Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara Banten Lama merupakan Vihara tertua di Banten dan salah satu Vihara tertua di Indonesia.

Vihara Avalokitesvara Banten
Agama
AfiliasiTridharma
WilayahBanten
DewaKwan Im Pho Sat
Lokasi
LokasiSerang, Banten
NegaraIndonesia
Arsitektur
TipeKlenteng
GayaTionghoa
Didirikan1542 (Versi Pertama) 1652 (Versi Kedua)

"Bangunan ini pertama kali dipugar pada tahun 1932", tutur Asaji Manggala Putera, seorang Pengurus Sekretariat Yayasan Vihara Avalokitesvara Banten.

Menurut cerita salah seorang pengurus vihara lainnya, ketika didirikan pada tahun 1652 M, saat itu vihara ini masih berupa tempat ibadah kecil. Letaknya di Desa Dermayon, sebelah Selatan Masjid Agung Banten. Dan sekitar tahun 1774 M, dipindahkan ke tempat yang sekarang, yakni di Kampung Pamarican, Desa Pabean, Banten dengan Kho Tjhai Kwan sebagai Ketua.

"Boleh dikatakan Vihara Avalokitesvara ini di-bangun pada masa kejayaan Syech Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Banten. Usia vihara ini se-karang kurang lebih 450 tahun", ujar Asaji sambil mem-perlihatkan data versi Dinas Purbakala dan Sejarah Pemda Serang.

Daftar Altar

1. Thian Kong

2. Sam Kwan Tay Tee

3. Kwan Im Phu Sat

4. Wei Tho Phu Sat

5. Kwan Kong

6. Cau Kun Kong

7. Thi Cang Wang

8. Tian Shang Sheng Mu

9. Toa Pek Kong

10. Ema Po Cia

11. Hok Tek Ceng Sin

12. Tjing Sen

13. Fu Sen

14. Empe Banten

15. Abu Leluhur (Bongpay Kho Tjay Kwan) (ketua pertama 1774)

16. Buddha Gautama

Keajaiban

Suatu keajaiban pernah terjadi di Vihara Avalokitesvara saat Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883 silam. Gunung yang berada di kedalaman laut Selat Sunda mengeluarkan cairan magma berkekuatan dahsyat dengan semburan lahar panas yang mencapai keting-gian 135 m, yang mengakibatkan sekitar 36.000 jiwa melayang.

Saat kejadian tersebut, masyarakat yang bermukim di Baten pun tak luput dari musibah. Mereka men-jerit, berlarian menuju Masjid Banten dan Vihara Avalokitesvara untuk berlindung. Dengan perasaan cemas dan gundah, umat Buddhis bersembahyang di lantai vihara, memohon pada Buddha untuk melindungi mereka dari bencana tersebut.

Dewi Kwan Im menunjukkan wibawanya, dengan mengeluarkan cahaya terang-benderang melindungi umatnya yang sedang dirundung kecemasan. Keajaiban pun terjadi. Air bah setinggi puluhan meter yang menga-lir deras bagai ombak di Lautan Pasifik itu tertahan di luar Vihara Avalokitesvara. Dan semua benda yang ada di luar vihara habis tersapu bersih terkena amukan air bah.

Setelah beberapa hari, amukan air bah menghilang seiring dengan redanya semburan lahar panas yang dikeluarkan Gunung Krakatau. Akhirnya peristiwa mengenaskan itu pun terlewati. Suasana kebahagiaan di Vihara Avalikotesvara menggema dengan disertai puja dan puji terhadap Buddha Gautama dan ungkapan terima kasih kepada Dewi Kwan Im Po Sat.

"Pada tanggal 27 Agustus Th. 1883 Gunung Krakatau dengan ketinggian 2600 M pukul 2.56 dini hari mendadak meletus dengan dahsyatnya, suara gemuruh mengagetkan penduduk sekitarnya, hancuran batu dan debu beterbangan mencapai ribuan kilo meter jauhnya. Langitpun tampak hitam pekat. Walaupun menjulurkan tangan dan kelima jari tak tampak. Asap dan debu membumbung tinggi sampai 30.000 meter. Bahkan siang bagaikan malam. Pulau disekitarnya amblas tertutup lahar bercampur air laut, tingginya lahar sampai 135 meter, ratusan desa musnah menewaskan 3800 orang. Dalam radius ratusan kilo meter bagaikan rumah hantu. Ledakan suara memekak telinga sampai mengeluarkan darah. Kaki tangan gemetaran tak terasa gigi beradu memecah."

"Bimbang dan ragu berlindung di-Vihara, khalayak ramai duka dan resah. Menyembah dilantai memohon pada Sang Buddha, saling pandang dengan muka pucat, Dewi Kwan Im menunjukkan wibawanya dan mengeluarkan cahaya terang benderang, air bah menggelundung diluar Vihara dengan derasnya menyapu kebun kelapa dan segala benda yang ada. Tapi air dan lahar tidak masuk kedalam Vihara. Bencanapun luput dan selamat dilaluinya."

Sejarah

Sejarah pembangunan vihara yang terletak di Kecamatan Kasemen, wilayah Banten Lama ini berkaitan dengan Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Tokoh penyebar islam di tanah Jawa ini memiliki istri yang masih keturunan kaisar Tiongkok bernama Putri Ong Tien. Melihat banyak pengikut putri yang masih memegang teguh keyakinannya, Sunan Gunung Jati membangun vihara pada tahun 1542 di wilayah Banten, tepatnya di Desa Dermayon dekat dengan Masjid Agung Banten. Namun, pada tahun 1774 vihara dipindahkan ke Kawasan Pamarican hingga sekarang.

Versi lain menyebutkan, vihara ini dibangun pada tahun 1652. Yaitu pada masa emas kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Gerbang dengan atap berhiaskan dua naga memperebutkan mustika sang penerang (matahari) menyambut pengunjung di pintu masuk sebelum pengunjung masuk lebih ke dalam vihara yang memiliki nama lain kelentang Tri Darma ini.

Sebutan Klenteng Tri Darma diberikan karena vihara ini melayani tiga kepercayaan umat sekaligus. Yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Walaupun diperuntukan bagi 3 umat kepercayaan tetapi bagi wisatawan yang beragama lain sangat diperbolehkan untuk berkunjung dan melihat bangunan yang saat ini termasuk dalam cagar budaya di Provinsi Banten ini.

Vihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektar dengan altar Dewi kwan Im sebagai Altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan vihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga.

Kelenteng yang pernah terbakar pada tahun 2009 ini juga memiliki ukiran yang menceritakan bagaimana kejayaan Banten Lama saat masih menjadi kota pelabuhan yang ramai. Terletak di samping vihara, ukiran ini juga menceritakan bagaimana vihara ini digunakan sebagai tempat berlindung saat terjadi tsunami beserta letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement