Teologi baptisan Reformed

Dalam teologi Reformed, baptisan adalah sakramen yang menandakan persatuan orang yang dibaptis dengan Kristus, atau menjadi bagian dari tubuh Kristus dan diperlakukan seolah-olah ia telah melakukan segala sesuatu yang dikerjakan oleh Kristus. Bersama dengan pemberitaan firman Allah, sakramen merupakan sarana anugerah yang melaluinya Allah mengaruniakan Kristus kepada umat. Sakramen-sakramen diyakini memiliki daya kerja mereka melalui Roh Kudus, tetapi daya kerja tersebut diyakini hanya akan diperoleh mereka yang memiliki iman kepada Kristus.
Baptisan merupakan sakramen inisiasi ke dalam gereja yang kelihatan, atau persekutuan umat yang menyatakan iman mereka kepada Kristus secara terbuka. Baptisan juga menandakan kelahiran baru dan pengampunan dosa. Orang-orang Kristen Reformed meyakini bahwa anak-anak dari anggota jemaat harus dibaptis. Karena baptisan dipercaya hanya berdaya guna bagi mereka yang memiliki iman kepada Kristus, baptisan bayi dilaksanakan atas dasar janji akan adanya iman, yang akan membuahkan hasil dalam di kemudian hari.
Sejarah
| Bagian dari seri |
| Kalvinisme |
|---|
|
|
Latar belakang
Teologi baptisan Kristen sebelum masa Reformasi mengajarkan bahwa sakramen-sakramen, termasuk baptisan, merupakan sarana atau instrumen yang melaluinya Allah menyalurkan anugerah kepada umat.[1] Sakramen tersebut dianggap sah terlepas dari siapa yang melayaninya.[2] Namun, tidak semua orang yang menerima sakramen turut menerima anugerah yang ditandakan oleh sakramen tersebut. Sebagian teolog abad pertengahan menyebut adanya penghalang berupa dosa berat yang menghambat anugerah sakramen, sementara yang lain menegaskan bahwa penerima harus bersikap terbuka secara positif dan menanggapi sakramen tersebut dalam iman agar dapat memperoleh manfaatnya.[3] Baptisan diyakini sebagai sarana yang digunakan oleh Roh Kudus untuk membaharui orang percaya, serta mengaruniakan pengampunan dosa, kelahiran baru, dan pendiaman Roh Kudus dalam diri orang percaya.[2] Sakramen tobat dipandang perlu bagi pengampunan atas dosa-dosa yang dilakukan setelah baptisan.[4]
Selama masa Reformasi, Martin Luther menolak banyak dari tujuh sakramen Gereja Katolik Roma, tetapi ia tetap mempertahankan baptisan dan Perjamuan Kudus. Ia memandang banyak praktik gereja abad pertengahan sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang bertujuan menuntut perbuatan baik demi layak menerima pengampunan dosa setelah baptisan, alih-alih hanya melalui iman. Luther menghubungkan janji keselamatan dengan baptisan, dan mengajarkan bahwa kehidupan setelah baptisan seharusnya dijalani dengan senantiasa mengingat makna baptisan tersebut serta mematikan dosa yang ditandakan olehnya.[5]
Reformasi dan ortodoksi Reformed
Huldrych Zwingli, teolog paling awal yang dianggap sebagai bagian dari tradisi Reformed, menentang keras praktik-praktik ibadah yang ia yakini hanya berlandaskan tradisi dan bukan berdasarkan Alkitab.[6] Meskipun begitu, ia berselisih paham dengan kaum Anabaptis yang menolak untuk membaptis anak-anak mereka dengan alasan-alasan yang didasarkan pada Alkitab.[7] Melalui perdebatan-perdebatannya dengan kaum Anabaptis, Zwingli tiba pada pendirian bahwa baptisan adalah tanda perjanjian antara Allah dan umat-Nya, tetapi baptisan tersebut tidak menyalurkan anugerah kepada orang yang dibaptis. Dalam hal ini, ia memandang baptisan pada hakikatnya identik dengan sunat bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, dan menggunakan gagasan tersebut dalam polemiknya melawan kaum Anabaptis.[8] Penekanan Zwingli pada baptisan sebagai sebuah ikrar atau sumpah kelak menjadi ciri khas yang unik dalam tradisi Reformed.[9] Heinrich Bullinger, penerus Zwingli, melanjutkan pengajaran mengenai kesinambungan perjanjian-perjanjian Allah serta kesinambungan antara sunat dengan baptisan. Bullinger juga menekankan bahwa baptisan menunjukkan adanya kewajiban-kewajiban bagi orang yang dibaptis sebagai respons terhadap anugerah Allah.[10]
Yohanes Calvin dipengaruhi oleh gagasan Martin Luther mengenai baptisan sebagai janji-janji Allah kepada orang yang dibaptis, yang dipautkan pada tanda lahiriah berupa pembasuhan dengan air. Calvin mempertahankan pemikiran Zwingli tentang baptisan sebagai sebuah ikrar publik, tetapi ia menegaskan bahwa aspek tersebut merupakan hal sekunder dibandingkan makna baptisan sebagai tanda dari janji Allah untuk mengampuni dosa.[11] Ia menegaskan bahwa sakramen-sakramen merupakan instrumen yang efektif dalam mewujudkan janji-janji yang diwakilinya. Namun, ia juga mempertahankan pandangan bahwa janji-janji tersebut dapat ditolak oleh orang yang dibaptis, dan dalam kasus demikian, baptisan tersebut tidak akan memberikan pengaruh apa pun.[12] Calvin secara berhati-hati membedakan antara tanda lahiriah berupa pembasuhan air dengan janji-janji yang ditandakan oleh baptisan, sambil tetap mempertahankan pandangan bahwa keduanya tidak terpisahkan.[13] Teologi baptisan Calvin sangat serupa dengan teologi Luther. Perbedaannya terletak pada cara Calvin menempatkan sakramen di bawah pemberitaan firman Allah. Jika Luther menempatkan pemberitaan firman dan sakramen pada tingkat yang setara, Calvin memandang sakramen sebagai konfirmasi yang ditambahkan pada pemberitaan firman Allah.[14]

Dari akhir abad keenam belas hingga abad kedelapan belas, sebuah periode yang dikenal sebagai ortodoksi Reformed, teologi baptisan Reformed lebih lanjut mengembangkan makna perjanjian dari baptisan.[15] Para teolog mendefinisikan secara lebih cermat mengenai persatuan sakramental dalam baptisan, atau hubungan antara pembasuhan lahiriah dengan apa yang ditandakan olehnya.[16] Pada masa ortodoksi puncak (pertengahan hingga akhir abad ke-17), para teolog seperti Hermann Witsius memperluas makna perjanjian dari baptisan dengan menggunakan analogi-analogi seperti Bahtera Nuh dan penyeberangan Laut Merah, yang mengusung tema-tema teologis mengenai kebangkitan dan hidup yang kekal. Periode ini juga menyaksikan munculnya kelompok Baptis Reformed. Para teolog Baptis Reformed memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Reformed, tetapi mereka memandang baptisan sebagai tanda persekutuan orang yang dibaptis dengan Kristus, alih-alih sebagai tanda dan meterai dari perjanjian anugerah. Sebagai akibatnya, mereka tidak membaptis anak-anak mereka.[17]
Modern
Friedrich Schleiermacher, seorang teolog Reformed yang sangat berpengaruh pada abad ke-19, memandang baptisan sebagai cara gereja menerima anggota-anggota baru dan mengajarkan bahwa iman merupakan prasyarat mutlak bagi baptisan. Ia bersikap ambivalen terhadap praktik baptisan anak, dengan mengajarkan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah ketetapan yang bersifat esensial, tetapi tetap dapat dilanjutkan sejauh gereja tetap setia dalam membimbing anak-anak tersebut menuju tahapan sidi.[18] Schleiermacher juga memandang baptisan terutama bersifat individual, bukan sebagai sarana untuk memasukkan seseorang ke dalam suatu komunitas perjanjian. Bahkan, ia menolak gagasan bahwa baptisan harus dikaitkan dengan sunat dalam Perjanjian Lama.[19]
Scottish nineteenth-century Reformed theologian William Cunningham also sought to articulate a distinctively Reformed theology of baptism in the modern world. Cunningham preferred the writings of Zwingli on the sacraments, writing that Calvin and later Reformed orthodox theologians overly elevated the value of the sacraments. He argued that the efficacy of baptism only applies to adults expressing faith in the act of baptism.[20]
In the twentieth century, Karl Barth, an influential Swiss Reformed theologian, argued that baptism should not be administered to infants because it represented a completed association with Christ which could only be accepted or rejected by adults. Further, Barth in his later years rejected the idea that baptism was actually used by God to accomplish anything, or could even properly be called a sacrament. Instead, he taught that water baptism is a human act of obedience.[21] His views have been called "neo-Zwinglian" for this reason, and he himself identified Zwingli's views on sacraments as the believer's oath as his own.[22] He continued to accept the validity of infant baptisms, and did not believe those baptized as infants should be rebaptized.[23]
Later Reformed theologians reacted against Barth's views on baptism by appealing to Calvin, the idea that baptism is a promise rather than an accomplished reality, and the idea of baptism as a replacement of circumcision.[24] Scottish Reformed theologian T. F. Torrance emphasized the idea that baptism is God's word establishing the church, and that the individual's response comes after rather than before God's act in baptism. German Reformed liberation theologian Jürgen Moltmann, on the other hand, saw infant baptism as inappropriately associated with the national church. He saw baptism as properly a free response God's call to discipleship.[25] Reformed churches have generally maintained the practice of infant baptism despite these critiques.[26]
Referensi
- ^ Sykes 1994, hlm. 283.
- ^ a b Sykes 1994, hlm. 278.
- ^ Wawrykow 2015, hlm. 223.
- ^ Sykes 1994, hlm. 179.
- ^ Sykes 1994, hlm. 286.
- ^ Benedict 2002, hlm. 22.
- ^ Riggs 2002, hlm. 23.
- ^ Riggs 2002, hlm. 25; Fesko 2013.
- ^ Fesko 2013, hlm. 76.
- ^ Riggs 2002, hlm. 36–37.
- ^ Riggs 2002, hlm. 50–51.
- ^ Riggs 2002, hlm. 60–62.
- ^ Fesko 2013, hlm. 88–89.
- ^ Trigg 2001, hlm. 218.
- ^ Riggs 2002, hlm. 90.
- ^ Fesko 2013, hlm. 128.
- ^ Fesko 2013, hlm. 154–155.
- ^ Riggs 2002, hlm. 92–93.
- ^ Fesko 2013, hlm. 159.
- ^ Swain 2015, hlm. 336–337.
- ^ Riggs 2002, hlm. 94–95; Fesko 2013, hlm. 165.
- ^ Fesko 2013, hlm. 167.
- ^ McMaken 2013, hlm. 44.
- ^ Riggs 2002, hlm. 96.
- ^ Hunsinger & Moore-Keish 2015, hlm. 404.
- ^ McKim 2001, hlm. 138.
Daftar pustaka
- Allen, R. Michael (2010). Reformed Theology. New York: T&T Clark. ISBN 978-0-567-03430-4.
- Benedict, Philip (2002). Christ's Churches Purely Reformed. New Haven: Yale University Press. ISBN 978-0-300-10507-0.
- Brownson, James V. (2007). The Promise of Baptism: An Introduction to Baptism in Scripture and the Reformed Tradition. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans. ISBN 978-0-8028-3307-5.
- Dyrness, William A. (2004). Reformed Theology and Visual Culture: The Protestant Imagination from Calvin to Edwards. Cambridge University Press.
- Fesko, J. V. (2013) [2010]. Word, Water, and Spirit: A Reformed Perspective on Baptism. Grand Rapids, Michigan: Reformation Heritage. ISBN 978-1-60178-282-3.
- Horton, Michael S. (2008). People and Place: A Covenant Ecclesiology. Louisville, KY: Westminster John Knox. ISBN 978-0-664-23071-5.
- Hunsinger, George; Moore-Keish, Martha L. (2015). "Twentieth-Century and Contemporary Protestant Sacramental Theology". Dalam Boersma, Hans; Levering, Matthew (ed.). The Oxford Handbook of Sacramental Theology. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780199659067.013.4. ISBN 978-0-19-965906-7.
- Letham, Robert (2009). The Westminster Assembly: Reading Its Theology in Historical Context. The Westminster Assembly and the Reformed Faith. Phillipsburg, New Jersey: P&R. ISBN 978-0-87552-612-6.
- McKim, Donald K. (2001). Introducing the Reformed Faith. Louisville, KY: Westminster John Knox. ISBN 978-0-664-25644-9.
- McMaken, W. Travis (2013). The Sign of the Gospel: Toward an Evangelical Doctrine of Infant Baptism after Karl Barth. Minneapolis, Minnesota: Fortress. ISBN 9781451465372. Diakses tanggal 26 November 2015 – via Project MUSE.
- Murray, John (1980). Christian Baptism. Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed. ISBN 0-87552-343-9.
- Presbyterian Church in America (1987). Report of the Study Committee on the Validity of Certain Baptisms (PDF) (Report). PCA Historical Center. Diakses tanggal 5 April 2024.
- Riggs, John W. (2002). Baptism in the Reformed Tradition: A Historical and Practical Theology. Louisville, KY: Westminster John Knox. ISBN 0-664-21966-7.
- Rohls, Jan (1998) [1987]. Theologie reformierter Bekenntnisschriften [Reformed Confessions: Theology from Zurich to Barmen] (dalam bahasa Jerman). Translated by John Hoffmeyer. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox. ISBN 0-664-22078-9.
- Swain, Scott R. (2015). "Lutheran and Reformed Sacramental Theology: Seventeenth–Nineteenth Centuries". Dalam Boersma, Hans; Levering, Matthew (ed.). The Oxford Handbook of Sacramental Theology. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780199659067.013.16. ISBN 978-0-19-965906-7.
- Sykes, Stephen W. (1994). "The Sacraments". Dalam Hodgson, Peter C.; King, Robert H. (ed.). Christian Theology: An Introduction to Its Traditions and Tasks. Minneapolis, Minnesota: Fortress. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-25. Diakses tanggal 2015-11-25.
- Trigg, Jonathan D. (2001). Baptism in the Theology of Martin Luther. Boston: Brill. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-12-08. Diakses tanggal 2015-11-27.
- Venema, Cornelis P. (2000). "Sacraments and Baptism in the Reformed Confessions" (PDF). Mid-America Journal of Theology. 11: 21–86. Diakses tanggal 15 December 2015.
- Vissers, John (2011). "Baptism in the Reformed Tradition". Dalam Heath, Gordon L.; Dvorak, James D. (ed.). Baptism: Historical, Theological, and Pastoral Perspectives. Eugene, OR: Pickwick.
- Wawrykow, Joseph P. (2015). "The Sacraments in Thirteenth-Century Theology". Dalam Boersma, Hans; Levering, Matthew (ed.). The Oxford Handbook of Sacramental Theology. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780199659067.013.44. ISBN 978-0-19-965906-7.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


