Sidharto Reza Suryodipuro
Sidharto Reza Suryodipuro | |
|---|---|
| Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa | |
| Mulai menjabat 1 Januari 2026 | |
| Perwakilan Permanen Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa | |
| Mulai menjabat 25 August 2025 | |
| Presiden | Prabowo Subianto |
| Direktur Jenderal untuk Kerjasama ASEAN | |
| Masa jabatan 27 Oktober 2020 – 18 November 2025 | |
| Presiden | Joko Widodo Prabowo Subianto |
| Duta Besar Indonesia untuk India dan Bhutan | |
| Masa jabatan 18 Mei 2017 – 17 November 2021 | |
| Presiden | Joko Widodo |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 29 September 1966 Koln, Jerman Barat |
| Suami/istri | Dewi Ratna Yuniasih |
| Pendidikan | Universitas Katolik Parahyangan Naval Postgraduate School |
| Julukan | Arto |
Sidharto Reza Suryodipuro (lahir 29 September 1966) adalah seorang diplomat Indonesia yang menjadi perwakilan permanen Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa sejak 2025 dan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 2026. Ia memulai karir dalam misi Indonesia untuk PBB dan kemudian menjabat dalam berbagai jabatan di Canberra dan New York. Dari 2014 sampai 2017, ia menjadi wakil duta besar untuk Amerika Serikat sebelum diangkat menjadi dubes untuk India dan Bhutan pada 2017. Ia kemudian menjabat sebagai direktur jenderal kerjasama ASEAN dari 2020 sampai 2025, memimpin pertemuan pejabat pada keketuaan ASEAN 2023.
Kehidupan awal dan pendidikan
Sidharto lahir pada 29 September 1966 di Koln, Jerman Barat. Ia berasal dari keturunan bangsawan dari keluarga kerajaan Mangkunegara. Kakeknya, Suyoto Suryodipuro, menjadi salah satu pendiri kementerian luar negeri Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Sidharto awalnya ingin menjadi pilot, mengambil jurusan IPA di SMA. Namun, keterbatasan penglihatan mata dan potensinya mengantarnya ke jalan berbeda.[1] Ia mengambil jurusan hubungan internasional di Universitas Katolik Parahyangan. Setelah lulus pada 1991, ia masuk kementerian luar negeri.[2] Kakeknya, yang mendukung aplikasinya, wafat tak lama sebelum Sidharto menjalani ujian aplikasi untuk kementerian luar negeri. Ia menjalani pembelajaran lanjutan di Naval Postgraduate School dengan beasiswa Fulbright[3] dan meraih gelar magister dalam bidang urusan keamanan nasional pada 2003.[1]
Referensi
- ^ a b Chandra, Stanley (February 15, 2016). "Arto Suryodipuro Sang Diplomat Berdarah Biru" [Arto Suryodipuro, the Blue-Blooded Diplomat]. Kabari News (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal July 20, 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "Sidharto Reza Suryodipuro". Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan (dalam bahasa Indonesian). Universitas Katolik Parahyangan. Diakses tanggal 20 July 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "The Deputy Chief of Mission". Embassy of Indonesia – Washington D.C. Embassy of the Republic of Indonesia. 4 February 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 5 February 2015. Diakses tanggal 14 August 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.






