Tanneke Burki
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Tanneke Burki (Constance Imelda Burki) (29 Mei 1938 – 3 Agustus 2021) adalah seorang penari sekaligus guru ballet Indonesia. Ia adalah ibu dari Vicky Burki.
Biografi
Ia lahir di Bandung pada tanggal 29 Mei 1938. Ia adalah anak tunggal yang dibesarkan dalam keluarga yang mencintai ballet. Ibu Tanneke bernama Poppie Labrijn, perempuan Belanda yang merupakan penari ballet didikan Gina Meloncelli, penari ballet populer asal Italia. Ayah Tanneke bernama Victor Christiaan Burki yang berasal dari Belanda. Ayahnya meninggal dalam kamp interniran Jepang ketika Tanneke berusia 6 tahun. Tanneke merupakan lulusan IKIP Bandung jurusan Sastra Inggris, tetapi ia sama sekali tidak berkecimpung sesuai bidan pendidikannya tersebut. Ia lebiih tertarik untuk membina sanggar tari. Ia mengajar tari di studio tari di Jalan R.E. Martadinata 69, Bandung yang tidak memiliiki papan nama. Dalam menjalankan sanggar tari miliknya, Tanneke dibantu oleh sang suami, Bahram, dan putrinya yang kedua, Vicky Burki. Untuk diketahui, suami Tanneke adalah juara ball room Jawa Barat pada tahun 1960. Anak pertama Tanneke dari almarhum pengarang Iwan Simatupang yang bernama Violetta Simatupang, pernah menjadi cantrik di pedepokan Bagong Kussudiarjo di Yogyakarta. Di samping membuka sanggar tari, Tanneke juga mengajar di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan di Sekolah Istri Bijaksana Bandung. Ia juga pernah menjadi pemeran utama dalam film Maut Mendjelang Magrib pada tahun 1963.
Tanneke mengingat saat pertama kali muncul sebagai penari ballet di atas panggung. Ia memiliki kesan mendalam ketika tampil bersama Bagong Kussudiarjo pada tahun 1962. Dalam pagelaran di Gedung Kesenian Pasar Baru, Jakarta, ia tampil sebagai Dewi Nawangwulan dari cerita Jaka Tarub dan sebagai kuda binal dalam nomor tari berjudul Kudaku.
Tanneke merasa "tidak murtad atau mengabaikan tari tradisional Indonesia" karena ia juga mempelajari tari dari Sunda, Jawa, Aceh, Sumatera Barat, Irian, dan Sulawesi. Sebagai seorang pencipta, Tanneke telah membuahkan beberapa karya, antara lain Cahaya yang Padam (1961), Malam dan Ramayana I (1961), Kudaku (1962), Ramayana II (1971), dan Ramayana III (1980). Tanneke juga pernah berkunjung ke Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris untuk mempelajari perkembangan baru di dunia ballet.
Tanneke meninggal dunia di Bandung pada 3 Agustus 2021, dan dimakamkan di pemakaman Kerkhoff Cimahi. Ia meninggalkan tiga orang anak, dua orang cucu dan seorang cicit.
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


