Prunus zippeliana

Prunus zippeliana
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Rosales
Famili: Rosaceae
Genus: Prunus
Spesies:
P. zippeliana
Nama binomial
Prunus zippeliana
Sinonim[1]
  • Laurocerasus zippeliana
  • Prunus macrophylla Siebold & Zucc.
  • Prunus kanehirae Hayata ex Hisauti
  • Prunus kanehirai Hayata ex Hisauti
  • Prunus oxycarpa (Hance) Maxim.
  • Prunus bakti Hisauchi
  • Prunus nicotianifolia Loisel. ex Steud.
  • Pygeum oxycarpum Hance.

Prunus zippeliana atau ceri daun besar (bahasa Mandarin: 大叶桂櫻, Dà yè guì yīng) merupakan spesies dari genus Prunus yang berasal dari wilayah Asia Timur, khususnya Tiongkok, Jepang, dan Vietnam,[2] dengan populasi liar yang juga ditemukan di Thailand.[3] Spesies ini umumnya tumbuh di daerah pegunungan berkapur pada ketinggian antara 400 hingga 2.400 meter di atas permukaan laut, terutama di hutan campuran dan semak belukar. Berdasarkan penelitian tahun 1994, P. zippeliana diketahui memiliki kemampuan paling tinggi di antara spesies Prunus lainnya dalam menghambat pembentukan melanin, menjadikannya menarik untuk penelitian kosmetik dan farmasi.[4] Selain itu, tanaman ini juga berperan penting dalam ekosistem pertanian sebagai inang musim dingin bagi Asphondylia yushimai, yaitu lalat empedu penggerek polong kedelai yang dikenal sebagai salah satu hama utama tanaman kedelai di Jepang.[5]

Deskripsi

Prunus zippeliana merupakan pohon berukuran sedang hingga besar, dengan tinggi umumnya antara 10 hingga 25 meter, meskipun beberapa individu dapat mencapai sekitar 30 meter. Kulit batangnya berwarna abu-abu kehijauan dan cenderung mengelupas membentuk bercak-bercak yang menampakkan lapisan berwarna oranye kemerahan di bawahnya. Seiring waktu, permukaan batang yang terpapar mengalami perubahan warna, menciptakan tampilan visual yang kontras dan menarik. Daunnya bertekstur tebal seperti kulit, bertangkai sepanjang 1–2 cm, dan berukuran relatif besar. Masa berbunga berlangsung dari Juli hingga Oktober, dengan buah yang matang pada musim dingin. Bunganya muncul dalam bentuk tandan kecil berdiameter sekitar 5–9 mm dan memiliki 20 hingga 25 benang sari, sedangkan buahnya berwarna coklat kehitaman ketika masak.[6]

Kegunaan

Kayu dari spesies ini sering digunakan sebagai bahan konstruksi besar di Taiwan.[7] Sedangkan di Vietnam bagian utara, akar kering P. zippeliana telah digunakan dalam pengobatan rakyat untuk keluhan sendi, radang sendi, sakit tulang belakang, dan nyeri saraf perifer yang dosisnya sekitar 10-20 g akar kering untuk direbus dan diminum.[8] Prunus zippeliana juga digunakan sebagai bahan pencerah kulit atau pengendali hiperpigmentasi karena ekstrak etanol 50% dari daunnya dapat menekan pembentukan melanin pada sel melanoma tikus (B-16) dengan cara menghambat aktivitas enzim tirosinase.[9]

Referensi

  1. ^ "Prunus zippeliana Miq". The Plant List. Diakses tanggal 29 December 2016.
  2. ^ "Laurocerasus zippeliana". Flora of China. Diakses tanggal 3 April 2018.
  3. ^ Maxwell, J.F. (1991) Botanical Notes on Vascular Flora of Chiang Mai Province, Thailand : 2 NAT. HIST. SIAM SOC 39: 71-83
  4. ^ Matsuda, H; Nakamura, S; Kubo, M (1994). "Studies of cuticle drugs from natural sources. II. Inhibitory effects of Prunus plants on melanin biosynthesis". Biological & Pharmaceutical Bulletin. 17 (10): 1417–1420. doi:10.1248/bpb.17.1417. PMID 7874069.
  5. ^ Vacante, Vincenzo; Kreiter, Serge (December 2017). Handbook of Pest Management in Organic Farming. CAB International North America. hlm. 257. ISBN 9781780644998.
  6. ^ "Prunus zippeliana - Useful Temperate Plants". temperate.theferns.info. Diakses tanggal 2025-11-04.
  7. ^ "樹種介紹-黃土樹(Prunus zippeliana )". theme.forest.gov.tw. Diakses tanggal 2025-11-04.
  8. ^ "Prunus zippeliana Miq. var.crassistyla (Card.) J.E. Vidad". Tra cứu dược liệu (dalam bahasa Vietnam). 2019-07-18. Diakses tanggal 2025-11-04.
  9. ^ 松田, 秀秋; 中村, 信介; 久保, 道徳 (1994). "Studies of Cuticle Drugs from Natural Sources. II. Inhibitory Effects of Prunus Plants on Melanin Biosynthesis". Biological & Pharmaceutical Bulletin. 17 (10): 1417–1420. doi:10.1248/bpb.17.1417.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement