Toshiko Yuasa

Toshiko Yuasa
Toshiko Yuasa pada tahun 1947
Nama asal湯浅年子
Lahir(1909-12-11)11 Desember 1909
Taitō, Tokyo, Jepang
Meninggal2 Februari 1980(1980-02-02) (umur 70)
Rouen, France
Penghargaan
Latar belakang akademis
Alma mater
  • Tokyo Women's Higher Normal School
  • Tokyo Bunrika University
Dipengaruhi
Karya akademis
Lembaga
Minat utamaFisika nuklir

Toshiko Yuasa (lahir di Tokyo, Jepang, 11 Desember 1909 – meninggal di Paris, Prancis, 1 Desember 1980) adalah fisikawan nuklir wanita pertama dari Jepang. Ia dikenal sebagai pelopor dalam bidang fisika nuklir dan sering disebut sebagai "Madame Curie dari Jepang". Yuasa lahir di keluarga kelas Shizoku (samurai) yang terdidik. Keluarganya mempraktikkan sinkretisme agama Shinto dan Buddha, yang umum di Jepang. Namun, Yuasa bergumul dengan pertanyaan tentang "Tuhan" dan benturan antara keyakinan spiritual dan materialisme ilmiah.

Dalam perjalanannya di Prancis, ia terpengaruh oleh ateisme mentor-mentornya, seperti Frédéric Joliot-Curie, Irène Curie, dan Marie Curie, serta oleh teman-temannya yang Katolik. Pada akhir hayatnya, ia memeluk agama Katolik di tengah perjuangan melawan kanker, meskipun terdapat perdebatan mengenai keputusan tersebut.

Kehidupan awal dan pendidikan

Yuasa lahir dalam keluarga kelas Shizoku (samurai) yang terdidik. Ayahnya, Tohichiro Yuasa, adalah seorang insinyur lulusan Universitas Kekaisaran Tokyo, sementara ibunya, Reiko Yuasa (née Tachibana), adalah keturunan penyair Moribe Tachibana dari periode Edo. Toshiko merupakan anak keenam dari delapan bersaudara.

Ia menempuh pendidikan di Tokyo Higher Normal School for Women (sekarang Universitas Ochanomizu) dan lulus pada 1931. Toshiko kemudian melanjutkan studi di Universitas Tokyo Bunrika (sekarang Universitas Tsukuba), menjadi wanita Jepang pertama yang belajar fisika di tingkat universitas. Ia meraih gelar doktor pada 1943 di Collège de France, Paris, di bawah bimbingan Frédéric Joliot-Curie.[1]

Karier dan kontribusi

Yuasa memulai kariernya sebagai asisten di Universitas Tokyo Bunrika pada tahun 1934 dan kemudian menjadi asisten profesor di Tokyo Woman’s Christian University. Pada tahun 1940, ia menerima beasiswa dari pemerintah Prancis untuk melanjutkan penelitian di bidang fisika nuklir di Collège de France. Penelitiannya berfokus pada spektrum energi partikel beta yang dipancarkan oleh inti radioaktif buatan.

Setelah Perang Dunia II, Yuasa kembali ke Jepang. Yuasa mengatasi prasangka gender yang meluas di Jepang sebagai asisten pengajar muda dan membuktikan bahwa perempuan dapat memberikan kontribusi besar dalam sains. Terinspirasi oleh penemuan radioaktivitas buatan oleh pasangan ilmuwan Irène dan Frédéric Joliot-Curie, ia memutuskan untuk belajar dari mereka di Prancis pada awal Perang Dunia II. Dengan dukungan Joliot-Curies, Yuasa berhasil menjalani studi di tengah situasi perang, meskipun lembaga penelitian saat itu tertutup bagi orang asing.[2]

Yuasa juga dikenal sebagai inovator yang menciptakan peralatan laboratorium sendiri, termasuk alat baru untuk mengukur sinar beta. Setelah menyelesaikan studinya, ia tetap berdedikasi pada pengajaran dan penelitian fisika nuklir sepanjang kariernya. Namun, menghadapi larangan penelitian nuklir oleh Pasukan Pendudukan Amerika Serikat. Pada tahun 1949, ia kembali ke Prancis dan bekerja di Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) hingga akhir hayatnya.[1]

Penelitian di Prancis

Pada tahun 1940, di bawah beasiswa pemerintah Prancis, Yuasa berangkat ke Prancis di tengah Perang Dunia II untuk belajar di Collège de France di bawah bimbingan Frédéric Joliot-Curie, seorang murid Marie Curie. Ia menjadi wanita Jepang pertama dengan latar belakang sains yang menerima beasiswa ini. Joliot-Curie, yang memegang nilai kesetaraan gender, memberikan dukungan besar kepada Yuasa selama masa studinya. Pada tahun 1943, ia meraih gelar doktor (doctorat d’État) di bidang sains.

Namun, akibat situasi perang, Yuasa dipaksa pulang ke Jepang pada tahun 1945. Ia kembali ke Prancis pada tahun 1949 dan bergabung dengan Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS), di mana ia terus meneliti hingga akhir hayatnya.[3]

Kontroversi

Sebagai ilmuwan wanita, Yuasa menghadapi seksisme yang meluas, khususnya di Jepang sebelum dan setelah Perang Dunia II. Ia menulis banyak tulisan tentang "Wanita dan Sains," mengungkapkan penghormatannya kepada tokoh inspirasional seperti Marie Curie, Irène Curie, dan Kono Yasui, gurunya yang juga wanita pertama di Jepang dengan gelar doktor dalam ilmu sains. Namun, pandangan Yuasa tidak mencerminkan feminisme gelombang kedua; ia percaya bahwa perempuan dapat setara dengan laki-laki dengan bekerja keras dan menunjukkan kemampuan, sebagaimana dicontohkan oleh Marie Curie.

Yuasa juga mengkritisi kesenjangan gender dalam dunia sains di Jepang dengan membandingkannya dengan pengalaman di Prancis, tempat ia melakukan penelitian di lingkungan yang unik dalam hal peluang gender. Ia bekerja di laboratorium yang dipimpin oleh Frédéric Joliot-Curie, yang istrinya, Irène, dan mentornya, Marie Curie, adalah peraih Nobel. Namun, pandangan ini dianggap bias karena mengabaikan ketidaksetaraan gender di dunia sains secara umum di Prancis pada saat itu.

Penghargaan dan warisan

Pada 1976, Toshiko Yuasa menerima Medali Pita Ungu dari pemerintah Jepang atas kontribusinya dalam penelitian ilmiah, perannya dalam membantu komunitas Jepang di Paris, serta upayanya memperkenalkan budaya Jepang di Prancis. Sebagai perintis wanita dalam sains, Yuasa dianggap sebagai teladan bagi banyak generasi perempuan Jepang.

Setelah wafatnya pada 1980, penghormatan besar dilakukan di Jepang dan Prancis, termasuk simposium peringatan dan pameran yang mengangkat perannya sebagai ilmuwan wanita. Pada 2010, Laboratorium Fisika Partikel Prancis-Jepang diubah namanya menjadi Toshiko Yuasa Laboratory (TYL) untuk mengenang prestasinya. Sejak 2013, Universitas Ochanomizu juga mendirikan Toshiko Yuasa Memorial Scholarship Fund untuk mendukung ilmuwan wanita muda dalam aktivitas internasional.[1]

Referensi

  1. ^ a b c "Toshiko Yuasa". The New Historia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-19.
  2. ^ "Toshiko Yuasa". Asia Research News (dalam bahasa Inggris). 2023-04-20. Diakses tanggal 2025-03-19.
  3. ^ "Scientist Toshiko Yuasa The Forerunner of Japan's Brain Drain after World War II". www.ne.jp. Diakses tanggal 2025-03-19.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement