Zahra Kazemi
| Zahra Kazemi | |
|---|---|
| Berkas:Zahra Kazemi before arrest.jpg | |
| Lahir | 1948 Shiraz, Iran |
| Meninggal | 11 Juli 2003 (umur 55) Penjara Evin, Teheran, Iran |
| Sebab meninggal | Penyiksaan yang Disetujui Negara |
| Makam | Shiraz, Iran |
| Pendidikan | Universitas Paris |
| Pekerjaan | Fotojurnalis |
| Anak | 1 |
| Penghargaan | Penghargaan Tara Singh Hayer (2003) |
Zahra "Ziba" Kazemi-Ahmadabadi (Persia: زهرا کاظمی احمدآبادی; 1948 – 11 Juli 2003) adalah seorang fotojurnalis lepas berkebangsaan Iran-Kanada. Ia terkenal karena penangkapannya di Iran dan keadaan di mana Ia ditahan oleh pihak berwenang Iran, yang kemudian terbunuh di dalam tahanan. Laporan otopsi mengungkapkan bahwa Kazemi diperkosa dan disiksa oleh pejabat Iran selama berada di Penjara Evin, Teheran.[butuh rujukan]
Meskipun pihak berwenang Iran bersikeras bahwa kematiannya adalah kecelakaan dan Kazemi meninggal karena stroke saat diinterogasi, namun pernyataan Shahram Azam, mantan dokter staf militer yang menggunakan pengetahuannya tentang kasus Kazemi untuk mencari suaka di Kanada pada 2004, bahwa saat memeriksa tubuh Kazemi dan mengamati bahwa terdapat tanda-tanda penyiksaan yang jelas, termasuk patah tulang tengkorak, patah tulang hidung, tanda-tanda pemerkosaan, dan memar perut yang parah.[1]
Kematiannya merupakan kematian warga Iran pertama yang terjadi dalam tahanan pemerintah dan menarik perhatian internasional yang besar.[2] Karena kewarganegaraan gandanya dan keadaan kematiannya, kasus ini kemudian menjadi kasus yang terkenal di dunia internasional. Pada November 2003, Jurnalis Kanada untuk Kebebasan Berekspresi memberikan penghargaan Tara Singh Hayer Memorial Award kepada Kazemi sebagai pengakuan atas keberaniannya dalam membela hak atas kebebasan berekspresi.[3]
Riwayat hidup dan kematian
Kazemi lahir di Syiraz, Iran, dan pindah ke Prancis pada 1974 untuk belajar sastra dan perfilman di Universitas Paris. Bersama putranya, Stephan Hachemi, Ia imigrasi ke Kanada pada 1993 dan menetap di Montreal, Quebec, tempat Ia mendapatkan kewarganegaraan Kanada dan menjadi warga negara ganda. Ia bekerja di Afrika, Amerika Latin, Karibia, termasuk wilayah Palestina, Irak, dan Afghanistan yang dikunjunginya selama pendudukan Amerika. Tepat sebelum perjalanannya ke Iran, Kazemi mengunjungi kembali Irak, mendokumentasikan pendudukan AS. Tema dalam karyanya adalah mendokumentasikan kemiskinan, kekurangan, pengasingan paksa dan penindasan, serta kekuatan perempuan dalam situasi-situasi tersebut.[butuh rujukan]
Penangkapan
Kazemi kembali ke Iran menggunakan paspor Iran-nya dan diizinkan masuk untuk mengambil foto demonstrasi yang diperkirakan akan terjadi di Teheran pada Juli 2003. Demonstrasi tersebut memang terjadi dan berhasil dipadamkan setelah hari ke-6 oleh pengerahan besar-besaran pasukan keamanan dan paramiliter yang berjaga-jaga, atau "pasukan berpakaian preman". Setelah penindakan tersebut, diperkirakan 4.000 mahasiswa "hilang" dan diduga ditangkap karena ikut demonstrasi dan dibawa ke penjara Evin. Akibat hal ini, anggota keluarga dari mereka yang hilang berkumpul di luar penjara Evin dengan harapan mengetahui apa yang terjadi pada anak-anak mereka. Pada 23 Juni 2003, Kazemi pergi ke penjara untuk mengambil foto anggota keluarga tersebut, dengan membawa kartu pers yang dikeluarkan pemerintah yang menurutnya bisa digunakan untuk bekerja di sekitar Teheran, termasuk di Evin.[butuh rujukan]
Menurut Shirin Ebadi, seorang pengacara Iran dan mantan hakim yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2003 sekaligus perwakilan utama keluarga Kazemi dalam persidangan atas kematian Kazemi, seorang anggota staf penjara melihat Kazemi mengambil foto dan menuntut agar Ia memberikan kameranya, karena fotografi dilarang di depan penjara.[butuh rujukan]
Khawatir bahwa petugas mungkin akan mengganggu keluarga yang fotonya sudah diambilnya, ia memperlihatkan kartu persnya dan memaparkan film ke cahaya. Penjaga itu dengan marah berteriak padanya, 'Saya tidak meminta Anda untuk memaparkan film Anda, saya menyuruh Anda untuk memberikan kamera Anda kepada saya.' 'Anda boleh mengambil kameranya,' balasnya, 'tetapi film itu milik saya.' Ia ditahan dan diinterogasi selama tiga hari berikutnya oleh petugas polisi, jaksa, dan petugas intelijen.[4]
Staf penjara Evin, yang oleh pengacara keluarga Kazemi dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam pemukulan yang menyebabkan kematian Kazemi, mengatakan bahwa Ia berada di area sensitif, memotret bagian-bagian penjara. Beberapa hari setelah penangkapannya, surat kabar garis keras menerbitkan berita yang "menyebutnya sebagai mata-mata yang memasuki negara secara diam-diam sebagai jurnalis".[4]
Kazemi bersikeras bahwa Ia tidak memotret bagian mana pun dari penjara dan hanya memotret jalan dan para demonstran, yang merupakan anggota keluarga dari mahasiswa aktivis yang dipenjara.[butuh rujukan]
Kematian
Pada 11 Juli 2003, 19 hari setelah penangkapannya, Kazemi meninggal dalam tahanan Iran di Rumah Sakit Militer Baghiyyatollah al-Azam. Dua hari kemudian, kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa Kazemi menderita stroke saat diinterogasi dan meninggal di rumah sakit.[1] Laporan ini berubah menjadi laporan bahwa Kazemi meninggal setelah jatuh dan kepalanya terbentur.[4] Pada 16 Juli 2003, wakil presiden Iran, Mohammad Ali Abtahi, "mengakui bahwa Kazemi meninggal akibat dipukuli".[1] Mohammad Ali Abtahi (Wakil Presiden Bidang Hukum) dan Masoud Pezeshkian (Menteri Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran) mengakui bahwa Ia meninggal karena tengkoraknya retak akibat dipukul di kepala. Abtahi mengklaim bahwa Ia berada di bawah tekanan besar untuk menarik kembali pengakuan tersebut, tetapi Ia menolaknya.[butuh rujukan]
Shirin Ebadi melaporkan bahwa petugas keamanan menggeledah rumah seorang teman yang tidak disebutkan namanya tempat Kazemi tinggal dan "terus bertanya" kepada temannya tentang "'kondisi medis' Kazemi dan obat-obatan apa yang Ia konsumsi setiap hari". Petugas juga mencegah ibu Kazemi yang sudah tua dan lemah, yang telah melakukan perjalanan dari Shiraz untuk menemui anak tunggalnya, untuk bertemu Kazemi sampai mereka menanyainya tentang obat-obatan yang mereka tegaskan harus digunakan putrinya. Teman Kazemi mengatakan kepada Ebadi bahwa Ia kemudian menyadari bahwa ini berarti Kazemi telah meninggal, dan petugas "ingin mengklaim bahwa Ziba memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya yang memburuk di penjara".[4]
Kisah ini menjadi kontroversi besar setelah 2 tahun kemudian, ketika Shahram Azam, mantan dokter staf di Kementerian Pertahanan Iran, mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Ia memeriksa Kazemi di rumah sakit 4 hari setelah penangkapannya dan menemukan tanda-tanda penyiksaan yang jelas, termasuk:[1]
- Bukti pemerkosaan brutal
- Tengkorak retak, dua jari patah, kuku hilang, jempol kaki remuk, dan hidung patah.
- Memar parah di perut, bengkak di belakang kepala, dan memar di bahu.
- Goresan dalam di leher dan bukti cambukan di kaki.
Salah satu dari dua agen intelijen Iran yang didakwa atas kematiannya dibebaskan pada September 2003. Agen lainnya, Mohammed Reza Aghdam-Ahmadi (محمدرضا اقدم احمدی), didakwa dengan "pembunuhan semi-sengaja" dan persidangannya dibuka di Teheran pada Oktober 2003. Pada bulan yang sama, parlemen Iran mengutuk Saeed Mortazavi, seorang jaksa Teheran, karena mengumumkan bahwa Kazemi meninggal karena stroke. Pada 25 Juli 2004, Aghdam-Ahmadi dibebaskan.[butuh rujukan]
Sidang pembunuhan
Shirin Ebadi, perwakilan utama keluarga Kazemi di persidangan, hadir di sidang kedua dan ketiga pada 17–18 Juli 2004. Di pengadilan, ibu Kazemi menyebutkan bahwa Ia ingin pelaku sebenarnya diadili. Ia juga menyebutkan bahwa Ia melihat jenazah Kazemi sebelum dimakamkan, di mana terdapat tanda-tanda penyiksaan.[butuh rujukan]
Ebadi dan pengacara keluarga lainnya bersikeras di pengadilan bahwa mereka tahu Kazemi tidak dibunuh oleh Aghdam-Ahmadi, dan mereka membutuhkan saksi untuk dihadirkan ke pengadilan untuk menemukan pelaku sebenarnya, yang mereka duga mungkin adalah Mohammad Bakhshi, seorang perwira tinggi penjara Evin. Daftar saksi yang mereka minta termasuk Saeed Mortazavi, jaksa agung Teheran, Mohsen Armin, anggota reformis parlemen sebelumnya Hossein Ansari-Rad, Jamileh Kadivar, dan Mohsen Mirdamadi, Menteri Intelijen Ali Younesi, Wakil Presiden Bidang Hukum Mohammad Ali Abtahi, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Ahmad Masjedjamei, lima hakim yang hadir selama interogasi Kazemi, beberapa karyawan penjara Evin, presiden rumah sakit Baghiyyatollah, dan seluruh staf medis yang telah menandatangani berkasnya. Hakim Farahani menolak semua permintaan tersebut. Para pengacara juga mengutip laporan resmi kematian yang menyatakan bahwa berbagai bagian tubuh Kazemi telah rusak dan pakaiannya robek dan berlumuran darah, yang membuktikan bahwa Ia telah disiksa.[butuh rujukan]
Pada 14 Juli 2004, pemerintah Iran menolak permintaan pengamat dari pemerintah Kanada untuk menghadiri persidangan, meskipun ada janji dan jaminan dari Menteri Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi dan pejabat peradilan kepada Menteri Luar Negeri Kanada Bill Graham. Pada hari yang sama, Graham memanggil kembali duta besar di Teheran, Philip MacKinnon. MacKinnon, bersama dengan duta besar Belanda (mewakili Uni Eropa ) dan diplomat dari kedutaan Inggris dan Prancis, kemudian diizinkan untuk menghadiri persidangan pada 17 Juli, meskipun tidak pada 18 Juli. Hakim Farahani dikutip pada 18 Juli mengatakan bahwa "(dia) membuat kesalahan kemarin. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Iran tidak akan tunduk di bawah tekanan." Hamid Reza Assefi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan, "Kami tidak mengizinkan pengamat sejak awal. Tetapi Anda harus menanyakan alasan larangan tersebut kepada pengadilan, mungkin ada kekurangan tempat duduk." Assefi juga mengatakan bahwa karena Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda dan Kazemi adalah warga negara Iran yang memasuki negara itu dengan paspor Iran, tanpa pernah meminta pencabutan kewarganegaraannya, maka kasus ini jelas merupakan urusan internal.[butuh rujukan]
Sesi persidangan berakhir pada 18 Juli, dengan pengacara keluarga Kazemi bersikeras bahwa waktu yang diberikan tidak cukup untuk memberikan bukti, menghadirkan saksi ke pengadilan, dan mengidentifikasi pelaku. Mereka juga menyebutkan bahwa pengadilan tidak memperhatikan bukti mereka. Mereka menolak untuk menandatangani catatan sidang. Menteri Luar Negeri Kanada, Bill Graham, mendefinisikan peristiwa ini sebagai "penolakan terang-terangan terhadap proses hukum yang adil".[butuh rujukan]
Pada 24 Juli 2003, Hakim Farahani mengeluarkan putusannya, membebaskan Aghdam-Ahmadi dari tuduhan. Ia juga menyebutkan bahwa karena pelakunya belum ditemukan, menurut sumber-sumber Islam, uang darah harus dibayarkan oleh pemerintah kepada keluarga. Pengacara keluarga Kazemi mengumumkan bahwa mereka akan mengajukan banding atas kasus tersebut, meminta agar pengadilan pidana dibentuk untuk mempertimbangkan kembali seluruh kasus, atau melengkapi berbagai ketidaklengkapan berkas. Mereka juga menyebutkan bahwa jika keluarga meminta, mereka akan membawa kasus ini ke otoritas internasional, dengan menyebutkan Iran sebagai penandatangan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1954. Pada akhir Juli, lembaga peradilan Iran menambahkan "jatuh secara tidak sengaja" dan "mogok makan" ke dalam daftar dugaan penyebab kematian Kazemi. Mereka mengklaim bahwa Kazemi melakukan mogok makan secara sukarela, mengalami tekanan darah rendah yang membuatnya pusing, jatuh, dan kepalanya terbentur. Para penentang menunjukkan bahwa cerita ini tidak menjelaskan patah tulang, cedera genital, atau luka robek pada kulitnya.[butuh rujukan]
Dampak
Pada Juni 2005, sebuah pameran foto karya Zahra Kazemi selama perjalanannya di Timur Tengah di Perpustakaan Kota Côte-Saint-Luc di Montreal ditutup setelah adanya tuduhan dari pengunjung Yahudi tentang dugaan "bias pro-Palestina" karena memasukkan lima fotonya yang menggambarkan adegan di dalam kamp pengungsi Palestina. Pihak galeri kemudian menghapus kelima foto tersebut sementara pameran lainnya tetap berlangsung. Sebagai tanggapan, putra Kazemi, Stephen Hachemi, menyebut penghapusan foto-foto Palestina tersebut sebagai "pelanggaran terhadap semangat ibu saya" dan menuntut agar perpustakaan menampilkan seluruh koleksi atau tidak menampilkan apa pun sama sekali. Akhirnya, perpustakaan menutup seluruh pameran tersebut.[5]
Wali Kota Côte Saint-Luc, Robert Libman, mengatakan kepada CBC News, "Ini adalah konflik yang sangat rumit, dan untuk menciptakan kesan bahwa perjuangan Palestina sedang dikorbankan oleh penindasan pemerintah Israel, kami tidak menganggap itu sebagai gambaran yang adil. Di masa mendatang, karya-karya yang bermuatan politik seperti itu tidak akan dipamerkan di perpustakaan". Kritik terhadap keputusan untuk menurunkan pameran tersebut mengecamnya sebagai "sensor". Naomi Klein dan Aaron Maté menulis bahwa hal itu adalah "bagian dari pola yang mengganggu untuk membungkam oposisi terhadap pendudukan Israel yang ekspansionis di Wilayah Pendudukan". Menurut keterangan yang menyertai pameran foto tersebut, Ia "mengilustrasikan kehidupan sehari-hari warga Palestina dan masalah yang mereka hadapi ketika mereka berusaha untuk mempertahankan tanah dan identitas mereka" di tengah "eksodus, kemiskinan, penghinaan, penderitaan, dan kehancuran perang".[5]
Kehidupannya Kazemi pun menjadi salah satu inspirasi bagi komik web populer, Zahra's Paradise.[butuh rujukan]
Lihat juga
- Pembunuhan Mahsa Amini
- Hak asasi manusia di Iran
- Daftar wanita Persia terkenal
- Daftar warga negara asing yang ditahan di Iran
- Zahra Bani Yaghoub
Referensi
- ^ a b c d INDEPTH: ZAHRA KAZEMI "Iran's changing story" CBC News Online | Updated 16 November 2005 Retrieved 15/03/08 [perlu rujukan lengkap]
- ^ Ebadi, Shirin, Iran Awakening, by Shirin Ebadi with Azadeh Moaveni, Random House New York, 2006, p.199
- ^ Memorial Award November 2003 Diarsipkan 6 July 2010 di Wayback Machine., cjfe.org
- ^ a b c d Ebadi, Iran Awakening, (2006), pp. 195–7
- ^ a b "Email: Naomi Klein and Aaron Maté @ Montreal". The Guardian. 3 July 2005. ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 January 2018. Diakses tanggal 19 May 2019.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


