yang bukan hanya merupakan salah satu titik fokus kepurbakalaan melainkan juga merupakan jantung wilayah Yunani modern, dan dengan demikian menghadirkan prakondisi-prakondisi yang baik bagi para musafir dan sarjana modern pada abad ke-19. Identifikasi Mikene yang pertama oleh seorang musafir Eropa adalah identifikasi yang dilakukan oleh M. de Monceaux pada tahun 1669, sedangkan penyebutan Gapura Singa untuk pertama kalinya dilakukan oleh insinyur Venesia, Francesco Vandeyk, pada tahun 1700." [Keterangan: Interpretasi kunjungan tahun 1669 disanggah oleh Moore, Rowlands & Karadimas 2014, yang mengatakan bahwa situs yang didatangi M. de Monceaux bukanlah Mikene, having mistakenly identified an acropolis as Mycenae on his travels to Tiryns.]
  19. ^ Moore, Rowlands & Karadimas 2014, hlm. 4: "Identifikasi Mikene yang tepat pada zaman modern untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1700, ketika pemerintah Venesia memerintahkan Francesco Grimani, Proveditor Jenderal Angkatan Bersenjata di Morea, untuk mendaftarkan seluruh aset negara di Peloponesos. Kegiatan pencatatan aset tersebut dilaksanakan di bawah arahan insinyur, Francesco Vandeyk, yang bukan hanya menyusun rencana terperinci untuk tiap-tiap desa, melainkan juga mempelajari dan menjabarkan monumen-monumen kuno. Salah satunya adalah situs kuno Mikene, yang berhasil ia identifikasi berkat keterangan Pausanias. Vandeyk melaporkan keberadaan sebuah pintu masuk monumental yang dihiasi ukiran dua ekor singa dalam gaya heraldis menghadap sebatang tiang. Ia menyebutkan bahwa singa-singa itu menumpukan cakar-cakar depannya di atas dua mezbah, dan itulah sebabnya pintu masuk tersebut kini dikenal sebagai Gapura Singa. Keterangan Pausanias tentang Gapura Singa itu sendiri memang sangat akurat sehingga memustahilkan keraguan bahwa akropolis monumental yang terletak tidak jauh dari desa modern Kharvati itu adalah situs yang diidentifikasi oleh sang sastrawan kuno sebagai benteng Agamemnon."

Sumber

Bacaan lanjutan

  • Aström, P.; Blomé, B. (1964). "A Reconstruction of the Lion Gate Relief at Mycenae". Opuscula Atheniensia (OpAth). 5: 159–191.
  • Blackwell, Nicholas G. (July 2014). "Making the Lion Gate Relief at Mycenae: Tool Marks and Foreign Influence". American Journal of Archaeology. 118 (3). Archaeological Institute of America: 451–488. doi:10.3764/aja.118.3.0451. JSTOR 10.3764/aja.118.3.0451. S2CID 193336855.

37°43′51″N 22°45′22.2″E / 37.73083°N 22.756167°E / 37.73083; 22.756167

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement