Selera estetika

Penggambaran pakaian gaya barat "Tiongkok Baru", dari Pandangan Estetika Kehidupan karya Zhang Jingsheng tahun 1924..

Dalam estetika, konsep selera (taste) telah menjadi perhatian para filsuf seperti Plato, Hume, dan Kant. Konsep ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk membuat penilaian yang sah mengenai nilai estetika suatu objek. Namun, penilaian tersebut dianggap kurang objektif, sehingga menimbulkan apa yang disebut sebagai “paradoks selera”. Istilah taste digunakan karena proses penilaian estetika ini dianggap mirip dengan cara seseorang menilai rasa makanan secara fisik.[1]

Hume, Kant dan Bourdieu

Gagasan tentang rasa estetika atau taste telah menjadi salah satu tema sentral dalam filsafat seni dan estetika Barat sejak abad ke-18. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah keindahan bersifat objektif atau subjektif? Dan jika keindahan bersifat subjektif, adakah standar universal yang memungkinkan kita menilai karya seni atau pengalaman estetika secara rasional? Tiga pemikir besar yang menawarkan pandangan berbeda terhadap persoalan ini adalah David Hume, Immanuel Kant, dan Pierre Bourdieu. Masing-masing memberikan kerangka filosofis yang unik untuk memahami hubungan antara individu, masyarakat, dan keindahan.

Pada tahun 1757, filsuf empirisis Skotlandia David Hume menerbitkan sebuah esai berjudul “Of the Standard of Taste”,[2] yang termasuk dalam karya Four Dissertations. Esai ini hingga kini dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah estetika karena keberhasilannya membahas secara mendalam hubungan antara selera, keindahan, dan penilaian estetis. Sebagai seorang empirisis, Hume memandang bahwa semua pengetahuan manusia berakar pada pengalaman indrawi, tetapi dalam hal rasa estetika, ia mengembangkan posisi yang lebih kompleks—sering disebut sebagai teori pengamat ideal (ideal observer theory).

Hume membedakan antara sentiments (perasaan) dan determinations (penilaian). Menurutnya, perasaan tidak pernah bisa salah karena selalu mereferensikan diri sendiri — ia adalah ekspresi spontan dari kesadaran subjektif. Sebaliknya, penilaian bisa salah karena berupaya menilai sesuatu di luar diri. Dengan cara ini, Hume menyatakan bahwa keindahan bukanlah kualitas yang inheren dalam objek, melainkan “hanya ada dalam pikiran yang merenungkannya”. Setiap pikiran, katanya, “melihat keindahan yang berbeda.” Dengan demikian, penilaian tentang keindahan bersifat relatif terhadap subjek, bukan mutlak pada objek.

Namun, jika keindahan sepenuhnya subjektif, bagaimana mungkin ada kesepakatan tentang karya-karya besar — seperti lukisan Rembrandt, simfoni Beethoven, atau tragedi Shakespeare? Untuk menjawab hal ini, Hume memperkenalkan gagasan tentang “true judge” — seorang penilai sejati yang memiliki “akal yang kuat, perasaan yang halus, diperbaiki melalui latihan, disempurnakan lewat perbandingan, dan dibersihkan dari segala prasangka.” Individu dengan kapasitas seperti ini jarang ditemukan, tetapi keberadaan mereka memungkinkan terbentuknya suatu standar rasa. Standar tersebut tidak bersifat eksternal atau universal dalam arti mutlak, tetapi terdapat di dalam diri para penilai yang ideal, yang memiliki kepekaan dan pengalaman yang memadai untuk menilai secara mendalam. Bagi Hume, meningkatkan kualitas persepsi estetika seseorang — melalui pengalaman, pembelajaran, dan refleksi — adalah kunci menuju rasa yang lebih baik. Dengan kata lain, taste bisa dikembangkan dan disempurnakan, walau tidak pernah bisa dilepaskan sepenuhnya dari subjektivitas manusia.

Berbeda dari Hume, Immanuel Kant dalam karyanya Critique of Judgment (1790)[3] berupaya menempatkan penilaian estetika pada posisi antara subjektif dan universal. Kant menyetujui bahwa keindahan bukanlah sifat yang melekat pada objek, melainkan merupakan hasil dari penilaian estetika yang didasarkan pada perasaan subjektif. Namun, ia juga berpendapat bahwa penilaian rasa yang sejati (good taste) bersifat universal dalam klaimnya — artinya, ketika seseorang mengatakan “ini indah”, ia tidak hanya menyatakan preferensi pribadi, tetapi juga secara implisit menuntut persetujuan orang lain. Bagi Kant, rasa estetika adalah pengalaman bebas dari kepentingan pribadi (disinterested pleasure); seseorang menganggap sesuatu indah bukan karena ia ingin memilikinya, melainkan karena ia menikmati bentuk dan harmoni yang dihadirkannya.

Kant menolak gagasan bahwa selera estetika dapat ditentukan oleh mayoritas, adat, atau kelas sosial tertentu. Ia menegaskan bahwa “keabsahan sebuah penilaian tidak dapat ditentukan berdasarkan pandangan umum atau kelompok sosial tertentu,” karena rasa sejati bersifat personal dan tidak dapat dibuktikan secara rasional. Meski demikian, Kant tetap mempertahankan bahwa ada semacam normativitas universal dalam rasa — bukan karena kesepakatan sosial, tetapi karena semua manusia berbagi struktur kognitif dan perasaan yang sama dalam kapasitas mereka sebagai makhluk rasional. Dengan demikian, bagi Kant, taste adalah subjektif dalam pengalaman, tetapi memiliki pretensi universal dalam penilaiannya.

Pandangan ini kemudian mendapat kritik keras dari pemikir abad ke-20, Pierre Bourdieu, terutama dalam karyanya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979).[4] Bourdieu menolak pandangan Kantian tentang “rasa murni” yang dianggap bebas dari pengaruh sosial. Menurut Bourdieu, apa yang disebut “selera baik” (good taste) sebenarnya adalah produk dari kekuasaan simbolik kelas sosial yang dominan. Ia berpendapat bahwa selera estetika tidak lahir dari intuisi moral universal, tetapi terbentuk melalui habitus — seperangkat disposisi sosial yang diinternalisasi oleh individu berdasarkan posisi kelasnya dalam struktur masyarakat.

Dengan demikian, selera yang dianggap “sah” atau “beradab” hanyalah selera kelas penguasa yang berhasil memaksakan definisinya tentang keindahan kepada masyarakat luas. Bourdieu juga mengutip pandangan serupa dari Georg Simmel, yang mengamati bahwa kelas atas cenderung meninggalkan gaya atau mode tertentu begitu gaya itu diadopsi oleh kelas bawah. Dalam logika ini, “keindahan” dan “selera tinggi” selalu berubah-ubah mengikuti dinamika hierarki sosial — bukan karena perubahan dalam struktur persepsi estetika, melainkan karena perubahan dalam strategi pembeda (distinction) yang digunakan untuk mempertahankan status sosial.

Jika Hume menekankan latihan persepsi sebagai jalan menuju selera yang lebih baik, dan Kant menegaskan universalitas rasa sejati, maka Bourdieu justru mengungkapkan bahwa semua selera — bahkan yang tampak paling murni sekalipun — adalah medan perjuangan sosial di mana kekuasaan budaya dipertaruhkan. Dalam pandangan ini, keindahan tidak pernah netral; ia selalu berhubungan dengan siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikannya.

Dengan demikian, perjalanan gagasan tentang standard of taste menunjukkan pergeseran besar dalam sejarah pemikiran estetika: dari Hume yang menekankan subjektivitas pengamat ideal, menuju Kant yang mencari universalitas dalam rasa personal, hingga Bourdieu yang membongkar struktur sosial di balik setiap klaim tentang selera dan keindahan. Ketiganya, meski berbeda arah, sama-sama berusaha menjawab satu pertanyaan mendasar yang tak pernah usai: apakah keindahan itu milik mata yang melihat, pikiran yang menilai, atau kekuasaan yang menentukan?

Referensi

  1. ^ Bonard, Constant; Cova, Florian; Humbert-Droz, Steve (2021-07-26), De gustibus est disputandum: An empirical investigation of the folk concept of aesthetic taste, doi:10.31234/osf.io/qfm3z, diakses tanggal 2025-11-12
  2. ^ "Hume Texts Online". davidhume.org. Diakses tanggal 2025-11-12.
  3. ^ Kant, Immanuel (1987-04-01). Critique of Judgment (dalam bahasa Inggris). Hackett Publishing. ISBN 978-1-60384-632-5.
  4. ^ Bourdieu, Pierre (2013-04-15). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-87316-5.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement