Ekonomi Oseania

Cakrawala Kota Sydney

Oseania yang membentang dari Papua Nugini di barat hingga Polinesia Prancis di timur, dan dari Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan, merupakan wilayah ekonomi yang ditandai dengan Zona Ekonomi Eksklusif yang hampir sepertiga permukaan bumi dengan total keluaran kotor ekonominya hanya menyumbang kurang dari 2% dari PDB global. Wilayah ini terdiri dari dua ekonomi maju (Australia dan Selandia Baru) yang menyumbang lebih dari 85% PDB regional dan lebih dari dua puluh ekonomi berkembang yang sebagian besar diklasifikasikan sebagai Negara Berkembang Kepulauan Kecil (SIDS), yang menghadapi kendala struktural akibat ukuran pasar yang kecil, keterpencilan geografis, dan kerentanan terhadap guncangan eksternal.

Karakteristik ekonomi Oseania bergantung pada sektor primer dan jasa dengan pertanian, perikanan dan pariwisata menjadi pilar utama bagi banyak negara kepulauan. Sementara itu, perubahan iklim bukan hanya ancaman lingkungan, tetapi juga menjadi risiko eksistensial bagi ekonomi dan fiskal dengan potensi kerugian tahunan akibat peristiwa ekstrem yang dapat melebihi 20% PDB di beberapa negara.[1]

Sejarah Ekonomi Oseania

Pra Kolonial

Uang Batu Besar (rai)

Sistem ekonomi Oseania pra-kolonial bersifat subsisten dengan pertukaran maritim sebagai penggerak integrasi regional. Bukti arkeologi menunjukkan spesialisasi produksi berdasarkan ekologi pulau, seperti pertanian taro beririgasi di pulau tinggi (Kataoka, 2019) dan perikanan intensif di atol. Jaringan perdagangan seperti Kula Ring di Melanesia Timur, yang didokumentasikan secara etnografis oleh Bronisław Malinowski, berfungsi sebagai sistem pertukaran sirkuler barang berharga seperti di Mwali dan Soulava yang sekaligus menjadi jalur distribusi barang kebutuhan pokok. Di Tongan Maritime Empire juga membentuk jaringan upeti dan redistribusi yang menghubungkan Fiji, Samoa, dan Niue, seperti dibuktikan oleh kesamaan gaya artefak dan catatan tradisi lisan.[2] Di Mikronesia, sistem sawei di Yap dan penggunaan [[ Uang Batu Besar]] atau disebut rai dari Palau menciptakan sistem nilai dan pertukaran yang kompleks.[3]

Pengelolaan sumber daya diatur oleh institusi adat seperti tabu atau rahui (larangan sementara panen)[4], yang merupakan bentuk awal pengelolaan perikanan berkelanjutan.[5] Pola ekonomi didominasi "gift economy", di mana pertukaran barang dan jasa tertanam dalam hubungan sosial dan hierarki dengan elite berperan sebagai redistributor utama. Keunggulan komparatif mendorong perdagangan antar pulau seperti tembikar dari Motu di Papua Nugini, alat obsidian dari Kepulauan Admiralties, dan tekstil tapa dipertukarkan dengan sumber daya pangan dan laut.[6]

Era Kolonial

Era kolonial mentransformasi ekonomi Oseania dari sistem subsisten dan pertukaran regional menjadi ekonomi ekstraktif yang terintegrasi dengan pasar global, didorong oleh kekuatan Eropa, Amerika, dan kemudian Australia serta Selandia Baru. Ledakan dan Kemerosotan Ekonomi yang dipengaruhi oleh eksploitasi sumber daya alam yang diawali dengan kayu cendana terutama di Fiji dan Hawaii hingga habis sekitar 1810-1820, teripang untuk pasar China, dan fosfat yang diekstraksi secara besar-besaran dari Nauru, Banaba, dan Makatea.[7] Perkebunan skala besar diperkenalkan dengan menanam komoditas ekspor seperti gula di Fiji, kopra, dan nanas di Hawaii.[8] Model ini mengubah kepemilikan tanah dari sistem komunal menjadi hak milik individual/pengusaha asing.

