Disonansi budaya
Dalam sosiologi dan kajian budaya, disonansi budaya adalah rasa perselisihan, ketidakharmonisan, kebingungan, atau konflik yang dialami oleh orang-orang di tengah perubahan lingkungan budaya mereka. Perubahan tersebut seringkali tidak terduga, tidak dapat dijelaskan, atau tidak dapat dipahami karena berbagai jenis dinamika budaya.[1]
Studi tentang disonansi budaya mengambil cakupan analisis sosio-budaya yang luas yang menyelidiki ekonomi, politik, nilai-nilai, gaya belajar, faktor-faktor budaya, seperti bahasa, tradisi, etnis, warisan budaya, sejarah budaya, format pendidikan, desain kelas, dan bahkan isu-isu sosio-budaya seperti etnosentrisme, rasisme dan warisan sejarah masing-masing dalam budaya.
Riset
Topik penelitian dalam disonansi budaya cenderung bersifat interdisipliner yang diambil dari berbagai disiplin ilmu dan menerapkan temuannya ke berbagai bidang dan industri yang sama beragamnya.
Pendidikan
Winifred L. Macdonald menyimpulkan dalam tesisnya bahwa, "... penanda bahasa dan etnis yang sama tidak cukup untuk memastikan bahwa perbedaan budaya dalam sistem pendidikan tidak dialami oleh keluarga." Macdonald juga mengamati bahwa disonansi budaya terkadang dikatakan menghambat adaptasi sosial-budaya.[1]
Susan Black, konsultan riset pendidikan, menulis sebuah artikel di American School Board Journal of the National School Board Association yang merangkum beberapa tindakan yang direkomendasikan oleh beberapa peneliti dalam mengatasi disonansi budaya terkait pendidikan. Rekomendasi bagi para pendidik antara lain:
- Kenali etnosentrisme
- Mengetahui dan memahami warisan budaya siswa
- Memahami isu dan nilai sosial, ekonomi, dan politik dalam berbagai budaya
- Mengadopsi sikap bahwa siswa—semua siswa—dapat belajar
- Ciptakan kelas yang benar-benar peduli di mana semua siswa dihargai dan diterima.
Temuan umum lainnya meliputi:
- Geneva Gay (Universitas Washington di Seattle, Washington), mengusulkan bahwa perbedaan dapat meletus menjadi bentrokan budaya
- Para peneliti di Laboratorium Pendidikan Regional Barat Laut mencatat bahwa banyak studi kasus anekdot menunjukkan bagaimana praktik responsif budaya meningkatkan perilaku dan prestasi siswa.[2]
Lihat pula
Referensi
- ^ a b Macdonald. (Thesis). Curtin University of Technology.
- ^ Black, Susan. American School Board Journal; Jan 2006, Vol. 193 Issue 1, p34-36, 3p
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


