Rodong-1
| Nodong / Rodong (Hwasong-7) | |
|---|---|
| Jenis | Rudal balistik jarak menengah (MRBM) |
| Negara asal | Korea Utara |
| Sejarah pemakaian | |
| Masa penggunaan | 1994–sekarang |
| Digunakan oleh | Korea Utara, Iran (sebagai Shahab-3), Pakistan (sebagai Ghauri) |
| Sejarah produksi | |
| Tahun | Akhir 1980-an |
| Produsen | Korea Utara (dengan bantuan Tiongkok dan Rusia) |
| Varian | Nodong-A (Hwasong-7), Shahab-3 (Iran), Ghauri (Pakistan) |
| Spesifikasi | |
| Hulu ledak | Konvensional atau nuklir |
| Hulu ledak | 700–1.200 kg |
| Jenis Mesin | Roket cair satu tahap |
| Daya jelajah | 900–1.300 km |
| Sistem pemandu |
Sistem navigasi inersia |
| Akurasi | CEP 2.000 m |
| Alat peluncur |
Peluncur jalan raya (TEL) |
Nodong (juga dieja Rodong; nama resmi Korea Utara: Hwasong-7) adalah rudal balistik jarak menengah (MRBM) yang dikembangkan oleh Korea Utara. Rudal ini merupakan salah satu sistem senjata utama Korea Utara yang mampu menjangkau seluruh Korea Selatan dan sebagian besar Jepang.
Sejarah pengembangan
Nodong dikembangkan pada akhir tahun 1980-an sebagai bagian dari transfer teknologi dari Uni Soviet. Rudal ini merupakan versi pengembangan dari rudal Scud-C Soviet. Pengembangan Nodong tidak sepenuhnya merupakan upaya independen Korea Utara, melainkan melibatkan kerja sama dengan Tiongkok dan Rusia.[1]
Rudal ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994. Derivatif dari Nodong digunakan sebagai tahap pertama dari rudal jarak jauh Taepodong-1 ketika diluncurkan pada tahun 1998. Meskipun roket tersebut gagal mencapai orbit, Nodong berhasil berfungsi sebagai tahap pertamanya.[1]
Uji coba Nodong juga dilakukan setidaknya dua kali pada tahun 2016.
Desain
Nodong adalah rudal berbahan bakar cair dengan satu tahap. Rudal ini memiliki jangkauan maksimum 1.250 km (776 mil) dan dapat membawa hulu ledak seberat 1.200 kg. Rudal ini kemungkinan mampu membawa hulu ledak nuklir.[1]
Sebagai sistem yang dapat dipindahkan melalui jalan raya (road-mobile), rudal ini dapat diluncurkan dari berbagai lokasi dan mudah disembunyikan, sehingga lebih tahan terhadap serangan pre-emptif.[1]
Varian dan proliferasi
Karena isolasi internasionalnya, Korea Utara menggunakan ekspor sistem rudal sebagai sumber pendapatan negara. Libya, Suriah, Pakistan, dan Iran telah menjadi penerima sistem rudal dari Korea Utara.[1]
- Shahab-3: Iran menerima sekitar 150 rudal Nodong dari Korea Utara pada akhir 1990-an sebagai bagian dari perjanjian transfer teknologi. Iran kemudian mengganti namanya menjadi Shahab-3 dan mengembangkan kemampuan untuk memproduksinya secara mandiri. Shahab-3 memiliki kemiripan struktural dan komponen mekanis yang tinggi dengan Nodong.[1]
- Ghauri: Pakistan juga menerima teknologi Nodong dan mengganti namanya menjadi Ghauri. Kesamaan dimensi dan komponen mekanis antara Ghauri dan Nodong juga menjadi bukti transfer teknologi ini.[1]
Implikasi strategis
Meskipun Korea Utara belum pernah menggunakan Nodong dalam konflik, rudal ini tetap menjadi ancaman signifikan bagi kawasan Asia Timur karena perilaku Korea Utara yang tidak dapat diprediksi. Dengan jangkauan 1.250 km, Nodong membahayakan Jepang, Korea Selatan, Tiongkok timur laut, dan sebagian Rusia. Instalasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut juga berada dalam jangkauan serangan rudal ini.[1]
Pada Maret 2014, Korea Utara menguji tembak dua rudal Nodong ke Laut Jepang.[1]
Lihat pula
Referensi
Operator
Pranala luar
- CNS report North Korea's Balistic Missile Capabilities 2006 Diarsipkan 2007-07-29 di Wayback Machine.
- Center for Nonproliferation Studies, North Korea's Ballistic Missile Program Diarsipkan 2006-02-09 di Wayback Machine.
- Claremont Institute, MissileThreat.com, No-dong 1 Diarsipkan 2005-12-26 di Wayback Machine.
- GlobalSecurity.org, Nodong-1
- National Threat Initiative, Nodong: Overview and Technical Assessment
- Institute for Science and International Security, ISIS
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


