Petilasan Keraton Ambarketawang
| Petilasan Keraton Ambarketawang | |
|---|---|
Reruntuhan pagar tembok dari Petilasan Keraton Ambarketawang | |
![]() | |
| Jenis | Pesanggrahan |
| Lokasi | Jalan Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia |
| Luas | 12.000 meter persegi (130.000 sq ft) |
| Didirikan | Hamengkubuwana I |
| Dibangun | 1755 |
| Penggunaan asli | Keraton sementara |
| Pemilik | Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat |
| Nama resmi | Pesanggrahan Ambarketawang |
| Jenis | Situs |
| Ditetapkan | 2014 |
Petilasan Keraton Ambarketawang atau Pesanggrahan Ambarketawang adalah bekas bangunan pesanggrahan yang terletak di Pedukuhan Tlogo Lor, Ambarketawang, Gamping, Sleman, tepatnya di sebelah selatan Cagar Alam Gunung Gamping. Pesanggrahan ini semula dijadikan sebagai keraton sementara Sri Sultan Hamengkubuwana I sebelum Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri. Hamengkubuwana I membangun keraton ini pada tahun 1755 yang kala itu masih bergelar Pangeran Mangkubumi. Bertepatan setelah pecahnya kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Solo) melalui perjanjian Giyanti.
Sejarah
Bangunan yang didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I ini yang diberi nama Ambarketawang, adalah tempat yang sebelumnya terdapat pesanggarahan yang bernama Pesanggrahan Gamping atau disebut pula dengan nama Purapara. Arti dari nama ini sendiri adalah tempat tinggal, lebih spesifik lagi tempat tinggal untuk orang-orang terutama untuk para prajurit Kesultanan Mataram yang berada dalam perjalanan.[1] Secara geografis, letak pesanggrahan ini berada dalam wilayah perbukitan yang cukup tinggi. Ini berhubungan dengan nama Ambarketawang itu sendiri, yakni bila diartikan secara etimologis, ambar yang berarti "harum", sedangkan kata ketawang diartikan sebagai "tinggi". Jadi apabila digabungkan dalam satu frasa, nama ambarketawang adalah "tempat yang tinggi lagi harum".[2]
Pesanggrahan tersebut didirikan di kaki Gunung Gamping yang semula merupakan wilayah tak berpenghuni. Jajaran bukit-bukit berjumlah delapan ini memiliki formasi mirip benteng, dan diberi nama Gunung Ambar Tawang, Gong, Gedhe, Buta, Petruk, Padasan, Tlaga, dan Kliling. Tempat ini kemudian menjadi tempat tinggal sementara Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bertakhta sebagai Hamengkubuwana I, sebelum Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun. Ia bermukim sementara di situ selama satu tahun (9 Oktober 1755 (catatan lain menyebut 6 November) hingga 7 Oktober 1756).[3]
Setelah pembangunan keraton yang berada di Desa Pacethokan (yang menjadi lokasi keraton Yogyakarta hingga saat ini) selesai, Hamengkubuwana I bersama abdi dalemnya segera pindah ke keraton tersebut. Hanya satu abdi dalem yang tetap tinggal di situ, yakni Kiai Wirasuta beserta keluarganya, yang nanti pada kelanjutannya dari kisah dua abdi dalem Sri Sultan ini muncullah tradisi Saparan Bekakak yang masih dilestarikan hingga sekarang.[4]
Deskripsi bangunan
Kondisi Petilasan Keraton Ambarketawang saat ini hanya menyisakan pagar tembok, fondasi, dan tumpukan batu bata merah. Luas total Petilasan Keraton Ambarketawang diperkirakan 80 x 150 meter (260 ft × 490 ft) dan menghadap ke timur. Pada batas pagar tembok sebelah selatan masih terdapat jejak gapura dengan kandang kuda (kestalan).[2]
Secara geografis, lokasi Petilasan Keraton Ambarketawang berbatasan dengan pemakaman di sebelah utara, permukiman penduduk di sebelah barat dan selatan, serta persawahan di sebelah timur. Pada areal petilasan masih dijumpai sisa reruntuhan pagar tembok keliling sisi utara, barat dan selatan. Tembok sisi utara ini berlokasi di tepi jalan masuk menuju ke Cagar Alam Gunung Gamping. Tembok sisi utara ini memiliki panjang 9 meter (30 ft), sisi barat 10 meter (33 ft), dan sisi selatan 6 meter (20 ft). Tinggi tembok tersebut adalah sebesar 3–3,5 meter (9,8–11,5 ft), dan tebal 30 sentimeter (12 in).[5]
Dinding-dinding yang sudah tidak utuh ini diperkirakan karena batu bata merahnya banyak diambil oleh penduduk. Di sebelah utara petilasan terdapat sebuah lorong (urung-urung) yang berfungsi sebagai saluran air, kemudian membelok ke selatan hingga menuju kestalan. Air yang mengalir di saluran tersebut diperkirakan digunakan untuk memandikan kuda dan mencuci kereta kuda.[6] Sementara bagian yang dikelilingi tembok tersebut dikenal dengan istilah Klangenan yang berarti "tempat bercengkerama". Tepat di tengah-tengah antara pagar tembok selatan dan utara terdapat bekas jerambah yang dahulu digunakan sebagai tempat ibadah dan menepi Sultan.[7]
Referensi
- ^ Azzah 2020, hlm. 3.
- ^ a b Azzah 2020, hlm. 4.
- ^ Dani, Griyabaskara & Harlan 2017, hlm. 11.
- ^ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 37.
- ^ Azzah 2020, hlm. 32.
- ^ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 23.
- ^ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 24.
Daftar pustaka
- Azzah, Zaimul, dkk (2020). Monografi Pesanggrahan-Pesanggrahan Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Dani, Dwi Nuryan; Griyabaskara; Harlan, Miranda (2017). Monolit Yogyakarta: Gunung Gamping, Dari Kesultanan Menuju Konservasi. Yogyakarta: BKSDA Yogyakarta. ISBN 978-602-60593-1-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Tashadi; Murniatmo, Gatut; Rumijah, Jumeiri Siti (1993). Suratmin (ed.). Upacara Tradisional Saparan Daerah Gamping dan Wonolelo, Yogyakarta (PDF). Jakarta: Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



