Situs Selogending

Situs Selogending
Agama
AfiliasiHindu Tengger
ProvinsiProvinsi Jawa Timur
Lokasi
SektorDesa Kandangan

Situs Selogending adalah situs peninggalan masa lalu yang memiliki karakter pemujaan berbentuk punden berundak dan mempunyai pusat pemujaan berbentuk batu menhir. Situs ini terletak di Desa Kandangan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Sebagai sebuah situs pemujaan, Situs Selogending memiliki areal peribadatan seluas kurang lebih lima hektar. Paling tidak ada lima batu menhir yang dikeramatkan yaitu : Watu Selogending, Watu Wadung Prabu, Watu Mbah Pikulun, Watu Tejo Kusumo dan Watu Tejo Gedang.

Sejarah

Sejarah situs ini berawal dari keberadaan seorang tokoh era Majapahit yang menjabat sebagai seorang ahli hukum beragama Buddha yang bernama Dang Acaryya Jinendra. Dang Acarya Jinendra dalam prasasti Waringin Pitu disebut sebagai seorang tokoh yang ahli dalam ilmu mantiq agama Buddha. Karena keahliannya , Dang Acaryya Jinendra sering dimintakan nasihat oleh raja-raja Majapahit dalam urusan hukum agama Buddha.

Selain menjadi Dharma Karesian, Situs Selogending juga menjadi titik awal ritual Tirtayatra ke Gunung Semeru dan upacara Kasada ke Gunung Bromo. Secara geografis situs ini memang berada di kaki bukit B29 yang dari puncak ini para peziarah bisa melanjutkan perjalanan baik itu ke Gunung Semeru atau Gunung Bromo. Posisi yang sangat strategis ini membuat Situs Selogending menjadi tempat yang sangat penting di masa lalu.

Setelah Majapahit runtuh situs ini didiami oleh seorang tokoh bernama Pandita Amongdharmo. Pandita Amongdharmo hidup pada abad ke 17 dan tercatat dalam sejarah sebagai seorang tokoh yang menyembunyikan seorang pelarian asal Malang yaitu Adipati Malayakusuma. Adipati Malayakusuma mempunyai ayah bernama Kertoyudo atau Panji Sosronegoro. Kertoyudo adalah bupati Lumajang yang dimakamkan di Situs Biting yang oleh masyarakat disebut makam Arya Wiraraja atau Pecat Tondo. Disebut Arya Wiraraja karena secara genealogis Kertoyudo merupakan keturunan seorang ulama asal Sumenep yaitu Sayyid Yusuf Angggawi al-Hasani. Disebut Pecat Tondo karena Tondo itu berasal dari dua kata yaitu Kerto dan Yudho.

Pada masa lampau situs ini juga dikenal sebagai Pertapaan Selarawa. Pertapaan ini menjadi salah satu sumber mata air yang mengalir hingga ke Situs Bitting dan melewati monumen salah satu pahlawan Lumajang yaitu Kapten Kyai Ilyas.

Batu Keramat

Situs Selogending memiliki lima batu yang dikeramatkan yaitu : Watu Selogending, Watu Wadung Prabu, Watu Mbah Pikulun, Watu Tedjo Kusumo dan Watu Tedjo Gedang. Selain lima batu keramat tersebut ada lagi satu batu diluar areal sakral Situs Selogending yaitu Watu Sri Sedono. Batu-batu tersebut memiliki formasi yang unik dan menjadi petunjuk letak makam tokoh-tokoh penting di Tempat Pemakaman Umum Desa Senduro. Adapun tokoh-tokoh penting tersebut adalah : Prabunegoro, Mbok Saminten, Ki Demang Tompo Kerso, Kemadi, Mbok Erun dan Mbok Kunti.

Watu Selogending

Disebut Watu Selogending karena batu ini memiliki mitos unik yaitu mampu mengeluarkan seperangkat alat gamelan gaib. Alat gamelan ini pada masa lampau digunakan oleh pemangku situs untuk kegiatan meruwat. Gamelan ini terakhir muncul setelah tali gamelan yang terbuat dari emas diganti dengan tali biasa oleh masyarakat. Setelah penggantian tali gamelan maka gamelan gaib ini tidak pernah muncul kembali meskipun diundang dan diupacarai oleh pemangku situs.

Penempatan Watu Selogending menunjukkan letak makam Mbok Saminten binti Tompokerso di Tempat Pemakaman Umum Desa Senduro. Mbok Saminten sendiri adalah satu-satunya putri dari Ki Demang Tompo Kerso.

Watu Wadung Prabu

Watu Wadung Prabu adalah pusat pemujaan utama. Batu ini menempati areal yang lebih tinggi dibandingkan batu-batu keramat lainnya. Karena menempati tanah yang paling tinggi dan dinamakan Watu Wadung Prabu maka batu ini menjadi semacam singasana tempat Sang Raja bertahta.

Di Tempat Pemakaman Umum Desa Senduro, letak Watu Wadung Prabu menunjukkan lokasi makam Prabunegoro atau Prabu Mangkunegoro ayau Mas Ngabehi Wirio Hadi Kusumo. Prabunegoro adalah keturunan Adipati Malayakusuma. Prabunegoro juga merupakan pejabat terakhir Kesultanan Jambi yang menyerahkan keris pusaka Singo Merjayo peninggalan Kesultanan Palembang kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Prabunegoro mempunyai anak yaitu Mochtar yang dikemudian hari menjadi anggota Volksraad dan memimpin sebuah regu bernama Regu Mochtar yang berjuang dan menjadi bagian dari laskar Hizbullah pimpinan Kapten Kyai Ilyas.

Makam Prabunegoro terletak di samping makam Mas Soemodiwirjo (lahir tahun 1813) yang pernah menjabat sebagai Ajun Jaksa Kediri dan pembantu Adipati Malang. Di dekat makam Mas Soemodiwirjo juga terdapat makam Sastrotaruno dan Teni Notoredjo (Mbah Ning). Formasi tiga makam tersebut identik dengan makam Mbah Honggo di Kayutangan.

Watu Mbah Pikulun

Watu Mbah Pikulun adalah batu pemujaan yang letaknya berada di bawah Watu Wadung Prabu. Dari Watu Mbah Pikulun ke Watu Wadung Prabu kita harus menaiki sebuah tangga yang melambangkan sebuah hubungan struktural. Nama Mbah Pikulun sendiri bermakna orang yang memikul atau menjalankan tugas.

Watu Wadung Mbah Pikulun menunjukkan lokasi makam Kepala Desa pertama Desa Senduro yaitu Kemadi.

Watu Tejo Kusumo

Watu Tejo Kusumo adalah batu pemujaan yang letaknya ada di dekat pintu gerbang. Batu ini juga berdampingan dengan Watu Tejo Gedang. Awalnya batu ini terletak di bawah pohon besar. Batu ini kemudian dipindah ke areal yang lebih tengah.

Watu Tejo Kusumo lokasi awal (sebelum dipindahkan) menunjukkan lokasi makam Ki Demang Tompo Kerso. Demang Tompo Kerso adalah pendiri dari Desa Senduro dan dihormati sebagai pembuka awal desa. Adapun watu Tejo Kusumo yang saat ini sudah dipindah menunjukkan lokasi makam Kyai Mas Tejo Kusumo yang tidak lain adalah Demang Tengger yang pada tahun 1813 melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial di Probolinggo.

Watu Tejo Gedang

Watu Tejo Gedang adalah batu pemujaan yang letaknya ada di samping Watu Tejo Kusumo.

Watu Tejo Gedang menunjukkan lokasi makam Mbok Erun. Mbok Erun adalah besan dari Ki Demang Tompo Kerso.

Watu Sri Sedono

Watu Sri Sedono terletak di luar gerbang situs utama. Batu ini menunjukkan letak makam Mbok Kunti yang dimakamkan di dekat Kantor Kecamatan. Karena makam Mbok Kunti sudah dipindahkan ke makam Mbah Tompokerso maka yang disebut Watu Sri Sedono adalah areal makam Mbah Tompokerso itu sendiri.

Referensi

  1. Lantini, Endah Susi dan Tim Penulis (1996). Refleksi Nilai-Nilai Budaya Jawa Dalam Serat Suryaraja. Jakarta. Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  2. Margana, Sri (2007). "Java's Last Frontier : The struggle for hegemony of Blambangan, c. 1763-1813". The Leiden University Scholarly Repository.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement