Syekh Jambu Karang
Syekh Jambu Karang merupakan putra mahkota Raja Pajajaran yang mengembara hingga ke tlatah Tegal. Dia dalah putra mahkota Raja Pajajaran I. Nama mudanya adalah Raden Mundingwangi. Sebenarnya akan dinobatkan untuk menjadi pengganti ayahnya menjadi raja Pajajaran, tetapi beliau lebih suka mengembara sehingga tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya yang bernama Raden Mundingsari.
Perjalanan Syekh Jambu Karang
Syekh Jambu Karang atau Raden Mundingwangi bertapa di Gunung Jambudipa yang terletak di Kabupaten Banten, Jawa Barat. Setelah menjadi petapa kemudian terkenal dengan nama Jambu Karang dan tempat bertapanya dikenal dengan nama Gunung Karang. Pada suatu ketika saat beliau bertapa, beliau melihat tiga nur (cahaya) putih di sebelah timur dan sangat tinggi keberadaannya. Tempat cahaya itu berada di Gunung Panungkulan, Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol. Oleh karena itu beserta dengan 160 pengikutnya beliau menuju tempat cahaya tersebut. Dalam perjalanannya, Syakh Jambu Karang melalui Karawang atau Jatisari Sungai Comal dan bertingal cukup lama di sana dan sekarang ada petilasannya bernama petilasan Geseng Gunung Cupu. Perjalanan berlanjut menelusuri Sungai Kuripan Gunung Kraton dan ke selatan menuju Gunung Lawet Bojongsana dan ke selatan menelusuri Sungai Ideng, Kedung Budah, Kedung Manggis Penyindangan (sekarang Desa Rajawana) dan ke selatan sampailah di Gunung Panungkulan. Di tempat ini selanjutnya Pangeran Jambu Karang bertemu dengan Syekh Atas Angin yang memburu cahaya putih tersebut. Mereka berdua kemudian beradu kepandaian.[1]
Menjadi Murid Syekh Atas Angin
Pangeran Atas Angin memberi salam namun Pangeran Jambu karang tidak menjawabnya sebab waktu itu Pangeran Jambu karang memeluk agama Hindu. Merasa terganggu dengan kehadiran Pangeran Atas Angin, Pangeran Jambukarang sangat marah dan terjadilah adu kesaktian kedua Pangeran tersebut. Pangeran Jambukarang dapat dikalahkan oleh Pangeran Atas Angin sehingga Pangeran Jambukarang tunduk pada Pangeran Atas Angin dan masuk Islam bergelar Syekh jambu Karang. Beberapa persyaratan harus dipenuhi oleh Pangeran Jambu Karang agar dapat diterima oleh Pangeran Atas Angin atara lain : Mandi Taubat, memotong rambut dan memotong kukunya (sekarang ada di petilasan Gunung Lawet) Ketika Pangeran Jambukarang akan diberi Ilmu Kewalian, beliau meminta supaya bertempat di Gunung Kraton saja. Sampai saat ini masih ada petilasannya. Pada saat ilmu Kewalian diajarkan atau diwejang (dalam bahasa Jawa), semua gunung disekitar gunung Kraton tunduk kecuali satu yang berada di sebelah timurnya sehingga sampai sekarang dikenal dengan sebutan gunung Bengkeng atau gunung Membangkang. Sebagai ucapan terima kasih kepada Pangeran Atas Angin, beliau dinikahkan dengan putrinya Rubiyah Bekti. Untuk menyempurnakan ilmu ke Islamannya, beliau menunaikan haji ke Mekkah. Sepulang dari Mekkah beliau terkenal sebagai mubaligh Agung dan diberi gelar Haji Purwa/Haji Purba. Dari sejarah diatas tersebutlah nama Gunung Lawet atau Ardi Lawet yang banyak dikunjungi orang untuk berziarah, pada dasarnya adalah tempat mendekatkan diri Pangeran Syekh Jambukarang seperti halnya Rosulullah berkhalwat di Gua Hira. Nama gunung Lawet diambil dari kata Khalwat atau semadi atau dalam Islam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pangeran Syekh Jambukarang tinggal di gunung Cahyana selama 45 Tahun.[1]
Keturunan Syekh Atas Angin
Pangeran Atas Angin dengan Rubiyah Bekti berputra lima orang antara lain :
- Pangeran Makhdum Husen Kayupuring, dimakamkan di Rajawana kecamatan Karangmoncol Kabupaten Purbalingga
- Pangeran Makhdum Medem, dimakamkan di Cirebon
- Pangeran Makhdum Umar, dimakamkan di Pulau Karimun.
- Rubiyahraja, dimakamkan di Ragasela
- Rubiyah Sekar, dimakamkan di Jambangan kabupaten Banjarnegara.[1]
Kekeramatan Syekh Jambu Karang
Kekeramatan dan kesaktian Syekh Jambu Karang dengan ijin Allah SWT adalah: Pecinya dapat terbang keangkasa Menumpuk telur satu persatu kemudian mengambilnya satu persatu dari bawah namun tidak jatuh. Dapat membaca surat-surat Al Qur’an yang tidak bertulis Gunung-gunung tunduk saat beliau diwejang ilmu Kewalian Menggandeng air keudara tidak tumpah Asal-usul Nur atau Cahaya Dengan kodrat dan irodat Allah SWT maka muncullah Nur atau Cahaya digunung Panungkulan. Menurut riwayat, yang bisa menemukan Nur hanyalah Pangeran Jambukarang dan Pangeran Atas Angin yang sebenarnya adalah keturunan Rosulullah dari Sayidina Ali dengan Fatimah. Hal ini dapat kita cermati dari kutipan wasiat Pangeran Atas Angin kepada Pangeran Jambukarang yang berbunyi sebagai berikut : “Penget pengendikanipun susuhunan Atas Angin dumateng Ratu Jambukarang. Ingsun karso wirayat wirayatipun kanjeng Rosulullah SAW, pengendikanipun : anak putu Ingsun kabeh, lamon ing besuk ana cahya ing Nusa Jawa, sundul ing langit, putih rupane sira dikebat, ambedag, karena cahya tuwuh ing ardi Panungkulan, ya pusering Nusa Jawa. Iku metu angejawi cahya merdeka dewe, ya merdikaning Allah, ya susuhunan Ratu rupaneing besuk retno kumala inten jumamen” artinya : Wasiat susuhunan atas Angin kepada Ratu Jambukarang. Kami mempunyai wasiat dari Rosulullah SAW, bersabda : semua anak cucu kami apabila dikemudian hari muncul Nur tiga buah menjulang tinggi ke angkasa berwarna putih di Pulau Jawa, segeralah kamu mencari dan mendatangi Nur tersebut yang timbul digunung Panungkulan. Itulah Pusat Pulau Jawa, munculnya Nur itu dengan sendirinya, ya dengan ijin Allah SWT. ya sebagai Ratu sesembahan. Dikemudian hari akan menjadi pembawa cahaya penegak kebenaran (pembawa Agama Islam) Setelah Syekh Jambukarang wafat, perjuangannya diteruskan oleh keturunannya yakni Pangeran Makhdum Husen.[2]
Petilasan Syekh Jambu Karang
Petilasan atau makam Syech Jambukarang, berada di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Petilasan ini juga menjadi tempat wisata ziarah. Petilasan Ardilawet ini dikeramatkan oleh warga Purbalingga. Tak heran, masyarakat banyak yang mengunjungi untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mitos yang berkembang di masyarakat, berdoa di tempat ini akan cepat dikabulkan. Sejumlah masyarakat dari dalam dan luar kota Purbalingga banyak yang berkunjung dan berdoa untuk berbagai permohonan di perbukitan Ardilawet ini. Untuk mencapai lokasi petilasan Ardi Lawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, tetapi prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu ekitar 30-45 menit. Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah pick up ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardilawet. Konon petilasan Ardi Lawet merupakan makam Syech Jambu Karang.[3]
Refrensi
- ^ a b c ariadi, dwi (10 juli 2022). "kisah syekh jambu karang". AYO TEGAL .COM. Diakses tanggal 6NOVEMBER 2025.
- ^ YOUR-NAME. "SYEKH JAMBU KARANG". SEJARAH, CERITA, LEGENDA & MITOS (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-06.
- ^ "MADOSI JATENG - Directori & Listing Jawa Tengah". madosijateng.com. Diakses tanggal 2025-11-06.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


