Batik Lasem

Batik Lasem adalah tradisi batik tulis khas pesisir utara Pulau Jawa yang memuat budaya akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa yang berkembang di wilayah Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.[1] Batik ini dikenal sebagai salah satu batik pesisir tertua di Indonesia dengan ciri utama warna merah khas yang sering disebut merah getih pitik (merah darah ayam), ragam motif akulturatif, serta keterkaitan sejarah yang erat dengan dinamika sosial-ekonomi masyarakat Lasem sejak masa Majapahit hingga periode kolonial dan modern.[2]
Sejarah
Lasem merupakan kota tua yang memiliki lapisan sejarah panjang, mulai dari pengaruh Hindu–Buddha, Islam, Arab, Tionghoa, kolonial Eropa, hingga Jepang. Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah ini pernah dipimpin oleh Dewi Indu bergelar Bhre Lasem (abad ke-14). Tradisi membatik di Lasem diperkirakan telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-15, seiring kedatangan pedagang dan perantau Tionghoa melalui jalur laut di pesisir utara Jawa.

Pada abad ke-18 hingga ke-19, Lasem berkembang sebagai kota perdagangan penting, antara lain melalui komoditas kayu jati dari wilayah Rembang yang dikenal berkualitas tinggi. Di masa yang sama, Lasem bersama Rembang dan Juwana juga dikenal sebagai pusat pendaratan dan distribusi candu di Jawa. Setelah perdagangan candu mengalami kemunduran, industri batik tumbuh sebagai salah satu sektor ekonomi baru yang menonjol.[2]
Perkembangan industri
Pada pertengahan abad ke-19, Lasem telah dikenal sebagai salah satu kota batik terbesar di Hindia Belanda dengan sekitar 120 perusahaan batik. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan beberapa pusat batik lain pada masa yang sama, seperti Pekalongan dan Surakarta. Industri batik Lasem pada periode ini banyak dikelola oleh pengusaha keturunan Tionghoa dengan sistem produksi rumahan. Para pengusaha umumnya mengirimkan kain kepada pembatik yang bekerja di rumah-rumah di kawasan Pecinan maupun desa-desa sekitar.
Sumber kolonial mencatat bahwa pada akhir abad ke-19 jumlah pembatik di Lasem mencapai ribuan orang dan mayoritas merupakan perempuan. Produksi meliputi kain panjang, sarung, kemben, selendang, hingga kain altar. Bahan baku kain katun diperoleh dari pedagang Eropa, sedangkan malam (lilin batik) antara lain didatangkan dari wilayah Indonesia timur. Pada awal abad ke-20 mulai dikenal penggunaan cap logam sebagai pelengkap teknik batik tulis, meskipun batik tulis tetap dipertahankan sebagai ciri utama Lasem.
Batik Lasem tercatat memiliki jangkauan pasar internasional, terutama ke Singapura dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Pada awal abad ke-20, nilai ekspor sarung Lasem dilaporkan mencapai jutaan gulden per tahun. Namun demikian, industri ini sempat mengalami kemunduran pada dekade 1930-an akibat persaingan batik cap dan perubahan kondisi ekonomi.[2]
Warna khas
Salah satu karakter paling menonjol dari Batik Lasem adalah penggunaan warna merah pekat yang dikenal sebagai merah getih pitik. Warna ini menjadi identitas utama, terutama pada karya Batik Tiga Negeri yang memadukan merah, biru, dan sogan (cokelat). Pada abad ke-19, pewarna alami seperti akar mengkudu (merah), nila indigo (biru), serta kayu tengeran dan soga (kuning-cokelat) banyak digunakan. Sejak awal abad ke-20, pewarna kimia seperti anilin mulai diperkenalkan dan kemudian berkembang luas. [3]
Secara umum, pembagian warna Batik Lasem dapat dibedakan menjadi warna klasik dan warna modern. Warna klasik mengikuti pakem merah, biru, kuning, dan sogan, sedangkan warna modern bersifat eksperimental menyesuaikan selera pasar.
Motif
Motif Batik Lasem memiliki keunikan di antara jenis batik lainnya yang ada di Pulau Jawa. Motif batik ini menunjukkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang kuat, disertai pengaruh Eropa pada masa kolonial. Ragam motif dapat dikelompokkan menjadi motif pesisir, motif pedalaman, dan motif akulturasi.
Motif pesisir antara lain latohan (rumput laut), kricak (kerikil), dan sawut. Motif pedalaman mencakup pola yang juga dikenal di Surakarta dan Yogyakarta seperti parang dan kawung. Sementara itu, motif akulturasi banyak menampilkan simbol-simbol budaya Tionghoa seperti naga, burung hong (phoenix), kilin, buketan, serta ragam fauna dan flora simbolik. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, motif bunga berwarna cerah dan komposisi “kain porselen” menjadi ciri khas yang sering diberitakan dalam surat kabar kolonial.[4] Salah satu motif yang pernah populer adalah Merak Ngigel (dancing peacock) yang berasosiasi dengan simbol burung hong.
Selain itu, motif Batik Tiga Negeri yang menggabungkan proses pewarnaan di beberapa kota pesisir juga memiliki keterkaitan kuat dengan produksi di Lasem. Batik Tiga Negeri menjadi representasi pluralisme tiga budaya yang ada di Lasem, yakni budaya Tionghoa, Jawa, dan Belanda. Dominasi tiga warna yang mewakili tiap-tiap budaya antara lain; merah untuk Tionghoa, cokelat saga khas Jawa, dan biru indigo mewakili Belanda.[5]
Pola-pola yang ada di Batik Tiga Negeri Lasem pertama kali diperkenalkan oleh Putri Campa (Na Li Ni), istri Bi Nang Un, salah seorang anggota ekspedisi Cheng Ho.[6] Istri Bi Nang Un mulai membatik motif-motif bernuansa Tiongkok seperti burung hong, naga, banji, kupu-kupu, bunga seruni, singa, dan bunga teratai. Motif-motif tersebut akhirnya menjadi motif khas dari Batik Lasem.
Teknik dan proses pembuatan
Proses pembuatan Batik Lasem pada dasarnya serupa dengan daerah batik lain di Jawa, namun memiliki kekhasan pada komposisi warna dan ketelitian pengerjaan. Tahapan umum meliputi penyiapan kain, pembuatan pola, pencantingan, penutupan bagian tertentu dengan malam (nembok), pewarnaan, pelorodan (penghilangan malam), pengulangan proses untuk warna berikutnya, penjemuran, dan penyelesaian akhir.[3]
Peralatan yang digunakan antara lain canting berbagai ukuran, gawangan, wajan malam, kompor, serta bahan pewarna alami maupun kimia. Dalam tradisi lama, sebagian pembatik tidak menggunakan pola tertulis, melainkan langsung menggambar motif di atas kain.[3]
Produk

Produk Batik Lasem tidak hanya berupa kain panjang, tetapi juga sarung, selendang, kain gendongan bayi, penutup meja altar, dan penutup langit-langit. Sarung Lasem menjadi salah satu komoditas utama sejak akhir abad ke-19 dan dipasarkan luas ke berbagai wilayah Nusantara hingga mancanegara. Kain Batik Lasem biasanya diolah menjadi baju, tas, aksesoris, dan berbagai produk lain.
Salah satu bentuk khas adalah tokwi, yaitu kain batik penutup altar yang digunakan oleh komunitas Tionghoa peranakan. Tokwi biasanya menampilkan motif simbolik seperti naga, burung hong, tiga dewa (Fu Lu Shou), delapan dewa, serta ragam flora dan fauna. Kain ini mencerminkan adaptasi budaya Tionghoa dalam medium batik Nusantara dan berkembang terutama di kota-kota pesisir utara Jawa.
Kondisi kontemporer dan pelestarian
Pada paruh kedua abad ke-20 jumlah pengusaha batik di kawasan Pecinan Lasem sempat menurun. Namun setelah pengakuan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada tahun 2009, gairah produksi Batik Lasem kembali meningkat. Data pemerintah daerah mencatat puluhan hingga ratusan rumah batik tersebar di desa-desa sekitar Lasem dan Rembang.
Upaya pelestarian dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk komunitas lokal, lembaga kebudayaan, pemerintah, dan institusi pendidikan. Program pelestarian meliputi penelitian motif, pengembangan desain, penggunaan bahan ramah lingkungan, serta edukasi kepada generasi muda. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, antara lain dokumentasi makna motif yang belum merata, persaingan dengan kain bermotif cetak, serta perubahan selera pasar.[7]
Batik Lasem pada masa kini tidak lagi didominasi oleh pengusaha keturunan Tionghoa seperti pada awal abad ke-20. Motif dan warna terus berkembang mengikuti zaman, namun sejumlah rumah batik tradisional masih mempertahankan teknik tulis dan ragam motif klasik sebagai bagian dari warisan budaya setempat.
Karakteristik dan Akulturasi
Batik Lasem dikenal dengan perpaduan motif Tionghoa dan Jawa yang harmonis, seperti motif burung hong atau naga yang bersanding dengan motif parang. Keunikan teknis yang paling legendaris adalah warna merahnya yang disebut getih pitik (darah ayam), yang dihasilkan dari akar mengkudu dan dipengaruhi oleh kandungan mineral air di wilayah Lasem.
Lasem juga menjadi bagian penting dari sejarah Batik Tiga Negeri. Dalam tradisinya, warna merah khas Lasem merupakan unsur utama yang dipadukan dengan warna biru (karakter Pekalongan) dan warna cokelat sogan (karakter Surakarta). Perpaduan tiga warna dari tiga kiblat batik ini menjadikan Batik Tiga Negeri sebagai salah satu mahakarya batik pesisiran yang paling bernilai tinggi.
Referensi
- ^ "Batik Lasem Akulturasi Budaya Jawa dan Tiongkok – Pemerintah Kabupaten Rembang". Diakses tanggal 2026-01-31.
- ^ a b c "Sejarah Batik Lasem, Wastra Pesisir di Jalur Rempah Nusantara - Semua Halaman - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-02-24.
- ^ a b c Suminto, RA Sekartaji (2015-10-31). "Melirik Ciri Khas Batik Lasem". Productum: Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk) (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 22–30. ISSN 2579-7328.
- ^ "The Journal of Universitas Negeri Surabaya". ejournal.unesa.ac.id. Diakses tanggal 2026-01-31.
- ^ "Mengenal Lasem, Kawasan Multientis Asal Batik Tiga Negeri yang Khas". gaya hidup. Diakses tanggal 2025-02-24.
- ^ "Batik Lasem: Mengenal Sejarah dan Makna Motifnya". Best Seller Gramedia. 2025-02-28. Diakses tanggal 2026-01-31.
- ^ KANTI, RAHAYU, (2008). "UPAYA PERLINDUNGAN BATIK LASEM OLEH PEMERINTAH KABUPATEN REMBANG". eprints.undip.ac.id. Diakses tanggal 2026-01-31. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


