Soong bersaudari

Foto tiga Soong bersaudari, Soong Ai-ling (kiri), Soong Ching-ling (tengah), Soong May-ling (kanan)

Soong Bersaudari (Tionghoa Tradisional: 宋家姐妹, pinyin: Sòngjiā Jiěmèi, atau 宋氏三姐妹) adalah tiga wanita Tiongkok Hakka, yang bersama dengan suami-suami mereka, menjadi figur politik di Tiongkok yang paling signifikan pada awal abad ke-20. Mereka memainkan peran utama dalam memengaruhi suami-suami mereka, yang bersama dengan posisi kekuasaan mereka sendiri, mengubah sejarah Tiongkok.

Ayah mereka adalah pendeta Methodis didikan Amerika Charlie Soong, yang memperoleh kekayaan dalam bidang perbankan dan percetakan. Ibu mereka adalah Ni Kwei-tseng (倪桂珍 Ní Guìzhēn), yang merupakan keturunan matematikawan Dinasti Ming dan Yesuit Xu Guangqi.[1] Seluruh tiga bersaudari tersebut menempuh pendidikan di Wesleyan College di Macon, Georgia, Amerika Serikat.[2] Namun, Mei-ling meninggalkan Wesleyan College dan akhirnya berhasil lulus dari Wellesley College di Wellesley, Massachusetts. Tiga saudara mereka adalah pejabat berpangkat tinggi dalam pemerintahan Republik Tiongkok, salah satu di antaranya adalah T. V. Soong.

Sejarah

Pernikahan

Setelah tamat kuliah, Ai-ling pergi ke Shanghai pada 1908 dan menjadi sekretaris untuk Sun Yat-sen.[3] Sun terpesona melihat Ai-ling namun Ai-ling tidak mengembalikan perasaannya.[4] Ching-ling tamat dari Universitas Wesleyan pada 1913 dan kembali ke Tiongkok melalui Yokohama, Jepang ketika ia bertemu dengan Sun.[5] Ai-ling mengundurkan diri dari Sun dan menikahi H.H. Kung, dan Ching-ling menjadi sekretaris Sun.[3] Ching-ling lebih terpesona dengan Sun, mengaguminya sebagai seorang pahlawan yang mendirikan negara republik di Tiongkok.[6] Pada musim panas 1915, Ching-ling kembali ke Shanghai dan meminta izin dan doa restu dari keluarganya untuk menikahi Sun, membuat keluarganya terkejut.[7] Ching-ling kemudian ditahan di rumahnya sementara Sun sedang melakukan proses perceraian dengan Lu Muzhen.[8]

Walaupun ayahnya menolak,[9] Ching-ling menikahi Sun Yat-sen pada 25 Oktober 1915.[10] Mereka menikah di sebuah upacara yang kecil di Tokyo. Turut hadir di pernikahannya adalah Wada Mizu yang menyediakan rumahnya sebagai tempat resepsi, serta Liao Zhongkai dan putrinya, Cynthia yang berumur 11 tahun.[8] Keluarga Soong bahkan mengejar Ching-ling ke Tokyo untuk menghentikan pernikahan tersebut, bahkan meminta pemerintah Jepang untuk menangkap Sun. Ditambah lagi, banyak kolega Sun tidak tahu bahwa Ching-ling adalah istrinya karena banyak memanggilnya sebagai Nona Soong, bukan Nyonya Sun.[11]

Di kunjungan menuju kediaman Sun di Shanghai, Chiang Kai-shek bertemu dengan Soong May-ling untuk pertama kalinya dan ia terjatuh cinta terhadapnya. Saat itu juga, Chiang menceraikan istrinya di Ningbo dan meminta saran Sun mengenai menikahi Soong May-ling. Sun, merasa bingung, meminta bantuan kepada Ching-ling dimana Ching-ling menyarankan kepada Sun untuk memberitahu Chiang untuk tidak menikahi May-ling dengan nada protes. Sun kemudian menyarankan Chiang untuk tunggu dan Chiang dengan taat menunggu.[12] Pada 1927, Chiang yang akan membantai simpatisan Partai Komunis Tiongkok menikahi May-ling.[13] Ching-ling, melihat tindakan Chiang, protes dan meninggalkan Tiongkok setelah Chiang mengusur komunis.[14]

Separasi dan meninggal

Pada tahun 1944, Ai-ling meninggalkan Tiongkok menuju Brasil untuk menerima perawatan medis dan kemudian menetap di Amerika Serikat pada tahun 1946. Pada November 1948, Mei-ling pergi ke Amerika Serikat untuk mencari dukungan bagi suaminya, Chiang Kai-shek, dan Kuomintang. Pada Mei 1949, ia menulis surat kepada Ching-ling, menanyakan apakah ada sesuatu yang dapat ia lakukan untuk saudara perempuannya di Tiongkok. Surat ini menandai komunikasi terakhir antara Mei-ling dan Ching-ling. Setelah kekalahan Kuomintang dalam Perang Saudara Tiongkok, Mei-ling tiba di Taipei, Taiwan, pada tahun 1950, sementara Ching-ling tetap di daratan Tiongkok dan bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Komunis. Pada tahun 1957, Ching-ling menulis surat kepada Ai-ling, memintanya untuk kembali ke Tiongkok.[15]

Pada tahun 1969, Ai-ling dan Mei-ling menghadiri pemakaman saudara mereka, T. A. Soong, di San Francisco, tetapi Ching-ling tidak hadir. Pada tahun 1971, T. V. Soong meninggal di San Francisco, dan pemakamannya dijadwalkan akan berlangsung di New York. Mei-ling terbang dari Taiwan ke Hawaii untuk singgah, di mana Chiang Kai-shek mendesaknya untuk membatalkan perjalanannya. Ia kemudian mengetahui bahwa pemerintah Komunis Tiongkok telah memberi tahu pemerintah AS tentang niat Ching-ling untuk menghadiri pemakaman di New York. Akibatnya, Mei-ling dan Ai-ling sama-sama membatalkan perjalanan mereka, dan tidak satu pun dari kedua saudari itu menghadiri pemakaman saudara mereka. Ai-ling meninggal di New York pada tahun 1973. Ching-ling telah merencanakan untuk bertemu kembali dengan Mei-ling di Jepang sebelum kematiannya, yang tidak pernah terjadi.[15]

Pada 1981, Ching-ling sakit kronis. Pembantunya mengirimkan sebuah telegram ke May-ling atas nama Ching-ling, mengharapkan reuni. May-ling menyarankan agar Ching-ling dibawa ke New York dimana ia tinggal,[15] karena mengadakan reunian di Beijing akan menyakiti karir politik putra angkatnya, Presiden Taiwan Chiang Ching-kuo. Xinhua meliputkan bahwa saat Soong Ching-ling meninggal dan disemayamkan, upacara kematiannya dihadiri oleh sebagian keluarga Soong kecuali May-ling.[16] Tiongkok kemudian mengundang May-ling untuk menghadiri upacara kematian Ching-ling,[17] namun May-ling memberitahu Ching-kuo bahwa ia tidak akan hadir.[15] Deng Xiaoping saat upacara kematian Ching-ling menyatakan bahwa Ching-ling mewasiatkan harapan bahwa Tiongkok dan Taiwan dapat reuni kembali dibawah satu atap pada kemudian hari.[18]

Keluarga

Tiga Bersaudari

Nama Inggris Nama Tionghoa Deskripsi
Soong Ai-ling Tionghoa Sederhana: 宋蔼龄
Tionghoa Tradisional: 宋藹齡
Pinyin: Sòng Ǎilíng
Saudari tertua (1890–1973). Ia menikah dengan pria terkaya yang pernah menjabat sebagai Menteri Industri,[19] Menteri Keuangan,[20][21] Gubernur Bank Sentral, Perdana Menteri dan Wakil Perdana Menteri pada masa Republik Tiongkok, H. H. Kung.
Soong Ching-ling Tionghoa Sederhana: 宋庆龄
Tionghoa Tradisional: 宋慶齡
Pinyin: Sòng Qìnglíng
Saudari tengah (1893–1981). Ia menikah dengan Sun Yat-sen, Bapak Tiongkok Modern dan Presiden Republik Tiongkok pertama, di Jepang pada 25 Oktober 1915. Hubungannya dengan keluarganya kemudian retak dan Ching-ling mendukung Komunis, sehingga ia tetap berada di Tiongkok Daratan setelah Komunis berkuasa. Ia menjadi Presiden Republik Rakyat Tiongkok bersama dengan Dong Biwu dari tahun 1968 sampai 1972 dan Presiden Kehormatan pada tahun 1981, tepat sebelum kematiannya.
Soong May-ling Tionghoa Sederhana: 宋美龄
Tionghoa Tradisional: 宋美齡
Pinyin: Sòng Měilíng
Saudari termuda (1898–2003). Ia adalah pemimpin politik berpengaruh berkat kemampuannya sendiri, istri dan mitra kekuatan Chiang Kai-shek, Pemimpin Kuomintang (KMT), Ketua Komandan Tentara Tiongkok dan kemudian menjadi Presiden Republik Tiongkok serta Taiwan.

Pernikahan dan motivasi mereka dikatakan oleh Maois "Satu mencintai uang, satu mencintai kekuasaan, satu mencintai negaranya" (Hanzi: 一個愛錢、一個愛權、一個愛國; Pinyin: Yīgè ài qián, yīgè ài quán, yīgè àiguó) yang mengacu kepada Ai-ling, May-ling, dan Ching-ling.[22]

Suami

Nama Istri Kehidupan Deskripsi
Lahir Meninggal
H.H. Kung Soong Ai-ling 11 September 1880 16 Agustus1967 Pembisnis, politikus dan bankir Tiongkok terkemuka dan seorang keturunan Konghucu. Kung menikahi Soong Ai-ling. Ia merupakan Menteri Industri, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Sentral dan Wakil Perdana Menteri dibawah Chiang Kai-shek.
Sun Yat-sen Soong Ching-ling 12 November 1866 12 Maret 1925 Pemimpin revolusioner dan negarawan. Ia dijuluki Bapak Bangsa Tiongkok Moderen. Ia memainkan peran penting dalam menjatuhkan Dinasti Qing dan mendirikan Republik Tiongkok pada 1912. Sun juga mendirikan Kuomintang dan mencetuskan ideologi Tiga Prinsip Rakyat.
Chiang Kai-shek Soong May-ling 31 Oktober 1887 5 April 1975 Pemimpin militer dan politik Tiongkok yang memimpin Kuomintang dan pemerintahan Nasionalis pada awal abad ke-20. Setelah kematian Sun Yat-sen pada tahun 1925, ia memimpin Tiongkok selama Perang Sino-Jepang Kedua. Setelah Perang Dunia II, pemerintahan Chiang berkonflik dengan Partai Komunis Tiongkok, yang menyebabkan Perang Saudara Tiongkok. Setelah kekalahan, ia mundur ke Taiwan pada tahun 1949, di mana ia terus mengklaim legitimasi sebagai pemimpin Tiongkok, memberlakukan darurat militer dan mempertahankan rezim otoriter hingga kematiannya pada tahun 1975.

Material Kebudayaan

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Catholic Dictionary entry for Xu Guangqi". Diakses tanggal 11 September 2010.
  2. ^ "The Soong Sisters". History of the College. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-09-27. Diakses tanggal 3 October 2011.
  3. ^ a b Brannon, Barbara A. (1997). "China's Soong Sisters at Wesleyan". Wesleyan Magazine.
  4. ^ Zhang 2019, hlm. 53-54.
  5. ^ China Soong Ching Ling Foundation. "Part 2: Dr Sun Yat-sen, Madam Soong Ching-ling and Hong Kong". “Dr Sun Yat-sen, Madam Soong Ching-ling and Hong Kong” Photos Exhibition (dalam bahasa American English). Hong Kong: Hong Kong Rosamond Foundation Company Limited. Diakses tanggal 2024-11-23.
  6. ^ Zhang 2019, hlm. 66.
  7. ^ Zhang 2019, hlm. 68.
  8. ^ a b Zhang 2019, hlm. 69.
  9. ^ Brannon, Barbara A. (1997). "China's Soong Sisters at Wesleyan". Wesleyan Magazine.
  10. ^ China Soong Ching Ling Foundation. "Part 2: Dr Sun Yat-sen, Madam Soong Ching-ling and Hong Kong". “Dr Sun Yat-sen, Madam Soong Ching-ling and Hong Kong” Photos Exhibition (dalam bahasa American English). Hong Kong: Hong Kong Rosamond Foundation Company Limited. Diakses tanggal 2024-11-23.
  11. ^ Zhang 2019, hlm. 70.
  12. ^ Hahn 1941, hlm. 105.
  13. ^ "The Soong sisters: Women of influence in 20th Century China". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2012-10-11. Diakses tanggal 2024-11-23.
  14. ^ Zhu, Jiulin (2009). "Study on Soong Ching Ling and Deng Yanda after the Great Revolution". Dalam Shanghai Sun Yat-sen Soong Ching-ling Cultural Relics Management Committee (ed.). Sun Yat-sen & Soong Ching Ling: Archives & Research (PDF) (dalam bahasa Tionghoa). Vol. 1. Shanghai: Shanghai Bookstore Publishing House.
  15. ^ a b c d "宋庆龄晚年思念宋美龄:不断假设其回国接待程序-中新网". www.chinanews.com.cn. Diakses tanggal 2024-11-23.
  16. ^ "Soong Ching Ling, honorary president of China and the... - UPI Archives". UPI (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-11-24.
  17. ^ The Associated Press (1981-05-30). "Soong Ching-ling dies in Peking; Widow of Sun Yat-sen was 90". New York Times.
  18. ^ Sterba, James P. (June 4, 1981). "Soong Ching-Ling is eulogized by Deng". New York Times.
  19. ^ "Foreign News: Chiang's Cabinet" TIME Magazine
  20. ^ "U.S. At War: The Mission of Daddy Kung" TIME Magazine
  21. ^ "CHINA: Thirteen Billion Blessings" TIME Magazine
  22. ^ Sandy Donovan, "Madame Chiang Kai-Shek: Face of Modern China", Compass Point Books, 2007

Daftar pustaka

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement