Durungbedug, Candi, Sidoarjo
Durung bedug | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Sidoarjo | ||||
| Kecamatan | Candi | ||||
| Kode pos | 61271 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.15.07.2016 | ||||
| Luas | _ | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ..jiwa/km² | ||||
| |||||
Durungbedug adalah sebuah desa di kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Desa ini memiliki sebuah arti "Belum Dhuhur" (arti dari bahasa Jawa). Sejarah nama desa ini dari cerita tutur bahwa pembabatan hutan desa ini selesai sebelum dhuhur sehingga namanya "Durungbedug". Situasi dan kondisi awal Tahun 1980 an desa Durungbedug kec Candi Sidoarjo terasa begitu terpencil dan terbelakang, di samping letaknya yang memang berada di paling barat kecamatan Candi (batas utara, selatan dan barat adalah wilayah kecamatan lain) jadi benar benar secara posisi terpencil, ditambah lagi dengan sarana prasarana jalan masih jalan tanah, jaringan listrik belum ada. Akhir th 1980 an baru PLN masuk, jalan makadam yang akhirnya ditingkatkan menjadi jalan aspal. Perkembangan desa ini luar biasa pesat setelah adanya jalan aspal dan listrik sehingga berkembang seperti sekarang ini. mata pencaharian penduduk desa ini sebagian adalah petani sayur, sehingga kesejahteraan petaninya lumayan bagus karena sayur 17 hari sudah panen, pengolahan lahan kira2 tiga hari, jadi perputaran panennya cepat sekali tapi memang butuh kerja keras karena beda dengan padi atau tebu, untuk sayur harus menyirami 3 kali sehari, ini yang membuat orang malas bekerja tidak akan sanggup menjadi petani sayur meskipun hasilnya menggiurkan. saai ini upaya penggunaan mesin mesin pertanian mulai dilakukan sehingga lebih meringankan petani sayur.
SEJARAH DESA DURUNG BEDUG - CANDI - SIDOARJO
Satu di antara nama desa unik di Sidoarjo adalah Durungbedug. Desa di Kecamatan Candi yang didominasi sawah dan lahan tebu itu memiliki banyak cerita unik di balik nama tersebutu. Durung berarti sebelum, bedug berarti suara beduk yang menandai masuk waktu salat duhur.
Sudarjo, salah seorang warga Durungbedug, mengungkapkan bahwa dari cerita yang didengar, konon katanya ada seorang petani yang datang ke area tersebut. Tadinya lokasi desa adalah hutan. Petani yang datang bersama istrinya itu lantas berusaha membuka lahan pertanian setelah diusir dari daerah utara.
’’Katanya saat sampai sini, kondisinya itu hutan dan keduanya bikin gubuk,’’ ujarnya. Pelan-pelan pasangan suami istri tersebut membabat pohon dan semak belukar. ’’Dilakukan setiap pagi sampai sebelum beduk karena saat beduk petani itu sudah kecapekan, makanya dinamakan Durungbedug atau sebelum beduk,’’ ujarnya.
Setelah beberapa hari, akhirnya petani berhasil membuat beratus-ratus meter persegi sawah dan ditanami dengan padi serta tebu. Akan tetapi, Sudarjo tidak mengetahui sama sekali siapa nama petani tersebut. ’’Konon katanya dimakamkan di sekitar sini. Setelah dibabat karena tanah sini subur, banyak orang datang dan bikin permukiman,’’ tuturnya.
Namun, dia tidak bisa memastikan apakah cerita tersebut adalah benar atau folklore belaka. ’’Tapi, yang saya dengar begitu,’’ ungkapnya.
Sementara itu, menurut pegiat sejarah Sidoarjo dr Sudi Harjanto, sebenarnya nama Durungbedug ataupun tetangga desanya Durungbanjar sudah ada di peta lama Belanda pada 1892. Waktu itu masih tertulis Durung saja. ’’Kemungkinan sebelum itu sudah ada juga, nama yang baru ada bedug dan banjar ini sekitar 1900-an,’’ ungkapnya.
Menurut dia, ada sebuah punden kuno di makam Islam lama di antara dua desa tersebut. Diketahui, punden itu merupakan makam Raden Bagus. Tapi, mengenai apakah itu leluhur yang membabat alas dirinya belum bisa memastikan
Sumber : jawapos com
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



