Pinang jawa
Pinang jawa (Pinanga javana) merupakan pohon yang termasuk dalam spesies endemik Pulau Jawa yang keberadaannya dilindungi. Artinya, spesies ini merupakan spesies yang terancam punah karena populasinya sangat sedikit. Pemerintah Indonesia telah menetapkan status Pinang jawa sebagai tumbuhan dilindungi dan menerbitkannya pada Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Pada lampiran peraturan tersebut, selain Pinang Jawa, juga terdapat 293 tumbuhan dan satwa yang dilindungi.[1]
Deskripsi

Pinang jawa memiliki nama lokal yang berbeda-beda disetiap daerahnya. Misalnya Pinang hanywar, Pinang penyawar (Jawa Barat), Palem barong (Jawa Timur) dan Pinang jawa. Pohon ini merupakan pohon yang soliter dan kokoh. Pinang jawa memiliki batang tegak dengan tinggi 4-10 m dengan diameter 10-15 cm. Permukaan batangnya berwarna hijau kecoklatan, halus, sedikit bercelah memanjang dengan ruang mencapai 10-30 cm. Daunnya berjumlah 10 di mahkota dengan bentuk daun menyirip. Pelepah daun memiliki panjang hingga 100 cm, tangkai daun sekitar 30 cm dengan bentuk cekung dibagian adaksial serta cekung dibagian abaksial. Anak daun berjumlah 10-15 disetiap sisi rachis, dengan susunan teratur sedikit melengkung.[2] [jawa (Pinanga javana)] Bunga dari Pinanga javana jenisnya yaitu infrafoliar, seperti telapak tangan, menyebar, menggantung dengan panjang sekitar 40-50 cm. Setiap Bungan memiliki 8-13 rakila yang tersusun berselang-seling. Saat muda, rakila berwarna hija dan mengalami perubahan warna menjadi merah muda seiring bertambahnya usia. Bunga putik memiliki warna krem, dengan bakal buah berwarna hijau, teksturnya halus, tebal dibagian tengah, tipis dibagian samping, dengan tepi bersilia dan ujungnya memiliki lendir.[2]
Buah dari pohon Pinang jawa memiliki bentuk bulat seperti telur hingga berbentuk elips dengan ukuran 20-26x11-14 mm, warnanya kuning merah muda pucat pada saat muda. Buah mengalami perubahan warna menjadi merah tua lalu menghitang seiring bertambahnya usia. Selain itu buahnya memiliki pericarp berserat padat, endocarp tipis dan memiliki membran. Biji dari pohon ini berbentuk bulat telur hingga elips dengan ukuran 10-21 x 10-13 mm dan memiliki ruminasi dalam.[2]
Habitat dan distribusi
Pinang jawa salah satu jenis palem endemik yang tersebar di Pulau Jawa, terutama di daerah hutan pegunungan. Lokasi yang pernah tercatat menumbuhkan spesies ini yaitu Gunung Gedeng Pangrango, Gunung Halimun Salak, Gunung Cremai, Gunung Wilis, dan Gunung Slamet.[3]
Informasi mengenai preferensi habitat, studi ekologi dan populasi mengenai spesies ini tidak tersedia dengan baik, sehingga memiliki risiko tinggi untuk punah. Pinang jawa menyukai tipe habitat di lereng bukit dan hutan alam. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu kelembapan tanah, suhu, kelembapan udara dan ketebalan serasah. Kemungkinan ditemukannya Pinang jawa akan lebih besar pada daerah selatan Gunung Slamet. Hal ini dikarenakan daerah selatan lebih dingin dan lebih besar daripada di timur. Kelembapan tanah di selatan juga dua kali lebih besar (65,59%), kelembapan udata mencapai 84,79%. Sedangkan daerah timur memiliki microhabitat lebih panas.[3]
Pertumbuhan Pinang jawa selain dipengaruhi oleh hal-hal diatas, juga dipengaruhi oleh keseimbangan ekosistem. Ekosistem yang seimbang dan bagus didalamnya akan terdapat beberapa hewan yang membantu dalam pertumbuhan dan persebaran Pinang jawa. Gunung Slamet di lereng sebelah selatan ditemukan banyak persebaran biji pinang jawa yang disebabkan oleh kehadiran musang palem yang menjadi agen penyebar biji.[3]
Referensi
- ^ "PP No. 7 Tahun 1999". Database Peraturan | JDIH BPK. Diakses tanggal 2025-12-03.
- ^ a b c WITONO, JOKO R. (1970-01-01). "Phenetic Study on Clustered Pinanga of Java and Bali". Biodiversitas Journal of Biological Diversity. 4 (1). doi:10.13057/biodiv/d040108. ISSN 2085-4722.
- ^ a b c ZULKARNAEN, RIZMOON NURUL; NISYAWATI, NISYAWATI; WITONO, JOKO RIDHO (2019-02-20). "Population study and habitat preferences of Pinang Jawa (Pinanga javana) in Mt. Slamet, Central Java, Indonesia". Biodiversitas Journal of Biological Diversity. 20 (3): 712–718. doi:10.13057/biodiv/d200314. ISSN 2085-4722.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


