Waditra Dogdog
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Februari 2023) |




Dogdog[1] adalah waditra jenis alat pukul berkulit, yang dimainkan dengan cara dipukul dengan menggunakan alat bantu pemukul. Waditra ini mempunyai fungsi sebagai alat penyaji ritme yang tergabung sebagai waditra pokok dalam reog (ogel) atau dogdog lonjor dan juga seni reak.[2][3]
Etimologi
Istilah Dogdog merupakan peniruan dari bunyi yang berasal dari suara waditranya. Waditra Dogdog jika dibunyikan terdengar "Dug" atau "Dog", terutama untuk bunyi Dogdog yang besar.[2]
Bahan rancang bangun[4]
- Kaluwung
Kaluwung adalah wadah gema (resonator) yang terbuat atas kayu terutama kayu nyiur atau kayu kawung/enow, bahkan ada yang terbuat dari kayu pinang;
- Wangkis
Wangkis adalah penutup bidang terbesar dari Dogdog terbuat atas kulit binatang;
- Wengku
Wengku adalah sebuah lingkaran terbuat atas rotan yang dikenakan dibagian atas, sebagai penggulung wangkis;
- Pakon
Pakon adalah paku-paku untuk memaku wangkis;
- Lambe/Lalambe
Lambe/Lalambe adalah bibir Dogdog terdapat dibagian bawah.
Pembagian[5]
Alat musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
- Tilingtit
Tilingtit merupakan Dogdog terkecil yang disajikan oleh dalang (pimpinannya), dinamakan "Tilintit" karena tilingtit berperan sebagai pemberi pangkat, pengatur lagu dan irama. Dan kenapa disebut tilingtit karena bunyi yang dihasilkan seperti suara "tilingtingtit tilingtingtit"
- Panempas (Engklok) atau Tong
Juga disajikan oleh dalang. Dan mengapa disebut Tong karena saat dibunyikan suara yang dihasilkan berbunyi "tong tong tong"
- Bangbrang atau Brung
Tidak jauh berbeda saat brung dibunyikan maka suara yang akan dihasilkan berbunyi "Brung brung"
- Badublag
Badublag merupakan Dogdog terbesar yang dipegang oleh penyaji sebagai bodor.[6]
Cara memainkan
Setiap Dogdog digendong di muka perut oleh masing-masing pemain, letak gendongan tepatnya di pinggang kiri. Tangan kanan memegang alat pemukul dan tangan kiri menekan permukaan kulit untuk mengolah suara Dogdog itu sendiri saat dimainkan. Susunan pola tabuh reak dalam pertunjukannya yaitu pertama tilingtit. Lalu diikuti oleh tong, brung, bangplak dan bedug. Dari susunan pola tabuh tersebut konon memiliki arti yakni tilingtit yang berarti gera indit gera indit, tong memiliki arti entong, suara dari waditra brung yang mengartikan embung, bangplak memiliki arti gera prak dan bedug memiliki arti dengan seruan atau perintah untuk menunaikan ibadah salat. Jadi apabila digabungkan memiliki arti “gera indit gera indit, ulah emung ulah embung, prak gera gumamprak ka gusti Allah lamun geus asup waktuna shalat” atau dalam bahasa indonesianya yaitu "cepatlah berangkat jangan sampai tidak mau untuk melakukan salat jika telah masuk tanda waktunya untuk salat".[7]
Bentuk penyajian
Waditra Dogdog sejumlah empat buah, disajikan dalam seni pertunjukan Ogel atau Reog. Penyajiannya dilengkapi dengan kawih (vokal), gerak-gerak lucu dan bobodoran (dialog humor). Apabila Dogdog yang disajikan di reak, dogdog ini menjadi pengiring dari reak itu sendiri. Reak menjadi pengiring atau pengarak anak khitanan mengelilingi kampung menggunakan jampana atau kursi yang bisa diusung bersama. Setelah anak khitanan diarak mengelilingi kampung lalu ketika sampai di rumahnya, reak ini dimainkan sebagai hiburan masyarakat sekitar.[8]
Sumber
- ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
- ^ a b Drs Ubun Kubarsah R, "Waditra Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat", (Bandung: CV.Sampurna, 1994) hal. 77.
- ^ Sopandi, Atik; Kusumah, Siti Dloyana; Yunus (Drs.), Ahmad (1987). Peralatan hiburan dan kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. hlm. 75–78. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Drs Ubun Kubarsah R, "Waditra Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat", (Bandung: CV.Sampurna, 1994) hal. 78.
- ^ Drs Ubun Kubarsah R, "Waditra Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat", (Bandung: CV.Sampurna, 1994) hal. 80.
- ^ "Dogdog » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-24.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awr1TmkZUoRpAQIAEADLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzEEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771489049/RO=10/RU=https://mediaindonesia.com/humaniora/851301/deretan-kata-bahasa-sansekerta-indah-dan-artinya-yang-penuh-makna/RK=2/RS=yXlNAL.n6iOUeHxT8NSeKevapLo-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ Rukanda, Uep (2025-02-16). Mainaki, Didi (ed.). "Dogdog sebagai Waditra Pukul Pengiring Seni Reog". RRI. Diakses tanggal 2026-01-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


