Saparinah Sadli
Saparinah Sadli | |
|---|---|
Sadli speaks to Alzheimer Indonesia in 2020 | |
| Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia | |
| Masa jabatan 1976 – 17 Februari 1981 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 24 Agustus 1926 Jawa Tengah, Hindia Belanda |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Suami/istri | |
| Almamater | Universitas Gadjah Mada University of Indonesia |
| Dikenal karena | Hak-hak perempuan, aktivisme |
| Latar belakang akademis | |
| Tesis | Persepsi sosial tentang penyimpangan (1977) |
| Pembimbing doktoral | J. M. F. Jaspars |
| Karya akademis | |
| Disiplin ilmu | Psikologi, studi gender |
Saparinah Sadli (lahir 24 Agustus 1926)[1] adalah tokoh kelahiran Tegalsari, Jawa Tengah yang juga dikenal sebagai akademisi, pendidik dan pejuang hak asasi manusia, khususnya isu gender dan pemberdayaan perempuan. Ia adalah anak dari mantan Bupati Kudus R.M. Soebali.[2]
Karier akademik
Ia memulai karier di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, di mana ia juga meraih gelar doktornya. Pada 1985 ia dinobatkan sebagai Guru Besar dan menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Psikologi di Indonesia: Sumbangannya kepada masyarakat serta masalah-masalah dalam perkembangannya." Pada tahun 1990 ia mendirikan dan memimpin Program Studi Kajian Wanita, program pascasarjana Universitas Indonesia.[3]
Dedikasinya sebagai akademisi maupun aktivis telah membuahkan beberapa penghargaan, di antaranya “Cendekiawan Berdedikasi Harian Kompas” pada tahun 2009, “The Asia Special Lifetime Achievement Award” pada 2008, “Anugerah Hamengkubuwono IX” dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tahun 2004,[4] dan Rooseno Award pada 2017.[5]
Sejak 2002 kawan-kawan Saparinah mengabadikan nama Saparinah sebagai nama penghargaan "Anugerah Saparinah Sadli" bagi perempuan yang dianggap telah berkontribusi besar dalam bidangnya masing-masing.[6]
Aktivisme
Komitmen Saparinah pada perjuangan perempuan untuk terbebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi ditunjukkannya saat merintis bersama-sama dengan gerakan perempuan dan menjadi Ketua pertama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan, 1998-2004).[7] Ia juga merupakan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (1996-2000) dan juga terpilih dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus kerusuhan 13-15 Mei 1998, di mana kekerasan seksual menjadi bagian integral dalam proses turunnya Soeharto dari kepemimpinan.[1]
Kehidupan pribadi
Saparinah menikah pada tahun 1954 dengan Mohammad Sadli, seorang dosen muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi pendampingnya seumur hidup sampai suaminya meninggal pada 2008. Suaminya pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja (1971-1973) dan Menteri Pertambangan (1973-1978), yang kemudian meneruskan kariernya selaku Guru Besar FE UI.[3]
Referensi
- ^ a b https://www.kompas.id/baca/nama-peristiwa/2018/08/30/ulang-tahun-ke-92-saparinah-sadli
- ^ "Profil - Saparinah Sadli". Merdeka.com. Diakses tanggal 2021-10-25.
- ^ a b "Prof. Dr. Saparinah Sadli dan Kesetaraan Gender".
- ^ "Profil Saparinah Sadli". Merdeka.com.
- ^ "Saparinah Sadli".
- ^ "Anugerah Saparinah Sadli 2018: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Menjaga Kebinekaan".
- ^ "Saparinah Sadli Selalu Dalam Proses Menjadi". Kompas.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-08.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.






