Toksisitas polusi minyak terhadap ikan laut

Toksisitas polusi minyak terhadap ikan laut merupakan suatu pencemaran air laut yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, kerusakan genetik, gangguan pertumbuhan dan perkembangan, serta kelainan morfologi terhadap organisme yang terdapat di perairan tersebut.[1] Senyawa beracun dalam minyak, seperti Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (PAH), diserap ikan melalui konsumsi, insang, atau kulit. Akibatnya, ikan bisa mengalami kerusakan insang, pertumbuhan terhambat, penurunan ukuran tubuh, dan penurunan kemampuan berenang, yang secara signifikan dapat mengurangi peluang kelangsungan hidup di perairan yang tercemar tersebut.[2]
Sejarah
Penelitian tentang dampak lingkungan dari industri minyak bumi dimulai ketika industri minyak berkembang dan meluas pada pertengahan hingga akhir abad ke-20. Proses pengiriman minyak mentah dalam skala besar ketika itu meningkat sebagai akibat dari meningkatnya permintaan minyak di seluruh dunia, yang kemudian meningkatkan jumlah tumpahan minyak di perairan. Tumpahan minyak memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk memeriksa efek yang diakibatkan dari paparan minyak mentah terhadap ekosistem laut. Selanjutnya, upaya kerjasama antara National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan United States Coast Guard menghasilkan sebuah respon yang lebih baik dan penelitian terperinci tentang efek polusi minyak. Tumpahan minyak Exxon Valdez pada tahun 1989, dan tumpahan minyak Deepwater Horizon pada tahun 2010, keduanya menghasilkan peningkatan pengetahuan ilmiah tentang efek spesifik toksisitas polusi minyak terhadap ikan laut.[3]
Efek
Banyak efek paparan Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (PAH) telah diamati pada ikan laut oleh para peneliti. Secara khusus, penelitian telah dilakukan pada embrio dan larva ikan, perkembangan ikan yang terpapar Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (PAH) mengakibatkan beberapa kondisi tertentu pada organisme. Satu penelitian menemukan bahwa telur ikan haring Pasifik yang terpapar kondisi tumpahan minyak ''Exxon Valdez'' mengakibatkan penetasan telur ikan menjadi prematur, ukuran ikan berkurang saat dewasa dan efek teratogenik yang signifikan, termasuk pertumbuhan kerangka atau tulang ikan yang tidak baik, sirip dan kantung kuning telur. Selain itu juga mengakibatkan pembentukan pada sirip punggung dan duri ikan juga rusak. Kejadian yang demikian setelah diamati secara efektif dapat diprediksi bahwa efek dari pencemaran perairan tersebut dapat mengurangi kelangsungan hidup ikan yang sedang berkembang.[4]
Rujukan
- ^ Faqih, M. Rakha Ubaidillah (2024-03-20). "Bagaimana Kebocoran Minyak Bumi dapat Mencemari Laut dan Merugikan | LautSehat.ID". Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ Carls, MG, Rice, SD, Hose, JE. 1999. Sensitivity of fish embryos to weathered crude oil: Part I. Low‐level exposure during incubation causes malformations, genetic damage, and mortality in larval Pacific herring (Clupea pallasi). Environmental Toxicology and Chemistry, 18 (3): 481–493.
- ^ Shigenaka, G. 2014. Twenty-Five Years After the Exxon Valdez Oil Spill: NOAA’s Scientific Support, Monitoring and Research. Seattle: NOAA Office of Response and Restoration.
- ^ Incardona, JP, Carls, MG, Teroaka, H, Sloan, CA, Collier, TK, Scholz, NL. 2005. Aryl Hydrocarbon Receptor-Independent Toxicity of Weathered Crude Oil during Fish Development. Environmental Health Perspectives, 113 (12): 1755–1762.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


