Pertempuran Walaja
| Pertempuran Walaja | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Penaklukan Islam di Persia | |||||||
Peta yang menunjukkan tempat terjadinya Pertempuran Walaja | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Arab Muslim (Khulafaur Rasyidin) | Kekaisaran Persia Sassania, Arab Kristen | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
| Khalid bin Walid | Andarzaghar | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| 15,000[1] | 30,000-50,000[1] | ||||||
| Korban | |||||||
| ~1000+ [1] | 20,000-30,000 [1][2] | ||||||
Pertempuran Walaja adalah pertempuran yang terjadi di Mesopotamia (sekarang Irak) antara pasukan Muslim dan Kekaisaran Persia Sassania yang dibantu sekutunya, pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Sekalipun kalah jumlah tiga banding satu,[2] pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalid bin Walid berhasil mengalahkan pasukan Persia dengan telak pimpinan Andarzaghar.[3]
Kemenangan ini tak lepas dari kecemerlangan strategi Khalid, yang melakukan manuver taktis pengepungan ganda. Taktik ini mirip seperti taktik jenderal Kartage Hannibal saat mengalahkan pasukan Republik Romawi dalam pertempuran Cannae, walaupun Khalid menciptakan versi taktiknya sendiri.
Khalid membuat strategi tempur pada malam sebelum perang. Pertama, pasukannya harus menumbangkan Andarzaghar sebelum mendapat bantuan dari Bahman. Kedua, pasukan lawan harus dikalahkan secara tuntas sehingga tidak ada lagi yang melarikan diri dan bergabung dengan pasukan lain sebagaimana dua pertempuran sebelumnya.
Pada malam itu juga Khalid menempatkan dua unit pasukan kavaleri di belakang perkemahan Persia di mana mereka tersembunyi di balik bukit. Rencana Khalid , ketika perang berlangsung, ia hanya menyiapkan pasukan infantri (pasukan pejalan kaki) untuk menggempur pasukan Persia di pagi hari, sementara pasukan kavaleri akan datang membantu di tengah-tengah peperangan.[3]
Pada minggu ketiga bulan Safar 12 H (Mei 633 M) kedua barisan berhadap-hadapan. Andarzaghar heran melihat jumlah Muslimin yang lebih sedikit dari perkiraannya, ia semakin heran karena tidak melihat adanya satuan kavaleri Khalid. Di pihak Muslimin, mereka tidak kalah terkejut melihat pasukan Persia yang jauh lebih besar dari sebelumnya, tetapi mereka optimis karena jendral mereka tidak terkalahkan.
Perang pun pecah. Andarzaghar mengambil strategi bertahan dan memberikan kesempatan Muslimin untuk maju terlebih dahulu, setelah itu ia akan melakukan counter attack. Maka majulah pasukan infantri Khalid dan berhasil menekan pasukan Persia. Bahkan Khalid sempat bertarung dengan jagoan Persia, Hazar Mard sang raksasa kuat yang mengklaim dirinya memiliki kekuatan serupa dengan 1.000 ksatria. Setelah berduel beberapa menit, Khalid melihat celah kelemahan Hazar. Tanpa membuang kesempatan, sang panglima berhasil menumbangkan raksasa kebanggaan Persia..

Andarzaghar kemudian melakukan counter-attack sehingga mendesak pasukan Khalid mundur pada siang hari. Tekanan pasukan Persia yang jumlahnya lebih besar mulai menggerus kekuatan muslimin yang mulai keletihan berharap Khalid segera member sinyal untuk memanggil kavalerinya, tetapi belum ada tanda dari Khalid. Situasi mulai kritis di kalangan Muslimin, sementara Andarzaghar semakin optimis kemenangan diraihnya. Saat itulah Khalid memberi kode serangan bantuan. Tiba-tiba dua unit kavaleri muslimin muncul dari balik bukit di belakang Persia. Bergerak cepat ke arah pasukan Andarzaghar.[3]
Satu kavaleri dari sebelah kiri bukit, dan satu kavaleri lagi dari kanan bukit, kemudian menyerang bersamaan barisan belakang pasukan Persia. Andarzaghar terkepung, pasukannya kebingungan di serang dari dua arah. Terjadi kekacauan dan kepanikan, barisan pun berantakan diterjang infantri dan kavaleri Khalid Optimisme Andarzaghar berubah seketika menjadi neraka lengkingan pasukannya yang menjelang ajal satu persatu. Tidak ada jalan keluar bagi Persia.
Andarzaghar mati-matian mencari jalan keluar, setelah berhasil lolos dari maut, ia menemui neraka baru, yakni padang pasir nan luas sehingga ia akhirnya mati dalam kondisi sakit dan kehausan. Sementara seluruh pasukan Persia yang berjumlah lebih 30.000 ini pun bertekuk lutut di tangan muslimin yang hanya berjumlah 15.000 orang. Hanya tersisa beberapa ribu pasukan yang berhasil melarikan diri dari medan kematian.[3]
Catatan kaki
- ^ a b c d A. I. Akram (1970). The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and Campaigns. National Publishing House, Rawalpindi. ISBN 0-7101-0104-X.
- ^ a b Campaigns in Eastern Iraq, "Khalifa Abu Bakr", Companion of the Prophet. Virtual library of Witness-Pioneer.
- ^ a b c d Grania, Abu Fatah (2008). Panglima Surga. Jakarta: Cicero Publishing. ISBN 9789791751285
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


