Stagnasi udara
Stagnasi udara adalah kondisi meteorologis ketika massa udara bertahan di wilayah yang sama selama beberapa hari, sehingga membatasi pergerakan atmosfer dan menyebabkan polutan menumpuk di lapisan udara.[1] Kondisi ini ditandai dengan angin yang lemah dan kurangnya presipitasi, sehingga udara tidak dapat membersihkan akumulasi asap, debu, gas, maupun polusi industri lain. Polutan berupa gas (misalnya ozon) maupun partikel (misalnya debu halus dan jelaga) tidak tersapu dari atmosfer, menyebabkan penurunan kualitas udara serta peningkatan risiko kesehatan bagi manusia dan lingkungan.[2][3]
Penyebab
Peristiwa stagnasi udara terjadi di bawah pengaruh sistem tekanan tinggi yang hangat, ketika atmosfer berada dalam kondisi stabil dan tidak terdapat pergerakan udara baik secara vertikal maupun horizontal,[4] Udara tidak memiliki kemampuan untuk menghilangkan polutan secara alami, membatasi dispersi horizontal dan pergerakan vertikal polutan keluar dari atmosfer.[5]
Pada keadaan tersebut, polutan cenderung terakumulasi di dekat permukaan, termasuk ozon permukaan tanah (O₃) dan partikel halus (PM₂.₅) yang berasal dari aktivitas manusia seperti pembangkit listrik, kilang minyak, serta sumber emisi industri lain.[6] Terbatasnya dispersi dan pencampuran atmosfer menyebabkan konsentrasi polutan meningkat dan dapat bertahan selama beberapa hari.[7] Menurut National Climatic Data Center, ciri utama stagnasi udara meliputi kelemahan angin di lapisan permukaan maupun lapisan atas serta ketiadaan presipitasi. Kondisi meteorologis ini menunjukkan adanya keterkaitan antara pola sirkulasi atmosfer, presipitasi, dan terjadinya stagnasi udara.[8]
Dampak
Stagnasi udara menjadi permasalahan di kawasan perkotaan yang memiliki tingkat emisi tinggi, karena jumlah partikel dan polutan yang diproduksi setiap hari dapat memperpanjang durasi stagnansi yang terjadi. Konsentrasi polutan di kota cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah pedesaan akibat aktivitas transportasi, industri, dan penggunaan energi. Selain itu, fenomena pulau bahang perkotaan memperburuk kondisi dengan meningkatkan suhu lokal, yang menghambat sirkulasi udara dan menekan kemampuan atmosfer untuk mendispersi polutan.[9][10]
Variasi meteorologis juga memengaruhi lamanya stagnasi udara. Ketiadaan presipitasi mengurangi pembersihan alami atmosfer, sehingga polutan tetap bertahan dalam jangka waktu lebih lama. Dalam kondisi tanpa hujan, pencampuran atmosfer berkurang dan partikel terus terakumulasi di lapisan udara dekat permukaan. Dampak gabungan dari emisi perkotaan, pulau bahang perkotaan, serta faktor cuaca ini menjadikan kawasan metropolitan lebih rentan terhadap kejadian stagnasi udara dan penurunan kualitas udara.[11]
Referensi
- ^ "NOAA's National Weather Service - Glossary". forecast.weather.gov. Diakses tanggal 2025-09-29.
- ^ Fiore, Arlene M.; Naik, Vaishali; Leibensperger, Eric M. (2015-06-03). "Air Quality and Climate Connections". Journal of the Air & Waste Management Association. 65 (6): 645–685. doi:10.1080/10962247.2015.1040526. ISSN 1096-2247. PMID 25976481.
- ^ Li, Zhiqiang; Zhou, Yulun; Wan, Bingcheng; Chen, Qinxin; Huang, Bo; Cui, Yuanzheng; Chung, Hopun (2019-05-10). "The impact of urbanization on air stagnation: Shenzhen as case study". Science of The Total Environment. 664: 347–362. doi:10.1016/j.scitotenv.2019.01.232. ISSN 0048-9697.
- ^ Wang, Julian X. L.; Angell, James K. (1999). "Air Stagnation Climatology for the United States (1948-1998)". repository.library.noaa.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-29.
- ^ Horton, Daniel E.; Harshvardhan, null; Diffenbaugh, Noah S. (2012). "Response of air stagnation frequency to anthropogenically enhanced radiative forcing". Environmental research letters: ERL [Web site]. 7 (4): 044034. doi:10.1088/1748-9326/7/4/044034. ISSN 1748-9326. PMC 3532903. PMID 23284587.
- ^ Litian, Xu,; Bo, Wang,; Ying, Wang,; Huipeng, Zhang,; Danni, Xu,; Yibing, Zhao,; Kaihui, Zhao, (2025/2). "Characterization and Source Apportionment Analysis of PM2.5 and Ozone Pollution over Fenwei Plain, China: Insights from PM2.5 Component and VOC Observations". Toxics (dalam bahasa Inggris). 13 (2). doi:10.3390/toxic. ISSN 2305-6304. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ^ Wylie, Heather (2021-06-06). "Atmospheric Dispersion and Pollution Transport - Air Quality Portal" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-29.
- ^ Woolfolk, S. L. (2016). Air mass frequency, trends, and stagnation in the Southern Appalachian region of the U.S.A., 1965–2014 (Master’s thesis, University of Tennessee). TRACE: Tennessee Research and Creative Exchange. https://trace.tennessee.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=5086&context=utk_gradthes
- ^ "Summer Air: Hot, Stagnant, Polluted | Climate Central". www.climatecentral.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-29.
- ^ Van Tol, Zachary; Ellis, Andrew (2023-01-01). "Analysis of urban Heat Island intensity through air mass persistence: A case study of four United States cities". Urban Climate. 47: 101345. doi:10.1016/j.uclim.2022.101345. ISSN 2212-0955.
- ^ Garrido-Perez, Jose M.; Ordóñez, Carlos; García-Herrera, Ricardo; Barriopedro, David (2018-12-15). "Air stagnation in Europe: Spatiotemporal variability and impact on air quality". Science of The Total Environment. 645: 1238–1252. doi:10.1016/j.scitotenv.2018.07.238. ISSN 0048-9697.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


