Tari Pasere
Tari Pasere adalah tarian warisan upacara kerajaan Bulo-bulo dan Tondong, yang kini termasuk wilayah Kabupaten Sinjai.
Penamaan
Istilah sere berarti bergerak mondar-mandir tanpa arah tertentu yang kemudian dikaitkan dengan aktivitas menari.[1]
Sejarah
Berdasarkan hikayat yang ditulis M. Thamar R (1984: 50), masyarakat pesisir timur Kerajaan Bulo-Bulo (kini Siinjai Timur) menemukan tari Pasere sekitar abad XV. Raja Tondong VI Lottong Daeng Marumpa yang mengetahui hal tersebut meminta Arung Sohohe untuk membawa penari tersebut ke Tondong. Sejak saat itu, tari Pasere menjadi bagian dari kerajaan Tondong dan ditampilkan di istana. Penarinya pada masa awal umumnya laki-laki.[2]
Komponen tari
Penari
Tari Pasere dapat ditampilkan oleh pria dan wanita. Jumlah penari ditentukan sesuai tujuan upacara. Pemimpinnya adalah seorang Sanro (dukun) atau Bissu.[1][3]
Properti
Penampilan tari ini membutuhkan properti seperti kipas bundar (simpa), keris (alameng), selendang (cinde), dan pateko.[1][3]
Kostum
Penari Pasere menggunakan pakaian adat baju bodo dengan sarung lipa garrusu bercorak garis hitam-merah, serta perhiasan. Khusus bagi Sanro, yang digunakan adalah baju labbu dan sarung.[1][3]
Jenis-jenis
Tari pasere dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsi dari tari tersebut.[3]
Pasere Marutamang/Pasere Mappajo
Jenis Pasere ini dipimpin oleh Sanro Wanuwa (dukun negeri) atau Sanro Arajang (dukun kerajaan), dengan bantuan Bissu. Pelaksanaannya dilakukan di istana maupun di rumah warga, saat negeri dilanda penyakit menular atau sebelum hajat tertentu, seperti pernikahan dan menanam padi. Upacara berlangsung pada malam hari dengan jumlah malam ganjil, misalnya malam pertama, ketiga, kelima, atau ketujuh, sesuai kemampuan yang berhajat.[1]
Pasere Menre ri Alewanua
Pasere ini menjadi pelengkap upacara adat atau pesta panen, diikuti seluruh lapisan masyarakat termasuk raja, dan dilaksanakan di Alewanua (pusat negeri). Penampilannya ditujukan untuk memohon kesejahteraan serta keselamatan negeri dan rakyat, dan diadakan siang hari minimal dua kali setahun.[1]
Pasere Mappadaung Arajang
Pasere ini dahulu dilakukan dalam ritual tahunan mengganti pembungkus dan membersihkan Arajang. Ritaul diawali dengan Pelong UwaE (mengarak air) dari sumur atau sungai menuju istana dengan iringan gendang dan musik. Selanjutnya, prosesi dilaksanakan di istana oleh para Bissu.[1]
Pasere Kasuwiyang
Jenis pasere ini dilaksanakan setiap malam Jumat atau hari lain sesuai keinginan pelaksana, sekurang-kurangnya sekali seminggu sebagai bentuk pengabdian (Kasuwiyang).[1]
Referensi
- ^ a b c d e f g h Lathief, Halilintar; HL, Niniek Sumiani (2000). Tari Daerah Bugis (PDF). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Islamisasi di Sinjai (PDF). Makassar: Pustaka Sawerigading. 2016. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d Riona, Nur (2024-05-10). "Mengenal Ragam Tarian Suku Bugis, untuk Penyambutan-Ritual Upacara Adat". detiksulsel. Diakses tanggal 2026-01-31.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


