Srimpi Dhempel

Srimpi Dhempel merupakan salah satu repertoar tarian pusaka atau Beksan Srimpi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta yang sejarahnya dapat ditelusuri kembali setidaknya hingga masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855–1877). Pada periode awal penciptaannya, tarian ini berpijak pada narasi epik yang bersumber dari Serat Menak, yang mengisahkan petualangan pahlawan Islam, Amir Hamzah. Namun, dalam perkembangannya, tarian Srimpi Dhempel juga dipentaskan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877–1921) dengan mengadopsi sumber cerita yang berbeda. Pada era Sultan HB VII, lakon tarian ini mengambil inspirasi dari siklus cerita Wayang Gedhog, yang berpusat pada kisah Panji dan Candra Kirana.[1]
Sejarah
Srimpi Dhempel memiliki jejak sejarah panjang di Keraton Yogyakarta, dimulai sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877). Pada periode awal ini, tari Srimpi Dhempel berpijak pada narasi yang bersumber dari epik Serat Menak. Namun, dalam perkembangannya, tari ini juga dipentaskan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), tetapi dengan basis cerita yang berbeda, yakni mengambil lakon dari Wayang Gedhog. Variabilitas ini menjadi ciri khas tradisi tari keraton, di mana satu nama tari dapat memiliki pijakan cerita yang beragam. Srimpi Dhempel kembali muncul pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939), kali ini kembali menggunakan sumber cerita dari Serat Menak. Bukti historis mengenai evolusi lakon ini didukung oleh dokumen otentik, di antaranya adalah naskah B/S 24 koleksi Perpustakaan Kawedanan Kridhamardawa Keraton Yogyakarta, yang di dalamnya memuat kandha (narasi) spesifik untuk Srimpi Dhempel.[2]
Tarian ini mengangkat fragmen dari kisah Menak, berfokus pada pertarungan dua prajurit putri: Dewi Joharinsiyah dari Negeri Koparman dan Dewi Resmikin dari Negeri Ngambarkustub. Konflik ini bermula dari provokasi Raja Sashimik dari Ngambarkustub, seorang raja yang dikenal gemar menyerang kerajaan lain, yang kemudian menantang Negeri Koparman. Pertarungan antara Dewi Joharinsiyah dan Dewi Resmikin dalam tarian ini menginterpretasikan representasi fisik dari perlawanan dan upaya penaklukan satu sama lain.[1]
Dokumentasi penting mengenai Srimpi Dhempel tersimpan di Perpustakaan Kawedanan Kridhamardawa dalam bentuk naskah-naskah kuno, meliputi:
- Serat Kandha Bedhaya utawi Srimpi (kode B/S 17 dan B/S 24) yang memuat narasi (kandha) tari.
- Serat Pasindhen Bedhaya utawi Srimpi (kode B/S 19) yang berisi teks vokal pengiring (sindhenan).
Tarian pusaka ini sempat vakum dari pementasan publik selama lebih dari tiga puluh lima tahun. Pementasan terakhir sebelum direvitalisasi adalah pada Jumat, 19 Desember 1986, dalam rangka penyajian kelas koreografi tari Jawa di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Srimpi Dhempel kemudian berhasil dipentaskan kembali dan diperkenalkan kepada publik pada acara Uyon-Uyon Hadiluhung edisi 15 Agustus 2022.[3]
Busana
Busana tari yang didokumentasikan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung edisi 15 Agustus 2022 meliputi rompi bludru berwarna hijau, sondher cindhe, dan nyamping bermotif parang barong alit byur yang dikenakan dengan pola seredan. Kelengkapan kepala terdiri atas sanggul gelung sinyong, dihiasi jamang dan bulu kasuari berwarna jingga, serta dilengkapi ornamen jebehan, jungkat, cundhuk mentul, sumping ron, godheg, dan subang. Aksesori penunjang busana mencakup kalung sungsun tiga tingkat, kelat bahu, slepe, dan gelang, dengan riasan wajah bercorak jahitan. Sementara itu, properti penting yang digunakan dalam pementasan Srimpi Dhempel adalah pistol, yang diselipkan pada sondher masing-masing penari dan digunakan sebagai senjata dalam narasi peperangan antara Dewi Joharinsiyah dan Dewi Resmikin. Penggunaan pistol ini secara spesifik menunjukkan integrasi pengaruh budaya Eropa dalam konteks seni tari Keraton Yogyakarta.[1]
Referensi
- ^ a b c crew, kraton. "Srimpi Dhempel". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13.
- ^ Yunaeni, Intan Arvin (2014). "Istilah-Istilah Gerak Tari Srimpi Dhempel Di Keraton Kasunanan Surakarta (Kajian Etnolinguistik)".
- ^ admin (2023-01-04). "SRIMPI DHEMPEL". Penelitian Pariwisata. Diakses tanggal 2025-11-18.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


