Stasiun Cisurupan
Stasiun Cisurupan
| ||
|---|---|---|
Tampak depan Stasiun Cisurupan pada 2025 | ||
| Lokasi |
| |
| Koordinat | 7°18′54″S 107°47′33″E / 7.31500°S 107.79250°E | |
| Ketinggian | +1.216 m[1] | |
| Operator | ||
| Letak | ||
| Layanan | - | |
| Konstruksi | ||
| Jenis struktur | Atas tanah | |
| Informasi lain | ||
| Kode stasiun |
| |
| Klasifikasi | III/kecil[3] | |
| Sejarah | ||
| Dibuka | 1 Agustus 1930 | |
| Ditutup | 1982 | |
Situs Stasiun Cisurupan | ||
| Peringkat | Kabupaten/Kota | |
| Kategori | Bangunan | |
| No. SK | Keputusan Bupati Garut Nomor 827 Tahun 2024 | |
| Pemilik | PT Kereta Api Indonesia (Persero) | |
| Nama sebagaimana tercantum dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya | ||
| Lokasi pada peta | ||
![]() | ||
Stasiun Cisurupan (CSN) merupakan stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Cisurupan, Cisurupan, Garut. Stasiun yang terletak pada ketinggian +1.216 meter ini termasuk dalam Wilayah Penjagaan Aset II Bandung.
Sejarah
Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan lintas Garut–Cikajang, sebagai hasil dari percobaan jalur kereta api ekstrem lintas pegunungan serta menjaring pusat perekonomian ketiga di Garut, yaitu daerah Cikajang. Jalur ini dibuka pada tanggal 1 Agustus 1930.[4]
Pada saat Kota Bandung masih dalam kondisi perang, Kepala Djawatan Kereta Api Republik Indonesia, Ir. Djuanda Kartawidjaja, beserta keluarganya, pernah memindahkan sementara kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) ke stasiun ini. Bahkan hingga mengoperasikan kereta khusus dengan relasi Cisurupan–Yogyakarta. Pernah diadakan rapat konsolidasi untuk menginventarisasi aset-aset perkeretaapian yang belum terdata.[5]
Saat masih aktif hingga tahun 1980-an, stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh pengguna jasa angkutan yang hendak bepergian dengan kereta api. Stasiun ini juga menjadi pemberhentian bagi pendaki Gunung Papandayan, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan jasa "kuli" dari Grand Hotel Cisurupan.[6] Spot di jalur ini sebenarnya sangat indah, sehingga menarik perhatian para railfans dari luar negeri untuk menyaksikan aksi lokomotif uap di jalur ini.
Stasiun dan jalur ini akhirnya ditutup pada tahun 1982 karena menurunnya jumlah penumpang dan biaya operasional yang semakin mahal.[7] Bangunan stasiun ini telah terhimpit permukiman penduduk, meskipun sering terdengar wacana reaktivasi.[8] Per 2024, bangunan stasiun ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Referensi
- ^ Perusahaan Jawatan Kereta Api, Grafik Perjalanan Kereta Api 1982
- ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).
- ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020.
- ^ Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
- ^ 1938-, Rosidi, Ajip,; (Firm), Pustaka Jaya (2000). Ensiklopedi Sunda : alam, manusia, dan budaya, termasuk budaya Cirebon dan Betawi (Edisi Cet. 1). [Jakarta]: Pustaka Jaya. ISBN 9794192597. OCLC 45463431. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ^ Stehn, Ch E. (1930). Gids voor bergtochten op Java (dalam bahasa Nederlands). [Nederlandsch-Indische Vereeniging voor Bergsport. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Hermawan, Iwan (2022-12-31). "Jalur Garut - Cikajang: Pengembangan Perkeretaapian di Selatan Jawa Barat Masa Kolonial". PANALUNGTIK. 5 (1): 34–45. doi:10.55981/panalungtik.2022.56. ISSN 2621-928X.
- ^ Purnama, Feri (30 Oktober 2019). "Reaktivasi jalur Stasiun Garut-Cikajang masuk tahap dua". Antaranews.
| Stasiun sebelumnya | Stasiun berikutnya | |||
|---|---|---|---|---|
| Cipelah menuju Cibatu
|
Cibatu–Cikajang | Cisero menuju Cikajang
| ||
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.







