Rudal balistik jarak menengah antara

Rudal Agni-IV diluncurkan dari Pulau Abdul Kalam, Odisha, India.

Rudal balistik jarak menengah antara (intermediate-range ballistic missile, IRBM) adalah rudal balistik dengan jangkauan antara 3.000 hingga 5.500 km, dikategorikan di antara rudal balistik jarak menengah (MRBM) dan rudal balistik antarbenua (ICBM).[1] Mengklasifikasikan rudal balistik berdasarkan jangkauan sebagian besar dilakukan untuk kemudahan. Pada prinsipnya, terdapat sedikit perbedaan antara IRBM berkinerja tinggi dan ICBM berkinerja rendah, karena mengurangi massa muatan dapat meningkatkan jangkauan melebihi ambang batas ICBM.

Definisi dan klasifikasi

Definisi jangkauan IRBM dapat bervariasi tergantung pada organisasi dan negara. Di dalam Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat, IRBM didefinisikan memiliki jangkauan antara 3.000 hingga 5.500 km.[2] Sementara itu, Traktat INF (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) yang ditandatangani antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1987 mendefinisikan rudal jarak menengah sebagai rudal dengan jangkauan antara 1.000 hingga 5.500 km, yang mencakup baik MRBM maupun IRBM.[3]

Perbedaan dengan MRBM dan ICBM

Klasifikasi Jangkauan Karakteristik
Rudal balistik jarak pendek (SRBM) < 1.000 km Rudal taktis, biasanya digunakan di medan perang
Rudal balistik jarak menengah (MRBM) 1.000–3.000 km Rudal teater operasional, dapat menjangkau negara tetangga
Rudal balistik jarak menengah antara (IRBM) 3.000–5.500 km Rudal strategis regional, mampu menjangkau benua terdekat
Rudal balistik antarbenua (ICBM) > 5.500 km Rudal strategis global, mampu menjangkau seluruh dunia

Sejarah perkembangan

Era Perang Dingin

Pengembangan IRBM dimulai pada era Perang Dingin sebagai upaya negara-negara besar untuk memiliki kemampuan serangan jarak menengah tanpa harus mengembangkan ICBM yang lebih kompleks dan mahal.

  • Uni Soviet: Mengembangkan R-12 Dvina (SS-4 Sandal) pada akhir 1950-an, yang menjadi IRBM pertama yang beroperasi secara luas. Rudal ini memiliki jangkauan 2.080 km dan menjadi pemicu utama Krisis Rudal Kuba tahun 1962 ketika Uni Soviet menempatkannya di Kuba.[4] Uni Soviet kemudian mengembangkan R-14 Chusovaya (SS-5 Skean) dengan jangkauan 4.500 km.
  • Amerika Serikat: Mengembangkan PGM-17 Thor dan PGM-19 Jupiter sebagai IRBM pertama. Thor ditempatkan di Inggris Raya antara tahun 1959 hingga 1963, sementara Jupiter ditempatkan di Italia dan Turki. Keberadaan Jupiter di Turki juga menjadi salah satu faktor dalam Krisis Rudal Kuba.[5]
  • Tiongkok: Mulai mengembangkan IRBM pada tahun 1960-an dengan rudal DF-4 (CSS-3), yang beroperasi pada tahun 1970. DF-4 memiliki jangkauan 4.750 km dan merupakan rudal balistik jarak menengah pertama Tiongkok yang juga berfungsi sebagai prototipe untuk ICBM DF-5 pertama mereka.[6]

Pasca Perang Dingin

Setelah berakhirnya Perang Dingin, pengembangan IRBM terus berlanjut di berbagai negara, terutama di kawasan Asia:

  • India: Mengembangkan seri rudal Agni, dengan Agni-III (jangkauan 3.500–5.000 km) dan Agni-IV (jangkauan 4.000 km) sebagai IRBM operasional. Agni-V dengan jangkauan 5.500–8.000 km berada di ambang batas antara IRBM dan ICBM.[7]
  • Korea Utara: Mengembangkan beberapa IRBM termasuk Hwasong-10 (BM-25 Musudan) dengan jangkauan 2.500–4.000 km, Hwasong-12 dengan jangkauan 4.500–5.000 km, dan Hwasong-14 yang merupakan ICBM pertama Korea Utara.[8]
  • Pakistan: Mengembangkan Ghauri dan Shaheen series, dengan Shaheen-III memiliki jangkauan 2.750 km.[9]
  • Iran: Mengembangkan rudal Shahab-3 (jangkauan 1.000–2.000 km), yang merupakan MRBM, serta IRBM seperti Emad (2.500 km) dan Khorramshahr (2.000 km) dengan varian jangkauan lebih jauh.[10]

Traktat INF dan dampaknya

Traktat INF (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1987, yang melarang pengembangan, produksi, dan penempatan rudal balistik jarak menengah (1.000–5.500 km) berbasis darat. Traktat ini menghilangkan seluruh IRBM dan MRBM berbasis darat dari inventaris kedua negara.[3]

Amerika Serikat menarik diri dari traktat tersebut pada 2 Agustus 2019, dengan alasan bahwa Rusia telah melanggar ketentuan traktat dengan mengembangkan rudal 9M729 (SSC-8).[11] Penarikan diri ini membuka jalan bagi pengembangan kembali IRBM berbasis darat oleh kedua negara.

IRBM saat ini

Negara dengan IRBM aktif

  • Tiongkok: DF-4 (akan dipensiunkan), DF-26 (jangkauan 4.000 km) – DF-26 juga memiliki varian anti-kapal[6]
  • India: Agni-III, Agni-IV, Agni-V (diklasifikasikan sebagai ICBM oleh India, namun beberapa analis menganggapnya sebagai IRBM)
  • Korea Utara: Hwasong-10 (Musudan), Hwasong-12, Hwasong-8 (hipersonik)[8]
  • Iran: Emad, Khorramshahr, Qiam (mendekati jangkauan IRBM)[10]
  • Israel: Jericho-3 (jangkauan 4.800–6.500 km) – diyakini sebagai IRBM atau ICBM[12]
  • Rusia: Setelah INF bubar, Rusia mengembangkan rudal 9M729 (SSC-8) yang menjadi pemicu pembubaran traktat[11]
  • Amerika Serikat: Setelah INF bubar, AS mengembangkan sistem IRBM berbasis darat baru seperti Dark Eagle (LRHW) yang memiliki jangkauan hingga 2.775 km[13]

Negara dengan IRBM yang tidak aktif atau tidak dikonfirmasi

  • Prancis: Pernah mengembangkan S-2 dan S-3 IRBM berbasis silo yang dipensiunkan pada tahun 1996[14]
  • Irak: Mengembangkan Al-Abbas (varian Scud yang dimodifikasi) pada era Saddam Hussein, tetapi dihancurkan setelah Perang Teluk[15]

Teknologi

Sistem panduan

IRBM modern umumnya menggunakan kombinasi:

Sistem propulsi

IRBM dapat menggunakan:

  • Bahan bakar cair – jangkauan lebih jauh, tetapi waktu persiapan lebih lama
  • Bahan bakar padat – waktu respons lebih cepat, perawatan lebih mudah
  • Bahan bakar hipergolik – dapat disimpan dalam waktu lama dalam keadaan siap pakai

Hulu ledak

IRBM dapat membawa berbagai jenis hulu ledak:

  • Konvensional (daya ledak tinggi)
  • Nuklir (strategis)
  • MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle) – kemampuan membawa beberapa hulu ledak dengan target berbeda
  • HGV (Hypersonic Glide Vehicle) – kendaraan luncur hipersonik untuk menghindari intersepsi

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Wragg, David W. (1974). A Dictionary of Aviation (edisi ke-1st American). New York: Frederick Fell, Inc. hlm. 166. ISBN 0-85045-163-9.
  2. ^ Missile Defense Agency (2020). "Ballistic Missile Defense System Overview".
  3. ^ a b U.S. Department of State (1987). "Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty".
  4. ^ National Security Archive (1962). "Cuban Missile Crisis Briefing Materials".
  5. ^ U.S. Air Force (1959). "PGM-17 Thor System Description".
  6. ^ a b CSIS Missile Defense Project. "Dong Feng-4 (CSS-3)". Missile Threat. Center for Strategic and International Studies.
  7. ^ India Ministry of Defence (2023). "Annual Report 2022-23".
  8. ^ a b CSIS Missile Defense Project. "North Korea Missile Inventory". Missile Threat.
  9. ^ Pakistan Ministry of Defence (2023). "Missile Capabilities".
  10. ^ a b CSIS Missile Defense Project. "Iran Missile Inventory". Missile Threat.
  11. ^ a b U.S. Department of State (2019). "INF Treaty Withdrawal".
  12. ^ Federation of American Scientists. "Jericho 3".
  13. ^ U.S. Army (2023). "Long Range Hypersonic Weapon".
  14. ^ CSIS Missile Defense Project. "France Missile Inventory".
  15. ^ UNSCOM (1999). "Iraqi Missile Programs".

Daftar pustaka

  • Aaron Karp (1996). Ballistic Missile Proliferation: The Politics and Technics. Oxford University Press. ISBN 9780198291747.
  • Dennis M. Gormley (2018). The Missile Threat: A Global Perspective. Center for International Security and Cooperation.
  • "Missile Threat Database". Center for Strategic and International Studies (CSIS). Diakses tanggal 2026-03-22.
  • "World Missile Inventories". Arms Control Association. Diakses tanggal 2026-03-22.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement