Toksikologi akuatik
Toksikologi akuatik adalah cabang ilmu yang mempelajari efek dari zat beracun terhadap ekosistem perairan dan organisme air. Ilmu ini bertujuan untuk menyelidiki kerusakan lingkungan, melacak dan mengidentifikasi jejak-jejak polutan yang tidak terlihat secara visual tetapi memiliki dampak yang nyata dan merusak. Di setiap perairan yang ada seperti aliran sungai, danau, serta lautan tidak terlepas dari interaksi antara makhluk hidup disekitarnya termasuk dengan manusia. Tidak terlepas juga adanya interaksi kimiawi yang terjadi pada perairan tersebut. Seorang yang meneliti tingkat pencemaran zat beracun pada perairan dapat juga disebut dengan seorang Toksikolog. Memahami toksikologi akuatik dapat menjadi pedoman guna melindungi dan melestarikan keanekaragaam hayati yang terdapat di perairan.[1]
Polutan dalam air
Polutan atau dapat disebut juga dengan zat kimia beracun dapat mencemari suatu perairan. Ketika zat kimia ter kontaminasi dengan lingkungan perairan maka lingkungan perairan tersebut telah tercemar dan dapat membahayakan kehidupan organisme yang terdapat di sana. Zat kimia berbahaya atau polutan tersebut dapat masuk ke tubuh organisme air seperti ikan dalam berbagai jalur, masuk melalui insang yang berfungsi sebagai pernafasan ikan dan juga dapat masuk ke tubuh organisme air lainnya melalui sendimen perairan yang terkontaminasi serta makanan untuk organisme air yang terbuat dari bahan zat kimiawi. Senyawa yang larut dalam lemak (lipofilik) dan persisten, cenderung tidak terdegradasi dan mudah terakumulasi dalam jaringan lemak organisme. Sebaliknya, senyawa yang mudah larut dalam air mungkin akan tersebar lebih luas tetapi juga lebih cepat menghilang atau daya racun yang dihasilkan menghilang secara alami.[2]
Uji bahaya zat di perairan
Untuk mengukur potensi bahaya suatu zat, toksikologi akuatik menggunakan teknik pengujian toksisitas. Teknik pengujian ini bernama konsep LC50 (Lethal Concentration 50) yang juga disebut sebagai parameter kunci. LC50 didefinisikan sebagai konsentrasi zat uji yang diperkirakan menyebabkan kematian pada 50% populasi organisme yang diuji dalam waktu tertentu (biasanya 48 atau 96 jam). Pengujian ini sering menggunakan organisme indikator seperti ikan Cyprinus carpio (ikan mas) atau Daphnia magna (kutu air). Nilai LC50 memberikan gambaran kasar tentang level bahayanya suatu zat kimia atau disebut toksisitas akut suatu senyawa. Hasil yang dihasilkan memberikan data kesimpulan di mana semakin rendah nilai LC50, semakin beracun zat tersebut dan begitu juga dengan sebaliknya. Data ini sangat penting bagi pihak terkait atau pemerintah untuk menetapkan standar kualitas air yang aman bagi kehidupan organisme di perairan.[3]
Rujukan
- ^ "Aquatic Toxicology". Eurofins Scientific (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ D'Mello, J.P.F. (2020-01). "Introduction to environmental toxicology". CABI Books (dalam bahasa Inggris). doi:10.1079/9781789245189.0000.
- ^ OECD (2025-06-24). "Test No. 203: Fish, Acute Toxicity Test". OECD Guidelines for the Testing of Chemicals, Section 2 (dalam bahasa Inggris). doi:10.1787/9789264069961-en.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