Tenaga kerja untuk industri ekstraktif ini diperoleh melalui sistem kerja paksa. Praktik blackbirding merupakan kejahatan yang meluas pada pertengahan hingga akhir abad ke-19.[9] Sistem indentured labor (pekerja kontrak) kemudian menggantikannya, membawa puluhan ribu pekerja dari India ke Fiji untuk perkebunan tebu dan dari Kepulauan Solomon dan Vanuatu ke Queensland dan Fiji.[10] Kondisi kerja mereka seringkali sangat buruk dan mirip dengan perbudakan. Struktur ekonomi yang dihasilkan bersifat enclave—industri ekspor yang dikendalikan asing memiliki sedikit keterkaitan dengan ekonomi subsisten lokal—dan menciptakan ketergantungan baru pada impor pangan serta barang manufaktur.

Pasca Perang Dunia II hingga 1990

Periode pasca-Perang Dunia II menandai fase dekolonisasi dan pembentukan negara-negara berdaulat baru di Oseania, dimulai dengan kemerdekaan Samoa Barat (1962) dan mencapai puncaknya pada 1970-an-80-an dengan kemerdekaan Fiji (1970), Papua Nugini (1975), dan sejumlah negara Kepuluan Pasifik lainnya.[11] Proses politik ini tidak diiringi dengan kemandirian ekonomi yang sepadan. Muncul penyesuaian struktural pada bantuan asing yang struktural, di mana anggaran pemerintah banyak negara baru bergantung signifikan pada hibah dan pinjaman dari negara kekuatan kolonial sebelumnya dan bantuan multilateral.[12]

Pada 1970-an dan awal 1980-an, beberapa negara mengalami boom komoditas yang memberikan optimisme ekonomi jangka pendek. Contohnya adalah kenaikan harga fosfat yang mendorong pertumbuhan pesat di Nauru hingga menjadi salah satu negara dengan PDB per kapita tertinggi dunia,[13] serta lonjakan sementara harga kopra, kayu, dan mineral lainnya di negara seperti Papua Nugini dan Kepuluan Solomon.

Menjelang akhir 1980-an dan 1990-an, tekanan dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia mendorong adopsi kebijakan [[penyesuaian struktural] di beberapa negara, seperti Papua Nugini dan Fiji.[14]

Zona Ekonomi Ekslusif

Penerapan Zona Ekonomi Eksklusif berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 di kawasan Oseania telah diratifikasi secara umum di semua negara kepulauan Pasifik yang merdeka dan memberikan dasar hukum bagi klaim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Dalam kapasitas untuk menegakkan kedaulatan penuh atas ZEE ini sangat bervariasi, dengan banyak negara kecil memiliki sumber daya terbatas untuk patroli dan pengawasan maritim secara efektif.[15] Penetapan batas ZEE telah memicu sengketa maritim, seperti yang melibatkan Fiji, Tonga, dan Kaledonia Baru di Laut Koral, kendati mekanisme seperti negosiasi dua negara dan mediasi melalui Pacific Islands Forum lebih sering dipilih dibandingkan litigasi resmi.

Kontras total luas ZEE di kawasan Oseania mencapai sekitar 40 juta kilometer persegi dengan luas daratannya yang sekitar 8,5 juta kilometer persegi. Kontras ini menjadi sangat ekstrem bagi negara-negara kecil seperti Republik Kiribati memiliki ZEE seluas 3,5 juta km² sementara luas daratannya hanya 811 km². Dari segi ekonomi valuasi ZEE saat ini masih sangat didominasi oleh sektor perikanan, khususnya tuna. Nilai lisensi penangkapan tuna yang dibayarkan kepada negara-negara anggota Forum Fisheries Agency (FFA) diperkirakan mencapai sekitar 500 juta dolar AS per tahun, yang mencerminkan upaya penangkapan nilai atau rente hasil tangkapan ikan terlihat lebih adil melalui skema kolektif seperti Vessel Day Scheme.[16]

Infrastruktur

Penggunaan kano untuk perdagangan dan mencari ikan di Port_Moresby,British New Guinea

Kelautan

Infrastruktur kelautan menjadi faktor vital konektivitas dan sekaligus kehidupan di Oceania, di mana laut berfungsi sebagai jalan raya utama sehingga membuat negara-negara pulau di wilayah tersebut rentan terisolasi. Ketergantungan tinggi pada transportasi laut telah membentuk "ekonomi pulau" yang khas sekaligus rapuh di kawasan Pasifik.[17]

Kondisi saat ini menunjukkan ketergantungan pada sejumlah kecil pelabuhan gerbang internasional dengan kapasitas terbatas, sementara konektivitas antar-pulau dan ke daerah terluar bergantung pada armada yang sudah tua dan jadwal yang tidak dapat diandalkan. Selain itu kerapuhan wilayah Oceania dengan keterbatasan bahan bakar kapal laut yang signifikan karena ketergantungan total pada bahan bakar fosil yang tidak hanya mahal dan tidak berkelanjutan tetapi juga menciptakan siklus penggantian kapal tua dengan armada serupa akibat jarak rute antar-pulau yang panjang dan ekonomi kecil. Dorongan regulasi IMO untuk rendah karbon mendorong investasi armada baru efisien, potensial turunkan biaya operasional 15-25% via desain ramah energi.[17]

Penerbangan

Tantangan utama negara-negara kepulauan kecil di Pasifik yang menghadapi keterbatasan populasi, isolasi geografis ekstrem, sumber daya minim, serta permintaan penerbangan domestik rendah yang menghambat pengembangan layanan udara esensial untuk mendukung sektor ekonomi penerbangan. Kemitraan regional antarnegara Pasifik, penguatan maskapai nasional, deregulasi pasar penerbangan, serta penerapan model Low-Cost Carriers (LCC) atau maskapai penerbangan bertarif rendah yang disesuaikan dari Australia dan Selandia Baru dengan karakteristik jarak jauh serta layanan minimal berbeda dari model Amerika atau Eropa. LCC menawarkan peluang ekspansi rute internasional, aksesibilitas bagi kelas menengah yang berkembang, dan dorongan pariwisata melalui tarif rendah, namun menghadapi hambatan seperti biaya bahan bakar tinggi, regulasi ketat, serta persaingan dengan maskapai penuh layanan di wilayah Oseania yang tersebar luas.[18]

Distribusi Manusia

Pola distribusi populasi Oseania didominasi distribusi kota prima yang secara mendasar membentuk geografi sosial-ekonomi kawasan. Fenomena ini bukan sekadar hasil migrasi, melainkan warisan langsung dari administrasi kolonial yang memusatkan semua fungsi pemerintahan, perdagangan, dan layanan di satu lokasi pesisir, serta diperkuat oleh pola investasi pembangunan pasca-kemerdekaan yang terus terkonsentrasi. Akibatnya, kota-kota utama seperti Port Moresby, Suva, dan Apia tidak hanya menjadi pusat distribusi manusia tetapi menjadi pusat ekonomi dan sosial, menarik migran dari pedesaan dan pulau-pulau terluar yang mencari pekerjaan, pendidikan, dan layanan kesehatan.[19]

Transisi demografi di Oseania mengikuti pola inti dari tingkat kelahiran dan kematian tinggi ke rendah dengan karakteristik, kecepatan, dan dampak yang sangat khas karena konteks kepulauan, budaya, dan ekonomi kawasan. Transisi ini didorong tidak hanya faktor ekonomi semata, tetapi juga pergeseran mendalam dalam nilai keluarga, biaya membesarkan anak, dan peran perempuan yang semakin mengakar seiring dengan urbanisasi, peningkatan pendidikan, dan integrasi ke ekonomi global.[20] Di Oseania, hal ini terwujud dalam sebuah lanskap yang terfragmentasi dan tidak seragam. Sejumlah negara terutama di Melanesia masih berada dalam tahap awal transisi dengan [[Angka kesuburan total tingkat fertilitas]] tinggi dan struktur populasi yang menciptakan bonus demografi yang signifikan. [21]

Dinamika migrasi di Oseania semakin dipahami sebagai respons kompleks terhadap tekanan lingkungan, di mana perubahan iklim berfungsi sebagai pengganda ancaman sebagai pendorong migrasi ekonomi dan sosial. Kenaikan permukaan laut, intensifikasi siklon, dan salinisasi sumber daya air tawar secara progresif merusak mata pencaharian pertanian dan perikanan serta menurunkan kelayakan huni pulau-pulau rendah, sehingga memaksa perpindahan penduduk.[22]


Ekonomi Sektoral

Pertanian

Makanan tradisional yaitu kava, talas, dan penyu yang merupakan ciri khas dari kawasan Oseania

[23]

Pertanian subsisten di Oseania merupakan tulang punggung sistem pangan dan kehidupan sosial-ekonomi bagi mayoritas masyarakat pedesaan yang menghadapi tekanan eksistensial. Secara struktural sektor pertanian subsisten dicirikan oleh produksi pangan pokok berbasis lahan keluarga dengan tanaman seperti taro di Melanesia Barat, ubi di Polinesia, dan singkong yang ditujukan untuk konsumsi rumah tangga dan pemenuhan kewajiban adat. Sistem pertanian ini memiliki akar sejarah yang sudah berkembang dari ribuan tahun melalui proses domestikasi dan adaptasi tanaman tropis yang membentuk dasar ketahanan pangan regional hingga saat ini.[24] Studi genomik populasi menunjukkan bahwa pola migrasi dan adaptasi biologis masyarakat Oseania sejalan dengan penyebaran praktik pertanian subsisten yang mencerminkan evolusi antara manusia dan sistem pangan selama ribuan tahun. Ketahanan pertanian ini adalah sistem tenurial tanah adat yang menguasai sekitar 80-97% tanah di sebagian besar negara (kecuali Fiji), yang menjamin akses masyarakat tetapi sekaligus menjadi hambatan struktural untuk investasi modal, mekanisasi, dan perubahan skala usaha.[25]

Perikanan

Keunikan dari perikanan laut Oseania terletak pada kemampuan untuk menyinergikan kearifan ekologi masa lalu dengan kebijakan konservasi masa depan. Data arkeologi menunjukkan bahwa masyarakat Oseania telah mengembangkan teknologi dan sistem pengelolaan perikanan yang canggih dan adaptif selama ribuan tahun, seperti berbagai bentuk kail dari cangkang, perangkap batu, serta aturan sosial seperti tabu yang berfungsi sebagai kawasan larang tangkap sementara. Sistem ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya laut berkelanjutan dengan mengandalkan pemahaman mendalam tentang ekologi lokal dan aturan berbasis komunitas. Transisi ke ekonomi modern telah mengubah penangkapan ikan berlebih merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehatan ekosistem laut Oseania saat ini yang diperparah oleh perubahan iklim dan polusi. Model pengelolaan perikanan kontemporer yang berpusat pada kuota dan teknologi penangkapan skala besar sering kali mengabaikan prinsip-prinsip adaptif lokal dan batasan ekologis jangka panjang yang justru dipahami dalam sistem tradisional.[26]

Peran perempuan dalam perikanan di Oseania adalah substansial, beragam, dan secara historis kurang mendapat pengakuan dalam narasi arkeologis dan antropologis yang didominasi oleh aktivitas laki-laki. Bukti etnografis dan historis bahwa perempuan di berbagai masyarakat Oseania secara aktif terlibat dalam penangkapan ikan, pengumpulan sumber daya akuatik, serta pemrosesan dan distribusi hasil tangkapan. Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan di zona intertidal, tetapi mencakup metode penangkapan yang menggunakan jaring, perangkap, dan bahkan penangkapan ikan di terumbu karang dan perairan yang lebih dalam di beberapa budaya. Kontribusi perempuan ini merupakan pilar integral dari ekonomi subsisten rumah tangga dan sistem ketahanan pangan.[27]

Pariwisata

Shangri-La's Fijian Resort

Pasar pariwisata Oseania membentuk lanskap ekonomi yang berlapis-lapis dan kompleks. Setiap lapisan memiliki dinamika permintaan, model bisnis, dan dampak ekonomi yang berbeda-beda. Lapisan pasar teratas didominasi oleh destinasi resort skala besar seperti Fiji dan French Polynesia, yang dibangun di atas investasi modal asing masif, koneksi penerbangan internasional langsung, dan penawaran paket wisata pantai.[28] Segmen ini merupakan pendapatan utama di sektor pariwisata, namun tingkat kebocoran ekonomi yang tinggi menunjukkan pengeluaran dalam ekonomi lokal, melainkan mengalir keluar untuk mendanai impor, keuntungan perusahaan multinasional, dan gaji tenaga ahli asing.[29]

Perkembangan destinasi wisata minat khusus seperti Vanuatu untuk wisata gunung berapi dan budaya kastom, atau Papua Nugini untuk ekowisata dan budaya suku dataran tinggi menyasar wisatawan dengan motivasi khusus dan memiliki daya beli lebih tinggi, serta membuka peluang lebih luas untuk pariwisata berbasis komunitas di mana kepemilikan dan manfaat ekonomi lebih terdistribusi di tingkat lokal. Pariwisata kunjungan keluarga dan subsisten yang tersebar di berbagai pulau terluar berperan penting dalam sirkulasi ekonomi mikro, seperti usaha homestay kecil, warung makan, dan transportasi lokal.

