Wat Phra Si Sanphet

Wat Phra Si Sanphet
วัดพระศรีสรรเพชญ์
PetaKoordinat: 14°21′21″N 100°33′30″E / 14.35583°N 100.55833°E / 14.35583; 100.55833
Agama
AfiliasiBuddha Theravada
Lokasi
LokasiTaman Bersejarah Ayutthaya,
Phra Nakhon Si Ayutthaya
NegaraThailand
Arsitektur
Dibangun olehBorommatrailokkanat
Rampung1448
Nama resmi: Kota Bersejarah Ayutthaya
JenisKebudayaan
Kriteriaiii
Ditetapkan1991
Daftar indukKota Bersejarah Ayutthaya
Nomor referensi576
RegionAsia dan Pasifik

Wat Phra Si Sanphet (bahasa Thai: วัดพระศรีสรรเพชญ์) adalah kuil tersuci di situs Istana Kerajaan kuno di ibu kota lama Thailand, Ayutthaya, hingga kota tersebut dihancurkan seluruhnya oleh serangan Dinasti Konbaung pada tahun 1767 selama Perang Burma–Siam.[1]

Wat Phra Si Sanphet pada Desember 2023

Sejarah

Foto panorama tiga stupa Wat Phra Si Sanphet, dari kiri ke kanan: (1) Stupa Raja Ramathibodi II, (2) Stupa Raja Borommarachathirat III, dan (3) Stupa Raja Borommatrailokkanat

Pada tahun 1350, U-thong, yang juga dikenal sebagai Raja Ramathibodi I, memerintahkan pembangunan istana kerajaan di area yang sama dengan Wat Pra Si Sanphet yang berdiri sekarang.[1] Istana tersebut selesai dibangun pada tahun 1351 dan Raja Ramathibodi menetapkan Ayutthaya sebagai ibu kota kerajaannya. Istana tersebut terdiri dari tiga bangunan kayu bernama "Phaithun Maha Prasat", "Phaichayon Maha Prasat", dan "Aisawan Maha Prasat". Pada tahun 1448, Raja Borommatrailokkanat membangun istana baru di sebelah utara dan mengubah halaman istana lama menjadi situs suci keagamaan. Putra bungsunya, Raja Ramathibodi II, menambahkan dua stupa (chedi dalam bahasa Thai) pada tahun 1492 di mana abu ayahandanya, Raja Borommatrailokkanat, dan kakaknya, Raja Borommaracha III dimakamkan.[2]

Kepala Buddha, abad ke-16

Pada tahun 1499, sebuah wihara yang disebut "Vihara Luang" (Wihara Kerajaan) dibangun di halaman istana.[1] Raja Ramathibodi II memerintahkan pembuatan arca Buddha raksasa dan memasangnya di Wat Si Sanphet.[1] Patung Buddha ini memiliki tinggi 16 meter, dilapisi emas,[1] dan alasnya memiliki panjang 8 meter.[3] Inti patung terbuat dari perunggu dan beratnya sekitar 64 ton.[3] Permukaannya dilapisi dengan sekitar 343 kilogram emas.[3] Patung tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk diselesaikan.[3] Patung ini, yang disebut "Phra Si Sanphetdayan", merupakan objek pemujaan utama di wihara itu.

Stupa lain dibangun di masa Raja Borommaracha IV pada tahun 1529 untuk menyimpan abu jenazah ayahnya, Raja Ramathibodi II.[3] Kemudian, sejumlah bangunan lainnya ditambahkan oleh Raja Narai. Tidak diketahui apakah mondop di antara setiap stupa ditambahkan pada masa itu. Pada tahun 1630, Raja Narai menambahkan sebuah wihara di sebelah barat platform yang menopang ketiga Chedi tersebut. Vihara ini sekarang dikenal sebagai Prasat Phra Narai.[3] Arsitekturnya terinspirasi oleh perpaduan arsitektur Eropa untuk bentuknya, sementara jendela-jendela dengan lengkungan runcing dipengaruhi oleh arsitektur India-Persia.[4]

Pada tahun 1742, atas perintah Raja Borommakot, kompleks kuil ini direnovasi kembali. Sayangnya, kota Ayutthaya beserta kuil-kuilnya luluh lantak akibat serangan Burma pada tahun 1767, menyisakan tiga stupa yang masih dapat dilihat saat ini.

Pada tahun 1767, Burma menaklukkan ibu kota Ayutthaya dan memulai penghancuran serta penjarahan besar-besaran terhadap banyak kuil dan bangunan lainnya, termasuk Wat Phra Si Sanphet. Mereka membakar bangunan tersebut dan melelehkan emasnya. Dua stupa hancur dalam serangan tersebut, sementara stupa timur masih berdiri.[3] Kesemuanya dipugar oleh Departemen Seni Rupa pada tahun 1956.

Penggunaan

Wat Phra Si Sanphet adalah kuil kerajaan, dan hanya digunakan oleh anggota keluarga kerajaan.[2]

Referensi

  1. ^ a b c d e "Wat Phra Sri Sanphet (วัดพระศรีสรรเพชญ์)". Bangkok Site.
  2. ^ a b "Wat Phra Si Sanphet, Ayutthaya, Thailand". Oriental Architecture.
  3. ^ a b c d e f g "WAT PHRA SRI SANPHET". History of Ayutthaya.
  4. ^ "Indo-Persian Influence on Late Ayutthaya". Thai Jo.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement