Tengku Syarifah Fadlun
| Syarifah Fadlun | |
|---|---|
| Permaisuri Siak | |
| Periode | 23 Januari 1930 – 1950 |
| Pendahulu | Tengku Syarifah Latifah |
| Kelahiran | 1913 Tanjung Pura, Hindia Belanda |
| Kematian | 13 Mei 1988 Jakarta, Indonesia |
| Pasangan | Tuanku Mahmud (m. 1950–1958) |
| Ayah | Tengku Pangeran Embung Jaya Setia |
Tengku Maharatu Syarifah Fadlun, dikenal sebagai Tengku Maharatu, (1913 – 1988) adalah permaisuri kedua dari Sultan Syarif Kasim II dan tokoh pendidikan wanita asal Riau.
Kehidupan awal
Syarifah dilahirkan di Tanjung Pura pada tahun 1913. Ayahnya, Tengku Pangeran Embung Jaya Setia, adalah seorang bangsawan Langkat dan ibunya ialah adik dari Sultan Musa.[1] Ia adalah adik dari Syarifah Latifah.[2]
Permaisuri Sultan Syarif Kasim II
Syarifah Fadlun menikah dengan Sultan Syarif Kasim II pada tanggal 23 Januari 1930, setahun setelah kematian Syarifah Latifah. Ia mendapatkan gelar tengku maharatu pada tahun 1930 dengan tanggal yang berbeda menurut dua versi. Ada yang bilang bahwa ia mendapatkan gelar tengku maharatu pada tanggal 28 Juni 1930. Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa ia memperolehnya pada tanggal 6 Juni 1930. Syarifah Fadlun bercerai dengan sang sultan pada tahun 1950.[3] Selama menjadi suami sang sultan, Syarifah tidak memiliki anak.[4]
Mengelola Madrasah Annisa dan Sultanah Latifah School
Pada bulan Mei 1929, Sultan Syarif Kasim mendirikan sekolah agama khusus wanita yaitu Madrasah Annisa.[5] Syarifah Fadlun memegang peran di madarash ini sebagai pengelolanya.[6] Ia juga membebaskan siswi-siswinya yang belajar di madrasah dari biaya pendidikan.[7] Salah satu hal yang ia lakukan sebagai pengurus madrasah ini ialah melakukan kerja sama dengan sekolah agama lain untuk mengembangkan kualitas pendidikannya. Pada tahun 1941, bersama dengan sang suami, Syarifah Fadlun berkunjung ke Padang Panjang untuk bertemu dengan Rahmah El Yunusiyah dan dari situalah kerja sama antara Madrasah Annisa dan Diniyah Putri terjalin.[8]
Berkat persetujuan kerja sama antara Madrasah An-Nisa dan Diniyah Putri Padang Panjang, siswi-siswi berprestasi dari Madrasah Annisa dapat melanjutkan pendidikan tingginya ke tingkat aliyah di sekolah diniyah yang dikelola oleh Rahmah El Yunusiyah. Dengan belajar di sekolah diniyah, sang siswi bisa menjadi guru di Madrasah Annisa. Di samping itu juga, Madrasah An-Nisa mendapatkan guru dari Padang Panjang.[8] Terinspirasi dari Diniyah Putri Padang Panjang, Syarifah merancang kurikulum untuk madarasahnya sesuai dengan diniyah yang mana pembelajarannya tidak terbatas pada ilmu agama, tetapi juga ilmu umum.[7]
Tidak hanya madrasah saja, Syarifah Fadlun juga mengelola Sultanah Latifah School sepeninggal Tengku Agung Syarifah Latifah.[9] Ia juga berinisiatif untuk membangun asrama bagi siswi Sultanah Latifah School dan Madrasah Annisa serta mengagas pendirian TK.[2]
Kain Tenun Siak
Syarifah juga terlibat dalam pengembangan kain tenun Siak. Ia mengajari perempuan-perempuan setempat keterampilan menenun dengan tujuan meningkatkan derajat mereka.[10]
Revolusi Nasional Indonesia
Seusai berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai ke Siak, Syarifah Fadlun bersama dengan suami mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Syarifah berkontribusi dengan cara menyambung dan menjahit robekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia. Bendera yang dijahit olehnya dikibarkan pada saat rapat umum diadakan di Siak.[11]
Bersama dengan sang suami, Syarifah juga dikabarkan menyumbang uang sebesar 13 juta gulden dan emas yang ada ditangannya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya itu saja, Syarifah juga menyematkan lambang merah putih di seragam Tentara Keamanan Rakyat (TKR).[12]
Kehidupan pasca perceraian
Setelah bercerai dengan Syarif Kasim II, Syarifah Fadlun menikah dengan Tuanku Mahmud yang tinggal di Jakarta. Tengku Mahmud meninggal terkena serangan jantung pada 2 November 1958; Syarif Kasim II menyampaikan duka cita. Sepeninggal Tengku Mahmud, Syarifah Fadlun berangkat bersama anak angkatnya, Tengku Adibah dan suaminya, Ishak, ke Selangor untuk berdagang. Mereka diterima oleh permaisuri Selangor dan tinggal beberapa hari di Istana Shah Alam. Setelah beberapa bulan, mereka pindah ke Jambi dan kemudian ke Jakarta kembali beberapa tahun kemudian.[13]
Syarifah Fadlun pada akhir masa hidupnya menderita leukemia dan harus melakukan transfusi darah dua kali seminggu. Ia meninggal dunia pada tanggal 13 Mei 1988 di Jakarta. Gubernur Riau Imam Munandar memohon keluarga agar jasadnya dapat dibawa ke Siak untuk dikuburkan di samping Syarif Kasim II yang telah meninggal pada tahun 1968, tetapi Syarifah Fadlun berwasiat agar ia dimakamkan di Jakarta. Pemakaman secara adat kerajaan Melayu diselenggarakan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 14 Mei.[13][14]
Penghargaan
Pada tahun 2023, seorang budayawan Riau bernama Datuk O.K Nizami Jamil menulis buku autobiografi Tengku Maharatu.[15] Namanya dia juga dijadikan sebagai nama sebuah gedung di depan Istana Siak, Gedung Tengku Maharatu.[12]
Bibliografi
- Wilaela, Wilaela; Ghafur, Abdul; Hasbullah, Hasbullah; Widiarto, Widiarto (2018). Prosopografi Tokoh Perempuan Pendidik di Riau (1926-2016). Pekanbaru: CV Asa Riau. ISBN 978-602-6302-60-1.
Referensi
- ^ Wilaela et al. 2018, hlm. 33.
- ^ a b Raditya, Iswara N. "Syarifah Latifah: Pelopor Pendidikan Perempuan di Kesultanan Siak". tirto.id. Tirto. Diakses tanggal 10 Juli 2024.
- ^ Wilaela et al. 2018, hlm. 34.
- ^ Hasudungan, Anju Nofarof (2020). "TENGKU AGUNG SYARIFAH LATIFAH SEBAGAI SOSOK KARTINI RIAU DAN INSPIRASI UNTUK GENERASI EMAS INDONESIA". Bihari. 3 (2): 103.
- ^ Wilaela et al. 2018, hlm. 35.
- ^ Wilaela et al. 2018, hlm. 38.
- ^ a b Wilaela et al. 2018, hlm. 40.
- ^ a b Wilaela et al. 2018, hlm. 39.
- ^ Wilaela et al. 2018, hlm. 42.
- ^ Lestari, Sasya; Riyanti, Menul Teguh (April 2017). "KAJIAN MOTIF TENUN SONGKET MELAYU SIAK TRADISIONAL KHAS RIAU". Dimensi DKV. 2 (1): 34.
- ^ Wilaela et al. 2018, hlm. 43.
- ^ a b Faizin, Eko. "Tengku Mahratu: Penjahit Merah Putih, Sumbang Perhiasannya buat Kemerdekaan RI". suara.com. Suara. Diakses tanggal 11 Juli 2024.
- ^ a b Jamil, O.K. Nizami (2023). Kisah Permaisuri Kerajaan Siak Tengku Maharatu. Pekanbaru: Sukabina. ISBN 000435227. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ TamanHutan, TamanHutan. "DATA JENAZAH". pertamananpemakaman.jakarta.go.id. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota. Diakses tanggal 17 November 2025.
- ^ Riau Terkini, Riau Terkini. "Buku Tengku Maharatu Kisah Permaisuri Sultan Siak Sri Indrapura Diluncurkan". riauterkini.com. Riau Terkini. Diakses tanggal 10 Juli 2024.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