Referensi

  1. ^ "Trade and Environment Review 2021" (PDF). UNCTAD (dalam bahasa Inggris). 17 Februari 2021. Diakses tanggal 5 Februari 2026.
  2. ^ Kolb, Michael J; et al. (April 2002). "On the Road of the Winds: An Archaeological History of the Pacific Islands before European Contact". American Antiquity (dalam bahasa Inggris). 67 (2): 392. doi:10.2307/2694595. Diakses tanggal 6 Februari 2026.
  3. ^ Fitzpatrick, Scott M. (March 2008). "Maritime interregional interaction in Micronesia: Deciphering multi-group contacts and exchange systems through time" (PDF). Journal of Anthropological Archaeology (dalam bahasa Inggris). 27 (1): 131-146. doi:10.1016/j.jaa.2007.12.002. Diakses tanggal 6 Februari 2026.
  4. ^ Bambridge, Tamatoa (6 April 2016). "The law of rahui in the Society Islands". HAL open science: 119-135. Diakses tanggal 6 Februari 2026.
  5. ^ "The Renaissance of Community-Based Marine Resource Management in Oceania". Annual Review of Ecology and Systematics (dalam bahasa Inggris). 20 (33): 317-340. November 2002. Bibcode:2002AnRES..33..317J. doi:10.1146/annurev.ecolsys.33.010802.150524. Diakses tanggal 6Februari 2026. ;
  6. ^ "The Lapita Cultural Complex: Current Evidence and Proposed Models". Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association (11): 295-305. 1991. Diakses tanggal 6 Februari 2026 – via Google.
  7. ^ Moore, Clive (ed.). The Forgotten People: A History of the Australian South Sea Island Community,. Australian Broadcasting Commission, 1979. ISBN 0642972605.
  8. ^ Denoon, Donald (ed.). The Cambridge History of the Pacific Islanders (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0521003547.
  9. ^ Banivanua-Mar, Tracey (2007). Violence and colonial dialogue : the Australian-Pacific indentured labor trade. University of Hawaii Press. ISBN 9780824830250 – via National Library of Australia.
  10. ^ Knapman, Bruce (1985). "Capitalism's economic impact in colonial Fiji. 1874–1939: Development or underdevelopment?". The Journal of Pacific History. 20: 66-83. doi:10.1080/00223348508572508.
  11. ^ Fischer, Steven R (2013), A history of the Pacific Islands / Steven Roger Fischer (dalam bahasa English), Palgrave Macmillan, ISBN 0230362680, diakses tanggal 07 February 2026 – via National Library of Australia Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  12. ^ Fraenkel, Jon. "Pacific Islands and New Zealand, Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand". Diakses tanggal 6 Februari 2026.
  13. ^ Williams, Maslyn, 1911-1999; Macdonald, Barrie (1985), The phosphateers : a history of the British Phosphate Commissioners and the Christmas Island Phosphate Commission / Maslyn Williams, Barrie MacDonald (dalam bahasa English), Melbourne University Press, ISBN 0522843026, diakses tanggal 07 February 2026 – via National Library of Australia Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  14. ^ Stein, Leslie (1992). "Structural adjustment in Papua New Guinea". PACIFIC ECONOMIC BULLETIN (dalam bahasa Inggris). 7 (2). Diakses tanggal 6 Februari 2026.
  15. ^ Mose, Janice (9 July 2023). "Ocean Governance in action: strengthening Pacific capacity to define and secure maritime zones". Diakses tanggal 7 Februari 2026.
  16. ^ Tarte, Sandra (7 Mei 2014). "Regionalism and Changing Regional Order in the Pacific Islands". Asia & the Pacific Policy Studies (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 312-324. doi:10.1002/app5.27. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
  17. ^ a b Peter, Nuttall; et al. (Januari 2014). "A review of sustainable sea-transport for Oceania: Providing context for renewable energy shipping for the Pacific". Marine Policy. 43: 283-287. doi:10.1016/j.marpol.2013.06.009. Diakses tanggal 7 Februari 2026.
  18. ^ Taumoepeau, Semisi; et al. "Low-Cost Carriers in Oceania, Pacific: Challenges and opportunities". Journal of Air Transport Management. 65: 40-42. doi:10.1016/j.jairtraman.2017.07.007.
  19. ^ Dowling, Robyn; McGuirk, Pauline (2016). "Cities of Australia and the Pacific Islands. In S. D. Brunn, M. Hays-Mitchell, D. J. Zeigler & J. K. Graybill (Eds.), Cities of the World: Regional Patterns and Urban Environments". University of Wollongong. Chapter. Lanham, United States: Rowman & Littlefield.: 502-534.
  20. ^ Caldwell, John C. (19 June 2006). "Demographic Transition Theory". Springer Science+Business Media B.V. 2006 (dalam bahasa Inggris). 1. Springer Dordrecht. doi:10.1007/978-1-4020-4498-4.
  21. ^ Connell, John (January 2015). "Vulnerable Islands: Climate Change, Tectonic Change, and Changing Livelihoods in the Western Pacific". The Contemporary Pacific (dalam bahasa Inggris). 27 (1): 1-36. doi:10.1353/cp.2015.0014. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  22. ^ Ochirova, Galina N; et al. (2019). "The relation of environmental and climatic changes and migration situation in Oceania". RUDN Journal of Economics. 27 (2): 313-325.
  23. ^ Gordon Cumming., C. F. At home in Fiji (Edisi 23). W. Blackwood and Sons, 1881., Scotland, 1881. hlm. 669–675.
  24. ^ Yen, D. E (January 1993). "The origins of subsistence agriculture in Oceania and the potentials for future tropical food crops". Economic Botany. 47: 3-14. doi:10.1007/BF02862202. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  25. ^ Choin, J; Mendoza-Revilla; J., Arauna, L.R.; et al. (2021). "Genomic insights into population history and biological adaptation in Oceania". Nature. 592: 583–589. doi:10.1038/s41586-021-03236-5. Diakses tanggal 8 Februari 2026. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  26. ^ Friedlander, Alan M. (Oktober 2018). "Marine conservation in Oceania: Past, present, and future". Marine Pollution Bulletin. 135: 139-149. doi:10.1016/j.marpolbul.2018.05.064. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  27. ^ Chapman, Margaret D (September 1987). "Women's fishing in Oceania". Human Ecology. 15: 267–288. doi:10.1007/BF00888026. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  28. ^ C. Michael Hall; Stephen J. Page (2014). The Geography of Tourism and Recreation : Environment, Place and Space (Edisi 4). London: Routledge. doi:10.4324/9780203796092. ISBN 9780203796092.
  29. ^ Scheyvens, Regina; Momsen, Janet H (2020). Tourism and Poverty Reduction: Issues for Small Island States (Edisi 1). London: Routledge. hlm. 19. ISBN 9780429324253. Diakses tanggal 9 Februari 2026.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement