Takashi Murakami

Takashi Murakami (村上 隆, Murakami Takashi; lahir 1 Februari 1962) adalah seorang seniman kontemporer Jepang. Ia berkarya dalam seni rupa murni (seperti lukisan dan patung) sekaligus media komersial (seperti mode, merchandise, dan animasi), serta dikenal karena karyanya yang mengaburkan batas antara seni tinggi dan budaya populer. Gaya visualnya banyak dipengaruhi tradisi seni Jepang serta karakter budaya pascaperang di Jepang.

Murakami juga terlibat dalam desain sampul album musik, termasuk Graduation (2007) karya Kanye West,[1] album kelima Future, Future (2017), album kolaborasi West dan Kid Cudi Kids See Ghosts (2018), serta album anumerta Juice Wrld The Party Never Ends (2024).

Murakami merupakan pendiri dan presiden perusahaan perdagangan seni Kaikai Kiki Co., Ltd., yang juga menaungi dan mengelola sejumlah seniman. Ia juga merupakan pendiri serta penyelenggara ajang seni dua tahunan Geisai.[2]

Kehidupan dan Karier

Latar Belakang Akademik dan Karier Awal

Murakami lahir dan dibesarkan di Tokyo, Jepang. Sejak kecil ia menyukai anime dan manga dan berharap dapat bekerja di industri animasi. Ia kemudian menempuh pendidikan di Tokyo University of the Arts untuk mempelajari keterampilan menggambar sebagai bekal menjadi animator, namun akhirnya memilih fokus pada Nihonga, yaitu gaya lukisan Jepang tradisional yang menggunakan teknik, konvensi, dan tema klasik Jepang. Ia meraih gelar masternya pada tahun 1988. Meski kemudian menyelesaikan gelar doktor dalam bidang Nihonga pada tahun 1993, Murakami perlahan merasa kecewa dengan dunia Nihonga yang dianggap terlalu tertutup dan sarat politik, sehingga ia mulai bereksperimen dengan media, strategi, dan gaya seni kontemporer.[3]

Murakami tidak puas dengan kondisi seni kontemporer di Jepang saat itu, yang menurutnya hanyalah “peniruan mendalam atas tren Barat.”[4]. Karena itu, sebagian besar karya awalnya bernuansa kritik sosial dan satire. Salah satu contoh kontroversial adalah My Lonesome Cowboy, pasangan karya sebelumnya Hiropon. Patung ini menggambarkan tokoh anime telanjang dengan rambut pirang runcing dan semburan sperma berbentuk spiral di sekelilingnya. Karya tersebut menjadi salah satu karyanya yang paling bernilai, terjual seharga US$15.100.000[5][6] pada lelang Sotheby's New York tahun 2008.[7]

Pada periode ini, Murakami juga mengerjakan karya pertunjukan (Osaka Mixer Project, 1992), parodi terhadap tren seni “berpesan” yang populer di Jepang awal 1990-an (Dobozite Dobozite Oshamanbe, 1993), serta karya konseptual seperti Randoseru Project (1991). Pada masa ini pula ia mulai menciptakan ikon popnya sendiri, “Mr. DOB,” yang kemudian berkembang menjadi bentuk self-portrait dan menjadi salah satu motif yang terus muncul dan berubah sepanjang kariernya. Meski karyanya mulai menarik perhatian, banyak karya awal Murakami pada mulanya kurang mendapat respons positif di Jepang.[8]

Studio

Pada tahun 1996, Murakami mendirikan Hiropon Factory, sebuah bengkel produksi tempat ia dapat bekerja dalam skala lebih besar dan menggunakan beragam media. Model kerja ini mengikuti sistem atelier yang telah lama digunakan dalam tradisi seni Jepang seperti lukisan, seni grafis, dan patung, serta lazim ditemukan pada industri anime dan manga, termasuk Studio Ghibli milik Hayao Miyazaki. Pada tahun 2001, Hiropon Factory secara resmi diubah menjadi Kaikai Kiki Co., Ltd.[9]

Superflat

Pada tahun 2000, Murakami menerbitkan teori "Superflat"[10] dalam katalog pameran kelompok dengan nama yang sama, yang ia kurasi untuk Museum of Contemporary Art, Los Angeles. Teori ini menyatakan bahwa ada warisan visual dua dimensi (flat) dari sejarah seni Jepang yang berlanjut ke manga dan anime. Gaya ini berbeda dari pendekatan Barat karena penekanannya pada permukaan serta penggunaan bidang warna datar.

Superflat juga berfungsi sebagai komentar terhadap masyarakat Jepang pascaperang, di mana Murakami berpendapat bahwa perbedaan kelas sosial dan selera budaya telah "merata" sehingga menghasilkan kultur yang hampir tanpa batas antara seni "tinggi" dan "rendah". Teori ini menjadi landasan bagi karya-karyanya, dan ia kemudian mengembangkannya melalui pameran seperti "Coloriage" (2002, Fondation Cartier pour l’art contemporain, Paris) dan "Little Boy: The Arts of Japan's Exploding Subculture" (2005, Japan Society, New York), yang mengambil nama dari bom atom Little Boy. Pameran-pameran ini turut memperkenalkan budaya kreatif Jepang yang kurang dikenal di luar negeri, dan praktik kuratorial tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan artistiknya.[11]

Dalam dekade berikutnya, peran kuratorial Murakami meluas mencakup seniman seperti Kazunori Hamana, Yuji Uedaa, dan Otani Workshop di Blum & Poe, New York (2016), serta Juxtapoz x Superflat di Vancouver Art Gallery (2016).

Sejalan dengan konsep Superflat, praktik Murakami mencakup transformasi elemen-elemen budaya yang biasa dianggap "rendah" atau subkultural untuk kemudian dipresentasikan dalam ranah seni rupa "tinggi". Setelah itu, ia kembali "meratakan" hierarki tersebut dengan memproduksi versi merchandise dari karya seni tingginya. seperti boneka plush dan kaus agar dapat diakses dengan harga yang lebih terjangkau.

Kolaborasi

Pada tahun 2002, Murakami mulai bekerja sama dengan rumah model Louis Vuitton atas undangan desainer Marc Jacobs. Ia menciptakan ilustrasi yang kemudian digunakan pada desain seri tas dengan monogram hasil reinterpretasinya. Koleksi ini menjadi sukses besar secara komersial. Meski sebelumnya ia pernah bekerja sama dengan desainer seperti Issey Miyake Men oleh Naoki Takizawa, kolaborasinya dengan Louis Vuitton membuat namanya dikenal luas karena kemampuannya mengaburkan batas antara seni rupa “tinggi” dan komersial. Di Jepang, hal ini juga mendorongnya mencapai status selebritas.[12]

Pada tahun 2007, Murakami membuat sampul album Graduation milik Kanye West, sekaligus menyutradarai video musik animasi untuk lagu “Good Morning.” Ia juga kembali merancang sampul album West bersama Kid Cudi pada proyek kolaborasi Kids See Ghosts (2018).[13]

Gambar-gambar yang dibuat untuk proyek Kanye kemudian ia gunakan kembali sebagai bagian dari karya seninya, baik lukisan maupun patung mendorong konsepnya lebih jauh mengenai batas kabur antara komersial dan seni murni. Ketika ditanya tentang posisinya di antara seni dan komersialisme, Murakami menjawab:

“Saya tidak melihatnya sebagai melintasi batas, saya melihatnya sebagai mengubah garisnya.”[14]

Ia menegaskan bahwa masyarakat Jepang lebih menerima perpaduan seni dan komersial dibandingkan budaya Barat, yang menurutnya masih memisahkan keduanya secara kaku.[15]

Murakami juga bekerja sama dengan berbagai pihak di Jepang, salah satunya menciptakan karakter kampanye untuk pengembangan kawasan urban Roppongi Hills.

Pada tahun 2009, ia berkolaborasi dengan Pharrell Williams untuk menciptakan sebuah patung yang dipamerkan di Art Basel, yang digambarkan Williams sebagai “metafora tentang nilai.”[16]

Pada periode yang sama, Murakami juga bekerja dengan Kirsten Dunst dalam film pendek Akihabara Majokko Princess, yang ditampilkan pada pameran Pop Life di Tate Modern (2009–2010). Video tersebut menampilkan Dunst bernyanyi sambil menelusuri Akihabara, distrik belanja terkenal di Tokyo.[17][18][19]

Tahun 2014, bersama Pharrell dan Kz dari Livetune, Murakami membuat video musik untuk remix lagu Hatsune Miku “Last Night, Good Night (Re:Dialed).”[20] Di tahun yang sama, ilustrasi dari film pertamanya Jellyfish Eyes muncul pada T-shirt dari merek Billionaire Boys Club.[21]

Pada tahun 2015, ia berkolaborasi dengan Vans dalam koleksi Vault by Vans x Takashi Murakami, menampilkan desain tengkorak dan bunga ikonisnya pada sepatu slip-on, pakaian, serta papan seluncur.[22]

Tahun 2018, ia bekerja dengan Virgil Abloh dalam serangkaian karya yang mempertemukan mode dan seni, dan keduanya tampil sebagai sampul Cultured Magazine edisi musim gugur 2018.[23]

Pada Maret 2019, Billie Eilish merilis video musik You Should See Me in a Crown yang disutradarai dan dianimasikan oleh Murakami, dikerjakan selama delapan bulan menggunakan teknologi motion capture.[24]

Murakami kemudian terlibat dalam berbagai kolaborasi lain, termasuk:

  • J Balvin (2020) untuk album Colores dan merchandise pendukungnya.[25][26]
  • Supreme (2020) untuk Box Logo Tee amal selama pandemi COVID-19.[27]
  • Lewis Hamilton (2022) untuk lini fashion dan helm Formula 1-nya.[28]
  • NewJeans (2024) untuk merch eksklusif dan desain album debut Jepang mereka Supernatural.[29]
  • Juice WRLD (2024) untuk sampul album terakhir bertajuk The Party Never Ends dan konten eksklusif di Fortnite.[30]
  • Topps (2025) untuk kartu baseball khusus Tokyo Series 2025.[31]
  • Dom Pérignon (2025) dalam kampanye bertajuk Creation Is an Eternal Journey.[32]

Kolaborasi-kolaborasinya menunjukkan bagaimana Murakami tidak sekadar melintasi batas seni dan komersial, ia mendesain ulang batas itu sepenuhnya.

Teknik

Karya seni Murakami mencakup berbagai medium dan umumnya dikategorikan dalam aliran Superflat. Karyanya dikenal melalui penggunaan warna yang mencolok, penggabungan motif dari budaya tradisional dan populer Jepang, permukaan datar atau berkilau, serta konten yang sering digambarkan sekaligus sebagai “kawaii”, “psikedelik”, maupun “satiris”. Di antara motif berulang yang paling dikenal dalam karyanya adalah bunga tersenyum, karakter Mr. DOB, jamur, tengkorak, ikonografi Buddhis, serta tema terkait kompleksitas seksual dalam budaya otaku.

Salah satu karyanya yang paling terkenal, Hiropon, dianggap sebagai representasi eksplisit penerimaannya terhadap budaya otaku. Patung tersebut, dibuat pada tahun 2001, kerap disebut menampilkan “budaya otaku dan seksualitasnya yang aneh serta mengejutkan secara penuh.”[33] Dalam wawancara, Murakami menjelaskan bahwa konsep bunga tersenyum berasal dari “emosi tertekan, kontradiktif, dan trauma kolektif masyarakat Jepang yang dipicu oleh peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.”

Selain karya lukisan berskala besar seperti 727 (koleksi permanen Museum of Modern Art, New York) dan Tan Tan Bo Puking – a.k.a. Gero Tan, Murakami juga memproduksi patung, instalasi balon, instalasi wallpaper all-over, karya animasi, cetakan, poster, serta berbagai jenis produk komersial terkait.

Pendekatan Strategis

Sejak awal, Murakami menyampaikan rasa frustrasinya terhadap kondisi pasar seni Jepang setelah Perang Dunia II yang dinilai tidak stabil dan tidak berkelanjutan. Hal ini mendorongnya untuk merumuskan strategi jangka panjang: ia terlebih dahulu membangun reputasi dan legitimasi di dunia seni Barat, lalu “membawa kembali” dirinya ke Jepang , dengan tujuan menciptakan model pasar seni baru di negara asalnya.

Dalam upayanya menghasilkan sesuatu yang berakar pada sejarah dan budaya Jepang, namun tetap relevan secara global, Murakami mulai mencari elemen yang benar-benar dapat dianggap sebagai ciri khas Jepang. Setelah menyimpulkan bahwa seni “tinggi” tradisional terlalu rumit, eksklusif, dan tidak lagi menjadi bahasa budaya kontemporer, ia mulai beralih ke ranah budaya “rendah” seperti anime, manga, dan subkultur otaku. Gaya dan motif visualnya, karakter bergaya anime yang imut (kawaii) namun sekaligus mengganggu, warna tajam, permukaan datar dan mengilap, serta patung figur anime berskala nyata, merupakan hasil langsung dari strategi tersebut.

Pendekatan ini terlihat, misalnya, dalam karya Cosmos Ball (2000), yang kini menjadi bagian dari koleksi Honolulu Museum of Art.

Nilai Pasar

Pada 11 November 2003, ARTnews melaporkan bahwa karya Murakami sedang berada dalam permintaan tinggi. Salah satu karyanya, Hiropon (1997) patung satir setinggi lebih dari dua meter, menggambarkan karakter anime dengan proporsi dada berlebihan di mana aliran ASI membentuk lompat tali dari fiberglass, terjual seharga US$427.500 di balai lelang Christie’s pada Mei 2002.

Patung Miss ko2 (1996), model karakter anime pirang setinggi sekitar 6 kaki yang mengenakan seragam pelayan merah putih, terjual seharga US$567.500 pada 2003, dan ketika dilelang kembali pada 2010, mencapai harga 22,9 juta HKD.

Pada Mei 2008, karyanya My Lonesome Cowboy (1998) patung karakter anime laki-laki yang sedang bermasturbasi dengan aliran semen berbentuk laso terjual seharga US$15,2 juta di Sotheby’s, menjadikannya karya dengan nilai tertinggi dalam karier Murakami.

Per tahun 2020, kekayaan bersih Murakami diperkirakan mencapai sekitar US$100 juta, dan nilai karya seninya terus meningkat di pasar global.

Buku

  • Murakami, Takashi "Geijutsu Kigyoron"
  • Murakami, Takashi "Geijutsu Tosoron"
  • Murakami, Takashi "Summon Monsters? Open The Door? Heal? Or Die?"
  • Murakami, Takashi "Superflat"
  • Murakami, Takashi "Little Boy: The Arts of Japan's Exploding Subculture"
  • Cruz, Amanda/Friis-Hansen, Dana/Matsui, Midori "Takashi Murakami: The Meaning of the Nonsense of the Meaning"
  • Schimmel, Paul "©Murakami"
  • Le Bon, Laurent "Murakami Versailles"

Referensi

  1. ^ McKenzie, Josh (2023-04-02). "Graduation Album Cover: Story Behind The Artwork" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-07.
  2. ^ "Kaikai Kiki Co., Ltd. | General trading company of art". Kaikai Kiki Co., Ltd. (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  3. ^ "MURAKAMI Takashi (村上隆) | Dictionary of Artists in Japan (DAJ)". Art Platform Japan (APJ) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  4. ^ "Takashi Murakami". Lodown Magazine (dalam bahasa Inggris). 2015-12-04. Diakses tanggal 2025-12-07.
  5. ^ "Takashi Murakami Value: Top Prices Paid at Auction". MyArtBroker (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  6. ^ "(#9) Takashi Murakami". Sothebys.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  7. ^ "(#9) Takashi Murakami". Sothebys.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  8. ^ Reports, Rafu (2014-01-11). "Last Chance to View Masterworks". Rafu Shimpo (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-07.
  9. ^ "COMPANY". Kaikai Kiki Co., Ltd. (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  10. ^ "What is Superflat? A Guide to Takashi Murakami's Art Movement". Art and Design Gallery & Exhibitions in Miami, Florida (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  11. ^ "Little Boy: The Arts of Japan's Exploding Subculture, Curated by Takashi Murakami". Japan Society (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-07.
  12. ^ Newbold, Alice (2020-11-11). "This Was The Defining Fashion Collaboration Of The Noughties". British Vogue (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-12-07.
  13. ^ "The Story Behind the KIDS SEE GHOSTS Album Cover". avantarte.com (dalam bahasa Inggris). 2023-10-09. Diakses tanggal 2025-12-07.
  14. ^ lindacleary (2014-03-31). "Day Ninety- Takashi Murakami- Superflat". Day of the Artist (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  15. ^ lindacleary (2014-03-31). "Day Ninety- Takashi Murakami- Superflat". Day of the Artist (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  16. ^ VernissageTV (2009-06-11), Interview with Pharrell Williams at Art Basel 2009, diakses tanggal 2025-12-07
  17. ^ Akihabara Majokko Princess, diakses tanggal 2025-12-07
  18. ^ "Video of the Day: Kirsten Dunst Sings "Turning Japanese"". SCIFI.radio (dalam bahasa American English). 2017-04-13. Diakses tanggal 2025-12-07.
  19. ^ "{{ ($root.post && $root.post.id) ? $root.post.translations[$root.lang].socialTitle : $root.seo.pageTitle | translate | stripHtml }}". www.nowness.asia. Diakses tanggal 2025-12-07.
  20. ^ Creators (2014-05-13), Last Night, Good Night (Re:Dialed) - Pharrell Williams Remix, diakses tanggal 2025-12-07
  21. ^ "JELLYFISH EYES and Billionaire Boys Club Bring the Superf..." Complex (dalam bahasa Inggris). 2025-02-05. Diakses tanggal 2025-12-07.
  22. ^ "Takashi Murakami x Vault by Vans Classic Slip-On LX Collection". Hypebeast. 2015-06-16. Diakses tanggal 2025-12-07.
  23. ^ Roffino, Sara (2018-09-06). "Virgil Abloh and Takashi Murakami Are Changing the Conversation One Collaboration at a Time". Cultured Mag (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-07.
  24. ^ Acevedo, Angelica (2019-04-18). "Billie Eilish Debuts Bewitching Animated Video for 'You Should See Me in a Crown'". Billboard (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-07.
  25. ^ Salmson, Lo (2020-03-20). "J Balvin släpper merch designad av Takashi Murakami". Dopest (dalam bahasa Sami Utara). Diakses tanggal 2025-12-07.
  26. ^ "J Balvin Reveals Takashi Murakami-Designed Album Cover for 'Colores'". Highsnobiety (dalam bahasa Inggris). 2020-02-28. Diakses tanggal 2025-12-07.
  27. ^ "Supreme x Takashi Murakami Box Logo Tee Raised Over $1 Million for Charity". Highsnobiety (dalam bahasa Inggris). 2020-05-04. Diakses tanggal 2025-12-07.
  28. ^ "Lewis Hamilton & Takashi Murakami Are Collaborating". Highsnobiety (dalam bahasa Inggris). 2022-10-05. Diakses tanggal 2025-12-07.
  29. ^ "Release Details: NewJeans x Takashi Murakami Merch | SNKRDUNK Magazine". SNKRDUNK Magazine | Everything related to the Sneaker, Streetwear, TCG, Collectibles, and Street Culture (dalam bahasa Inggris). 2024-03-28. Diakses tanggal 2025-12-07.
  30. ^ "Watch Remix: The Finale Nov. 30 @ 2 PM ET!". Epic Games' Fortnite (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-07.
  31. ^ "Takashi Murakami x MLB Tokyo Series collection launches today". MLB.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-07.
  32. ^ "Dom Pérignon collaborates with Tilda Swinton and Zoë Kravitz for new project". Harper's BAZAAR (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2025-05-12. Diakses tanggal 2025-12-07.
  33. ^ "takashi murakami bio – Artaflo" (dalam bahasa Chinese (Hong Kong)). Diakses tanggal 2025-12-07.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement