Reseptor sensorik
Artikel ini perlu ditulis ulang agar memenuhi standar Wikipedia. (Juli 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juli 2025) |
Reseptor sensorik adalah struktur atau sel khusus dalam tubuh yang berfungsi untuk mendeteksi dan menanggapi berbagai bentuk rangsangan dari lingkungan luar maupun dari dalam tubuh. Reseptor ini merupakan bagian penting dari sistem saraf sensorik, yang memungkinkan manusia dan hewan untuk merasakan, memahami, dan bereaksi terhadap perubahan di sekitar mereka.[1]
Klasifikasi reseptor sensorik
Reseptor sensorik dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis rangsangan yang mereka deteksi: [2]
1. Mekanoreseptor
Merespons rangsangan mekanis seperti tekanan, getaran, regangan, dan sentuhan. Contoh:
- Korpuskula Meissner – deteksi sentuhan ringan
- Korpuskula Pacini – deteksi tekanan dalam dan getaran
- Diska Merkel, korpuskula Ruffini, dan reseptor bulu rambut
2. Termoreseptor
Merespons perubahan suhu. Terdapat dua jenis utama:
- Termoreseptor dingin (diaktifkan oleh suhu rendah)
- Termoreseptor panas (diaktifkan oleh suhu tinggi)
3. Nosiseptor
Merespons rangsangan nyeri akibat kerusakan jaringan atau potensi bahaya (mekanis, termal, kimiawi). Umumnya terdapat di kulit, jaringan ikat, dan organ dalam.[5]
4. Fotoreseptor
Merespons cahaya. Terletak di retina mata:
- Sel batang – sensitif terhadap cahaya redup
- Sel kerucut – mendeteksi warna dan detail visual
5. Kemoreseptor
Merespons zat kimia dalam larutan, seperti:
- Reseptor penciuman di hidung (bau)
- Reseptor pengecap di lidah (rasa)
- Reseptor kimia darah (deteksi kadar O₂, CO₂, pH)
6. Proprioseptor
Merespons posisi dan gerakan tubuh, terutama di otot, tendon, dan sendi. Contoh:
- Muscle spindle – deteksi panjang otot
- Golgi tendon organ – deteksi tegangan otot
Mekanisme kerja
Rangsangan eksternal diubah menjadi impuls listrik melalui proses yang disebut transduksi sensorik. Impuls ini dikirim melalui neuron sensorik ke sistem saraf pusat untuk diproses menjadi persepsi sadar atau refleks otomatis.
Peran klinis
Kerusakan atau gangguan pada reseptor sensorik dapat menyebabkan berbagai gangguan, seperti:
- Neuropati perifer (hilangnya sensasi)
- Hiperalgesia (kepekaan berlebihan terhadap nyeri)
- Anosmia (hilangnya penciuman)
- Disfungsi proprioseptif (gangguan keseimbangan)
Lihat pula
Referensi
- ^ Marieb, Elaine N. (2018). Human Anatomy & Physiology (Edisi 11th). Pearson. ISBN 9780134807426.
- ^ "Sensory Receptors – Function and Classification". NCBI Bookshelf. National Center for Biotechnology Information. Diakses tanggal 4 Juli 2025.
- ^ "Sensory receptor". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 4 Juli 2025.
- ^ "Sensory Receptor". ScienceDirect. Diakses tanggal 4 Juli 2025.
- ^ Tortora, Gerard J. (2017). Principles of Anatomy and Physiology (Edisi 15th). Wiley. ISBN 9781119400066.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


