Subang Larang

Subang Larang, Nyi Subang Larang atau Nyai Subang Larang dikenal sebagai selir dari Prabu Siliwangi yang menjadi penguasa Kerajaan Pajajaran. Subang Larang terkenal dengan kecantikannya dan dikenal sebagai satu-satunya istri Raja Pajajaran yang memeluk agama Islam.[1] Kisah mengenai Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) karya Pangeran Arya Cerbon yang dibuat pada tahun 1720. Menurut CPCN, Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum, beliau lahir tahun 1404 dari ayah yang bernama Ki Gedeng Tapa seorang syahbandar pelabuhan Muara Jati. Ki Gedeng Tapa masuk Islam setelah berguru pada Syech Quro.[2] Setelah masuk Islam Ki Gendeng Tapa menitipkan putrinya kepada Syech Quro untuk belajar Islam.

Di pesantren Syech Quro, Nyai Subang Larang belajar Islam terutama ilmu membaca Al-Quran. Di pesantren inilah Syech Quro memberikan gelar Subang Larang. Sejak saat itu dia dikenal dengan sebutan Nyi Subang Larang. Sekitar tahun 1420 Subang Larang Kembali ke Muara Jati.[2]

Pengaruhnya yang besar, membuat namanya digunakannya sebagai nama salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yakni Kabupaten Subang. Hal tersebut didasari pada folklor yang berkembang di masyarakat Subang tentang moralitas dan kecantikan diri yang terpancar dari diri Nyai Subang Larang sehingga namanya telah menjadi simbol serta kearifan lokal bagi masyarakat Sunda, khususnya masyarakat di wilayah Kabupaten Subang.[3]

Pernikahan dengan Prabu Siliwangi

Nyai Subang Larang memiliki pemahaman agama yang baik, sebagaimana tercatat pada Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang menceritakan tentang ketertarikan Prabu Siliwangi setelah mendengar keindahan suara dari lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Subang Larang. Kemampuannya ini telah terasah saat menimba ilmu di pesantren yang didirikan oleh Syeikh Quro di wilayah Tanjungpura, Karawang.[3]

Perkawinan antara Prabu Siliwangi dengan Subang Larang merupakan bentuk perilaku yang menjunjung tinggi toleransi bagi sistem pemerintahan yang diterapkan Pajajaran mengenai keberagaman umat beragama di dalamnya. Dimana Prabu Siliwangi adalah seorang Hindu sedangkan Subang Larang adalah seorang Muslim. Namun, pesona Subang Larang mampu meluluhkan hati Prabu Siliwangi yang meminta beliau untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.[3]

Kerajaan Pajajaran memang tidak melarang adanya agama baru di luar ajaran leluhur. Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang bijaksana dan menolerir agama apa saja boleh dipeluk penduduk Pajajaran. Sang Raja pun tidak pernah mengajak Subang Larang untuk pindah agama. Beliau membebaskan Subang Larang untuk memeluk dan menjalankan keyakinannya sendiri.[1]

Anak

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Subang Larang, mereka dikarunai tiga anak yaitu, Walangsungsang, Rara Santang, dan Raja Sangara atau Kian Santang.[4] Meski diasuh tidak sampai usia dewasa karena Subang Larang wafat dalam usia yang relatif muda, namun pembinaan dan kasih sayang yang ditanamkan Subang Larang sejak dini telah terpatri secara mendalam dalam jiwa anak-anaknya.[2] Dalam mendidik anak-anaknya, Subang Larang mengikuti pendidikan Islami yang selalu menekankan pada pendidikan moral keagamaan. Moral sangat penting dalam pendidikan Islam, karena merupakan dasar dalam memperkuat keimanan seseorang. Sesuatu yang berkaitan dengan masalah Ketuhanan.[3]

Setelah Subang Larang meninggal perjuangan menyebarkan dan mengajarkan Islam diteruskan oleh putra-putrinya. Ketiga anaknya inilah yang kemudian memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat sehingga mengubah Jawa Bagian Barat menjadi daerah penyebaran Islam.

Referensi

  1. ^ a b Annisa, Mamay Ayu (2015). "NILAI KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT SUBANG LARARANG". Riksa Bahasa. 1 (1): 93–100. doi:https://doi.org/10.17509/rb.v1i1.8704.g5407. ; ;
  2. ^ a b c swararahima (2020-03-03). "Nyi Subang Larang, Menyebarkan Islam di Wilayah Pajajaran". Swara Rahima. Diakses tanggal 2026-02-07.
  3. ^ a b c d Pranata, Galih & Indah Rahmawati Akbar (2022). "TINJAUAN HISTORIS: TOPONIMI NAMA KABUPATEN SUBANG". TARIKHUNA: JOURNAL OF HISTORY AND HISTORY EDUCATION. 4 (2): 104–113. doi:https://doi.org/10.15548/thje.v4i2.4809. ; ;
  4. ^ "Nyi Subang larang dan Prabu Siliwangi » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-02-08.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement