Bejaratana Rajasuda, Putri Nakhon Pathom

Bejaratana Rajasuda
เพชรรัตนราชสุดา
Putri Thailand
Putri Nakhon Pathom
Anggota paling senior dari Dinasti Chakri
Berkuasa2 Januari 2008–27 Juli 2011
PendahuluGalyani Vadhana, Putri Naradhiwas
PenerusBhumibol Adulyadej (Rama IX dari Thailand)
Kelahiran(1925-11-24)24 November 1925
Istana Raja, Bangkok, Siam
Kematian27 Juli 2011(2011-07-27) (umur 85)
Rumah Sakit Siriraj, Bangkok, Thailand
Pemakaman9 April 2012
Nama lengkap
Somdet Phra Chao Boromwongse Thoe Chaofa Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi Krom Phra Nakhon Pathom Boromkhattiyani Mahadhirarajadhita
DinastiChakri
AyahVajiravudh (Raja Rama VI)
IbuKhrueakaeo Abhayavongsa
AgamaBuddha Theravada
Tanda tanganBejaratana Rajasuda เพชรรัตนราชสุดา

Bejaratana Rajasuda, Putri Nakhon Pathom (bahasa Thai: เพชรรัตนราชสุดา; pengucapan Thai: [pʰêttɕʰarát râːttɕʰasùdāː]; RTGS: Phetcharat Ratchasuda, 24 November 1925-27 Juli 2011) merupakan anak tunggal Raja Vajiravudh (Rama VI) dari Thailand. Ia adalah sepupu Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dari Thailand dan sepupu ketiga Raja Norodom Sihanouk dari Kamboja.[1][2]

Biografi

Putri Bejaratana Rajasuda lahir pada 25 November 1925 di Istana Raja, Bangkok. Ia adalah anak tunggal Raja Vajiravudh (Rama VI) dan Putri Suvadhana (nama gadis Khrueakaeo Abhayavongsa). Setelah bertemu putrinya satu kali saja, sang raja meninggal keesokan harinya. Setelah melihat putrinya hanya satu kali, Raja Vajiravudh meninggal keesokan harinya. Pamannya, yang menjadi Raja Prajadhipok (Rama VII), melaksanakan upacara pemberian nama untuk sang putri pada tanggal 30 Desember.[3]

Sebelum kelahirannya, ada tiga nama yang dipikirkan untuknya:

  • Bejaratana Rajaorasa Sirisobhabannavadi (bahasa Thai: เพชรรัตนราชอรสา สิริโสภาพัณณวดี)
  • Bejaratana Rajachulin Sirisobinbannavadi (bahasa Thai: เพชรรัตนจุฬิน สิริโสภิณพัณณวดี)
  • Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi (bahasa Thai: เพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี)[4]

Akhirnya, pamannya, Raja Prajadhipok (Rama VII), memilih nama belakang untuknya, Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi, yang berarti seorang putri bangsawan yang lahir sebagai permata yang merupakan berlian pada Wajra dan memiliki kulit yang cantik.[3][5]

Keluarga Abhayavongsa dari pihak ibunya adalah keluarga bangsawan Siam yang memerintah Battambang di Kamboja dan mengirim para wanita untuk menikah dengan keluarga kerajaan Kamboja, menjadikannya sepupu ketiga Raja Norodom Sihanouk, mantan Raja Kamboja, dan sepupu keempat Raja Norodom Sihamoni.[6][7]

Pindah ke Inggris

Putri Suvadhana dan Putri Bejaratana Rajasuda di Bangkok sebelum pindah ke Inggris

Setelah dia bisa berjalan, Raja Prajadhipok menyuruh dia dan ibunya pindah bersama Ratu Savang Vadhana di Istana Dusit. Ia bersekolah di Sekolah Rajani hingga usia 12 tahun. Ia dan ibunya kemudian pindah ke Inggris, tempat ia melanjutkan pendidikan dan menjalani pengobatan untuk mengatasi kesehatannya yang buruk. Ia pertama kali tinggal di Fairhill Villa di Surrey, sebelum menetap di Brighton.[8] Ibu dan anak ini menghadapi banyak kesulitan karena kemerosotan ekonomi selama Perang Dunia II, sehingga mereka berhemat dalam menabung, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, untuk menghemat biaya mempekerjakan pembantu asing sementara semua pelayan di istana adalah wanita.[9]

Ia belajar bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan piano dengan guru-guru asing. Selama Perang Dunia II pada tahun 1930, ia bersekolah di Sekolah Sacred Heart khusus putri di Wales.[10] Selama lebih dari 20 tahun tinggal di Inggris, dia dan ibunya sangat baik kepada orang Thailand di Inggris. Mereka selalu menyambut orang Thailand dan mengatur jamuan makan untuk mereka.[10]

Dari kiri ke kanan; Raja Prajadhipok, Putri Bejaratana Rajasuda, Putri Suvadhana dan Ratu Rambhai Barni; di Inggris

Beliau senantiasa mendukung berbagai kegiatan masyarakat Thailand. Beliau secara rutin berpartisipasi dalam kegiatan Samakkhi Samakhom di bawah naungan Kerajaan, sebuah perkumpulan mahasiswa Thailand di Britania Raya. Selain itu, selama Perang Dunia II, beliau mengabdikan diri untuk membantu Palang Merah Britania Raya, memberikan bantuan kepada tentara dan korban perang dengan melakukan berbagai layanan publik seperti menggulung perban, menyediakan obat-obatan, dan perlengkapan medis. Oleh karena itu, Palang Merah Britania Raya menganugerahi beliau sertifikat kebaikan.[10]

Setelah Revolusi Siam 1932, Raja Prajadhipok dan Ratu Rambhai Barni pindah ke Inggris dan kemudian turun takhta. Putri Bejaratana Rajasuda dan Putri Suvadhana selalu mengunjungi mereka.

Pindah kembali ke Thailand

Setelah Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) naik takhta, ia mengundang Putri Bejaratana Rajasuda dan ibunya untuk kembali ke Thailand. Dia kembali ke Thailand secara permanen pada tahun 1959, membeli tanah di daerah Sukhumvit dan membangun istana baru yang disebut Istana Ruenrudee.[10] Sang putri mengemban tugasnya sebagai perwakilan keluarga kerajaan. Minat khususnya meliputi pendidikan, kesehatan masyarakat, agama Buddha, tentara dan polisi yang menjaga perbatasan Thailand, serta kesejahteraan masyarakat umum.

Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn mendukung Putri Bejaratana Rajasuda saat pemakaman Krematorium Kerajaan Putri Suvadhana, diikuti oleh anggota keluarga kerajaan lainnya pada tahun 1986

Pada masa pemerintahan Raja Bhumibol Adulyadej (Rama X), Putri Bejaratana Rajasuda merupakan Chao Fa kelas dua karena ibunya hanya seorang putri permaisuri, bukan ratu, yang mana kedudukannya lebih rendah dibandingkan dengan keempat anak Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit yang merupakan Chao Fa kelas satu. Putri Bejaratana Rajasuda didahului oleh Putri Chulabhorn dalam urutan prioritas di istana Thailand tetapi diikuti oleh Putri Galyani Vadhana, yang juga merupakan Chao Fa kelas dua karena ayahnya adalah seorang raja. Namun, Putri Bejaratana Rajasuda dihormati oleh Raja dan Ratu sebagai kakak perempuan, dan oleh keempat anak Raja sebagai bibi. Keempat pangeran dan putri sering menghormati Putri Bejaratana Rajasuda dengan berada di belakangnya dan membiarkannya berjalan di depan dalam upacara dan acara kerajaan.

Setelah kematian Putri Suvadhana pada tahun 1985, Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit memberikan perhatian yang sangat baik kepada Putri Bejaratana Rajasuda, khususnya mengenai tempat tinggal, makanan, dan kesehatannya. Menjelang akhir hayatnya, ia mengurangi tugas kerajaannya karena usia, tetapi kadang-kadang masih melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan ayah kerajaannya.

Kematian

Krematorium kerajaan Putri Bejaratana Rajasuda di Sanam Luang

Pada hari Rabu, 13 Juli 2011, Putri Bejaratana Rajasuda dirawat di Rumah Sakit Siriraj untuk menjalani perawatan infeksi darah. Tim medis memberikan perawatan terbaiknya hingga Rabu, 27 Juli 2011, kondisinya semakin memburuk dan beliau meninggal dunia pada pukul 16.37 di Rumah Sakit Siriraj, dalam usia 85 tahun, 8 bulan, dan 3 hari.[11][12]

Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) kemudian mengeluarkan perintah kerajaan kepada Biro Rumah Tangga Kerajaan untuk menyelenggarakan pemakaman kerajaan dengan penghormatan kerajaan tertinggi sesuai dengan tradisi kerajaan.[13]

Selain itu, Kantor Perdana Menteri Thailand mengumumkan bahwa semua kantor pemerintah, lembaga pemerintah, perusahaan negara, dan lembaga pendidikan akan menurunkan bendera setengah tiang dan pegawai negeri sipil, karyawan, dan staf lembaga pemerintah, lembaga pemerintah, dan perusahaan negara akan menjalani masa berkabung selama 15 hari, dimulai sejak 29 Juli 2011 dan seterusnya (kecuali 12 Agustus, yang merupakan hari ulang tahun Ratu Sirikit).[14][15]

Pada hari Jumat, 29 Juli 2011, Abhisit Vejjajiva, yang saat itu menjabat sebagai Penjabat Perdana Menteri Thailand, mengeluarkan Perintah Kantor Perdana Menteri No. 130/2011 mengenai upacara kremasi kerajaan untuk Putri Bejaratana Rajasuda dan mengadakan pertemuan khusus. Pada tanggal 1 Agustus 2011, diputuskan bahwa upacara kremasi kerajaan akan diselenggarakan dengan penghormatan tertinggi sesuai tradisi kerajaan kuno sebagai putri seorang raja yang lahir dari seorang permaisuri, setara dengan upacara kremasi kerajaan untuk Galyani Vadhana, Putri Naradhiwas.

Kemudian, pada tanggal 5 Agustus 2011, Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) mengeluarkan perintah kerajaan yang menunjuk Yingluck Shinawatra sebagai Perdana Menteri Thailand, yang mengakibatkan berakhirnya Perintah Kantor Perdana Menteri No. 130/2011. Demi memastikan pemakaman Putri Bejaratana Rajasuda berjalan lancar dan bermartabat, Yingluck Shinawatra telah membentuk komite baru untuk mengawasi upacara kremasi kerajaan. Komite ini beranggotakan anggota Keluarga Kerajaan (Pangeran Mongkolchalerm Yugala), Presiden Dewan Penasihat dan Negarawan, Presiden Majelis Nasional, Presiden Mahkamah Agung, Presiden Senat, dan seorang Anggota Dewan Penasihat (Palakorn Suwanrath) sebagai penasihat. Perdana Menteri akan bertindak sebagai ketua, Sekretaris Tetap Kantor Perdana Menteri akan bertindak sebagai anggota dan sekretaris, sementara para kepala lembaga dan pakar terkait akan bertindak sebagai anggota komite.

Pangkalan Phra Ruang Rochanarit di Phra Pathommachedi di Provinsi Nakhon Pathom tempat abu kerajaan Raja Vajiravudh (Rama VI), Putri Suvadhana dan Putri Bejaratana Rajasuda disimpan

Jasadnya dikremasi di bawah perlindungan kerajaan Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dan Ratu Sirikit Barni di Sanam Luang pada tanggal 9 April 2012.[16][17][18]

Abunya dibagi menjadi dua bagian, sesuai perintah Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX). Bagian pertama ditempatkan di Pemakaman Kerajaan di Wat Ratchabophit pada 12 April 2012 oleh Putri Sirindhorn[19], dan bagian kedua ditempatkan di Phra Pathommachedi di Provinsi Nakhon Pathom pada 12 Desember 2012 oleh Putri Soamsawali bersama abu kerajaan ayahnya, Raja Vajiravudh (Rama VI), dan ibunya, Putri Suvadhana.[20]

Pengangkatan anumerta

Pada bulan November 2025, bertepatan dengan ulang tahun ke-100 Putri Bejaratana Rajasuda, Raja Vajiralongkorn (Rama X) mengeluarkan perintah kerajaan untuk menetapkan abunya sebagai Putri Nakhon Pathom. Pada tanggal 4 November, Raja menunjuk Pangeran Chaloemsuek Yugala untuk mewakilinya dalam penulisan plakat kerajaan yang mencantumkan gelar baru sang putri dan untuk menyelenggarakan upacara keagamaan Buddha untuk mengenang dan mempersembahkannya kepada sang putri di Istana Raja.[21]

Selain itu, pemerintahan Anutin Charnvirakul mengadakan upacara untuk menghormati Putri pada kesempatan ulang tahunnya yang ke-100 pada tanggal 24 November 2025.[22]

Gaya hidup

Putri Suvadhana dan Putri Bejaratana Rajasuda selama kunjungan mereka ke Bandung, Hindia Belanda
Putri Bejaratana Rajasuda mengenakan tiara kerajaan warisan Ratu Saovabha Phongsri

Putri Bejaratana Rajasuda senantiasa mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orang tuanya, misalnya dengan mempersembahkan makanan untuk abu jenazah ayah dan ibunya, baik pagi maupun siang. Pada malam harinya, ia membaca doa-doa untuk memohon pahala dan memberikan penghormatan dengan bunga, dupa, dan lilin, sebuah praktik yang telah dipraktikkannya sejak masa mudanya.[23] Rasa syukur ditanamkan kepadanya oleh ibunya, seperti yang pernah ia katakan kepada dayangnya, "...Aku sangat mencintai ayahku. Di kehidupan selanjutnya, aku ingin terlahir kembali sebagai anaknya. Lebih dari itu, aku ingin terlahir kembali sebagai seorang Buddha dan seorang Thailand."[23] Dan ketika ibunya meninggal, ia berkata kepada para bangsawannya, "...aku ingin hidup sampai usia 100 tahun agar aku dapat berbakti kepada ibuku. Aku telah menyebabkan begitu banyak kesulitan baginya karena diriku."[24]

Putri Bejaratana Rajasuda adalah seorang yang sangat percaya pada agama Buddha dan pernah belajar Dharma bersama Yang Mulia Somdet Phra Nyanasamvara Suvaddhana, Patriarkh Tertinggi Thailand.[25] Ia juga memiliki kepribadian yang tegas dan tepat waktu. Ia melakukan rutinitas hariannya tepat waktu dan tidak menyia-nyiakan waktu. Ia hemat dan menyukai kesederhanaan.[25] Ia juga menikmati dan bangga menjadi orang Thailand. Ia menyukai peralatan dan pakaian yang diproduksi di dalam negeri, seperti gaun sutra, sepatu, tas, dan parfum, terutama parfum.[23]

Mengenai penggunaan bahasa Thailand, para bangsawan mengetahui bahwa Putri Bejaratana Rajasuda tidak menyukai siapa pun yang berbicara dalam campuran bahasa Thailand dan bahasa asing. Ia berbicara dengan sopan dan lembut.[26] Dia selalu berbicara dan menulis bahasa Thailand dengan jelas dan benar, menghindari penggunaan kata serapan dari bahasa Inggris.[23] Dia hanya akan berbicara bahasa Inggris atau bahasa Prancis dengan orang asing.[25]

Dia dilatih dengan baik oleh ibunya dan tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun yang kotor. Seringkali, ketika dia marah, dia mampu mengendalikan amarahnya. Ia pernah berkata kepada salah satu dayangnya, "Kemarahan itu seperti lampu. Jika terlalu kuat, redupkan perlahan, dan kemarahan akan hilang dengan sendirinya."[27] Selain itu, ia sangat berhati-hati dengan pengeluaran pribadinya, terutama tagihan listrik. Ia tidak mengizinkan siapa pun menyalakan lampu terlebih dahulu, dan ketika ia pergi, ia sendiri yang mematikannya.[23] Saat dia sehat, dia dengan cermat mencatat pendapatan dan pengeluaran pribadinya.[23]

Putri Bejaratana Rajasuda gemar merajut. Semasa sehat walafiat, ia merajut wol untuk para abdi kerajaan dan memberikan syal kepada tentara dan polisi yang ditempatkan di Thailand utara yang harus bertahan di tengah cuaca dingin. Dia suka bermain piano dan dapat memainkan lagu apa pun yang didengarnya tanpa bergantung pada not. Dia gemar merangkai bunga dan berkebun sejak berada di Inggris dan juga memiliki bakat dalam ingatan dan perhitungan yang tepat.[26]

Tugas kerajaan

Putri Bejaratana Rajasuda mempunyai tekad yang kuat untuk melaksanakan tugasnya, sebagaimana tercermin dalam pidatonya pada perayaan ulang tahunnya yang ke-61 pada tanggal 22 November 1986 di Kolese Vajiravudh, yang berbunyi:

Saya ingin menyampaikan kepada Anda semua bahwa saya akan berusaha mengabdi kepada bangsa, dengan kesetiaan kepada tanah air dan kepada Kebawah Duli Yang Maha Mulia Sang Raja, Kepala Negara. Saya juga akan menjunjung tinggi kehormatan sebagai putri Dinasti Chakri seumur hidup saya.

— Yang Teramat Mulia Putri Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi[28]

Sejak Putri Bejaratana Rajasuda kembali ke Thailand secara permanen pada tahun 1959, tugas kerajaannya terus meningkat. Ia telah membantu meringankan beban Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dengan mewakilinya dalam upacara kerajaan, upacara kenegaraan, dan upacara lainnya. Khususnya di bidang kesejahteraan sosial, ia telah mengunjungi masyarakat di kota-kota provinsi, baik yang dekat maupun yang jauh, dan senantiasa menawarkan bantuan kepada kaum miskin. Seiring bertambahnya usia anak-anak Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dan Ratu Sirikit, mereka pun mulai bisa ikut mengemban tugas kerajaan, sementara Putri Bejaratana Rajasuda semakin tua. Maka, ia pun semakin jarang mengunjungi orang-orang di daerah terpencil.[23][29]

Ketika Putri Bejaratana Rajasuda menjadi tua dan sakit, Putri Siribha Chudabhorn mengambil alih tugas kerajaannya.[25]

Bekerja pada agama Buddha

Putri Bejaratana Rajasuda dan Putri Suvadhana menghadiri upacara kerajaan Kathina di Phra Pathommachedi, Provinsi Nakhon Pathom pada tanggal 12 November 1969

Putri Suvadhana menetapkan adat istiadat dan tata cara bagi dirinya dan putrinya, sebuah praktik unik yang ia jalankan sepanjang hidupnya. Konon, selama upacara Kathina, selain mewakili dirinya sendiri setiap tahun ke dua kuil kerajaan, yang paling sering mengunjungi Phra Pathommachedi, ia juga memilih tiga kuil dari daerah provinsi terpencil dan miskin untuk upacara Kathina. Konon, ia akan meminta pejabat istana untuk mensurvei kuil-kuil yang memenuhi kriteria yang diinginkannya dan mengumpulkan informasi untuk disampaikan kepada mereka, menyarankan kelayakannya dan bidang dukungan spesifik. Yang Mulia kemudian akan memberikan bantuan yang memenuhi kebutuhannya dan benar-benar bermanfaat bagi agama Buddha. Seperti yang diceritakan oleh pengawal istana, “…dia senang pergi dan berbuat kebajikan di kuil-kuil yang miskin atau yang tidak ada yang peduli…” [30]

Pada hari-hari besar Buddha, beliau selalu senang melakukan perbuatan baik. Misalnya, pada Hari Raya Magha Puja, beliau akan melakukan perbuatan baik dan memimpin prosesi lilin di Kuil Phra Pathommachedi. Beliau juga telah mengunjungi tempat-tempat suci penting di seluruh negeri, termasuk Wat Phra Phutthabat di Provinsi Saraburi, Wat Phra Thaen Dong Rang di Provinsi Kanchanaburi, Wat Phra That Lampang Luang di Provinsi Lampang, Wat Phra That Doi Tung di Provinsi Chiang Rai, Wat Phra Mahathat di Provinsi Nakhon Si Thammarat, dan Wat Phra That Hariphunchai di Provinsi Lamphun. Di beberapa tempat, beliau mengabdikan dirinya untuk membuat persembahan kerajaan sebagai penghormatan kepada Sang Buddha. Misalnya, beliau membuat pohon perak dan emas, yang tingginya mencapai satu kaki, untuk dipersembahkan kepada Phra Buddha Jinaraja.[31]

Putri Bejaratana Rajasuda juga terus memelihara Wat Samrong Nai (Wat Samrong Knong di bahasa Khmer), kuil keluarga ibunya, Keluarga Abhayavongsa, di Provinsi Battambang, Kamboja. Ia secara rutin mengirimkan air untuk memberi penghormatan kepada makam leluhur ibunya selama perayaan Songkran tahunan.[32]

Pekerjaan pendidikan

Putri Bejaratana Rajasuda dan Putri Suvadhana saat menonton pengajaran

Putri Bejaratana Rajasuda telah mengambil alih lebih dari 30 lembaga dan organisasi di bawah naungannya, baik yang diwarisi dari Raja Vajiravudh (Rama VI), Ratu Saovabha Phongsri dan kepunyaan sendiri.

Ia mendukung kegiatan lembaga pendidikan yang terkait dengan Raja Vajiravudh (Rama VI), seperti Universitas Chulalongkorn, Kolese Vajiravudh, Sekolah Yupparaj Wittayalai, Kolese Pangeran Kerajaan, Sekolah Maha Vajiravudh Songkhla, dan Sekolah Hongsonsuksa.[33]

Demikian pula, ia juga mendukung kegiatan lembaga pendidikan yang berkaitan dengan Ratu Saovabha Phongsri dan mendirikan “Beasiswa Ibu Suri Sri Bajarindra” untuk menyediakan beasiswa bagi siswa lembaga pendidikan yang berkaitan dengan Ratu Saovabha Phongsri, termasuk Sekolah Rajini, Sekolah Rajinibon, Kolese Tinggi Kejuruan Saovabha, Sekolah Rachineeburana, Sekolah Wichienmatu, Sekolah Saparachinee Trang, Sekolah Chomsurang Upatham, Sekolah Siyanuson, Fakultas Keperawatan dari Universitas Mahidol, dan Institut Keperawatan Palang Merah Thailand Srisavarindhira.[33]

Selain itu, ia telah mendukung berbagai lembaga pendidikan seperti Universitas Silpakorn, Sekolah Sai Nam Peung, dan Sekolah Sri Ayudhya.[33][34]

Pekerjaan kesehatan masyarakat

Putri Bejaratana Rajasuda dan Putri Suvadhana saat mengunjungi masyarakat di Distrik Kra Buri, Provinsi Ranong pada tahun 1972.

Putri Bejaratana Rajasuda mendirikan dana dan yayasan di berbagai rumah sakit, seperti Beasiswa Bejaratana Karuna di Yayasan Siriraj, Rumah Sakit Siriraj, dan Yayasan Putri Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi di Rumah Sakit Chaophraya Abhaibhubejhr yang didirikan oleh ibunya.[33] Selain itu, ia juga mendukung Palang Merah Thailand.[33]

Pekerjaan kepanduan

Putri Bejaratana Rajasuda melanjutkan tugas-tugas kerajaan Raja Chavajiravudh, seperti Pramuka dan Pandu Putri. Beliau menjabat sebagai Pelindung Organisasi Pramuka Nasional Thailand dan telah membawahi beberapa organisasi terkait Pramuka dan Pandu Putri, termasuk Organisasi Pramuka Nasional, Perkemahan Pramuka Bejaratana, Klub Pandu Putri Bejaravudh, Asosiasi Klub Pramuka Non-Reguler Thailand, dan Klub Pramuka Non-Reguler Bangkok.[33][34] Sebagai bentuk pengakuan atas kebaikan Putri Bejaratana Rajasuda terhadap gerakan Pramuka Thailand, Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) menganugerahkan kepadanya The Order of Symbolic Propitiousness Ramkeerati (Kelas Khusus) - Medali Penghargaan Pramuka, pada tahun 1990.[35]

Pekerjaan hak-hak perempuan

Putri Bejaratana Rajasuda telah mengambil alih Korps Pertahanan Relawan Wanita Thailand, Federasi Korps Pertahanan Relawan Wanita Thailand, dan Korps Pertahanan Relawan Wanita Bangkok. Organisasi-organisasi ini didirikan sebagai bentuk pengakuan atas inisiatif Raja Rama VI untuk memberdayakan perempuan Thailand agar dapat mengabdi kepada bangsa, agama, dan kerajaan dengan menjadi anggota Pramuka bersama Korps Harimau Liar.[33]

Bekerja di bidang seni dan budaya

Putri Bejaratana Rajasuda telah menjadi pemimpin dalam melestarikan warisan arsitektur Raja Rama VI, termasuk Istana Sanam Chandra di Provinsi Nakhon Pathom, Istana Mrigadayavan di Provinsi Phetchaburi, dan Istana Phaya Thai di Bangkok.

Ia memimpin komite pemugaran Istana Sanam Chandra di Provinsi Nakhon Pathom hingga pemugaran selesai dan area tersebut dikembalikan kepada Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX).[36]

Mengenai Istana Mrigadayavan di Provinsi Phetchaburi, ia mendirikan Yayasan Istana Mrigadayavan untuk menggunakan uang sumbangan umat beriman untuk merenovasi Istana Mrigadayavan dan mengambil alih yayasan tersebut di bawah naungannya.[37]

Selain itu, ia juga mengambil alih Yayasan Konservasi Istana Phaya Thai di bawah naungannya.[38]

Pekerjaan pekerja sosial

Dari kiri ke kanan; Putri Lakshamilavan, Putri Bejaratana Rajasuda, Putri Suvadhana dan Ratu Sirikit di Metta Banterng Ruenrudee

Putri Bejaratana Rajasuda memelopori kegiatan kesejahteraan sosial pertama di Istana Ruenrudee pada tahun 1957, menandai dimulainya berbagai acara penggalangan dana amal. Dua tahun setelah istana selesai dibangun, acara amal pertama, Metta Banterng Ruenrudee, diselenggarakan, dipimpin oleh Ratu Sirikit. Acara ini menggalang dana untuk Asosiasi Wanita Pasifik dan Asia Tenggara Thailand di bawah naungan Kerajaan. Kemudian, ada banyak acara lainnya, seperti acara pengumpulan dana untuk pembangunan Asrama Bejaratana di Universitas Silpakorn, Kampus Istana Sanam Chandra; acara pengumpulan dana untuk pembangunan Gedung Kecelakaan di Rumah Sakit Memorial Raja Chulalongkorn; dan acara pengumpulan dana untuk pembangunan Gedung Sains di Kolese Vajiravudh.[39] Selain itu, ia juga menjabat sebagai presiden kehormatan Yayasan Bejaratana-Suvadhana yang didirikan oleh Putri Suvadhana untuk tujuan amal seperti mendukung mereka yang mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi negara, menyediakan beasiswa bagi siswa, menegakkan agama Buddha, mendukung rumah sakit, tempat penampungan, dan berbagai organisasi amal.[33]

Gelar, gaya, gelar kehormatan dan penghargaan

Gelar bangsawan untuk
Bejaratana Rajasuda, Putri Nakhon Pathom
Gaya referensiYang Teramat Mulia
Gaya penyebutanKebawah Paduka Baginda
Gaya alternatifChao Fa
Bejaratana Rajasuda, Putri Nakhon Pathom
Pengabdian Thailand
Dinas/cabang
Pangkat

Gelar dan gaya

  • 24 November 1925 - 27 Juli 2011 : Yang Teramat Mulia Putri Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi

secara anumerta

  • 4 November 2025 : Yang Teramat Mulia Putri Bejaratana Rajasuda Sirisobhabannavadi, Sang Putri Nakhon Pathom

Kehormatan

Baris ke-1 Penghargaan Yang Termashyur Orde Wangsa Kerajaan Chakri (1957)[40] Ordo Merit Ratana Varabhorn (1925)[41] Nyonya Salib Besar (Kelas Pertama) Yang Termulia Ordo Chula Chom Klao (1958)[42]
Baris ke-2 Nyonya Kordon Agung (Kelas Istimewa) Yang Termulia Ordo Gajah Putih (1992)[43] Nyonya Kordon Agung (Kelas Istimewa) Yang Termulia Ordo Mahkota Thailand (1967)[44] Nyonya Kordon Agung (Kelas Istimewa) Yang Termulia Ordo Direkgunabhorn (1995)[45]
Baris ke-3 Ordo Ramkeerati (Layanan untuk Negara) (1990)[46] Medali Kerajaan Raja Rama VI (Kelas Pertama) (1925) Medali Kerajaan Raja Rama VII (Kelas Pertama) (1926)[47]
Baris ke-4 Medali Kerajaan Raja Rama IX (Kelas Pertama) (1986)[48] Medali Penobatan Raja Rama VII (1925) Medali Penobatan Raja Rama IX (1950)
Baris ke-5 Peringatan 150 Tahun Medali Bangkok (1932) Medali Perayaan Abad Buddha ke-25 (1957) Medali Penghargaan Palang Merah (Kelas Pertama) (1967)

Hal-hal yang dinamai menurut namanya

Patung Buddha

Patung Budha untuk hari kelahiran Putri Bejaratana Rajasuda (Buddha berbaring)

Spesies tanaman

Tempat

Lembaga pendidikan

Rumah Sakit

Organisasi Pramuka

Beasiswa

Referensi

  1. ^ "Princess Bejaratana". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-08. Diakses tanggal 2017-06-02.
  2. ^ Sokheounpang. Salasilah Kerabat Diraja Khmer-Siam. Diperoleh 27 Januari 2013
  3. ^ a b ราชกิจจานุเบกษา, การสมโภชเดือนและขึ้นพระอู่เจ้าฟ้าพระราชธิดาในพระบาทสมเด็จพระมงกุฎเกล้าเจ้าอยู่หัว ซึ่งประสูติ เมื่อวันที่ 24 พฤศจิกายน พ.ศ. 2468 ที่ในพระบรมมหาราชวัง, เล่ม 42, ตอน 0 ง, 10 มกราคม พ.ศ. 2468, หน้า 3094
  4. ^ "พระนามและคำนำพระนาม สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอฯ ดวงแก้วแห่งมงกุฎเกล้า". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-06. Diakses tanggal 2010-05-11.
  5. ^ เฉลิมพระชนมายุ 84 พรรษา สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี
  6. ^ Soravij. A Regal Princess a Remembered - Her Rayal Highness Princess Bejaratana Diarsipkan 2013-12-08 di Wayback Machine.. เรียกดูเมื่อ 20 ตุลาคม 2555
  7. ^ Sokheounpang. Khmer-Siam Royal Family Tree. เรียกดูเมื่อ 27 มกราคม 2556
  8. ^ Bangkok Post:Princess Bejraratana dies, 85
  9. ^ กัลยา เกื้อตระกูล. พระอัครมเหสี พระบรมราชินี พระชายานารี เจ้าจอมมารดา และเจ้าจอมในรัชกาลที่ ๑-๗. กรุงเทพฯ:ยิปซี, 2552, หน้า 234
  10. ^ a b c d พระราชพิธีพระราชทานเพลิงพระศพ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี. พระประวัติ Diarsipkan 2020-08-15 di Wayback Machine.. เรียกดูเมื่อ 17 เมษายน 2555
  11. ^ ประกาศ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี สิ้นพระชนม์ Diarsipkan 2011-11-12 di Wayback Machine., สำนักพระราชวัง, เข้าถึงวันที่ 6 สิงหาคม พ.ศ. 2554
  12. ^ "NNT - HRH Princess Bejaratana Rajasuda passes away at 85". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-09-07. Diakses tanggal 2011-07-28.
  13. ^ พระบาทสมเด็จพระเจ้าอยู่หัว และสมเด็จพระนางเจ้าฯ พระบรมราชินีนาถ เสด็จพระราชดำเนินไปสรงน้ำพระศพสมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี
  14. ^ ราชกิจจานุเบกษา, ประกาศสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี สิ้นพระชนม์, เล่ม ๑๒๘, ตอนพิเศษ ๘๒ ง, ๒๘ กรกฎาคม พ.ศ. ๒๕๕๔, หน้า ๕
  15. ^ "เปิดให้ประชาชนเข้า สักการะ พระศพหลังครบ 7 วัน". นสพ.ไทยรัฐ. 29 กรกฎาคม 2554. Diakses tanggal 30 กรกฎาคม พ.ศ. 2554.
  16. ^ ""ในหลวง-พระราชินี"เสด็จฯพระราชทานเพลิงพระศพ" (Press release) (dalam bahasa ไทย). เดลินิวส์. 10 เมษายน 2555. Diakses tanggal 16 เมษายน 2555. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  17. ^ ""ในหลวง-พระราชินี" เสด็จพระราชทานเพลิงจริง สมเด็จเจ้าฟ้าเพชรรัตนฯ" (Press release) (dalam bahasa ไทย). ผู้จัดการออนไลน์. 9 เมษายน 2555. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-06-04. Diakses tanggal 16 เมษายน 2555. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  18. ^ CH7NEWS (12 ธันวาคม 2555). พระเจ้าวรวงศ์เธอ พระองค์เจ้าโสมสวลี พระวรราชาทินัดดามาตุ ทรงบรรจุพระสรีรางคาร สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี และทรงยกฉัตรไปกางกั้นถวายพระพุทธรูปปางประสูติที่วัดพระปฐมเจดีย์ Diarsipkan 2016-03-17 di Wayback Machine.. เรียกดูเมื่อ 14 ธันวาคม 2555
  19. ^ "ในการบรรจุพระสรีรางคาร ณ ผนังทางมุขด้านใต้ของเสาวภาประดิษฐาน สุสานหลวง วัดราชบพิธฯ" (Press release) (dalam bahasa ไทย). เดลินิวส์. 12 เมษายน 2555. Diakses tanggal 16 เมษายน 2555. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  20. ^ "พระองค์เจ้าโสมสวลีฯ เสด็จมาทรงบรรจุพระสรีรางคารเจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดาฯ" (Press release) (dalam bahasa ไทย). เดลินิวส์. 12 ธันวาคม 2555. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-12-15. Diakses tanggal 14 ธันวาคม 2555. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  21. ^ "ข่าวในพระราชสำนัก วันอังคาร ที่ ๔ พฤศจิกายน พุทธศักราช ๒๕๖๘" (PDF). หน่วยราชการในพระองค์. 4 พฤศจิกายน 2025. Diakses tanggal 5 พฤศจิกายน 2025.
  22. ^ "ความหมายของตราสัญลักษณ์ งานเฉลิมพระเกียรติสมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี เนื่องในโอกาสวันคล้ายวันประสูติครบ ๑๐๐ ปี ๒๔ พฤศจิกายน ๒๕๖๘". สถานีวิทยุกระจายเสียงแห่งประเทศไทย จังหวัดประจวบคีรีขันธ์. 7 ตุลาคม 2025. Diakses tanggal 16 พฤศจิกายน 2025.
  23. ^ a b c d e f g บ้านจอมยุทธ - พระราชสุดาได้ จากฟ้ามาแทน
  24. ^ คุณหญิงวนิตา ดิถียนต์ และ ดร.ชัชพล ไชยพร, ดวงแก้วแห่งพระมงกุฎเกล้า, อมรินทรพริ้นติ้งแอนด์พับลิชชิ่ง, 2552, ISBN 978-974-9559-96-3
  25. ^ a b c d "สกุลไทย - พระผู้ทรงเป็น "เพชรรัตน" แห่งพระบรมราชจักรีวงศ์". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-15. Diakses tanggal 2008-09-11.
  26. ^ a b "สกุลไทย - พระจริยวัตรในพระองค์ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-15. Diakses tanggal 2008-09-11.
  27. ^ คุณหญิงวนิตา ดิถียนต์ และ ดร.ชัชพล ไชยพร, ดวงแก้วแห่งพระมงกุฎเกล้า, อมรินทรพริ้นติ้งแอนด์พับลิชชิ่ง, 2552, ISBN 978-974-9559-96-3
  28. ^ พระประวัติสมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี : พระมหากรุณาธิคุณในพระบาทสมเด็จพระเจ้าอยู่หัว, สำนักงานผู้บริหารงานในสมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี และมูลนิธิเพชรรัตน-สุวัทนา, เข้าถึงวันที่ 6 สิงหาคม พ.ศ. 2554
  29. ^ ผลพระกรณียกิจ Diarsipkan 2012-03-17 di Wayback Machine., ศูนย์สื่อมวลชนพระราชพิธีพระราชทานเพลิงพระศพ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี, เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  30. ^ คุณหญิงวนิตา ดิถียนต์ และ ดร.ชัชพล ไชยพร, ดวงแก้วแห่งพระมงกุฎเกล้า, อมรินทรพริ้นติ้งแอนด์พับลิชชิ่ง, 2552, ISBN 978-974-9559-96-3
  31. ^ คุณหญิงวนิตา ดิถียนต์ และ ดร.ชัชพล ไชยพร, ดวงแก้วแห่งพระมงกุฎเกล้า, อมรินทรพริ้นติ้งแอนด์พับลิชชิ่ง, 2552, ISBN 978-974-9559-96-3
  32. ^ Thongchua, Paothong (21 Febuari 2020). "ตามรอยเขมรแดง เมืองพระตะบอง ประเทศกัมพูชา". PPTV (dalam bahasa Thai). Diakses tanggal 4 Desember 2025.
  33. ^ a b c d e f g h พระกรณียกิจในสมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี, สำนักบริหารงานในสมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี และมูลนิธิเพชรรัตน-สุวัทนา, เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  34. ^ a b เว็บไซต์มูลนิธิเพชรรัตน-สุวัทนา : องค์กรในพระอุปถัมภ์สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี, เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  35. ^ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดาฯ กับพระกรณียกิจเกี่ยวกับกิจการลูกเสือ - เนตรนารี Diarsipkan 2012-04-09 di Wayback Machine., ศูนย์สื่อมวลชนพระราชพิธีพระราชทานเพลิงพระศพ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี, เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  36. ^ พระราชวังสนามจันทร์ Diarsipkan 2020-08-15 di Wayback Machine., ศูนย์สื่อมวลชนพระราชพิธีพระราชทานเพลิงพระศพ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี, เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  37. ^ พระราชนิเวศน์มฤคทายวัน Diarsipkan 2020-08-15 di Wayback Machine., ศูนย์สื่อมวลชนพระราชพิธีพระราชทานเพลิงพระศพ สมเด็จพระเจ้าภคินีเธอ เจ้าฟ้าเพชรรัตนราชสุดา สิริโสภาพัณณวดี, เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  38. ^ มูลนิธิอนุรักษ์พระราชวังพญาไท Diarsipkan 2012-03-25 di Wayback Machine., เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556
  39. ^ ""วังรื่นฤดี" จุดเริ่มต้นของงานสังคมสงเคราะห์ในประเทศไทย" (Press release) (dalam bahasa ไทย). แนวหน้า. 7 เมษายน 2555. Diakses tanggal 17 เมษายน 2555. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  40. ^ ราชกิจจานุเบกษา, แจ้งความสำนักคณะรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องขัตติยราชอิสริยาภรณ์มหาจักรีบรมราชวงศ์, เล่ม ๗๔ ตอน ๑๐๗ ง หน้า ๒๙๙๒, ๑๗ ธันวาคม พ.ศ. ๒๕๐๐
  41. ^ ราชกิจจานุเบกษา, พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ฝ่ายใน, เล่ม ๔๒ ตอน ๐ ง หน้า ๓๑๐๔, ๑๐ มกราคม พ.ศ. ๒๔๖๘
  42. ^ ราชกิจจานุเบกษา, แจ้งความสำนักคณะรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์, เล่ม ๗๕, ตอน ๓๙ ง หน้า ๑๕๕๐, ๒๐ พฤษภาคม พ.ศ. ๒๕๐๑
  43. ^ ราชกิจจานุเบกษา, ประกาศสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ Diarsipkan 2015-09-28 di Wayback Machine., เล่ม ๑๐๙ ตอน ๑๕๔ ง หน้า ๑, ๔ ธันวาคม พ.ศ. ๒๕๓๕
  44. ^ ราชกิจจานุเบกษา, แจ้งความสำนักคณะรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ Diarsipkan 2015-09-27 di Wayback Machine., เล่ม ๘๔ ตอน ๑๒๘ ง หน้า ๒๗, ๓๐ ธันวาคม พ.ศ. ๒๕๑๐
  45. ^ ราชกิจจานุเบกษา, แจ้งความสำนักคณะรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ Diarsipkan 2011-11-11 di Wayback Machine., เล่ม ๑๑๒, ตอน ๑๗ ข หน้า ๑, ๔ ธันวาคม พ.ศ. ๒๕๓๘
  46. ^ ราชกิจจานุเบกษา, ประกาศสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์อันเป็นสิริยิ่งรามกีรติลูกเสือสดุดีชั้นพิเศษ, เล่ม ๑๐๗ ตอน ๑๘๘ ง ฉบับพิเศษ หน้า ๑, ๒๖ กันยายน พ.ศ. ๒๕๓๓
  47. ^ ราชกิจจานุเบกษา, พระราชทานเหรียญรัตนาภรณ์, เล่ม ๔๓, ตอน ๐ ง หน้า ๓๑๕๕, ๒๘ พฤศจิกายน พ.ศ. ๒๔๖๙
  48. ^ ราชกิจจานุเบกษา, แจ้งความสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเหรียญรัตนาภรณ์, เล่ม ๑๐๓, ตอน ๑๑ ง ฉบับพิเศษ หน้า ๑๔, ๒๓ มกราคม พ.ศ. ๒๕๒๙
  49. ^ "พระเจ้าหลานเธอ พระองค์เจ้าอทิตยาทรกิติคุณ ทรงยกช่อฟ้าวิหารเฉลิมพระเกียรติฯ วัดโนนสว่าง จังหวัดอุดรธานี". สถานีโทรทัศน์กองทัพบกช่อง 7. 3 ตุลาคม 2558. Diakses tanggal 8 มกราคม 2559. Templat:ลิงก์เสีย
  50. ^ สิงโตเจ้าฟ้าเพชรรัตน์ (Bulbophyllum 'Princess Bejaratana'), เรียกดูเมื่อ 25 กุมภาพันธ์ 2556

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement