Rasisme di Indonesia

Rasisme di Indonesia merujuk kepada sikap negatif, stereotipe, diskriminasi ataupun perlakuan tidak setara terhadap individu atau kelompok berdasarkan ras, etnisitas, warna kulit, asal‑daerah, atau identitas budaya[1] mereka di wilayah Republik Indonesia.
Latar belakang

Indonesia adalah negara yang sangat beragam secara etnis, budaya, agama, bahasa dan asal‑daerah. Meskipun nilai nasional seperti Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (“Berbeda‑beda tetapi tetap satu”)[2] menekankan persatuan dalam keragaman, praktik sosial menunjukkan bahwa diskriminasi berbasis ras/etnis masih terjadi.[3][4] Istilah “ras” dalam konteks Indonesia sering bercampur dengan kategori etnis, suku, asal‑daerah, dan bahasa—sehingga meskipun konstruk sosial berbeda dengan pengertian ras di negara Barat, fenomena kekuasannya serupa: perlakuan berbeda terhadap “yang dianggap berbeda”.[5][6]
Sejarah
Beberapa faktor historis dan struktural menjadi akar munculnya rasisme/ diskriminasi etnis di Indonesia:
Masa kolonial

Di masa kolonial, Belanda menetapkan strata sosial yang membedakan antara Belanda (termasuk Eropa), Timur Asing dan Bumiputera. Struktur sosial ini secara bertahap menyebabkan kecemburuan sosial dan disparitas sosial dan ekonomi. Hal ini dikarenakan struktur sosial berdasarkan ras atau etnis sering diasosiasikan dengan profesi seperti para pedagang Arab dan China lebih dipercaya untuk menjalankan kegiatan ekonomi ketimbang penduduk asli Nusantara.[7][8][9]
Pasca-kemerdekaan
Pasca kemerdekaan dan mulai berkurangnya jumlah penduduk Eropa terutama pasca Sinterklas Hitam,[10] isu rasisme mulai mengerucut antara Bumiputra (Pribumi) vs Non-Pribumi lebih mengarah ke etnis China),[11] dominasi budaya Jawa (terkadang dianggap sebagai Jawanisasi)[12] di sebagian struktur nasional dan ketimpangan pembangunan antara daerah menjadi pemicu ketegangan.
Mobilitas internal dan migrasi: misalnya orang dari wilayah timur Indonesia (Papua, Maluku, Nusa Tenggara) yang pindah ke Jawa atau kota besar sering menghadapi stereotipe dan diskriminasi berdasarkan asal‑daerah atau cara berbicara.[13] Globalisasi dan tekanan ekonomi juga menyebabkan persaingan sosial, migrasi, peran minoritas etnis dalam ekonomi memicu munculnya resentimen sosial‑ekonomi yang sering dikombinasikan dengan etnisitas.[9] isu transmigrasi ke wilayah Timur juga menyebabkan wilayah seperti Papua mengalami "kemunduran" kuantititas secara bertahap.[14][15]
Bentuk dan kelompok terdampak
Kelompok terdampak utama
Etnis Tionghoa

Etnis Tionghoa sering mendapat stigma akibat sentimen anti-Tionghoa yang telah sejak lama "mengendap" dalam dinamika sosial di Indonesia bahkan semenjak zaman kolonial.[8] Lalu kebijakan pemerintah Orde Baru yang semakin merepresif etnis Tionghoa termasuk dalam segi sosial dan budaya bahkan tidak diperkenankan menggunakan nama berbau Tionghoa.[16] Isu seperti diskriminasi dalam partisipasi politik, kepemilikan lahan, disparitas ekonomi,[7] diskriminasi sosial-linguistik juga semakin menyebabkan streotipe negatif terhadap mereka.
Timur Indonesia

Masyarakat dari wilayah Timur Indonesia (Papua, Maluku, Nusa Tenggara) sering mengalami diskriminasi akibat warna kulit, sosio-linguistik ketika mereka mendatangi kota-kota besar di wilayah Jawa atau Indonesia.[17] Streotipe negatif seperti pemabuk atau pembuat rusuh sering di alamatkan pada orang Timur.[17]
Masyarakat adat dan penghayat kepercayaan

Masyarakat adat[18] dan penghayat kepercayaan[19] juga mendapat perlakuan berbeda dan sering menghadapi ekslusi sosial. Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa kelompok ini cenderung mendapat resiko diskriminasi yang tinggi.[20]
Bentuk‑bentuk praktik diskriminasi
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa diskriminasi berbasis etnis di Indonesia muncul dalam sejumlah bentuk, termasuk diskriminasi dalam akses pekerjaan, pelayanan publik, perumahan, dan hak kepemilikan—seperti terlihat dalam kasus lahan yang dialami warga etnis Tionghoa di Yogyakarta;[21] diskriminasi linguistik terhadap penutur dialek wilayah timur yang kerap dianggap menggunakan ragam Bahasa Indonesia “lebih rendah”;[22] maraknya ujaran kebencian berbasis etnis di media sosial, terutama yang menyasar etnis Tionghoa; kekerasan serta pelanggaran hak yang dialami masyarakat Papua;[23] dan ketimpangan struktural yang menempatkan kelompok etnis minoritas pada posisi rentan secara ekonomi maupun sosial, sehingga memperkuat dinamika diskriminasi di berbagai sektor kehidupan.[7][9]
Di sosial media, hate speech kerap dijumpai. Etnis Tionghoa sering menkadi korban ujaran kebencian di media sosial.[24] Meskipun terdapat Undang‑Undang No. 40 Tahun 2008, pelaksanaan perlindungan terhadap diskriminasi ras/etnis masih lemah.[25]
Referensi
- ^ www.apa.org https://www.apa.org/topics/racism-bias-discrimination. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Kompas, Tim Harian (2021-10-28). "Sustaining Unity in Diversity". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ "Rasisme dan HAM • Amnesty International Indonesia". Amnesty International Indonesia. 2021-04-05. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ "Indonesia Tak Serius Atasi Rasisme | HRWG". www.hrwg.or.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ administrator (2024-02-03). "perbedaan sara dan rasis". Perbedaan.co.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Hadayani, Heidira Witri; Teresa, Sonya; Ginting, Tantri Fricilla (2020-07-03). "Jebakan SARA dalam praktik rasisme terhadap warga Papua". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ a b c Vicky Kurniawan, Kurniawan (2025-02-20). "Peran Media Dalam Gerakan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM) dan Aksi Bela Islam 212: Sebuah Sejarah Komparatif". Universitas Andalas.
- ^ a b Takashi Shiraishi (1997). Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926.
- ^ a b c "One moment, please..." www.ejecs.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ "Sinterklas Hitam Terakhir Sebelum Diusirnya Warga Belanda dari Tanah Air". VOI - Waktunya Merevolusi Pemberitaan. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Dhani, Arman. "Rasisme terhadap Etnis Tionghoa Dari Masa ke Masa". tirto.id. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Rush, James R. (2020-05-28). Adicerita Hamka (dalam bahasa Inggris). Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-06-4406-6.
- ^ Martha, Fajar (2025-06-24). "Ideologi, Bahasa dan Penyingkiran: Eksklusi Sosial Berbasis Bahasa yang Dihadapi Mahasiswa Asal Indonesia Timur di Pulau Jawa". Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (dalam bahasa Inggris). 8 (3): 260–272. doi:10.37329/ganaya.v8i3.4519. ISSN 2615-0913.
- ^ Ardanareswari, Indira. "Sejarah Transmigrasi Orang Jawa ke Papua". tirto.id. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Kompas, Tim Harian (2023-01-09). "Potret Kesejahteraan dan Kekerasan di Papua". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ "Masa Krisis Etnis Tionghoa di Indonesia setelah G30S". IndoPROGRESS. 2022-03-31. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ a b "Stereotip Terhadap Orang Timur dan Diskriminasi Rasial". The Columnist. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Dewi, Udiana (2022-08-09). "Nasib masyarakat adat di Indonesia: terabaikan, termarginalisasi, tidak punya perlindungan hukum yang jelas". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Kompas, Tim Harian (2020-07-22). "Penghayat Kepercayaan, Diakui tapi Masih Didiskriminasi". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Setiawan, Refly; Buana, Dana Riksa; Tanjung, Indah Pratiwi (2023-07-26). "The Role of Ethnic Identity in Overcoming Discrimination Against Ethnic Minorities and Politics in Indonesia". SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i (dalam bahasa Inggris). 10 (4): 1077–1092. doi:10.15408/sjsbs.v10i4.33985. ISSN 2654-9050.
- ^ Mustajab, Imam; Purwanta, Hieronymus; Pelu, Musa (2023-03-28). "The Chinese resistance to land rights discrimination in Indonesia". Multidisciplinary Science Journal (dalam bahasa Inggris). 5 (2). ISSN 2675-1240.
- ^ Wijaya, Ayudhia Ratna; Rizal, Cesar Abdul (2023-04-26). "Social Discrimination: A Case Study of Social Subordination to Eastern Vernacular Indonesian Speakers". PRASASTI: Journal of Linguistics (dalam bahasa Inggris). 8 (1): 1–16. doi:10.20961/prasasti.v8i1.59278. ISSN 2527-2969.
- ^ Sumodiningrat, Aprilian; Nabila, Jihan Arsya (2022-08-31). "Against Discrimination: Reviewing Papuan Ethnic from Human Rights Perspective". Journal of Contemporary Sociological Issues (dalam bahasa Inggris). 2 (2): 116–135. doi:10.19184/csi.v2i2.27711. ISSN 2775-2895.
- ^ Floranti, Astri Dwi (2022-07-30). "Racism Toward Chinese Ethnic Group in Indonesian Social Media: Hate Speeches Analysis from Forensic Linguistic Perspective". JOMANTARA (dalam bahasa Inggris). 2 (2): 112–130. doi:10.23969/jijac.v2i2.5753. ISSN 2798-7272.
- ^ Afresal, Moch Nouvanp (2024-12-31). "Legal Study on Legal Mechanisms to Overcome Racism in Indonesia: Based on Law Number 40 of 2008 concerning the Elimination of Racial and Ethnic Discrimination". MIMBAR YUSTITIA : Jurnal Hukum dan Hak Asasi Manusia (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 177–184. doi:10.52166/mimbar.v8i2.8001. ISSN 2580-457X.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


