Srimpi Ludiramadu

Srimpi Ludiramadu

Srimpi Ludiramadu merupakan tari klasik gaya Surakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sunan Paku Buwana IV, sekitar tahun 1790 hingga 1820 Masehi. Pada mulanya, tarian ini dikenal dengan nama Srimpi Sangupati. Namun, pada masa pemerintahan Sri Sunan Paku Buwana V (putra dari Paku Buwana IV) nama tarian tersebut diubah menjadi Srimpi Ludiramadu. Penciptaan tarian ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap garis keturunan Madura serta sebagai simbol penghargaan dan bakti kepada orang tua. Sebagaimana karya-karya tari Srimpi lainnya, Srimpi Ludiramadu juga mencerminkan nilai-nilai estetika, etika, dan filosofi dalam tradisi kesenian Keraton Surakarta. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Tari Srimpi Ludiramadu sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Sejarah

Tari Srimpi Ludiramadu diciptakan oleh Kanjeng Adipati Anom Hamengkunagara III sebelum naik takhta sebagai Sri Susuhunan Pakubuwana V. Tari ini merupakan tari srimpi pertama yang lahir di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Proses penciptaannya diawali dengan penyusunan gending (komposisi musik tradisional) berjudul Ludiramadu, yang kemudian menjadi pengiring utama dalam pementasan tarinya.[1] Latar belakang penciptaan Tari Srimpi Ludiramadu berkaitan erat dengan peristiwa pribadi dalam kehidupan Kanjeng Adipati Anom. Perselisihan yang terjadi antara kedua orang tuanya, yakni Sri Susuhunan Pakubuwana IV dan Kanjeng Ratu Anom, berujung pada perceraian. Setelah perceraian tersebut, ibunda Kanjeng Adipati Anom dikembalikan ke kampung halamannya di Pulau Madura dengan menggunakan perahu.[2]

Peristiwa tersebut meninggalkan kesan emosional yang mendalam bagi Kanjeng Adipati Anom, yang kemudian dituangkan dalam bentuk gerak tari. Salah satu bagian tari, yakni beksan mijil, menggambarkan suasana batin dan perahu yang terombang-ambing di tengah lautan sebagai simbol perpisahan.[3] Pada mulanya, tarian ini diberi nama Tari Srimpi Ludiramadura. Kata ludira berarti darah, sedangkan Madura merujuk pada asal-usul sang ibu, yang merupakan putri dari Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan di Pulau Madura. Penamaan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan dan kenangan terhadap sang ibu. Seiring waktu, nama tarian ini mengalami perubahan menjadi Tari Srimpi Ludiramadu, yang lebih dikenal hingga kini.[3]

Pementasan

Dalam Srimpi Ludiramadu, penari yang diperbolehkan membawakan tari ini adalah perempuan yang belum menikah, tidak sedang mengalami menstruasi, dan masih menjaga keperawanannya, baik saat latihan maupun dalam pementasan. Ketentuan ini berkaitan erat dengan konsep kesucian dan spiritualitas dalam seni pertunjukan tradisional Jawa. Jumlah empat penari dalam Tari Srimpi Ludiramadu memiliki makna simbolis dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Angka empat merujuk pada konsep papat kiblat atau empat arah mata angin yang mengelilingi kehidupan manusia. Sementara itu, pancer merujuk pada pusat, yakni manusia itu sendiri. Konsep ini dikenal sebagai "kiblat papat lima pancer", yang mencerminkan keseimbangan kosmis antara manusia dan alam semesta dalam filosofi Jawa.[1]

Referensi

  1. ^ a b Sawitri (2012). "Perubahan Bentuk, Fungsi, Dan Makna Tari Srimpi Ludiramadu". UNS (Sebelas Maret University).
  2. ^ Umam. "Sejarah Asal Tari Serimpi: Perlawanan Terhadap Penjajah". Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ^ a b Widyaningsih, Dwi Meri (2017-07-27). "Tari Tradisi " Srimpi Ludiramadu "". repository.isi-ska.ac.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-17.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement