Teungku Chik Pante Geulima
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (April 2025) |
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (April 2025) |
Teungku Chik Pante Geulima merupakan salah seorang ulama besar yang terkenal di Aceh. Nama lengkap beliau adalah Teungku Ismail Yaqub. Beliau lahir di Pantee Geulima Meureudu, Pidie. Beliau keturunan ulama-ulama Aceh yang bergelar Sayyidil Mukammil.[1] Beliau anak dari seorang ulama yang sangat terkenal pada masa itu,yang bernama Teungku Chik Pante Ya’kub sang pendiri pondok pasantren yang berada di Pante Geulima.
Pendidikan
Semasa kecilnya, Teungku Chik Pantee Geulima sudah fokus belajar ilmu agama Islam di Rangkang yang diajarkan oleh seorang Tengku yang merupakan asisten ayahnya.[2] Meskipun ayahnya seorang ulama beliau belajar dengan seorang Tengku, tetapi ketika setelah beliau mendapat pengetahuan dasar tentang Islam dan bahasa Arab, barulah dia belajar pada ayahnya. Dari ayahnya, ia belajar banyak dan mendalam, sehingga amat menguasai bahasa Arab dan pegetahuan Islam lainnya, seperti fikih, tauhid, ilmu kalam, tafsir, hadits, filsafat, tasawuf dan tarikh.[3]
Setelah belajar kepada ayahnya, Teungku Chik Pantee Geulima yang ketika itu sudah layak menjadi teungku di rangkang atau asisten Teungku Chik telah mampu menyerap berbagai ilmu secara mendalam. Sehingga pada usianya yang masih belia, beliau telah menjadi ulama muda. Meskipun begitu, beliau merasa ilmunya masih dangkal, sehingga menimba ilmu ke Mekkah tepatnya pada tahun 1868. Beliau belajar kepada para ulama besar yang ada di Masjidil Haram selama hampir sepuluh tahun, sehingga mengantarkan beliau menjadi asisten seorang syekh di Masjidil Haram.[1]
Melihat kepada tahun kedatangan beliau di Mekkah, kemungkinan besar beliau segenerasi dengan Syekh Sayyid Bakri Syatta pengarang kitab I’anatuththalibin yang lahir tahun 1844 yang merupakan guru dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Ali bin Husen al-Maliki. Syekh Sayyid Bakri adalah murid kesayangan dari Mufti Mekkah yaitu Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan Syeikhul Masyayikh ketika itu. Maka tidak mengherankan bila Teungku Syekh Ismail Yaqub kemudian menjadi alim besar sepulangnya beliau dari Mekkah, selain pintar dan cerdas, beliau adalah seorang yang gagah berani. Sehingga kepulangan Syekh Ismail sangat dinantikan oleh para penuntut ilmu yang belajar di Dayah Pantee Geulima ketika itu yang hampir mencapai seribuan.[1]
Karier
- Seorang Tengku di Dayah Tanoh Abee dan Dayah Geulumpang Minyeuk[3]
- Seorang Teungku Chik di Dayah Pante Geulima ( Dayah yang dibangun oleh ayahnya)[3]
- Seorang Sastrawan yang sangat terkenal[2]
- Seorang Panglima perang pada tahun 1873 untuk melawan penjajah Belanda di Kuta Raja[2]
Referensi
- ^ a b c Redaksi; Mina, Redaksi (2025-02-13). "Teungku Chik Pantee Geulima; Ulama dan Panglima Perang yang Disegani". Minanews.net. Diakses tanggal 2025-04-26.
- ^ a b c ibeLKhan (2022-04-22). "LIPUTAN GAMPONG NEWS | Tgk Chik Pante Geulima, Seorang Ulama, Sastrawan dan Panglima Perang". LIPUTAN GAMPONG NEWS (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-04-26.
- ^ a b c "Sejarah Tgk. Chik Pante Geulima". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-04-26.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


