SMA Katolik Cor Jesu Malang

Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Cor Jesu
Cor Jesu Catholic High School
Center
Informasi
Didirikan15 Juli 1951
JenisSekolah Umum
AkreditasiA
Kepala SekolahAgatha Ariantini, S.Psi., M.Pd.
Jumlah kelasX, X Bahasa, X IPA, X IPS, XI Bahasa, XI IPA, XI IPS, XII Bahasa, XII IPA, XII IPS
Jurusan atau peminatanIPA, IPS dan Bahasa
KurikulumKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
StatusSwasta
Alamat
LokasiJl. Jaksa Agung Suprapto 55, Malang, Jawa Timur, Indonesia
Tel./Faks.(0341) 362329
Situs webwww.smakcorjesu.org
KampusCor Jesu
Lain-lain
LulusanIKA SMACO
Moto
MotoSERVIAM (Saya Mau Mengabdi)

SMA Katolik Cor Jesu Malang yang dulunya sempat dikenal sebagai sebagai Zusterschool, merupakan sebuah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik yang berlokasi di Kota Malang. Sekolah yang juga menyediakan fasilitas asrama putra dan putri bagi para murid ini bertempat di Jalan Jaksa Agung Suprapto 55, Malang (dahulu lebih dikenal dengan Jalan Celaket). Sekolah ini didirikan oleh para biarawati Ursulin pada tanggal 15 Juli 1951. Dikenal sebagai salah satu sekolah swasta terkemuka di Kota Malang yang menjunjung akan budaya disiplin dan keberagaman. SMAK Cor Jesu juga memiliki bangunan dengan ciri khas arsitektur kolonial yang masih bagus dan terawat, membuatnya menjadi salah satu salah satu dari 32 bangunan cagar budaya yang ada di Malang.[1]

Sejarah

Karya suster Ursulin di Malang diawali dengan kehadiran tiga orang suster, yakni: Sr. Xavier Smets, Sr. Aldegonde Flekcen, dan Sr. Martha Bierings pada tanggal 6 Februari 1930. Di mana saat itu mereka menempati biara yang terletak di Jalan Celaket dan memulai karya dengan membuka taman kanak-kanak pada tanggal 1 Maret 1900. Kedatangan ketiga suster tersebut diumpamakan oleh Rm. Jonckbloet, SJ sebagai pohon kecil yang baru ditanam dan dengan berkat Tuhan, maka pohon itu bertumbuh menjadi besar dan membawa berkah untuk banyak orang. Karya yang dimulai dengan TK ini kemudian berkembang seiring dengan dibukanya sekolah dasar dan asrama pada 1 Mei 1900, dilanjutkan sekolah pendidikan guru Santo Agustinus pada tanggal 21 Juli 1903. Saat itu, akses pendidikan hanya diberikan kepada anak-anak perempuan keturunan Eropa dan Indo (keturunan Belanda-Indonesia), tetapi seiring dengan waktu para suster juga berupaya merangkul anak-anak pribumi dengan membuka kursus-kursus pendidikan kecil. Kursus ini meliputi musik, drama, dan menyanyi, termasuk tata cara atau etiket berpakaian dan makan.[2][3]

Ketika Jepang datang dan menjajah Indonesia, Suster Ursulin mulai diperintahkan untuk menutup semua sekolah yang mereka kelola. Termasuk biara di Celaket yang akhirnya dikuasai oleh Jepang. Tak hanya itu, beberapa suster pun harus dipaksa masuk kamp tawanan. Usai kemerdekaan Indonesia, gedung sekolah juga pernah dijadikan markas sementara bagi Sekolah Militer Divisi VII Suropati pada tahun 1945. [4]

Gedung Cor Jesu yang terbakar

Setelah Jepang berhasil diusir pergi oleh tentara Belanda, sekolah dan asrama mulai dibuka lagi. Namun, saat terjadinya Agresi Militer Belanda I mulai ada informasi yang menyebar di masyarakat untuk membumihanguskan bangunan besar yang mungkin berguna bagi tentara NICA. Hal ini membuat para suster dan anak-anak hidup dalam ketakutan. Ketegangan memuncak pada peristiwa yang dikenal Malang Bumi Hangus. Pada tanggal 30 Juli 1947, sekelompok pemuda mulai menyerbu biara dan membakar gedung sekolah serta asrama. Gedung yang awaln memiliki 2 lantai ini pun hancur akibat ganasnya si jago merah. Para suster harus berjuang keras untuk memperbaiki gedung yang rusak sebagai akibat dari perang. Pada 8 April 1951, pemerintah berinisiatif untuk melakukan pembangunan kembali kompleks sekolah ini di mana saat itu Kementerian Sosial memberi bantuan sumbangan sebesar 256 ribu Rupiah.[3] Pembangunan secara besar-besaran ini diselesaikan pada 15 juli 1951. Tanggal tersebut kemudian menjadi hari lahirnya SMA Katolik Cor Jesu yang diresmikan oleh Monseigneur pada 13 Januari 1955.[2]

Sebagai pengganti sekolah pendidikan guru Santo Agustinus yang tidak dibuka lagi, maka pada tanggal 15 Juli 1951 dibukalah SMAK Cor Jesu. Sekolah ini memiliki 2 kelas, kelas bagian A (Bahasa) dan bagian B (Ilmu Pasti), serta hanya menerima murid putri. Namun, para murid saat itu menghadapi permasalahan karena tidak ada tempat untuk kelas, karena pembangunan gedung yang dibakar belum selesai. Oleh sebab itu, tempat sepeda pun sempat dipakai untuk kelas para murid. Dan karena saat itu sekolah ini belum memenuhi persyaratan untuk menyelenggarakan ujian sendiri, maka untuk sementara SMAK Cor Jesu bernaung di bawah SMTK (Sekolah Menengah Tinggi Katolik) St. Albertus, sehingga dikenal pula sebagai SMA Puteri St. Albertus. Pada saat itu, rapor dan ijazah ditandatangani oleh Kepala SMTK / SMA St. Albertus yang sudah berdiri pada tahun 1946.[5]

Pada tahun 1954, SMAK Cor Jesu mengikuti ujian negeri untuk pertama kalinya. Dari bagian A lulus 18 orang dari 20 siswi dan dari bagian B lulus 22 dari 30 siswi. Pada permulaan tahun pelajaran 1959/1960, SMAK Cor Jesu membuka Bagian C. Dengan demikian persyaratan SMA menjadi lengkap, sesuai dengan tuntutan pemerintah. Sehingga pada tanggal 1 Agustus 1960 SMAK Puteri Cor Jesu diperkenankan oleh Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan untuk berdiri sendiri, terpisah dari SMA St. Albertus.[5]

Tahun Pelajaran 1968/1969, SMAK Cor Jesu mulai menerima siswa putra, murid putera yang diterima pada waktu itu berjumlah 55 orang. Berkat keras-keras para guru dan keluarga besar SMAK Cor Jesu serta doa dari para suster Ursulin maka pada tahun 1984 status SMAK Cor Jesu meningkat dari status diakui menjadi status disamakan.[5]

Hingga saat ini, sudah ada 11 kepala sekolah yang memimpin SMAK Cor Jesu, berikut merupakan nama-nama kepala sekolah yang pernah memimpin SMAK Cor Jesu:

  • Sr.Imaculata Gronigen,OSU (1951 - 1961)
  • Sr.Patricia Meyer,OSU (1961 - 1965)
  • Sr.Fransesco Marianti,OSU (1965 - 1972)
  • Sr.Trisnawati Sumampow,OSU (1972 - 1978, 1985 - 1987)
  • Sr.Marietta Brotosoedirjo,OSU (1978 - 1985)
  • Sr.Blandina Tedjohono,OSU (1987 - 1991)
  • Sr.Pia Sawir,OSU (1991 - 1996)
  • Sr.Sophie Chandra,OSU (1996 - 2007)
  • Sr.Hilda Sri Purwaningsih,OSU,M.Pd. (2007 - 2012)
  • Sr.Dionysia Kartika,OSU,MM. (2012 - 2014)
  • Agatha Ariantini,S.Psi., M.Pd (2014 - sekarang)[5]

Profil

Serviam

Arti garis dan warna lambang

  • Warna dasar hijau menyatakan PENGHARAPAN
  • Gugusan bintang “beruang kecil” atau Ursa Minor, (a) Lambang nama Santa Ursula, pelindung Ordo Ursulin dan sekolah-sekolah ursulin, (b) Cita-cita yang luhur setinggi bintang di langit
  • Salib, merupakan ciri khas Iman Kristiani yang mengungkapkan bahwa kehidupan manusia ditandai dengan pengorbanan yang membawa kebahagiaan/keselamatan/berkat.
  • Serviam, semboyan kita yang artinya “saya mau mengabdi”.

Selesai masa pendidikan di sekolah, para eks siswa/siswi Ursulin bergabung sebagai anggota AUSSI (Alumnarum Ursulae Sanctae Sosietas Internationalis) atau Gabungan Internasional eks asuhan Ursulin. Sebagai anggota AUSSI mereka hidup dan berkarya melaksanakan SERVIAM-nya, yakni pengabdian kepada Tuhan dan sesama kapan dan di mana saja mereka berada.[6]

Pendidikan

Prakarya dan Kewirausahaan (PKWu)

  1. Pengolahan
  2. Kerajinan
  3. Budidaya
  • Pilihan wajib: (setiap hari Jumat )
  1. Seni Tari
  2. Seni Musik
  3. Seni Rupa
  4. Seni Suara
  5. Seni Teater

Sekolah ini memiliki beberapa pilihan kegiatan ekstra kurikuler bebas, seperti:

Bangunan dan Fasilitas

Bangunan Kompleks Cor Jesu dirancang oleh Westmaas dari Surabaya, atas prakarsa dari Mgr. Staal, yang merupakan satu-satunya uskup di Indonesia pada waktu itu. Dibangun di kawasan Celaket, gedung sekolah Katolik ini memiliki lokasi yang cukup strategis, tak jauh dari pusat kota. Saat itu, kawasan Celaket memang menjadi daerah vital di Malang, bahkan sebelum statusnya menjadi Kota Madya. Didirikannya bangunan Zusterschool di kawasan ini menjadi bukti Belanda kala itu sangat memikirkan pentingnya pendidikan.[3]

Desain bangunan Zusterschool menganut kaidah keseimbangan simetris, maka tak heran memiliki jendela dalam jumlah banyak. Pada bangunan di sisi kiri dan kanan terdapat gevel dengan hiasan jendela bebentuk busur. Desain ini berorientasi religius, yang mungkin terinspirasi dari desain bangunan gereja Katolik di Kota Malang. Penekanan yang bersifat religius terasa kuat pada kedua bangunan ini. Bentuk jendela yang mengerucut ke atas seperti busur ini menyimbolkan persembahan pada Keagungan Tuhan seperti bentuk jendela pada gereja-gereja yang beraliran Gothic pada abad pertengahan.[4]

Seiring dengan renovasi pasca kebakaran saat ini SMAK Cor Jesu memiliki berbagai ruang kelas dan fasilitas pendukung yang dapat digunakan para murid, di antaranya:

Referensi

  1. ^ Kompasiana.com (2023-01-07). "Orisinalitas Gedung Cor Jesu Malang sebagai Cagar Budaya". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-05-17.
  2. ^ a b "Sejarah Sekolah Cor Jesu Malang Turut Dibumihanguskan Pada Masa Awal Kemerdekaan".
  3. ^ a b c Aminudin, Muhammad. "Sejarah SMAS Katolik Cor Jesu Malang yang Pernah Hancur Digempur Belanda". detikjatim. Diakses tanggal 2025-05-17.
  4. ^ a b Mbois, Ongis (2024-07-22). "Sekilas Sejarah SMAK Cor Jesu Malang". Ngalam Wearemania (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-17.
  5. ^ a b c d "Sejarah Sekolah – SMAS KATOLIK COR JESU". smakcorjesu.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-17.
  6. ^ https://smakcorjesu.org/lambang-serviam.html.

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement