Yuhara Sukra
Yuhara Sukra | |
|---|---|
| Direktur Perguruan Tinggi Swasta | |
| Masa jabatan 1987–1993 | |
| Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat | |
| Masa jabatan Agustus 1981 – 1987 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 6 Juli 1933 Cikaroya, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat, Hindia Belanda |
| Pendidikan | Universitas Indonesia (drh.) Universitas Kentucky (M.Sc.) Institut Pertanian Bogor (Ph.D., Prof.) |
Yuhara Sukra (lahir 6 Juli 1933) adalah seorang dokter hewan Indonesia dan seorang profesor embriologi di Institut Pertanian Bogor. Ia juga menjabat sebagai Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat dan Direktur Perguruan Tinggi Swasta di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Kehidupan awal dan pendidikan
Yuhara lahir pada 6 Juli 1933 di Cikaroya, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat.[1] Yuhara dibesarkan oleh bibinya di Bandung hingga ia berusia tujuh tahun. Ia kemudian pindah ke Sukabumi, di mana ia tinggal bersama paman dan bibinya yang tinggal di sana dan bersekolah di Pasundan Lagere School pada tahun 1942. Kurang dari setahun kemudian, Yuhara kembali ke orang tuanya di Warungkondang dan menyelesaikan kelas dua dan tiga di sekolah desa di desa terdekat. Ia menyelesaikan kelas empat dan lima di sekolah rakyat di Warungkondang.[2]
Yuhara menyelesaikan kelas lima sekolah dasar di tengah Revolusi Nasional Indonesia.[2] Warungkodang diduduki oleh pasukan Belanda, dan keluarga Yuhara mengungsi ke Sukabumi. Atas rekomendasi Suseno, kepala sekolah teknik di Sukabumi, Yuhara melompat kelas enam dan langsung masuk sekolah menengah pertama. Ia mengubah tahun lahirnya dari 1934 menjadi 1933 agar bisa masuk SMP.[3]
Karena Yuhara jauh lebih muda dari teman-teman sekelasnya di SMP, ia tidak dapat melakukan pekerjaan fisik. Pada tahun kedua, Yuhara pindah ke sekolah menengah pertama pro-Indonesia. Setelah menyelesaikan SMP, Yuhara belajar di SMA Pembangunan di Bogor selama tiga bulan sebelum pindah ke SMA swasta Pembina. Yuhara mengikuti ujian akhir di SMA Negeri 1 Bogor dan menerima ijazah SMA dari sekolah tersebut pada tahun 1953. Ia kemudian mengajar berhitung dan sejarah di SMA Taman Dewasa di Sukabumi dan mengikuti kursus bahasa Belanda selama setahun.[4]
Yuhara menerima beasiswa untuk belajar kedokteran hewan di Universitas Indonesia di Bogor pada tahun 1954. Ia menyelesaikan ujian propaedeutics pada tahun 1955 dan menerima gelar doctorandus pada tahun 1959.[5][6][7] Ia kemudian menjalani ko-asistensi di Dinas Kehewanan Karawang dan Dinas Kehewanan Madiun selama setahun.[8] Yuhara lulus sebagai dokter hewan dari universitas tersebut pada tahun 1960.[1]
Yuhara telah bekerja sebagai asisten dosen sejak ia menyelesaikan ujian propaedeutics pada tahun 1957. Ia masuk pegawai negeri sipil setelah menerima gelar doctorandus pada tahun 1959 dan mulai mengajar kedokteran hewan di Universitas Indonesia pada tahun 1960.[9] Setelah menikah pada tahun 1961, Yuhara tinggal di rumah mertuanya di Sukabumi dan harus pulang pergi dari Sukabumi ke Bogor dengan bus atau kereta api. Beberapa tahun setelah mengajar, universitas tersebut menerima dana beasiswa di bawah Tim Kontrak Kentucky (Kentucky Contract Team) untuk mengirim dosen-dosen Indonesia ke Universitas Kentucky. Sejumlah dosen IPB, termasuk Yuhara, menerima beasiswa ini.[10]
Sebelum berangkat, Yuhara harus mengikuti kursus bahasa Inggris pada siang hari dan kuliah etika Amerika pada malam hari. Yuhara berangkat ke Amerika Serikat pada Juni 1963 dan memulai studi masternya pada bulan September setelah mengambil kursus bahasa Inggris selama dua bulan di universitas tersebut.[11] Pembimbing master Yuhara, A. Brauer, tiba-tiba meninggal pada November 1964, dan Yuhara menjadi salah satu pengusung jenazahnya. Sebagai mahasiswa asing terakhir yang dibimbing oleh Braurer, janda Brauer bersikeras agar Yuhara membawa pulang beberapa barang pribadinya.[12] Selama studi masternya, Yuhara menjadi instruktur tak berbayar untuk mahasiswa teknologi medis dan pramedis di Universitas Kentucky.[13]
Yuhara menerima gelar master pada bulan April 1965[1] dengan tesisnya yang berjudul The Development of Chick Spleen Embryos as Studied on Chorio-Allantoic Graft. Oleh pemerintah, Yuhara diinstruksikan untuk kembali ke Indonesia karena memburuknya hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Karena itu, ia menolak tawaran untuk melanjutkan studi doktoralnya dari Tim Kontrak Kentucky.[13]
Pada tahun 1971, Yuhara menerima beasiswa dari Midwest Universities Consortium for International Activities untuk melanjutkan program doktornya di University of Wisconsin–Madison (UW) dalam sistem sandwich. H.R. Bird, seorang profesor dari Departemen Ilmu Unggas universitas tersebut, ditunjuk sebagai pembimbing Yuhara.[14] Setelah menyelesaikan penelitian praktisnya di IPB, Yuhara dikirim ke UW untuk menyelesaikan tesis doktoralnya. Tesisnya, yang berjudul Effect of selenium and mercury on gross morphology and histopathology of chick embryos, dipertahankan di IPB, dengan ketua senat Andi Hakim Nasution sebagai penguji utamanya.[15] Ia menerima gelar doktor pada tahun 1977 dan diangkat sebagai guru besar penuh di bidang kedokteran hewan pada tahun yang sama.[1]
Karier di IPB
Pada saat ia kembali, fakultas kedokteran hewan dan pertanian Universitas Indonesia digabung membentuk Institut Pertanian Bogor (IPB). Yuhara diangkat sebagai wakil dekan bidang akademik fakultas kedokteran hewan IPB dari tahun 1967[1] hingga 1971. Selama menjabat sebagai wakil dekan, Yuhara juga mengepalai jurusan embriologi, jurusan zoologi, dan sekretaris badan pengembangan IPB.[16]
Hampir bersamaan dengan pengangkatannya sebagai wakil dekan pertama, Yuhara juga memimpin bagian embriologi di departemen zoologi IPB. Bagian embriologi sebelumnya digabung dengan bagian histology namun dipisah pada tahun 1967 setelah kepergian ketua bagian tersebut, Soenarjo Sastrohadinoto, untuk melanjutkan studi Ph.D. di Universitas Kentucky. Semua barang dan spesimen dari bagian sebelumnya diambil alih oleh bagian histologi, dan bagian embriologi Yuhara harus memulai dari awal. Dengan bantuan Tim Kontrak Kentucky, bagian tersebut mulai memperoleh spesimen biologi dan alat yang diperlukan untuk melakukan percobaan.[17] Yuhara juga mengembangkan laboratorium embriologi menggunakan dana dari United States Agency for International Development[18] serta merekrut dosen tetap dari IPB[19] dan dosen tamu dari Amerika Serikat.[20]
Selain mengajar di IPB, Yuhara juga mengajar di Universitas Airlangga pada tahun 1970-an dan Universitas Pertanian Tokyo pada awal 1990-an.[21]
Di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Sesaat setelah pembentukan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yuhara dipercaya untuk mengetuai tim pengelola program doktor di perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 1976. Tim itu sendiri dibentuk untuk melaksanakan rencana Direktur Jenderal Makaminan Makagiansar untuk menghasilkan empat ratus doktor di Indonesia. Berdasarkan rencana ini, Indonesia akan dibagi menjadi sepuluh wilayah pendidikan tinggi yang berbeda, dengan empat puluh doktor ditugaskan di setiap wilayah untuk mengembangkan pendidikan tinggi. Usulan Yuhara untuk rencana ini meliputi beasiswa luar negeri, pinjaman jangka pendek, dan pengembangan program doktor di Indonesia. Tim tersebut terdiri dari para akademisi terkemuka, termasuk Sujudi (kemudian menteri kesehatan) dari Universitas Indonesia dan Augustinus Alexander Loedin (kemudian kepala badan penelitian dan pengembangan kesehatan) dari Universitas Airlangga. Yuhara bertugas di posisi ini selama 25 tahun hingga akhir 2001. Di akhir masa jabatannya, jumlah dosen pascasarjana meningkat dari 11% dari jumlah total dosen pada tahun 1976 menjadi 40% pada tahun 2000.[22]
Bersamaan dengan posisinya sebagai ketua tim, pada 24 Agustus 1981 Yuhara diangkat sebagai Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.[23] Selama enam tahun masa jabatannya di posisi ini, Yuhara harus menghadapi transisi ke rencana jangka panjang baru di pendidikan tinggi pada tahun 1986, serta pengetatan anggaran melalui apa yang dikenal sebagai "kebijakan ikat pinggang".[24] Direktorat juga mengeluarkan buku panduan pengembangan program penelitian pada tahun 1984, di mana proposal penelitian akan diseleksi oleh universitas sebelum dibawa ke direktorat untuk pemeriksaan lebih lanjut.[25]
Direktorat bertanggung jawab dalam mengimplementasikan visi geopolitik Wawasan Nusantara pemerintah. Direktorat mengadakan kuliah dan seminar untuk menyebarluaskan visi tersebut ke universitas dan departemen, serta merumuskan atlas tentang Wawasan Nusantara. Atlas tersebut selesai pada akhir masa jabatan Yuhara pada tahun 1987.[26]
Pada tahun 1987, Yuhara diangkat sebagai Direktur Perguruan Tinggi Swasta, menggantikan Soekisno Hadikoemoro yang pensiun.[23] Sepanjang masa jabatannya, Yuhara memperbanyak jumlah badan koordinasi perguruan tinggi swasta dari sembilan menjadi dua belas.[27] Yuhara mendirikan pusat pertumbuhan di empat dari dua belas badan ini, yang berfungsi sebagai laboratorium bersama untuk perguruan tinggi swasta di bawah yurisdiksi badan tersebut. Di bawah pengawasannya, jumlah perguruan tinggi swasta di Indonesia meningkat secara signifikan. Yuhara juga memperkenalkan perubahan besar dalam sistem perguruan tinggi swasta dengan menyederhanakan persyaratan pendirian perguruan tinggi swasta serta menghapuskan upacara wisuda dan pangkat akademik "lokal".[28]
Yuhara juga menugaskan beberapa dosen pegawai negeri sipil untuk mengajar di perguruan tinggi swasta. Beberapa dari dosen tersebut, bersama dengan dosen perguruan tinggi swasta, dikirim oleh direktorat untuk pendidikan dan pelatihan di luar negeri dengan dana bantuan luar negeri. Di antara mereka yang dikirim oleh direktorat adalah Abdul Malik Fadjar, yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan Nasional. Dengan bantuan direktorat, beberapa perguruan tinggi swasta menerima perangkat Computer Numerical Control buatan Austria.[28] Yuhara mengakhiri masa jabatannya sebagai Direktur Perguruan Tinggi Swasta pada tahun 1993 dan digantikan oleh Sambas Wirakusumah.[23] Yuhara kemudian menjabat sebagai anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi pertama pada Desember 1994 dan menjabat selama dua periode hingga mengakhiri masa jabatannya pada bulan Agustus 2003.[29]
Kehidupan selanjutnya
Pada tahun 1998, selama masa jabatan Abdul Malik Fadjar sebagai menteri agama, Yuhara membantunya mengembangkan kurikulum institut Islam di bawah pengawasan Departemen Agama dan menjadi asesor program pascasarjana di institut Islam.[30] Yuhara pensiun sebagai dosen pegawai negeri sipil pada 31 Juli 2003.[31] Ia kemudian bergabung dengan Universitas Gunadarma dan menjadi koordinator program pascasarjana universitas tersebut.
Kehidupan pribadi
Yuhara menikah dengan Amalia Sukra pada September 1961.[10]
Referensi
- ^ a b c d e Kusumastanto, Tridoyo (2008). Pemikiran guru besar Institut Pertanian Bogor. Dewan Guru Besar, Institut Pertanian Bogor. hlm. 525. ISBN 978-979-002-342-0.
- ^ a b Sukra 2003, hlm. 2-3
- ^ Sukra 2003, hlm. 6
- ^ Sukra 2003, hlm. 6-7
- ^ "Lulus udjian Fakultas Kedokteran Hewan" (PDF). Merdeka. 19 February 1958. hlm. 2. Diakses tanggal 5 February 2025.
- ^ "SARDJANA MUDA KEDOKTERAN HEWAN" (PDF). Kedaulatan Rakjat. 17 February 1957. hlm. 1. Diakses tanggal 5 February 2025.
- ^ Sukra 2003, hlm. 11-12
- ^ Sukra 2003, hlm. 13
- ^ Sukra 2003, hlm. 16
- ^ a b Sukra 2003, hlm. 17
- ^ Sukra 2003, hlm. 17-18
- ^ Sukra 2003, hlm. 23-24
- ^ a b Sukra 2003, hlm. 25
- ^ Sukra 2003, hlm. 31
- ^ Sukra 2003, hlm. 33-34
- ^ Sukra 2003, hlm. 30
- ^ Sukra 2003, hlm. 38-41
- ^ Sukra 2003, hlm. 41
- ^ Sukra 2003, hlm. 45
- ^ Sukra 2003, hlm. 77
- ^ Sukra 2003, hlm. 78
- ^ Sukra 2003, hlm. 142-144
- ^ a b c Wirakusumah, Sambas (2003). Pendidikan Tinggi Indonesia: dalam lintasan waktu dan peristiwa. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. hlm. 290–293.
- ^ Sukra 2003, hlm. 254
- ^ Sukra 2003, hlm. 256-257
- ^ Sukra 2003, hlm. 288-289
- ^ Sukra 2003, hlm. 475
- ^ a b Sukra 2003, hlm. 476-477
- ^ Ramly, Mansyur; Sasongko, Dwiwahju; Syarief, Hidayat; Ma’shum, Mansur; Sugiyono; Purwanto, Agung; Riyadi, Slamet; Nurcahyo, Widyat; Purnomo, Danang Herry (2015). Profil Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. hlm. 15–16.
- ^ Sukra 2003, hlm. cover
- ^ Matjik, H. A. A. (2003). "Kata Pengantar". Menyongsong Matahari Silam di Musim Panas. Laboratorium Embriologi , IPB. hlm. ix.
Bibliografi
Sukra, Yuhara (2003), S., Toto Sugiharto; QN, A. Benny Mutiara (ed.), Menyongsong Matahari Silam di Musim Panas, Laboratorium Embriologi IPB Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.






