Taman Wisata Alam Camplong

Pulau Timor

Taman Wisata Alam (TWA) Camplong adalah salah satu kawasan konservasi alam yang terletak di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. TWA ini dikenal sebagai hutan wisata dengan potensi ekowisata yang unik, yang menaungi berbagai keanekaragaman hayati khas Timor dan sumber daya air alami yang vital.[1] Secara geografis, TWA Camplong terletak sekitar 46 kilometer dari Kota Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT.[2] Secara administrasi, kawasan ini berada di wilayah Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, meliputi Desa Camplong I, Desa Camplong II, Desa Naunu, dan Desa Oebola.[1]

Geografi dan batas wilayah

Secara astronomis, TWA Camplong terletak antara 123° 39’ – 124° 23’ Bujur Timur dan 9° 57’ – 10° 30’ Lintang Selatan. Ketinggian kawasan berkisar antara 92 hingga 480 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan kemiringan lahan bervariasi dari sedang hingga landai (15° –25° ). Kawasan TWA Camplong memiliki batas-batas administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara: Kelurahan Camplong I; Sebelah Selatan: Desa Naunu; Sebelah Barat: Desa Camplong II dan Desa Oebola, yang merupakan desa enclave yang berada di tengah kawasan TWA).[1]

Sejarah penetapan kawasan

Penetapan TWA Camplong telah melalui sejarah yang panjang. Awalnya, kawasan hutan ini ditunjuk sebagai Hutan Tutupan yang terpelihara oleh Residen Timor melalui Keputusan Nomor 180 tanggal 11 Mei 1929 dengan luas awal ±475 hektar. Di masa selanjutnya, terjadilah beberapa tahapan penunjukan penting lainnya. Pada 17 Maret 1980, Menteri Pertanian RI menunjuk kawasan ini tergabung dalam Kelompok Hutan Sisimeni Sanam melalui Keputusan Nomor: 183/Kpts/Um/3/1980. Pada 30 Maret 1982, Gubernur Nusa Tenggara Timur menunjuk kawasan ini sebagai Taman Wisata melalui Keputusan Nomor: 46/BKLH/1982 dengan luas yang diestimasi ±2.000 hektar. Hingga akhirnya pada 12 Desember 1983, Menteri Pertanian melalui Keputusan Nomor 89/Kpts/Um/83 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) menunjuk kawasan ini sebagai Hutan Wisata. [1]

Penetapan parsial sebagai Taman Wisata Alam (TWA) secara definitif dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.347/Menhut-II/2010 tanggal 25 Mei 2010, setelah adanya penataan tata batas kawasan yang dilakukan oleh Balai Planologi Kehutanan Wilayah IV Nusa Tenggara pada 8 Juni 1982. Luas kawasan yang riil ditata batas adalah 696,60 hektar.[1]

Kondisi ekosistem

TWA Camplong mewakili tipe ekosistem hutan dataran sedang yang terletak pada ketinggian antara 245 hingga 480 mdpl. Secara alamiah, ekosistem di kawasan ini dapat dikelompokkan menjadi dua tipe utama, yaitu ekosistem hutan musim—dicirikan oleh vegetasi yang kurang tinggi (15-20 m), banyak percabangan, dan menggugurkan daun pada musim kering—serta ekosistem hutan sabana.[3]

Flora

Komposisi vegetasi TWA Camplong sangat kaya, tercatat terdapat 104 spesies flora dari 51 family. Keberadaan beberapa jenis tumbuhan sangat penting untuk keseimbangan ekosistem dan konservasi mata air.[4] Salah satu jenis yang vital adalah Ficus tertentu ("nisum" Ficus sp) yang berfungsi sebagai sumber pangan bagi beberapa jenis satwa dan tempat bersarang lebah madu, yang memiliki peranan penting dalam produksi madu lokal. Jenis-jenis flora yang mudah dijumpai di kawasan ini meliputi: Johar (Cassia siamea), Kenanga (Cananga odorata), Asam (Tamarindus indicus), Bidara (Zizipus timorensis), Jati (Tectona grandis), Kesambi (Shcleichera oleosa), Dysoxylum sp, serta berbagai jenis pohon berbunga seperti Alstonia scholaris dan Cassia javanica.[1]

Fauna

Burung Kakatua Putih

TWA Camplong merupakan habitat penting bagi beragam satwa liar, mulai dari mamalia, reptil, hingga aves, termasuk beberapa jenis endemik Timor. Beberapa di antaranya seperti, mamalia: Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan Kus-kus (Palanger orientalis); serta reptil: Biawak timor (Varanus timorensis) dan Ular sanca timor (Phyton timorensis). Selain itu, kawasan ini juga memiliki penangkaran buaya. Terdapat pula beberapa jenis aves (Burung): Kakatua Putih Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Srigunting (Dicrurus leucopatus), dan Raja Udang (Alcedo atthis), serta beberapa jenis burung lainnya yang dapat disaksikan di puncak Gua Prasejarah Oenaek pada pagi hari. Ada pula jenis-jenis serangga seperti Kupu Burung Priamus (Omithoptera Priamus) dan Kupu Raja Plato (Troude Plato).[5]

Referensi

  1. ^ a b c d e f "Taman Wisata Alam Camplong - BBKSDA NTT". bbksdantt.ksdae.kehutanan.go.id. Diakses tanggal 2025-09-26.
  2. ^ Atourin. "Taman Wisata Alam Camplong di Kupang". Atourin. Diakses tanggal 2025-09-26.
  3. ^ Krisnawati, Ika; Almulqu, Aah Ahmad; Adrin, Adrin; Renoat, Emi (2022-05-01). "Analisis Komposisi dan Struktur Vegetasi Hutan (Studi Kasus: Taman Wisata Alam Camplong dan Taman Wisata Alam Baumata Kabupaten Kupang)". Florea: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 66–73. doi:10.25273/florea.v9i1.12713. ISSN 2355-6102.
  4. ^ Paga, Blasius; da-Lopes, Yosefus F. (2008). "Kajian Habitat Tumbuhan Obat Di Taman Wisata Alam Camplong". Partner. 15 (2): 222–230. ISSN 0852-6877.
  5. ^ NTT-News.Com, Redaksi Sonaf (2021-08-21). "TWA Camplong Sebagai Salah Satu Destinasi Unik & Bertaraf Internasional. - sonafntt-news.com". Diakses tanggal 2025-09-26.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement