Anjar, Lebanon

Anjar
عنجر
Անճար
The cardo of the Umayyad city of Anjar
The cardo of the Umayyad city of Anjar
Country Lebanon
GovernorateBeqaa Governorate
DistrictZahle District
Zona waktuUTC+2 (EET)
 • Musim panas (DST)+3
Nama resmiAnjar
JenisBudaya
Kriteriaiii, iv
Ditetapkan1984 (8th session)
No. referensi293
RegionArab States

Anjar adalah sebuah kota di Lembah Bekaa, Lebanon, dengan populasi sekitar 2.400 jiwa yang sebagian besar berasal dari komunitas Armenia. Wilayah ini sebelumnya dikenal sebagai Gerrha, sebuah benteng yang dibangun pada abad ke-8 di bawah pemerintahan Khalifah Umayyah Al-Walid bin Abdul Malik. Setelah ditinggalkan, kawasan tersebut menyisakan reruntuhan yang tetap terpelihara dan kini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.[1]

Sejarah

Kota Anjar merupakan satu-satunya situs peninggalan Umayyah di Lebanon. Kota ini terletak di dekat Sungai Litani dan berjarak sekitar 58 km dari Beirut. Anjar dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, yakni dari tahun 705 Masehi sampai tahun 715 masehi. dan memperoleh namanya dari istilah Arab ‘ayn al-jaar, yang berarti “air dari batu”, mengacu pada aliran sungai yang bersumber dari Pegunungan Lebanon dan Pegunangan Anti-Lebanon. Kota tersebut mengalami masa perkembangan singkat selama sekitar dua hingga tiga dekade dan tetap dihuni hingga masa kekuasaan putra Walid, Khalifah Ibrahim bin Walid pada tahun 744 Masehi. Pada tahun tersebut, perluasan kekuasaan Dinasti Abbasiyah menyebabkan kekalahan Ibrahim dan pendudukan terhadap Anjar. Serangan ini mengakibatkan kerusakan besar dan mendorong kota tersebut memasuki masa panjang keterabaikan. Reruntuhan Anjar memberikan informasi penting mengenai peradaban Umayyah melalui prasasti bertanggal pasti yang tersebar di dalam kompleks. Temuan arkeologis menunjukkan adanya hunian lebih awal pada masa Yunani dan Romawi, termasuk bangunan Kristen awal yang berasal dari sekitar tahun 395 Masehi. Pada masa kejayaannya, Anjar berfungsi sebagai pusat perdagangan pedalaman yang berada di persimpangan dua jalur utama, rute dari Beirut ke Damaskus dan rute yang melintasi Lembah Bekaa, menghubungkan Homs dan Tiberias. Posisi strategis ini menjadikan Anjar makmur sebagai kota perdagangan di persilangan rute utara sampai selatan dan timur sampai barat Semenanjung Arab. Meskipun tidak pernah berkembang sepenuhnya dan kemudian ditinggalkan oleh Umayyah setelah sekitar 30 tahun, Anjar pernah mengalami masa pertumbuhan singkat. Pada masa itu, kota ini memiliki lebih dari 600 lorong toko masing-masing dipisahkan oleh kolom-kolom yang dibangun dengan gaya arsitektur Romawi, bangunan pemandian, dua istana, dan sebuah masjid. Sisa-sisa bangunannya menjadi contoh khas perencanaan kota abad ke-8 pada masa awal Islam. Karakter arsitektur-nya menunjukkan peralihan dari budaya Kekaisaran Romawi Timur menuju perkembangan awal seni Islam, terlihat dalam teknik konstruksi serta elemen arsitektural dan dekoratif pada monumen-monumen yang masih tersisa.[2]

Perlindungan dan pengelolaan

Situs ini berada di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Purbakala. Upaya pelestarian dilakukan melalui pemeliharaan rutin, termasuk pembersihan vegetasi dan penguatan struktur arkeologis. Sebuah rencana pengelolaan jangka panjang sedang dikembangkan untuk memperkuat perlindungan situs. Pembebasan lahan di sekitar kawasan arkeologi tengah dilakukan untuk membatasi ekspansi perkotaan. Langkah ini bertujuan menciptakan dua area perlindungan, area non aedificandi yang melarang pembangunan, serta area kedua dengan pemanfaatan terbatas untuk menjaga kelestarian lanskap di sekitar situs.[3]

Referensi

  1. ^ "Anjar - Armeniapedia". www.armeniapedia.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14.
  2. ^ AlSulaiti, Fatema (2013-02-28). "Anjar". World History Encyclopedia (dalam bahasa Inggris).
  3. ^ Centre, UNESCO World Heritage. "Anjar". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14.


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement