As-Shahifah as-Sajjadiyyah

as-Sahhifa as-Sajjadiyya
ٱلصَّحِيفَة ٱلسَّجَّادِيَّة
PengarangAli as-Sajjad (ca 659–713)
BahasaArab
DiterbitkanAbad ke-7 M
Abad ke-1 AH

As-Shahifah as-Sajjadiyyah (bahasa Arab: ٱلصَّحِيفَة ٱلسَّجَّادِيَّة, translit. As-Ṣaḥīfah as-Sajjādiyyah, har. 'kitab as-Sajjad') adalah sebuah kitab permohonan yang dinisbatkan kepada Ali as-Sajjad (ca 659–713), imam keempat dalam Islam Syiah, serta cicit dari nabi Islam, Muhammad. Sebagai salah satu kitab permohonan tertua dalam Islam, as-Shahifah dipuji sebagai puncak spiritualitas Islam dan sebagai jawaban atas banyak pertanyaan spiritual pada masa kini. Secara khusus, tradisi Syiah memandang kitab ini dengan penghormatan yang sangat tinggi, menempatkannya setelah Al-Qur'an, teks keagamaan utama dalam Islam, dan Nahjul Balaghah, yang dinisbatkan kepada Khalifah keempat sekaligus Imam pertama Syiah, Ali bin Abi Thalib. Sebanyak 54 doa membentuk inti dari as-Shahifah, yang sering kali juga mencakup tambahan berupa 14 doa dan 15 munajat.

Perihal buku

As-Shahifah as-Sajjadiyyah (terj. har.'kitab as-Sajjad') adalah sebuah kumpulan permohonan.[1] Dipandang sebagai karya penting dalam spiritualitas Islam,[2] as-Shahifah dipuji sebagai puncak ekspresi spiritual Islam dan sebagai sumber bimbingan bagi banyak pertanyaan spiritual kontemporer.[3] Kitab ini dinisbatkan kepada Ali as-Sajjad, cicit dari nabi Islam Muhammad dan seorang imam dalam Islam Syiah, yang juga dikenal dengan gelar kehormatan Zain al-Abidin (terj. har.'perhiasahan para ahli ibadah').[4][1] Dalam tradisi Syiah, as-Shahifah dipandang dengan penghormatan yang sangat tinggi, ditempatkan tepat setelah Al-Qur'an, kitab utama Islam, dan Nahjul Balaghah, yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Talib, imam pertama Syiah dan kakek dari al-Sajjad.[5] Kitab ini juga dikenal dengan beberapa gelar kehormatan, termasuk "Saudari Al-Qur'an," "Injil Ahlulbait," dan "Mazmur Keluarga Muhammad."[6] Kitab ini juga dihormati oleh sebagian tarekat Sufi.[7] Banyak syarah telah ditulis mengenai as-Shahifah.[4][8]

Permohonan merujuk pada penyampaian pujian, rasa syukur, harapan, dan kebutuhan kepada Allah.[9] Umat Muslim sering melafalkan doa-doa yang diriwayatkan oleh otoritas keagamaan mereka, dimulai dari Muhammad dan, bagi kaum Syiah, dilanjutkan oleh para imam mereka.[10] As-Sajjad kemungkinan menyusun as-Shahifah dengan mempertimbangkan komunitas Muslim yang lebih luas. Karya ini mencakup doa-doa untuk berbagai kesempatan bersama seperti Idulfitri, serta sebuah doa untuk kedua orang tua dengan as-Sajjad berbicara seolah-olah kedua orang tuanya masih hidup.[11]

As-Shahifah dapat dipandang sebagai ekspresi praktis dari kesaksian iman utama dalam Islam, yaitu syahadat, bahwa "tidak ada tuhan selain Allah," yang berarti bahwa Allah adalah segalanya dan manusia tidak berarti apa-apa tanpa-Nya. Di antara tema-tema utamanya adalah "Tidak ada kebaikan kecuali pada Allah," "Tidak ada kesabaran tanpa pertolongan Allah," dan "Tidak ada rasa syukur kecuali melalui Allah," bersama dengan pengakuan pelengkapnya: "Tidak ada keburukan kecuali pada diriku," "Tidak ada ketidaksabaran kecuali pada keangkuhanku sendiri," dan "Tidak ada kebencian kecuali pada diriku." Setelah seorang hamba mengakui kekurangan dan dosa-dosanya sendiri, ia dapat merendahkan diri di hadapan Allah dan memohon kemurahan serta ampunan-Nya.[12]

Dominasi rahmat

As-Shahifah telah disamakan dengan sebuah mosaik yang menjelaskan bahwa setiap unsur berkaitan dengan suatu komponen dari teks Al-Qur'an.[13] Secara khusus, dominasi rahmat ilahi dalam Al-Qur'an tercermin di seluruh as-Shahifah.[14] As-Sajjad berulang kali mencari perlindungan dalam rahmat Allah dan menekankan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya.[15] Oleh karena itu, ia sering memohon ampunan kepada Allah dalam as-Shahifah, sebagaimana Muhammad melakukannya dalam doa-doanya, meskipun kedua tokoh tersebut dipandang maksum dalam Islam Syiah.[16] Keduanya kemungkinan bertobat dengan keikhlasan yang sepenuhnya,[17] tetapi "dosa-dosa" mereka bukanlah tindakan pembangkangan yang disengaja.[18] Sebaliknya, mereka berulang kali memohon kepada Allah agar menutupi (beristigfar) keterbatasan manusiawi mereka.[19] Penekanan dalam as-Shahifah pada rahmat Allah juga mencerminkan sikap penulisnya, as-Sajjad, yang diriwayatkan pernah berkata, "Yang mengherankan justru jika seseorang binasa sebagaimana ia binasa, mengingat luasnya rahmat Allah."[20] Sikap ini menyerupai sikap Muhammad, yang mengajarkan bahwa seorang hamba "harus teguh dan memperbesar harapannya, karena apa yang Allah berikan bukanlah sesuatu yang besar bagi-Nya."[20] Pada saat yang sama, kesadaran akan murka Allah tetap dipertahankan, karena harapan terhadap rahmat ilahi harus disertai dengan "menjauhkan diri dari kesombongan, meninggalkan sikap terus-menerus [dalam dosa], dan berpegang teguh pada doa memohon ampun," sebagaimana dinyatakan dalam bagian 12:13 dari as-Shahifah.[21]

Dimensi lainnya

Dalam as-Shahifah, as-Sajjad terkadang menyinggung ketidakadilan yang dialami oleh keluarga Muhammad, Ahlulbait.[22] Dalam kitab tersebut juga terdapat beberapa bagian ketika as-Sajjad berdoa untuk umat Muslim dan perbaikan urusan mereka, serta untuk para prajurit yang menjaga perbatasan kaum Muslim.[23] As-Shahifah mungkin pada awalnya merupakan sebuah risalah sektarian bagi kaum Syiah.[24] Misalnya, salam kepada Muhammad dan keluarganya sering muncul dalam kitab ini sebagai bentuk penentangan terhadap kebijakan Umayyah.[25] Dalam beberapa doa, as-Sajjad merujuk pada imamah, suatu ajaran pokok dalam Islam Syiah.[24]

Selain dimensi spiritualnya, as-Shahifah juga menjadi sumber ajaran Islam. Doanya yang berjudul "Berkah atas Para Pemikul Arasy," misalnya, merangkum pandangan Islam tentang para malaikat.[2]

Kesahihan

Penisbatan as-Shahifah kepada as-Sajjad sering dianggap sahih,[6] meskipun beberapa bagian kitab tersebut mungkin telah disunting secara artistik oleh pihak lain.[26] Dalam tradisi Syiah, teks ini dipandang sebagai mutawatir, yaitu diriwayatkan melalui banyak jalur riwayat.[6] Bagian tambahan dikumpulkan oleh ulama Syiah terkemuka Muhammad bin Makki (w. 1385), sedangkan munajat dipopulerkan oleh Muhammad-Baqir Majlisi (w.ca1699), seorang ulama Syiah terkemuka lainnya.[6]

Terjemahan

As-Shahifah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia pada masa Safawi. Sebuah terjemahan bahasa Inggris dari kitab tersebut, berjudul The Psalms of Islam, juga tersedia dengan pengantar dan anotasi oleh ahli studi Islam W.C. Chittick.[1]

Koleksi lainnya

Selain as-Shahifah, terdapat pula kumpulan doa lain yang dinisbatkan kepada al-Sajjad. As-Shahifah kedua disusun pada tahun 1643 oleh al-Hurrul Amili, seorang ulama Syiah terkemuka. As-Shahifah ketiga dikumpulkan oleh Afandi, seorang murid Majlisi. Al-Sahifa kelima oleh Muhsinil Amin, seorang ulama Syiah kontemporer yang terkenal, merupakan kumpulan yang paling panjang dan mencakup semua kumpulan lainnya.[27]

Dokumen tertua dari as-Shahifah al-Sajjadiyyah

Bagian

  • Dan langit beserta cakrawala-cakrawalanya memuji-Nya, dan bumi beserta hiasan-hiasannya, dan gunung-gunung beserta ketinggiannya, dan pepohonan beserta cabang-cabangnya, dan lautan beserta makhluk-makhluk besarnya, dan bintang-bintang dalam terbitnya, dan hujan dalam turunnya, dan binatang-binatang liar di bumi dalam berburu dan di sarang-sarangnya, dan kepenuhan sungai-sungai beserta riaknya, dan kemanisan serta keasinan air, dan hembusan angin beserta gemuruhnya, dan segala sesuatu yang dapat digambarkan atau didengar.[28]
  • Wajahku yang fana dan rapuh bersujud di hadapan wajah-Mu yang kekal dan senantiasa ada. Wajahku bersujud, berlumur debu, di hadapan Penciptanya, dan sujud ini memang pantas dan benar. Wajahku bersujud di hadapan Dia yang menciptakannya, membentuknya, dan membuat baginya (lubang-lubang) pendengaran serta penglihatan. Maha Suci Allah, Pencipta yang terbaik. Wajahku yang sengsara dan hina bersujud di hadapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.[29]
  • Tuhanku, seandainya tidak diwajibkan atasku untuk menaati perintah-Mu, niscaya aku akan menganggap kemahasucian-Mu terlalu agung bagiku untuk mengarahkan permohonanku kepada-Mu.[30]
  • Tuhanku, Engkau telah menciptakanku sebagai suatu tubuh, dan bersamanya Engkau memberiku sarana untuk ketaatan atau kemaksiatan, serta Engkau menetapkan dalam diriku suatu jiwa yang menyeru kepada kepentingan diri sendiri, dan setelah itu Engkau berkata kepadaku, "Tahanlah dirimu, wahai hamba-Ku!" Hanya melalui-Mu aku dapat menjaga kesucianku. Maka lindungilah aku dari kejahatan. Hanya melalui-Mu aku dapat terlindung dari dosa. Maka lindungilah aku.[31]
  • Tuhan kami, Tuhan dan Penguasa kami, seandainya kami menangis hingga bulu mata kami rontok, dan meratap hingga suara kami hilang, dan berdiri hingga kaki kami mengerut, dan rukuk hingga sendi-sendi kami terlepas, dan bersujud hingga bola mata kami pecah, dan memakan debu bumi sepanjang hidup kami, serta menyebut nama-Mu hingga lidah kami tidak lagi mampu, maka dengan semua itu kami belumlah pantas memperoleh penghapusan satu pun dari kesalahan kami.[32]
  • Salah satu perbuatan mulia dari orang-orang yang dermawan adalah kebaikan penuh belas kasihan kepada para tawanan, dan aku adalah seorang tawanan karena kejahatanku, tawanan dari kejahatanku sendiri, terbelenggu oleh perbuatanku.[33]
  • Aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengasihani aku, atas kulitku yang lembut ini, tubuhku yang lemah ini yang tidak mampu menahan panas matahari-Mu. Maka bagaimana ia akan mampu menahan panas api-Mu? Dan ketika ia tidak mampu menahan suara guruh-Mu, bagaimana ia akan mampu menahan suara murka-Mu?[34]
  • Tuhanku, dosa-dosaku tidak merugikan-Mu dan ampunan-Mu tidak membuat-Mu kekurangan. Maka ampunilah aku atas apa yang tidak merugikan-Mu dan berikanlah kepadaku apa yang tidak akan Engkau kehilangan.[35]
  • [Wahai Allah!] Perlakukanlah aku dengan ampunan dan rahmat yang layak bagi-Mu! Janganlah perlakukan aku dengan siksa dan pembalasan yang layak bagiku![15]
  • [Wahai Allah!] Kasihanilah aku ketika aku terbujur di tempat tidurku, saat tangan orang-orang yang kucintai membalikkan tubuhku. Kasihanilah aku ketika aku terbaring di meja pemandian, saat para tetangga yang penuh belas kasihan memandikan jenazahku. Kasihanilah aku ketika aku diusung, saat kerabat-kerabatku memegang sisi-sisi usunganku. Kasihanilah aku di rumah yang gelap itu, dalam kerinduanku akan rumahku, keterasinganku, dan kesendirianku. Kepada siapakah seorang hamba memohon belas kasihan selain kepada Tuannya?[36]
  • Wahai Sahabat bagi setiap orang yang asing, jadilah Sahabat bagi keterasinganku di dalam kubur. Wahai Pendamping bagi setiap orang yang sendirian, kasihanilah kesendirianku di dalam kubur.[37]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ^ a b c Kohlberg 2012.
  2. ^ a b Chittick 1987, hlm. xliv.
  3. ^ Chittick 1987, hlm. xi, xlvi.
  4. ^ a b Madelung 1985.
  5. ^ Chittick 1987, hlm. xiv.
  6. ^ a b c d Chittick 1987, hlm. xviii.
  7. ^ "SAHİFE-İ SECCADİYE ( İMAM ZEYNEL ABİDİN'DEN DUALAR)". www.imamrizadergahiyayinlari.com/ (dalam bahasa Turki). Diakses tanggal 10 Juni 2024.
  8. ^ Chittick 1987, hlm. xxii.
  9. ^ Chittick 1987, hlm. xxv.
  10. ^ Chittick 1987, hlm. xxvii.
  11. ^ Chittick 1987, hlm. xxv, xxvi.
  12. ^ Chittick 1987, hlm. xxviii–xxix.
  13. ^ Chittick 1987.
  14. ^ Chittick 1987, hlm. xxxviii–xxxix.
  15. ^ a b Chittick 1987, hlm. xl.
  16. ^ Chittick 1987, hlm. xxx–xxxi.
  17. ^ Chittick 1987, hlm. xxxii.
  18. ^ Chittick 1987, hlm. xxxii–xxxiii.
  19. ^ Chittick 1987, hlm. xxxiv–xxxv.
  20. ^ a b Chittick 1987, hlm. xli.
  21. ^ Chittick 1987, hlm. xxxix.
  22. ^ Chittick 1987, hlm. xix.
  23. ^ Dhalla 2012, hlm. 80.
  24. ^ a b Ilhami Niya 2006.
  25. ^ Shahri 2006.
  26. ^ Chittick 1987, hlm. xx.
  27. ^ Chittick 1987, hlm. xviii–xix.
  28. ^ Padwick 1997, hlm. 252–253.
  29. ^ Padwick 1997, hlm. 11.
  30. ^ Padwick 1997, hlm. 69–70.
  31. ^ Padwick 1997, hlm. 174.
  32. ^ Padwick 1997, hlm. 201.
  33. ^ Padwick 1997, hlm. 191.
  34. ^ Padwick 1997, hlm. 283.
  35. ^ Padwick 1997, hlm. 204.
  36. ^ Padwick 1997, hlm. 277.
  37. ^ Padwick 1997, hlm. 278.

Sumber

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement