Satria Arief Prabowo


Dr. H. Satria Arief Prabowo, MD., PhD (lahir 13 Oktober 1992) adalah peraih penghargaan MURI sebagai lulusan doktor bidang Ilmu Kedokteran termuda di Indonesia pada tahun 2019.[1][2]

Pendidikan

Satria menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga dan lulus pada tahun 2012. Pada tahun yang sama, ia mengikuti pelatihan riset dan klinis di Rijksuniversiteit Groningen 2012. Kemudian, ia menempuh pendidikan profesi kedokteran di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga dan lulus pada tahun 2014. Setelah itu, ia menempuh pendidikan doktor di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) bidang Immunology of Infectious Diseases dan lulus pada tahun 2018.[1]

Karier

Satria mulai terlibat dalam tim pengembangan vaksin Tuberkulosis saat menempuh pelatihan penelitian di Groningen, Belanda pada tahun 2012. Kemudian, penelitian tersebut ia lanjutkan ketika menempuh program doktoral di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM), Inggris.[3][4]

Lebih lanjut, Satria pernah berkarier sebagai konsultan di Immunitor Ltd., lembaga riset vaksin yang berkedudukan di Inggris. Di perusahaan tersebut, ia terlibat dalam pengembangan vaksin oral yang ditujukan untuk penyakit infeksi meliputi Tuberkulosis (TB). Lalu, ia juga pernah ikut dalam pengembangan vaksin COVID-19 saat pandemi. Riset pengembangan vaksin COVID-19 ini dikembangkan oleh Immunitor Ltd. dan Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR. Pada saat yang bersamaan, ia pernah menjadi peneliti dalam riset vaksin Tuberkulosis “RUTI” sebagai research associate bersama Archivel Farma SL dan LSHTM.[3]

Pada tahun 2019 lalu, Satria pernah dipercaya untuk menjadi tim penyusun pedoman World Health Organization (WHO) untuk penanganan Tuberkulosis resisten-obat (TB-MDR) pada anak-anak dan remaja di wilayah Eropa.[3]

Prestasi

Satria telah meraih sejumlah penghargaan, khususnya di bidang akademik. Pada tahun 2012, ia mendapat penghargaan Best Presenter Award dalam dua kongres ilmiah internasional, yaitu Student Congress of (Bio)Medical Sciences (ISCOMS) di Groningen, Belanda, dan International Medical Student Congress in Novi Sad (IMSCN) di Serbia. Kemudian pada tahun 2019, makalah risetnya berhasil diterima untuk dipresentasikan di kongres dokter spesialis anak se-Eropa yang fokus pada penyakit infeksi, dan memperoleh skor tertinggi pada European Society for Paediatric Infectious Diseases (ESPID) di Ljubljana, Slovenia. Hingga saat ini, Satria telah menghasilkan 11 publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi yang terindeks PubMed dan Scopus.[3]

Pranala luar

Referensi

  1. ^ a b Aisyah, Novia. "Kisah Satria, Lulusan FK Unair Peneliti Vaksin COVID-19 dan Doktor Termuda". detikedu. Diakses tanggal 2024-12-26.
  2. ^ tedihouse. "Doktor Bidang Ilmu Kedokteran Termuda". https://muri.org/Website/Rekor_detaildoktorbidangilmukedokterantermuda (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-04-07.
  3. ^ a b c d "Alumnipedia - Alumnus UNAIR Jadi Bagian Tim Pengembangan Vaksin Tuberkulosis di Uni Eropa". alumnipedia.unair.ac.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-12-26.
  4. ^ Ginanjar, Dhimas. "dr Satria, Arek Suroboyo yang Terlibat Riset Vaksin Covid-19 di London - Jawa Pos". dr Satria, Arek Suroboyo yang Terlibat Riset Vaksin Covid-19 di London - Jawa Pos. Diakses tanggal 2024-12-28.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement