Situ Patenggang

Situ Patenggang
Patengan
Lukisan situ Patengan oleh Franz Wilhelm Junghuhn pada 1856
LetakRancabali, Kabupaten Bandung
Koordinat7°09′50″S 107°21′32″E / 7.1638°S 107.35902°E / -7.1638; 107.35902
Bagian dariTaman Wisata Alam Patengan
Aliran keluar utamaCi Buni
Terletak di negaraIndonesia
Ketinggian permukaan1.600 m (5.200 ft)
Peta
Peta interaktif Situ Patenggang

Situ Patenggang atau Patengan adalah sebuah danau pegunungan yang terletak di kawasan taman wisata alam di Rancabali, Jawa Barat, Indonesia. Situ Patengan memiliki luas perairan sekitar 46,6 hektar (0,466 km²)[1] dan berada di ketinggian kurang lebih 1.600 meter di atas permukaan laut.[1][2][3]

Danau ini menawarkan panorama alam pegunungan yang dikelilingi oleh perkebunan teh dan hutan tropis, menjadikannya salah satu destinasi ekowisata favorit di kawasan Bandung Selatan.

Geografi dan Fungsi Hidrologis

Situ Patengan menjadi bagian dari hulu terjauh bagi daerah aliran sungai Cibuni (DAS Cibuni) dimana aliran utamanya (sungai Cibuni) ke selatan pulau Jawa dan bermuara di Samudra Hindia.[2] Lokasinya yang terletak di timur lereng Gunung Patuha, menjadikan wilayah ini rawan bencana longsor, tetapi juga strategis untuk konservasi air dan pengembangan wisata berbasis alam.[4]

Kawasan Konservasi

Situ Patengan merupakan bagian dari kawasan konservasi alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan terbagi atas dua zona utama:[5]

  • Taman Wisata Alam (TWA) Situ Patengan, seluas ±63,36 ha
  • Cagar Alam Situ Patengan, seluas ±120,71 ha

Cagar alam ini membentang dari tenggara, timur, hingga timur laut telaga. Vegetasi dominan meliputi puspa (Schima wallichii), jamuju (Podocarpus imbricatus), dan rasamala (Altingia excelsa). Tumbuhan bawah seperti kinangsi (Villobrunea rebescens) juga ditemukan di kawasan ini. Fauna yang tercatat antara lain surili, lutung, dan beberapa jenis burung endemic seperti burung madu dan ayam hutan.[5]

Wisata dan Akses

Di kawasan ini wisatawan dapat menikmati:

  • Keliling danau menggunakan perahu
  • Area piknik dan glamping
  • Eksplorasi kebun teh di sekitarnya
  • Legenda Batu Cinta dan Pulau Asmara

Telaga ini juga didukung oleh fasilitas wisata seperti Glamping Lakeside Rancabali, shelter, pusat informasi, dan area parkir. Lokasi dapat diakses sekitar 47 km dari Kota Bandung, melalui jalur Soreang >> Ciwidey >> Rancabali >> Patengan.[5]

Panorama Situ Patenggang
Panorama Situ Patenggang

Konservasi dan Perencanaan

Dalam konteks perencanaan ruang, Situ Patengan telah dikaji sebagai bagian dari zonasi kesesuaian lahan wisata di Kecamatan Rancabali. Wilayah sekeliling danau terbagi ke dalam empat kelas kesesuaian (S1, S2, S3, N1), di mana sebagian besar area tergolong sangat sesuai dan sesuai untuk wisata alam, dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan risiko geologi.[4]

Legenda dan Budaya Lokal

Nama Situ Patengan berasal dari bahasa Sunda pateangan-teangan, yang berarti saling mencari. Menurut cerita rakyat yang dikenal di masyarakat setempat, danau ini mengisahkan cinta dua tokoh legendaris: Ki Santang, putra seorang prabu, dan Dewi Rengganis, seorang putri titisan alam. Dikisahkan bahwa keduanya terpisah untuk waktu yang lama, tetapi karena cinta mereka yang mendalam, mereka terus saling mencari hingga akhirnya bertemu di sebuah batu yang kini dikenal sebagai Batu Cinta.

Dalam lanjutan cerita, Dewi Rengganis meminta Ki Santang untuk membuat sebuah danau dan sebuah perahu agar mereka dapat berlayar bersama. Perahu tersebut, menurut legenda, kemudian menjadi sebuah pulau berbentuk hati di tengah telaga yang kini dikenal sebagai Pulau Asmara atau Pulau Sasaka. Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa pasangan yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara dipercaya akan mendapat keberkahan cinta yang abadi, mengikuti jejak kisah mereka.[6][7]

Referensi

  1. ^ a b Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, WebGIS. "DAS Cibuni". MyMaps. Diakses tanggal 2025-07-12.
  2. ^ a b "Peta Interaktif SIGAP Kementerian LHK". Geoportal.MenLHK. Diakses tanggal 2025-07-12.
  3. ^ "Cagar Alam Telaga Patengan". BBKSDA Jabar. Diakses tanggal 2025-07-12.
  4. ^ a b Arifia, Destyana; Rahmafitria, Fitri; Nurazizah, Ghoitsa Rohmah (2022). "Kesesuaian Lahan untuk Wisata Alam di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung". Media Komunikasi Geografi. 23 (01): 93–110. doi:10.23887.
  5. ^ a b c "Taman Wisata Alam (TWA) Situ Patengan". WJCTF. Diakses tanggal 2025-07-12.
  6. ^ Mulyana, Yoga. "Inilah Cerita Singkat Mengenai Batu Cinta di Situ Patenggang Ciwidey". Jurnal Soreang | PRMN. Diakses tanggal 2025-07-12.
  7. ^ Aditya, Muhammad Daffa; Resmisari, Ganis (2024-08-07). "LEGENDA SITU PATENGGANG SEBAGAI WARISAN BUDAYA". FAD (dalam bahasa Inggris). 3 (02).

Lihat pula

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement