Woh (album)

Woh adalah album studio debut dari musisi dan penyanyi Indonesia, Bagus Dwi Danto dengan menggunakan nama panggung Sisir Tanah. Album ini dirilis pada 6 Mei 2017.

Woh
Album studio karya Sisir Tanah
Dirilis6 Mei 2017
DirekamDesember 2016 - Maret 2017
GenreFolk, Pop, Balada
Durasi58:33
BahasaBahasa Indonesia
LabelYayasan Kajian Musik Laras
ProduserSisir Tanah
Yayasan Musik Kajian Laras
Kronologi Sisir Tanah
Woh
(2017)
Kudu
(2021)

Latar Belakang

Sisir Tanah merupakan proyek musik solo yang digagas Bagus Dwi Danto meluncurkan album pertamanya semenjak berproses selama tujuh tahun sejak 2010. Album berjudul Woh yang berisi 10 lagu diluncurkan di Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta. Biasanya, Danto membawakan lagu-lagunya ketika manggung hanya seorang diri dengan sebuah gitar. Namun, dalam album yang digarap dengan bantuan produser Laras, sebuah Yayasan Kajian Musik, disajikan dengan beda. 10 lagu di album ini tak hanya diiringi gitar, tetapi juga dengan berbagai alat musik lainnya. "Album ini seperti buah perjalanan saya dalam bermusik. Jika diumpamakan ladang hidup, saya sudah menghasilkan buahnya. Kata 'woh' itu kan artinya buah," ujar Danto.[1]

Produksi

Dalam penggarapan album, Danto bersama produsernya membutuhkan waktu untuk berproses dari Desember 2016 hingga Maret 2017. Diksi-diksi yang tergores dalam album Woh lebih bernada sosial dan bersifat kritis. Misalnya, lagu berjudul Konservasi Konflik. Di dalam lagu ini Danto menceritakan berbagai peristiwa sosial yang ada di sekitar masyarakat Indonesia, seperti korupsi, pembunuhan wartawan Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, serta buruh yang meninggal dibunuh, Marsinah. Selain masalah sosial itu, diksi-diksi yang disuratkan dalam lagu tersebut memang cukup panjang. Selain lagu berjudul Konservasi Konflik, sembilan lagu lain yang ada di dalam album itu di antaranya Lagu Hidup, Obituari Air Mata, Lagu Wajib, Kita Mungkin, Lagu Bahagia, Lagu Pejalan, Lagu Romantis, Lagu Lelah, dan Lagu Baik. [1]

Isi

Lagu pertama Lagu Hidup, lirik yang tidak neko-neko namun kompleks, mengambil unsur-unsur kehidupan yang tanpanya kita bukan apa-apa (tanah, air dan udara). Tangga lagu pertama ini menyuguhkan bagaimana kita manusia wajib menjaga ruang hidup dalam carut marut pembangunan dengan dalih modernitas dan keberlanjutan. Membawa perasaan welas asih pada sesama dan kampung halamannya, dan setelahnya kita wajib marah kepada keserakahan dan kesewenang-wenangan kekuasaan. Toh, menjaga ruang hidup adalah menjaga keberlanjutan yang sesungguhnya.

Kedua Obituari Air Mata. Bagian ini, Sisir Tanah berhasil merekam bagaimana setiap manusia menjadikan tangis bagian dari sebuah perjuangan hidup. Alih-alih mengingat bahwa dunia sesak dan tak layak huni, harusnya kita juga lebih mengingatkan sejauh tangis-tangis yang lalu kita sudah mengupayakannya sampai saat ini.

Lalu Lagu Wajib. Walau terdengar hanya seperti tanya jawab, makna lagu ini adalah sesuatu yang fundalmental. Mendegarkan Sisir Tanah berarti menjadi diri sendiri, kapan kita terakhir mengobrol dengan dirimu sendiri? Cinta tak benar-benar dapat memperdayamu jika kamu tau bahwa mengambil cinta berarti sama halnya memesan paket komplit nasi cinta dan sayur luka, lagu itu menjawab.

Selanjutnya Kita Mungkin, lagu yang lebih cocok di dengarkan di sore lelah yang menjemput paksa. Tangga keempat album ini memberikan waktu dirimu menyeka peluh, dan membawa pada peneriaan diri. Lagu ini mewakili kebingungan diri atas situasi zaman, pressure membuat beberapa orang tunggang langgang mengejar standardisasi hidup orang lain dan justru kita kehilangan diri sendiri, sosok pertama, jujur dan paling tau tentang kapasitas diri. Lagu ini cukup kuat menarasikan gejolak perbedaan diri, merajam dosa atau merawat doa.

Kelima Lagu Bahagia, mendengar lagu ini merasa seperti menjadi anak muda lagi. Mabuk dalam lautan cinta yang naif, lalu berenang makna dalam pengandaian fungsi tubuh. Barangkali mabuk yang satu ini mungkin paling diminati oleh manusia, di mana kita bisa jadi remaja lebih lama dan boleh galau karena cinta.

Lagu Pejalan, dari keseluruhan album, Lagu Pejalan mengambil semua energi sedih. Ambience membawa memori-memori pahit didalam hidup. Lagu ini menggambarkan perasaan kelelahan dan kebingungan, memotret jelas manusia modern dengan laju hidup yang cepat. Hidup memaksa kita tetap dan selalu berjalan dengan segala kondisinya, manusia dalam riuh, ragu dan tak mampu atau riang, ringkih, rumit dan terhimpit. Pengambilan diksi lagu pejalan menjadi terasa sangat reflektif bagi sebagian orang yang kalah sebelum memulai menjemput masa depannya, tetapi semua itu harus kita pertahankan. Selain itu Lagu Pejalan membawa pada pengalaman spirutual, menanyakan kembali siapa dan apa peran manusia di muka bumi ini? Merekam jelas bahwa manusia modern tanpa rasa dan ego pribadi tanpa mengenali sekitar bahkan dirinya sendiri. Memandang langit-langit kamar dengan lampu yang sayup-sayup atau dalam perjalanan sepulang beraktivitas mendengar lagu pejalan sama-sama magisnya. Lagu Pejalan juga adalah lagu yang paling hits dari Sisir Tanah, lagu ini muncul dalam film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini sebagai ost.

Lagu Romantis, perasaan pada lagu ini adalah kehangatan. Lagu ini sama rasanya dengan saat-saat jatuh cinta dengan seseorang tetapi tidak alay, secukupnya. Walaupun terasa romantis Lagu Romantis masih meninggalkan kesan laku cinta yang absurd yang kita alami sehari-hari.

Konservasi Konflik adalah akmulasi keterwakilan kemarahan. Walaupun beberapa lirik masih meninggalkan kesan sarkasme dan absurditas, tetapi secara sikap jelas Sisir Tanah menpresentasikan siapa yang patut kita marahi atas carut marut kehidupan sosial budaya di negara ini. Lagu dengan durasi 11.34 menit ini rasanya kamu didengarkan identifikasi tata sosial dan identitas masyarakat dengan realitas fenomena, simbol-simbol, benda dan pekerjaan masyarakat kecil.  Meski panjang dengan pengalaman mendengarkan musikalisasi puisinya, liriknya padat dan harus disimak sampai akhir.

Walau berjudul Lagu Lelah malahan pendengar kembali menemukan beberapa lirik yang sederhana namun manis, mewakili ekspresi lelah dengan senyum simpul.  Dari keselurah lirik ini menurtku yang paling puitis dan kuat.

Terakhir, Sisir Tanah bercerita tentang keberanian menjelmakan mimpi jadi kenyataan dalam Lagu Baik. Bagi Sisir Tanah, hidup adalah keadaan terberi yang mau tak mau harus dijalani. Seumpama sedih, katanya, hidup memang tugas manusia. Kelelahan akan datang sesekali, tetapi jika kamu lelah, janganlah terlalu putus asa karena setidaknya kamu masih punya banyak waktu.[2]

Daftar Lagu

Seluruh lirik dan lagu ditulis oleh Bagus Dwi Danto.

No.JudulDurasi
1."Lagu Hidup"5:21
2."Obituari Air Mata"5:36
3."Lagu Wajib"4:13
4."Kita Mungkin"5:59
5."Lagu Bahagia"4:26
6."Lagu Pejalan"5:08
7."Lagu Romantis"5:26
8."Konservasi Konflik"11:34
9."Lagu Lelah"5:39
10."Lagu Baik"5:07
Durasi total:58:33

Tanggapan

"Entah bagaimana, Sisir Tanah bagi saya adalah salah satu mantra yang merubah diri dalam pemaknaan hidup. Musik yang sederhana dengan petik gitar seperlunya, suara vokal yang jujur seolah menjadi medium cerita dan berkumpul bagi orang-orang kalah. “Woh” yang dalam bahasa Jawa berarti ‘buah’ menjadi simbol hasil dari kerja keras akar dan daun dalam upaya meneruskan hidup yang memang layak untuk diteruskan. Sisir Tanah seolah membawa bejana berisi kemarahan, Jatuh cinta, kemuakan atas keserakahan, Harapan dengan narasi sarkasme, simbol-simbol sederhana dan termasuk pada berbagai masalah sosial terasa dekat dengan kalbu pendengarnya." - Fatah Akrom [2]

"Sisir Tanah, melalui musiknya, menjadi nada yang menegur dan memperingatkan bahwa hidup ini perlu terdiam dan rehat barang sejenak. Kesejatian Sisir Tanah ada pada bahasa yang ia kemas dan terwujud dalam setiap liriknya. Latar belakang Bagus Dwi Danto sebagai aktivis merupakan modal tak terpermanai untuk lalu bisa menangkap dan membekukan realita hidup ke dalam dendangnya. Segala aspek coba ia potret: konflik, cara kita berelasi dengan alam, politik, cinta, hingga optimisme dalam cita. Maka tidak berlebihan rasanya menganggap Sisir Tanah sebagai generasi pembawa balada baru. Sisir Tanah sepadan dengan Eka Kurniawan yang mengusung realisme-sosial di ranah kesusastraan generasi terkini." - Aloysius Bram[3]

"Sisir Tanah dengan Album “Woh” bagi saya telah diturunkan ke bumi untuk menyapa penyuka folk dan para manusia yang akrab dengan nestapa, sekaligus merayakannya dengan tabah dan sukacita." - Lintang Pramudia Swara [4]

Referensi

  1. ^ a b developer, medcom id (2017-05-07). "Sisir Tanah Rilis Album Debut". medcom.id. Diakses tanggal 2025-07-12.
  2. ^ a b DinamikA, Redaksi (2024-07-05). "Kematian dan Hal-Hal Lain dalam Memori Album "Woh" Sisir Tanah". Klikdinamika.com. Diakses tanggal 2025-07-12.
  3. ^ Bram, Aloysius (2017-05-08). "Sisir Tanah: Puitis Sejak Dalam Pikiran". Serunai.co. Diakses tanggal 2025-07-12.
  4. ^ Swara, Lintang Pramudia (2024-04-04). "Mewujud dan Mewajib dalam Bait Elegi Sisir Tanah - Semilir" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-07-12.

Pranala luar

Woh di Spotify

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement