Siti Maryam Salahuddin

Siti Maryam Salahuddin (13 Juni 1927 – 18 Maret 2017) yang bergelar Ina Ka’u merupakan putri Sultan Bima, birokrat dan juga ahli filologi yang fokus mengkaji naskah-naskah kuno Kerajaan Bima.[1] Ia merupakan salah satu penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (2019).[2]

Kehidupan

Siti Maryam dilahirkan dari pasangan Sultan Muhammad Salahuddin dengan permaisuri keduanya, Siti Aisyah. Ia besar di istana Asi Mbojo, tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahan kesultanan Bima. Sedari kecil, ia belajar ilmu agama Islam dari para ulama Bima yang cukup terpandang, di antaranya KH. Muhammad Said Ngali, KH Usman Abidin, dan KH Abdurrahman Idris.[1]

Selain mendapatkan pendidikan agama dari istana, ia juga mengenyam Pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan lulus pada 1950. Ia kemudian melanjutkan ke Hogere Burgerlijke School (HBS) di Malang. Pendidikannya di HBS terpaksa berhenti karena terjadinya perang di Surabaya sehingga ia harus kembali ke Bima. Semasa di Bima, Siti Maryam mengisi waktunya dengan banyak membaca. Ia pun meminta kepada ayahnya untuk diberikan bahan bacaan. Salah satu yang kemudian ia tekuni ialah membaca naskah-naskah kuno milik kerajaan Bima.[1]

Selama di Bima, Siti Maryam melihat banyak perubahan yang terjadi, mulai dari Kemerdekaan Indonesia dan juga wafatnya sang ayah pada 1951. Perubahan ini pula yang mendorongnya untuk bisa meraih pendidikan setinggi mungkin. Maka pada 1951, ia ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di SMAN Budi Utomo, sekaligus menjadi satu-satunya putri dari Kesultanan Bima yang meninggalkan istana untuk mengenyam pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan di SMAN Budi Utomo pada 1953 dan melajutkan pendidikan S1 dan S2 di bidang hukum, Universitas Indonesia (1953-1960). Kemudian pada 2007, ia melanjutkan S3 di Universitas Padjajaran guna mengambil gelar Doktor Filologi.[1][3]

Karir sebagai birokrat

Siti Maryam memulai kariernya sebagai birokrat di Jakarta. Pada 1952, satu tahun sebelum lulus SMA, ia diangkat sebagai PNS di Kementerian Luar Negeri RI. Kemudian ia dimutasi ke Kementerian Kehakiman RI pada periode 1957-1960 dan menjabat sebagai staf ahali Menko Kehakiman RI dari tahun 1960-1964.[1]

Setelah lama berkarir di Jakarta, pada 1964, ia memutuskan untuk mengabdi di tanah kelahirannya setelah diminta secara khusus oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Ruslan Tjakraningrat. Beberapa posisi penting yang pernah ia jabat antara lain Sekretaris Tetap Panitia MPRS Provinsi NTB, Pejabat Sementara Bupati Bima (1966), Kepala Biro DPR-GR Provinsi NTB (1966-1968), Direktur PD Tribusana (1968-1969), Kepala Biro Desentralisasi dan Tata Hukum Provinsi NTB (1969-1973), Kepala Direktorat Pemerintahan Umum (1973-1974), Asisten Setwilda NTB (1974-1985), dan Asisten II Setwilda NTB (1985-1987). Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR/MPR RI selama dua periode yaitu dari 1987-1997.[1]

Sebagai birokrat, ia melakukan beberapa terobosan antar lain merintis dibukanya kembali Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin atau yang saat ini lebih dikenal dengan Bandara Bima, dan juga mendorong pengangkatan guru sekolah dalam jumlah besar guna mengisi kekosongan guru-guru di daerah pelosok NTB.[1]

Melestarikan naskah kuno

Sebagai putri sultan Bima, Siti Maryam menyimpan naskah-naskah kuno yang ia warisi dari orang tuanya. Naskah-naskah kuno tersebut ditulis dengan menggunakan aksara Bima di mana ketika Islam masuk Bima, naskah-naskah tersebut kemudian ditulis ulang dengan menggunakan huruf Arab-Melayu. Guna menjaga dan melestarikan naskah-naskah tersebut ia mendirikan Museum Samparaja pada 1987.[1]

Untuk bisa mengkaji lebih dalam naskah-naskah tersebut dan juga menerjemahkannya, Siti Maryam memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S3 di bidang filologi, Universitas Padjadjaran. Pada 2013, bekerjasama dengan filolog Prancis, Henri Chambert-Loire, ia menerbitkan buku Bo Sangaji Kai, sebuah buku yang berisi kumpulan catatan-catatan Kerajaan Bima.[1]

Ia juga aktif mendorong generasi muda untuk bisa membaca aksara Bima. Hingga saat ini sudah ada dua orang muridnya, yaitu dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bima yang mewarisi kemampuannya membaca aksara Bima.[3]

Kematian

Siti Maryam Salahuddin meninggal pada 18 Maret 2017 pada usia 90 tahun setelah sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bima.[4] Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga sultan di Masjid Muhammad Salahuddin.[5]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i Virgiastuti, Made Ayu (2017). Pahlawan Dan Tokoh Perempuan Dalam Bingkai Kebinekaan. Jakarta: Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 345–357. ISBN 9766021289532. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Putra, Aldi Prima (2019-08-16). "Untuk 30 Penerima, Presiden Jokowi Pimpin Penganugerahan Gelar Tanda Kehormatan". Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Diakses tanggal 2025-11-15.
  3. ^ a b "Siti Maryam Salahuddin, Putri Sultan Bima Terakhir 'Penjaga' Naskah Kuno". detiknews. Diakses tanggal 2025-11-15.
  4. ^ "Putri Sultan Bima Meninggal Dunia". Tempo. 18 Maret 2017 | 17.55 WIB. Diakses tanggal 2025-11-15.
  5. ^ "Siti Maryam Dimakamkan Besok di Pemakaman Masjid Muhammad Salahuddin - Kabar Harian Bima". https://kahaba.net. 2017-03-18. Diakses tanggal 2025-11-15.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement