Qantas Penerbangan 1
City of Darwin terlihat setelah terjadinya peristiwa tersebut | |
| Ringkasan kecelakaan | |
|---|---|
| Tanggal | 23 September 1999 |
| Ringkasan | Keluar jalur landasan pacu akibat selip air |
| Lokasi | |
![]() | |
| Pesawat | |
VH-OJH, pesawat yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, pada tahun 2008 | |
| Jenis pesawat | Boeing 747-438 |
| Nama pesawat | City of Darwin |
| Operator | Qantas |
| IATA | QF1 |
| ICAO | QFA1 |
| Kode panggil | QANTAS 1 |
| Registrasi | VH-OJH |
| Asal | Bandar Udara Sydney, Sydney, Australia |
| Perhentian | Bandar Udara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand |
| Tujuan | Bandar Udara Heathrow, London, Inggris |
| Orang dalam pesawat | 410 |
| Penumpang | 391 |
| Awak | 19 |
| Tewas | 0 |
| Cedera | 38 |
| Selamat | 410 |
Qantas Penerbangan 1 (QF1 atau QFA1) merupakan penerbangan penumpang Qantas yang melayani rute antara Sydney dan London dengan persinggahan di Bangkok-Don Mueang. Pada 23 September 1999, pesawat yang mengoperasikan Penerbangan 1 berangkat dari Sydney pada hari itu dan mengalami kecelakaan berupa keluar landasan (runway overrun) di Bandar Udara Internasional Don Mueang, Bangkok, saat melakukan pendaratan untuk transit.
Penerbangan
Penerbangan Qantas antara London dan Australia menempuh jalur yang dikenal sebagai "Jalur Kangguru ("Kangaroo Route").[1][2] Istilah ini merujuk pada rute penerbangan antara Australia dan Britania Raya yang melintasi Belahan Bumi Timur.
Penerbangan ini dikendalikan oleh Kapten Pengawas Senior Stone Loberg menggunakan pesawat Boeing 747-438 dengan registrasi VH-OJH.[1] Pesawat lepas landas dari Sydney pada pukul 16.45 waktu setempat, dan setelah lebih dari delapan jam penerbangan, mulai melakukan pendekatan (approach) ke Bandar Udara Internasional Don Mueang pada pukul 22.45 waktu setempat.[1]
Kecelakaan
Selama pendekatan ke Bangkok, kondisi cuaca sekitar sudah memburuk secara signifikan, dari jarak pandang 5 mil (statute mile) setengah jam sebelum pendaratan menjadi sekitar setengah mil saat pendaratan.[1] Awak penerbangan mengamati adanya awan badai di atas bandar udara. Laporan dari darat menyebutkan adanya hujan deras, meskipun kondisi seperti ini cukup umum terjadi di Bangkok.
Tujuh menit sebelum Penerbangan 1 mendarat, sebuah Airbus A330 milik Thai Airways mendarat dengan normal.[1] Namun, tiga menit sebelum pendaratan, sebuah Boeing 747 milik Qantas lainnya (QF15, rute Sydney–Roma via Bangkok) membatalkan pendaratan dan naik kembali (go around) akibat jarak pandang yang buruk.[1] Awak QF1 tidak mengetahui hal ini.
Saat pendekatan akhir, kopilot mengendalikan pesawat. Ketinggian dan kecepatan pesawat relatif tinggi, tetapi masih dalam batas yang ditetapkan oleh perusahaan.[1] Hujan semakin deras hingga lampu landasan hanya terlihat sesaat setiap kali penyeka kaca depan menyapu air. Tepat sebelum menyentuh landasan, kapten, yang khawatir dengan titik sentuh (touchdown point) yang terlalu jauh (lebih dari 3.000 kaki (910 m) dari ambang landasan) dan tidak dapat melihat ujung landasan, memerintahkan kopilot untuk melakukan pembatalan pendaratan. Kopilot kemudian menambah tenaga mesin, tetapi tidak mengaktifkan sakelar takeoff/go-around (TO/GA).
Pada saat itu, jarak pandang tiba-tiba membaik secara signifikan dan roda pendaratan menyentuh landasan, meskipun laju pesawat masih terus bertambah. Kapten kemudian memutuskan untuk membatalkan go-around dengan menarik tuas tenaga mesin, meskipun ia bukan pilot yang sedang mengendalikan pesawat.[1] Tindakan ini menimbulkan kebingungan karena tidak dikomunikasikan kepada kopilot yang secara formal masih memegang kendali.[1] Saat mengambil alih tindakan kopilot, kapten secara tidak sengaja membiarkan satu mesin tetap pada daya TO/GA, sehingga pengaturan pengereman otomatis (auto-brake) yang telah diaktifkan sebelumnya menjadi tidak aktif.
Pendaratan tetap dilanjutkan, tetapi pengereman manual baru dilakukan ketika pesawat telah melewati lebih dari 5.200 kaki (1.600 m) di sepanjang landasan. Pesawat kemudian meluncur di atas lapisan air (aquaplaning) dan tergelincir di landasan, sehingga menyimpang jauh dari garis tengah landas pacu. Prosedur operasi standar perusahaan mengharuskan penggunaan reverse thrust (dorongan balik mesin) pada tingkat tidak aktif (idle) saat pendaratan dan pengaturan sirip sayap pada sudut 25 derajat, bukan maksimum 30 derajat. Kombinasi sirip sayap 25 derajat, tidak adanya pengereman otomatis, tidak menggunakan dorongan balik, pendekatan yang tinggi dan cepat, titik sentuh yang terlambat, manajemen kokpit yang kurang baik, serta genangan air di landasan, menyebabkan pesawat melampaui ujung landasan.[1]
Pesawat secara bertahap melambat, keluar dari ujung landasan melewati area rerumputan yang berlumpur, menabrak antena radio darat, dan akhirnya berhenti dengan bagian hidung bertumpu pada jalan batas bandar udara.[1]
Tidak ada cedera serius pada penumpang. Evakuasi berlangsung tertib sekitar 20 menit setelah pendaratan keras tersebut. Sebanyak 38 penumpang dilaporkan mengalami cedera ringan.[1]
Kerusakan

Tabrakan dengan antena menyebabkan roda pendaratan depan dan sayap kanan patah, dengan roda pendaratan depan tertekuk ke dalam badan pesawat. Pesawat meluncur dengan posisi hidung mengarah ke bawah dan sayap kanan lebih rendah, sehingga menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada bagian hidung serta kerusakan pada kedua mesin kanan dan dudukannya. Masuknya roda pendaratan depan ke dalam badan pesawat juga menyebabkan sistem komunikasi internal kabin dan sistem pengumuman publik mengalami kerusakan.
Kerusakan yang terjadi semula membuat pesawat ini dikategorikan sebagai kerugian total (write-off), tetapi demi menjaga reputasinya, Qantas memperbaikinya dengan biaya sekitar 100 juta dolar Australia.[3] Memulihkan pesawat tersebut ke layanan operasional memungkinkan Qantas mempertahankan rekornya yang bebas dari kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan total pesawat sejak dimulainya Era Jet.[1][3]
Pesawat
Pesawat dengan nomor seri 24806 tersebut dikirimkan dalam kondisi baru kepada Qantas pada Agustus 1990 dan terdaftar dengan nomor registrasi VH-OJH. Pesawat ini tidak lagi beroperasi sejak September 2012 dan dibongkar di Pinal Airpark pada tahun 2014 untuk diambil suku cadangnya.
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m Richards, Bella (25 September 2022). "This Week In 1999 Qantas Flight 1 Suffered A Hydroplaning-Induced Runway Excursion In Bangkok". Simple Flying (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 25 April 2026.
- ^ Conforti, Kaeli. "Qantas 'Kangaroo Route' To Fly Between London And Darwin Starting November 14". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 25 April 2026.
- ^ a b Nancarrow, Doug (1 November 2015). Game Changer. HarperSports. ISBN 978-1-4607-5044-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



